Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Baby Boy Tersenyum


__ADS_3

Betapa terkejutnya mereka ketika melihat ketampanan Baby Boy yang benar-benar mirip dengan Hans. Meskipun ada beberapa yang mirip sama Meera, hanya saja lebih dominan kepada Hans.


Inilah keyataannya. Sang Ibu rela mengandung selama 9 bulan lamanya, menahan semua rasa mual dan juga lemas di tubuhnya. Sampai dia rela mengorbankan nyawanya demi membuatnya bisa menatap dunia, tetapi hasilnya. Anak yang di kandung selama itu, sekalinya keluar malah mengambil paras sang Ayah ataupun kelakuannya, sedangkan sang Ibu hanya akan mendapatkan sisanya saja.


"Aaaa ... Aku mau gendong, aku mau gendong!" ucap Alice antusias tanpa melihat keadaannya sendiri.


"Astaga, Sayang. Lihat, saat ini kamu sedang menyusui anak kita. Orang tuh duduk gitu loh, kasian Baby Maura." sahut Bram, kesal.


Setelah menyadari itu semua membuat Alice langsung menatap ke arah Baby Maura, lalu cengengesan tanpa rasa bersalah menahan rasa malunya. Kemudian dia pun kembali duduk di sofa, meski Alice sangat ingin menggendongnya. Akan tetapi, kembali lagi. Dia juga tidak boleh egois dengan anaknya sendiri yang membutuhkannya.


Sang dokter tersenyum bersama asisten susternya ketika melihat semangat keluarga Meera yang sangat membara. Sama halnya seperti Hans, wajah dia sudah tidak semurung biasanya saat menatap wajah anaknya.


Dirasa tugasnya sudah selesai, sang dokter pun segera bergegas untuk berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan bersama asistennya.


Mata mereka semua menatap ke arah Baby Boy yang masih memejamkan kedua matanya. Sampai akhirnya perlahan Baby Boy membuka matanya, saat mendengar suara-suara yang tidak asing di telinganya. Dan sedikit menggangguk waktu tidurnya.


"Halo, Sayang. Ini Daddy, seneng deh bisa lihat kamu sudah bisa melek begini. Sehat terus ya kesayangan Daddy, doakan Mommy supaya bisa sehat juga. Lihat, siapa yang datang?"


"Ada Papah Bram, Mamah Alice, Adikmu Maura, dan juga ada Nenek. Gimana? Pasti kamu seneng dan bingung ya hehe ...."


Hans menyapa anaknya dengan wajah senangnya, dia tidak perlu lagi memegang anaknya hanya menggunakan jari telunjuknya. Sekarang bahkan Hans sudah bisa menggendongnya secara hati-hati. Kemudian menciumi wajahnya berulang kali. Dimana air matanya menetes penuh kebahagiaan.


Setelah itu, Hans memberikan Baby Boy pada Bi Neng yang lagi duduk. Terlihat jelas wajah Bi Neng yang begitu senang, sampai dia tidak kuat menahan isak tangisnya ketika bisa memeluk anak dari Meera.

__ADS_1


"Hiks ... Cu-cucuku, akhirnya aku bisa menggendongmu, Nak. Terima kasih Tuhan, Engkau sudah menjawab doaku. Tinggal satu pintaku, tolong angkat semua penyakit yang ada di dalam tubuh anakku. Izinkan dia kembali membuka matanya agar bisa bahagia bersama anak dan suaminya. Bila harus ada pertukaran nyawa, saya siap menggantikannya. Sebab, Nona Meera harus tetap membuka matanya."


Hans sangat tersentuh ketika menyaksikan kasih sayang Bi Neng kepada istrinya yang sangat besar. Jika kembali diingat-ingat, dari dulu Alice datang menginjakkan kaki ke rumah keluarga Ivander. Bi Nenglah orang yang paling dekat.


Dia selalu menguatkannya meskipun Bram dan Hans dulu pernah menjauhinya karena ketidak sukaannya saat Meera menjadi istri dari mendiang Daddy mereka.


Berbeda sama Alice, Bi Neng juga sayang. Hanya saja Rasa sayangnya belum sebesar Meera, cuman Bi Neng harus tetap adil kepada semuanya agar mereka tidak merasakan iri atas kasih sayangnya.


Alice pun yang sudah selesai menyusui sambil menidurkan Baby Maura. Langsung memberikan Baby Maura kepada suaminya, karena dia ingin mencoba menggendong Baby Boy.


Bram cuman bisa menggelengkan kepalanya, saat menyaksikan istrinya yang terlalu bersemangat untuk bisa mendekati Baby Boy.


Sebenarnya Bram juga ingin menggendongnya, cuman dia harus mengesampingkan itu semua. Setidaknya dia pernah menggendongnya bersama Hans, waktu bertemu Baby Boy beberapa hari lalu.


"Bi, boleh aku menggendongnya?" ucap Alice, dengan wajah sangat senang disertai mata yang sudah berkaca-kaca dan senyuman sedikit melebar.


"Hai.. Sayangnya Mamah, apa kabar ganteng. Hem? Mamah seneng banget kamu sudah sehat, nanti kalau boleh pulang ikut Mamah sama Adik Maura ya. Nanti kita main di rumah sama-sama sambil nunggu Mommymu bangun. Oke?"


Baby Boy pun tersenyum melihat Alice, membuat dia kembali bersorak penuh kebahagiaan. Untuk yang pertama kalinya Baby Boy tersenyum kepadanya, bahkan Hans sendiri pun belum tentu bisa melihat senyum itu.


"Huaaa, lihatlah. Baby Boy senyum padaku, aakhh ... Coba saja Kak Meera bangun, pasti dia seneng lihat anaknya tersenyum begini. Uhhh, tayang-tayang. Muuachh ...."


Alice kembali mencium Baby Boy dengan perasaan penuh kesenangan yang luar bisa, semua pun menjadi tertawa kecil melihat tingkah absurd Alice. Sudah jelas bila Alice telah menjadi seorang Ibu, cuman kenapa sifatnya masih seperti anak-anak yang menggemaskan.

__ADS_1


Ya, itulah Alice. Dengan sikapnya berhasil mengalihkan rasa sedih mereka atas keadaan Meera yang belum ada perkembangan.


"Oh ya, Kak. Apa kau sudah menemukan nama untuk Baby Boy. Masa iya kita harus memanggilnya dengan nama itu terus, 'kan tidak mungkin. Jadi, siapa namanya?"


Perkataan Hans berhasil merubah senyum Hans menjadi wajah datar. Sebenarnya Hans sudah memiliki nama untuk putranya, sesuai dengan permintaan Meera yang akan menyerahkan pemberian nama pada Hans.


Namun, melihat keadaan Meera seperti ini. Hans tidak tega bila menamani anaknya, disaat Meera masih dalam keadaan tertidur.


Hans ingin, Babay Boy mendapatkan namanya setelah Meera terbangun. Hanya saja, semua keluarganya sudah sangat penasaran sama nama Baby Boy yang sebenarnya.


Hans menatap wajah istrinya yang masih terlihat sangat pucat, meskipun begitu dia tetap terlihat cantik secara alami tanpa adanya make up yang dipoleskan di wajahnya.


Melihat itu, membuat Bi Neng mengerti apa yang saat ini sedang Hans rasakan. Bi Neng memberanikan diri untuk memegang lengan Hans yang pertama kalinya. Sebab, Bi Neng tahu bila Hans itu tidak suka di sentuh oleh siapapun kecuali keluarganya.


Akan tetapi, kali ini berbeda. Saat Bi Neng memegang lengan Hans, dia menoleh dan menatapnya sangat dalam.


"Tuan, saya tahu. Tuan pasti keberatan bukan, memberikan nama putra Tuan tanpa Non Meera? Tapi, bila Tuan tunda itu tidak akan baik. Saya yakin, Non Meera juga setuju kok sama keputusan yang akan Tuan ambil."


"Bahkan kita juga bisa 'kan meminta doa kepada pendeta disaat pemberkatan putra Tuan nantinya. Sekalian sama Non Maura, jadi pemberkatan bisa di satukan dari pada harus menunggu Non Meera yang belum pasti. Kasihan anak Tuan juga, setidaknya Tuan sudah meminta izin sama Non Meera. Begitu juga Non Meera, bukannya waktu itu dia yang memang sudah setuju kalau Tuan yang akan memberikan namanya. Jadi, Tuan mau menunggu apa lagi?"


Nasihat dari Bi Neng diangguki oleh Bram dan juga Alice yang masih setia menggendong Baby Boy. Sesekali mengajaknya bercanda. Berbeda sama Bram, dia menggendong anaknya yang sedang tertidur pulas di dalam dekapannya.


Hans pun menatap semuanya secara bergantian, lalu perlahan mulai melangkahkan kakinya mendekati istrinya. Kemudian, sedikit membungkukkan badannya menatap wajah istrinya dan mengusap kepalanya.

__ADS_1


Hans mencoba untuk meminta izin pada istrinya, membuat semuanya menatap kearah wajah Meera. Hanya saja, sesuatu langsung mengejutkan. Benar-benar diluar dari dugaan mereka, begitu juga reaksi Hans. Dia terlihat sangat syok, sehingga tubuhnya seketika menjadi kaku bagaikan patung.


...***Bersambung***...


__ADS_2