Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Menyembunyikan Sesuatu Dari Hans


__ADS_3

Tatapan hingga air mata Hans, membuat Meera tersenyum lebar dan langsung memeluk suaminya. Kini, tumpahkah tangis kebahagiaan yang Hans rasakan di dalam hatinya. Dia tidak menyangka, ketika bangun sudah di suguhkan oleh kabar yang teramat menyentuh hatinya seperti ini.


Sampai akhirnya Hans dan Meera pun mulai kembali berbincang di satu ranjang yang sama. Dimana Hans meminta Meera untuk tidur di sebelahnya dengan bangkar yang cukup luas, lalu mereka bercerita satu sama lain apa yang mereka rasakan selama beberpa bulan ini tidak saling berbicara. Kemudian, rasa ngantuk menyelimuti dan seketika mereka tertidur dalam keadaan Meera memeluk Hans begitu erat.


...*...


...*...


Hari terus berganti, pagi menjadi malam dan malam menjadi pagi. Sampai kini, keadaan Hans sudah mulai membaik, semua tubuhnya pun telah bergerak secara normal.


Hanya saja dia harus kembali belajar sedikit lagi, agar ketika dinyatakan pulih nanti, Hans bisa kembali berjalan lancar dengan sendirinya tanpa bantuan tongkat ataupun seseorang.


Namun, dibalik kesehatan Hans ternyata dia belum tahu mengenai soal kejadian dibalik kecelakaannya. Semua itu karena Bram tidak mengizinkan Meera ataupun Alice untuk mengatakannya, sebelum Hans benar-benar pulih dan keluar dari rumah sakit.


Hingga akhirnya, 1 Bulan telah berlalu. Dimana Hans sudah kembali ke rumah, meskipun dia harus selalu ke rumah sakit setiap bulannya untuk memeriksakan dirinya.


Disaat semuanya lagi asyik menikmati sarapan paginya, tiba-tiba saja ponsel Bram berbunyi cukup lama. Awalnya dia tidak mau mengangkatnya, karena Bram sangat malas untuk mengangkat nomor baru yang mencoba menghubunginya.


Cuman, setelah nada deringnya berhenti. Seseorang terus menerus mencoba menghubunginya sampai di panggilan yang ke-3 kalinya berhasil merusak mood makan pagi Bram.


"Ckk, siapa sih pagi-pagi begini nelponin mulu. Mana nomornya enggak di kenal lagi, enggak lihat ini masih jam berapa kali!" ucap Bram, kesal.

__ADS_1


"Dari siapa?" tanya Hans sambil makan, sesekali menatap Bram.


"Entahlah, aku juga enggak tahu. Nomornya enggak dikenal, tapi ini udah panggilan ke-3." jawab Bram.


"Ya udah angkat aja, Sayang. Siapa tahu 'kan itu dari rekan bisnismu yang ganti nomor. Lagi pula tinggal mengangkat apa susahnya sih, atau mau aku yang mengangkatnya?" sahut Alice.


"Enggak usah, biar aku saja. Udah kamu makan aja yang banyak, biar anak kita sehat." cicit Bram, sambil tersenyum kecil.


Alice cuma bisa mengangguk dan kembali meneruskan makan paginya dengan lahap bersama Meera dan juga Hans. Meski, mereka sesekali melihat ke arah Bram yang sudah mencoba mengangkat panggilan tersebut.


Saat panggilan itu tersambung, ternyata Bram malah mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan membuat kedua mata Bram membola besar, rahangnya mengeras, dan wajahnya memerah menahan emosi.


Kemudian, tiba-tiba saja tangannya mengepal keras diatas meja hingga suara gebrakan berhasil membuat semuanya terkejut berkali-kali lipat.


Bram berdiri dengan tatapan tajam menyorot ke arah depan dengan penuh amarah yang begitu mendalam. Terlihat sekali, adanya kebencian dia dalam sorot mata Bram saat ini terhadap seseorang yang sama sekali mereka tidak ketahui.


"Apa? Ternyata tikus itu sudah merencanakan semuanya dengan sangat licik, sampai mereka nekat melarikan diri ke pulau sebrang? Hahh, benar-benar tidak tahu diri!"


"Untung secepat mungkin saya langsung mengarahkan semua kepolisian di berbagai daerah, kota dan sebagainya hanya demi menemukan tikus itu!"


"Baiklah, nanti siang saya ke sana. Tolong jaga mereka dengan baik, pisahkan mereka di sel tersendiri dan jangan izinkan siapapun yang menjenguknya!"

__ADS_1


Bram langsung mematikan ponselnya lalu dia duduk sambil menarik napasnya secara kasar, dimana posisi wajah mendongak ke atas sambil memejamkannya.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu marah-marah begitu?" ucap Alice, cemas.


"Siapa yang nelpon?" tanya Hans, penasaran.


"Apakah mereka sudah di temukan, Bram?" tanya Meera, berhasil membuat suaminya langsung menengok ke arahnya.


"Ma-maksudnya, mereka sudah ditemukan itu apa? Memangnya siapa yang sedang kalian cari, kenapa tidak ada satu orang pun yang mengatakannya padaku. Sebenarnya ada apa sih ini, kenapa kalian menyembunyikan sesuatu padaku!"


Hans menatap satu persatu manik mata mereka bertiga dengan tatapan penuh penyelidikan. Sampai sorot matanya terhenti pada istrinya sendiri, dia menatapnya lebih dalam dan kembali menanyakannya padanya.


"Kenapa kamu menyembunyikan sesuatu dariku, hem? Apakah aku ini sudah bukan lagi seseorang yang penting di dalam hidupmu, sehingga kamu tidak menyeretku ke dalam rahasia kalian bertiga!" tegas Hans, wajahnya terlihat begitu datar.


"Ma-maafkan aku, Sayang. A-awalnya aku mau menceritakan semua ini padamu di saat kamu baru saja pulang ke rumah. Cuman Bram melarangku, karena dia mau melihatmu pulih terlebih dahulu. Setelah itu baru kita akan memberitahumu tentang semua yang terjadi selama kamu mengalami koma kurang lebih 1 Minggu." jelas, Meera.


Serasa sudah cukup mendengar semua penjelasan dari istrinya, kini Hans langsung menatap Bram penuh tanda tanya. Seakan-akan Hans menginginkan penjelasan yang lebih darinya, karena Hans tahu. Jika Bram lebih tahu tentang segalanya.


"Setelah makan, ikut aku ke ruangan kerja!" tegas Hans menatap tajam ke arah Bram.


Kemudian dia meneruskan makannya dengan perasaan kesal, ketika mereka semua tega menyembunyikan sesuatu padanya. Dimana Meera dan Alice menatap Bram dengan tatapan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


Bram hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, pertanda bahwa dia akan baik-baik saja agar tidak membuat 2 Bumil itu mencemaskan tentang nasibnya yang sebentar lagi akan terkena amarah singa jantan yang baru saja terbangun dari tidurnya.


...***Bersambung***...


__ADS_2