Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kedatangan Masa Lalu


__ADS_3

Bella langsung menindihinnya, kemudian membalaskan semua rasa sakit yang dia berikan. Sampai akhirnya kericuhan terjadi diantara mereka berempat membuat beberapa petugas langsung berdatangan untuk melerai mereka semua.


Yang mana, mereka semua menyalahkan Bella atas semua keributan yang terjadi. Hingga Bella harus diasingkan di sebuah ruangan yang sangat sunyi. Tepatnya di sel kesunyian yang berada di belakang, tetapi lebih tepatnya dengan gudang.


Jadi, Bella harus tidur bersama dengan tikus-tikus lainnya yang membuatnya selalu waspada setiap detik ketika dia mau memejamkan kedua matanya.


Namun, pada akhirnya Bella tertidur tepat diatas meja dengan sedikit kedinginan akibat fentilasi atas terbuka. Hanya terdapat jeruji besi yang menghiasinya agar Bella tidak mendapatkan celah untuk melarikan diri.


...*...


...*...


Beberapa hari kemudian, tepatnya di hari libur. Hans dan yang lainnya sedang bermain bersama Baby Maura di ruang keluarga, tanpa di sengaja malah mendapatkan telpon dari seseorang yang cukup mengejutkannya.


[Hallo, ya ada apa?]


Degh!


Jantung Hans berdetak tidak karuan, ketika mendengar informasi dari seseorang yang sama sekali tidak dia sangka-sangka.


"Ke-kenapa dia harus datang lagi, setelah sekian lama pergi? Apa sih yang dia mau, kenapa juga dia muncul di saat aku sudah mulai bangkit? Kenapa!" gumam hati kecil Hans, masih dalam keadaan syok.


[Baiklah, saya ke sana sekarang!]


Hans langsung menutup ponselnya, dan kembali berusaha untuk tetap tenang, walau hatinya sendiri sangat tidak tenang dengan kedatangan seseorang tersebut.


Alice, Meera dan Bi Neng yang sedang asyik bermain dengan Baby Maura tidak sedikitpun merasa curiga. Berbeda sama Bram, meskipun dia memperhatikan anaknya. Akan tetapi, dia juga membaca gerak-gerik Hans yang sangat gugup.


"Ada apa?" tanya Bram mengecilkan suaranya, sambil mengangkat salah satu alisnya.


"Dia kembali! Aku harus segera mengurus semuanya sebelum dia menghancurkan segalanya." jawab Hans, layaknya orang berbisik.


"Cepatlah, kasian istrimu bila dia tahu yang sebenarnya. Pasti dia akan merasa sangat bersalah, karena sudah merebutmu darinya." balas Bram, penuh keseriusan.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi dulu!" sahut Hans, lalu dia pun mendekati istrinya kemudian berpamitan jika ada urusan penting yang harus di selesaikan.


"Sayang, aku pergi sebentar ya. Ada urusan sedikit, kamu baik-baik disini. Jangan lupa nanti istirahat dan vitaminnya di minum ya. Nanti siang atau sore aku kembali lagi. Pokoknya jangan capek-capek, ngerti?"


Hans pun memperingatin istrinya yang terkadang sedikit bandel, setelah itu Hans mencium kening istrinya yang lagi duduk di dekat Baby Maura.


Sementara Meera hanya tersenyum dan menganggukan kepadanya, lantaran Meera tidak mau banyak bertanya. Meskipun Meera sangat tahu kalau suaminya ini seorang pembisnis. Jadi, kemungkinan besar di hari libur, dia akan tetap mengerjakan sesuatu kalau memang ada pekerjaan tak terduga yang selalu datang tanpa di minta.


"Ya sudah, kamu hati-hati dijalannya. Jangan lupa nanti makan siangnya, awas kalau telat!" ucap Meera, dengan tatapan mendelik.


"Siap, Sayang. Aku siap-siap dulu, habis itu berangkat." ucap Hans, lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mengganti pakaian casual dan pergi meninggalkan rumah dalam kondisi masih sedikit panik.


Di dalam mobil, Hans cuman bisa terdiam dengan segala pikiran yang campur aduk. Rasanya dia sudah tidak mau lagi bertemu dengannya, cuman bila tidak di selesaikan urusan akan semakin panjang.


"Aarrghh! Kenapa sih dia harus kembali, setelah aku udah bisa melupakan semuanya. Kenapa, Keke. Kenapa!"


Braakk!


Hans memukul setir mobilnya, hingga klaksonnya pun ikut terbunyi di sela-sela kemacetan yang cukup panjang. Semua bayangan tentang masa lalunya kembali berputar setelah sekian lama berusaha dia hilangan.


[Hallo, gimana? Apakah dia sudah pulang?]


Hans kembali menelpon seseorang untuk menanyakan tentangnya, karena hatinya belum tenang bila belum menemuinya.


[Ckkk, ya udah tunggu saya setengah jam lagi!]


Hans langsung mematikan sambungan telponnya, kemudian kembali melajukan mobilnya saat kemacetan sudah mulai merenggang.


Kurang lebih 40 menit lamanya, Hans pun sampai di Perusahaannya. Dia langsung keluar dari mobilnya dengan wajah datar, saat securitu membukakn pintunya.


"Dimana dia?" ucap Hans, menatap kedua security.


"Ada di ruangan kerja, Tuan. Saya sudah berusaha melarangnya. Cuman dia tetap kekeh memaksa masuk, kami pun tidak bisa berbuat apa-apa karena dia bilang kalau dia adalah keluarga Tuan. Kalau kami tetap berusaha untuk mengusirnya, kami takut Tuan akan marah. Jadi, saya suruh salah satu security untuk berjaga disana untuk menemaninya di ruangan Tuan."

__ADS_1


Penjelasan salah satu security itu lagi-lagi membuat hati Hans sangat kesal, ruangan yang seharusnya tidak boleh sembarangan di masuki oleh orang lain. Kini malah di masuki oleh masa lalunya sendiri, yang sepenuhnya belum usai.


"Ckkk, dasar tidak becus!" sindir Hans, langsung pergi dengan langkah panjangnya menuju ruangan di lantai paling atas.


Sesampainya di lantai atas, Hans melihat pintu ruangan terbuka. Sebenarnya bisa aja Hans menyuruh asistennya, cuman dia tidak mau mengganggu waktu liburnya bersama keluarga.


Apa lagi, ini berkaitan sama masa lalunya jadi lebih baik Hans mengurusnya sendiri. Dari pada harus mengandalkan asistennya yang lagi meluangka waktu untuk keluarganya.


Hans masuk ke dalam ruangan, diangguki kecil oleh security itu sebagai penghormatan, lalu tangan Hans memberikan kode untuknya pergi dari sana.


Setelah perginya security tersebut, Hans langsung mencari keberadaan orang yang berasal dari masa lalunya. Sebenarnya Hans tidak pernah menjalani hubungan oleh siapapun, sepengetahuan Meera atau yang lainnya.


Hanya Bramlah yang tahu, karena hubungan Hans dengan masa lalunya ini sangat tertutup. Hans tidak mau sampai ada media yang sampai menyorotnya. Jadi kebanyakan orang mengnggap bila Hans ini, merupakan pria yang sedikit berbelok. Lantaran ketika Hans mulai mengambil alih Perusahaan, tidak ada satu pun wanita yang bisa dekat dengannya.


Namun, di balik itu semua sebenarnya Hans adalah pria yang haus akan kasih sayang. Cuman, karena keegoisan pasanganya dulu. Membuat Hans semakin menutup diri, sampai akhirnya Tuhan menyatukannya dengan Meera melalui kejadian tersebut.


"Ngapain kau kembali? Dan kenapa harus datang ke perusahaan keluargaku!"


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Belum cukup semuanya? Setelah sekian lama kau pergi, baru sekarang ingat denganku?"


Hans menyandar di sela pintu kamarnya dengan keadaan salah satu kakinya di lipat dan kedua tangan di dada. Kemudian sorotan matanya menatap seorang wanita cantik yang sedang duduk diatas ranjang, sambil memegang sebuah bingkai foto yang berukuran kecil.


Wanita itu mengangkat kepalanya, lalu menatap ke arah Hans dengan tatapan yang penuh arti. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengetahui sesuatu yang tidak dia sangka-sangka.


"Ha-hans, a-apa maksud dari foto ini?" ucap wanita cantik itu, bibirnya mulai bergetar. Lalu dia beranjak dari duduknya, berdiri menatap Hans sambil tangannya terus memegang bingkai tersebut.


"Ya itulah kenyataannya, jadi lebih baik sekarang kau keluar dari kantor saya. Dan kembalilah ke Australia!" ujar Hans, tatapannya menyorot tajam penuh kekecewaan yang cukup berat.


Entah ada kejadian apa dengan mereka, sampai-sampai hubungan mereka benar-benar sangat tertutup dari media.


Cuman jangan salah, meskipun dibelakang layar. Ketika dulu, hubungan mereka benar-benar serasi. Sehingga membuat mahasiswa/i di kampusnya menjadi iri dengan keromantisan pasangan ini. Hanya saja, karena keadaan yang membuat mereka harus berpisah. Salah satunya, adalah ego yang cukup besar dari keduanya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2