
Rara sedikit menggelengkan kepalanya sambil mengedipkan kedua matanya secara perlahan. Mulut yang tertutup oleh oksigen membuat suara Rara terdengar sangat lirih.
Beberapa kali, Rara ingin membuka penutup oksigen itu agar memudahkannya berbicara. Akan tetapi, itu harus melalui sedikit berdebatan dengan sang dokter.
Pada akhirnya sang dokter menyetujuinya dan menggantikannya menggunakan selang yang masuk ke dalam 2 lobang hidungnya.
Semua itu untuk membantu Rara bernapas dengan lega, tanpa terdengar suara yang melengking keras khas orang yang memiliki penyakit asma.
"I-ibu, Ba-bapak. Ra-ra u-udah e-enggak kuat lagi. Ra-rara mau pa-pamit sa-sama Ibu dan ju-juga Bapak. Ra-rara enggak ma-mau menyusahkan ka-kalian lagi, ka-kalau Ra-rara pergi."
"Ra-rara tidak mau membuat Ibu dan B-bapak harus ke-kerja keras u-untuk membawa Ra-ra berobat se-setiap bu-bulannya."
"Ra-rara ma-mau lihat I-ibu dan Ba-bapak bahagia, ti-tidak pusing mi-mikirin bi-biaya soal pe-pengobatan Rara lagi. Ja-jadi Ra-rara pa-pamit ya Bu, Pa-pak. Ra-rara u-udah e-enggak kuat lagi, Ra-rara capek sa-sakit-sakitan te-terus."
"Ra-rara ma-mau sehat, I-ibu sama Ba-bapak ja-jangan sedih ka-kalau Rara pe-pergi ya. Ka-karena Ra-rara akan se-selalu a-ada di da-dalam hati ka-kalian."
"Se-selamat ti-tinggal I-ibu, Ba-bapak. Ra-rara pa-pamit pe-pergi ya, Ra-rara sa-sayang ka-kalian. Te-terima ka-kasih, ka-karena se-selama i-ini I-ibu dan Ba-bapak se-selalu me-membuat Ra-rara bahagia. Ra-rasa sa-sangat ber-bersyukur memiliki orang tu-tua seperti kalian."
"Se-semoga ki-kita ber-bertemu lagi, te-terima kasih I-ibu, Ba-bapak a-atas se-semua ka-kasih sayang ka-kalian. Ra-rara sa-sayang ba-banget sa-sama ka-kali-ann ...."
Degh!
Air mata Atun yang sedari tadi dia tahan, seketia menetes bersama dengan suaminya. Semua itu karena mereka tak kuasa untuk mendengar kalimat yang begitu melukai hatinya yang teramat mendalam.
Berulang kali Atun dan Jaka menggelengkan kepalanya, karena dia tidak mau mendengar anaknya mengatakan kata-kata yang seharusnya tidak pernah mereka dengar.
Sampai di detik-detik, hembusan napas terakhir Rara semua alat berbunyi. Termasuk pedeteksi detak jantung yang awalnya masih bergelombang, kini sudah menjadi garis datar yang sangat panjang. Itu pertanda bahwa Rara memang sudah meninggalkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tangis Atun dan Jaka benar-benar pecah saat menyaksikan anak semata wayangnya yang sangat mereka cintai, meninggal dunia begitu saja akibat seseorang yang tak bertanggung jawab.
Atun dan Jaka langsung memeluk Rara berbarengan, ketika sang dokter telah menyatakan jika Rara memang sudah tiada untuk selamanya.
Dari kema*tian Rara ini membuat hati Atun mulai terkunci. Dimana dia akan membalaskan semua rasa sakit yang saat ini dia rasakan, hingga rasa pedih yang anaknya rasakan di saat terakhir kalinya.
"Aku bersumpah, orang yang telah merenggut nyawa anakku akan merasakan penderitaan yang teramat perih. Melebihi rasa sakit hatiku saat ini, aku berjanji untuk itu!"
"Tidak akan aku biarkan orang itu lolos begitu saja dan akan aku buat dia merasakan apa yang anakku rasakan di detik-detik terakhirnya!"
Atun mengatakan di dalam hatinya dengan segala dendam yang menyelimutinya.
Begitu juga Jaka, dia yang tidak sanggup melihat penderitaan anak serta istrinya pun telah bersumpah di dalam hatinya.
Jika dia juga aka ikut serta untuk membalaskan dendam yang teramat memyakitkan ini, hanya untuk orang yang sudah merenggut nyawa anak semata wayangnya.
Sementara Hans yang sedang sibuk dengan beberapa meetingnya, membuat dia sedikit melupakan tentang kondisi Rara. Sampai ketika sore hari, dia baru teringat oleh anak kecil yang lucu dengan nasib malangnya itu.
Tak perlu berlama-lama lagi, ketika semua pekerjaannya telah selesai. Hans bergegas pergi ke rumah sakit, cuman sayangnya.
Dia tidak bisa lagi ketemu sama Rara, akibat dia sudah diambil oleh kedua orang tuanya lantaran Rara telah tiada untuk selamanya.
Disitulah hati Hans bergetar hebat, dia kira kondisi Rara tidak akan seburuk itu ketika dia meninggalkannya sehari saja.
Namun, apalah daya. Mungkin ini adalah takdir Tuhan yang telah bekerja sesuai dengan perintah-Nya.
Hans kembali pulang dipenuhi rasa bersalahnya, karena dia tidak bisa bertemu dengan Rara ataupun keluarganya kembali. Semua itu karena Hans, tidak tahu siapa keluarganya dan juga dimana alamat rumahnya.
__ADS_1
Itulah hal yang Hans sesali, akibat dia terlalu bod*doh untuk tidak mencari informasi lebih mendalam lagi, siapa keluarga Rara yang sebenarnya.
Hanya saja, tanpa Hans sadari. Semua kejadian yang terbilang menurutnya akan baik-baik saja, itu merupakan sebuah mala petaka yang akan mengikuti setiap langkahnya.
Setelah mengetahui bahwa Hanslah yang membawa Rara ke rumah sakit, membuat Atun dan Jaka langsung menyimpulkan jika pelaku sebenarnya adalah Hans.
Kesalah pahaman itu terjadi ketika Atun dan Jaka terlalu mudah untuk menyimpulakan keadaan, mentang-mentang Hans tidak ada ditempat. Jadi Atun dan Jaka menyangka kalau Hans, kabur dari tanggung jawabnya.
Inilah alasan, kesalah pahaman diantara mereka bertiga telah terjadi. Entah ini salah dari Atun dan Jaka yang terlalu cepat menyimpulkan kejadian. Atau adik dari Atun yang lalai dalam menjaga Rara, atau mungkin Hans yang terlalu polos sehingga tidak bisa mengambil sikap untuk mencari keluarga korban yang dia tolong.
Sebenarnya ketiga orang itu semuanya salah, hanya saja dibalik kesalahan mereka. Ada dalang yang lebih kejam, hingga membuat orang baik bisa menjadi jahat.
Ingat pepatah pernah bilang, sekejam-kejamnya orang jahat. Lebih kejam lagi, ketika orang baik yang berubah menjadi orang yang sangat jahat. Karena jika orang baik sudah berubah menjadi orang jahat, maka disitulah jiwa iblis mulai muncul tanpa lagi menggunakan akal sehatnya.
Maka, berhati-hatilah dalam bersikap. Hargai orang yang baik pada kita, jangan sampai memanfatkannya ataupun menyenggolnya. Kita tidak akan tahu seberapa kejamnya orang baik, bisa melakukan semuanya melebihi orang jahat sekalipun.
Sampai tidak terasa, kepergian Rara sudah memasuki 40 hari. Disitulah Atun dan Jaka mulai merencanakan semua bals dendamnya, demi mencari informasi tentang Hans. Pria yang mereka anggap sebagai dalang dibalik lenyapnya anak semata wayang mereka.
Saat informasi semua terkumpul, Atun dan Jaka mulai memasuki lingkuan rumah Hans melalui Meera, Ibu tiri Hans dan Bram yang belum lama menjadi seorang janda akibat Daddy mereka pergi begitu saja tanpa sebab yang jelas.
Atun dan Jaka yang terbilang sangat licik, mampu memanipulasi Meera beserta semua orang yang ada di lingkungan rumah kediaman Ivander. Hingga akhirnya perlahan balas dendam mereka berdua mulai terlaksana, dari hal kecil, sedang maupun kecelakaan yang membuat Hans sampai koma 1 atau 2 Minggu lamanya.
...Flashback Masa Lalu Off...
...*...
...*...
__ADS_1
...***Bersambung***...