Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Penolakan Bram


__ADS_3

Seperginya Hans, Alice perlahan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dimana Bram sedang memekik kelas sambil membanting kursi. Sementara Meera dia tidak mendengar suara apapun akibat tertidur pulas.


"Apa maksud ini semua, Bram? Jangan bilang kamu menjual Restomu itu untuk menebus aku dari rumah gelap itu?"


Alice berbicara dengan wajah datar, sambil berdiri tepat di belakang Bram membuatnya segera berbalik lalu menatap Alice. "A-alice, ka-kamu ngapain disini? Bu-bukannya tadi kamu ada di kamar lagi tidur?"


Bram terkejut ketika Alice sudah berada dihadapannya, padahal tadi saat Bram tinggal Alice sedang tertidur pulas. Entah apa yang akan Bram jelaskan pada Alice, karena saat ini bibirnya begitu kelu untuk mengucapkan satu patah katapun padanya.


"Jawab, Bram. Jawab!" pekik Alice dengan suara lantangnya.


Bibir Bram bergetar lantaran dia bingung mau menjawab apa, karena dia tidak pernah mengatakan apapun pada Alice bagaimana caranya dia bisa membebaskannya.


Bram hanya bisa mengganggukan kepalanya perlahan membuat Alice menarik kerah baju Bram, menatapnya lalu menumpahkan segala rasa kesal dan amarahnya.


Menurut Alice Bram terlalu bo*doh untuk membebaskannya, dengan cara menjual sumber penghasilannya sendiri.


"Kenapa kamu enggak cerita sama aku kalau kamu membebaskan aku dengan cara seperti itu, hahh! Kenapa, Bram. Kenapa!"


"Harusnya sebelum kamu mengambil tindakan itu, kamu harus berbicara sama aku jangan langsung mengambil keputusan sendiri!"


"Kalau udah begini gimana? Aku merasa bersalah karena sudah membuatmu menjadi pengangguran, cuman demi menyelamatkan wanita sampah sepertiku, aku enggak rela Bram. Enggak rela! Hiks ...."


Alice memukul kecil dada Bram hingga menangis penuh rasa bersalah, karena bagi Alice. Dialah penyebab Bram sampai kehilangan sumber mata pencariannya. Sementar Bram, dia memeluk erat Alice mencoba menenangkannya secara perlahan


"Ma-maaf, Lis. A-aku tidak mau mengatakan semua itu karena kamu pasti akan melarangku untuk membebaskanmu. Dan aku enggak mau itu terjadi, kamu ingat bukan aku ini udh berjanji di depan nenekmu jadi aku tidak akan mengikari semua itu!"


"Kamu itu wanita baik, Lis. Wanita kuat dan wanita yang pantang menyerah, maka dari itu aku enggak mau kamu terjebak di rumah yang gelap itu. Kamu bisa berjalan di jalan yang terang, bukan lagi berada ditempat gelap!"

__ADS_1


Pelukan erat itu berhasil menarik simpati Alice untuk lebih tenang lagi, Bram melepaskan pelukannya dan meraup wajah Alice dengan tatapan penuh cinta.


"Denger ya, Lis. Kamu itu adalah wanita yang baik, aku tidak mau sampai melihatmu dipermainan dengan pria be*jat seperti mereka semua. Kamu berhak bahagia, dan kamu berhak memilih jalanmu sendiri dengan pasanganmu kelak."


"Bagaimana jika kamu saja yang menjadi pasanganku? Apakah kamu mau?"


Degh!


Perkataan Alice yang begitu serius membuat Bram terdiam, dia segera melepaskan dirinya dari Alice dan berbalik dengan ekspresi wajah tidak bisa dijelaskan. Kini, hatinya sedikit bergetar ketika mendengar kalimat manis yang terucap dari bibir Alice.


"Kenapa Bram? Salahkah aku mengatakan hal itu?" Alice berjalan dan kembali berdiri di depan Bram menatap wajahnya yang selalu berusaha menghindarinya.


"Salah kalau aku sudah mulai mencintaimu? Salah kalau aku udah nyaman sama kamu, dan mengarapkan hubungan kita ini tidak hanya sekedar berpura-pura, melainkan serius? Salah?" sambung Alice dengan air mata kembali menetes di pipinya.


Terdiam seribu bahasa membuat Bram tidak tahu harus menjawab seperti apa lagi. Sampai akhirnya dia tanpa sengaja mengucapkan kalimat yang sedikit menggores hati Alice.


Alice tersenyum kecil menatap Bram dengan air mata yang terus menetes. "Maaf ya, kalau aku sudah membuatmu marah. Cuman jujur, kali ini aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku sama kamu. Untuk itu aku sudah bahagia bisa mengungkapkannya, walaupun tidak sesuai dengan perasaanku. Tak apa, yang penting aku lega."


"Kamu tenang aja, aku akan mengembalikan semua uang yang sudah kamu berikan untuk menembus diriku. Cepat atau lambat kamu akan mendapatkannya, ya sudah aku kembali ke kamar dulu."


Alice terus tersenyum menutupi lukanya, sementara Bram merasa bersalah karena dia tidak sengaja telah mencubit hati kecil Alice. Melihat Alice sudah mulai menjauh dan menghilang, Bram baru menyesali atas perbuatannya sendiri.


"Arghhh, si*al! Kenapa juga gua harus ngomong kaya gitu sama Alice, sih! Kalau begini sama aja lu bohongi perasaan lu sendiri Bram, Bram. Dasar bo*doh!" pekik Bram dengan segala kekesalan dan penyesalannya.


Alice yang sudah kembali ke dalam kamarnya pun segera berlari ke kamar mandi, dia menangis di dalam kucuran air yang mengalir meratapi nasib dan juga rasa sakit dihatinya akibat penolakan Bram.


Sementara Bram yang sudah menyusul Alice menggedor pintu kamar mandi penuh kecemasan, sampai beberapa menit Alice keluar dalam keadaan sudah tenang dan tersenyum.

__ADS_1


Rasanya Bram ingin sekali mengatakan bahwa dia mencintai Alice, tetapi mulut sulit sekali. Kata cinta yang seharusnya terlontar, kini tergantikan dengan pertanyaan-pertanyaan kecil dari Bram yang memastikan apakah Alice baik-baik saja atau tidak.


Alice hanya bisa terus tersenyum dan mengatakan bahwa dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, kemudian segera merebahkan dirinya dalam posisi miring sambil memejamkan kedua matanya.


Bram duduk perlahan di tepi ranjang menatap punggung Alice yang sedikit gemetar. Bram tahu jika saat ini perasaan Alice sangat kacau, jadi dia tidak mau berbicara lebih dalam lagi sebelum Alice benar-benar tenang.


...*...


...*...


...Di dalam kamar Meera dan Hans...


Meera tidak sengaja terbangun akibat tenggorokannya terasa sangat kering, perlahan mulai duduk sedikit merenggangkan tubuhnya dan matanya mulai terbuka.


Namun, ketika dia ingin mengecek keadaan suaminya. Meera malah terkejut ketika Hans tidak ada disampingnya. Dengan cepat Meera segera mengikat asal rambutnya menggu akan jepitan, lalu pergi ke seluruh tempat untuk mencari suaminya sambil mengambil air minum.


"Astaga tengah malam seperti ini dia kemana? Jangan bilang ada di ruang kerja? Ckk, dasar ngeselin. Udah dibilangin jaga kesehatan masih aja bergadang demi pekerjaan yang seharusnya bisa dilakulan besok hari." gumam Meera sambil berjalan menuruni anakan tangga menuju ruangan kerja Hans.


Setelah mengecek ke dalam ruangan, Meera di kejutkan oleh penampakan ruangan yang cukup berantakan. Sehingga pikiran Meera semakin melayang kemana-mana mengkhawatirkan kondisi suaminya.


Wajah cemas dan juga bingung kini melanda Meera, semua tempat dia kinjungi. Hanya saja Hans tidak ada, disaat Meera kembali ke dapur untuk mengambil air minum, tanpa di sengaja pintu samping dapur menuju taman terbuka dan tidak terkunci.


Rasa penasaran membuat Meera mempercepat minumnya dan menaruh gelas, kemudian pergi ke arah taman memastikan apakah itu suaminya atau bukan.


Selang beberapa menit ternyata benar adanya, jika Hans sedang duduk di kursi panjang menatap ke arah langit sambil menangis tanpa suara. Perlahan Meera mendekati Hans, lalu duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan suaminya dan menyandar di dadanya.


Hans sedikit terkejut lalu menoleh kearah istrinya dengan cepat, dimana mata mereka saling menatap satu sama lain. Meera tersenyum kecil menatap suaminya, tangannya perlahan terangkat untuk mengusap setiap bulir-bulir air mata yang menetes di pipi suaminya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2