Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
1 Rahasia


__ADS_3

"A-ada apa, Hans?" tanyanya. Meera sedikit bingung akan tingkah suaminya yang terlihat senyum-senyum sendiri.


Hans berbalik, lalu menatap istrinya. "A-ahya, Sayang. Hehe, a-aku gapapa kok. Ya sudah disitu dulu ya sebentar, aku ganti spraynya dulu."


Kaki Hans kembali melangkah mendekati lemari khusus spray, selimut, ataupun sarung batal guling lainnya.


Dia mulai mengambil spray dan juga selimut, secara perlahan mulai menggantinya meskipun sedikit kesulitan, tetapi dia tetap berusaha tidak meminta bantuan pada istrinya yang sedang sakit.


15 menit berlalu, susah payah Hans melakukan semua sendiri. Akhirnya sekarang sudah berhasil, dan segera duduk ditepi ranjang dalam keadaan sedikit tersenggal.


Bulir-bulir keringat pun mulai berjatuhan membuat Meera yang melihatnya tidak tega, perlahan dan pasti.


Akhirnya Meera berhasil melangkahkan kakinya walaupun terasa sedikit menyakitkan, akan tetapi dia menahan semua itu demi bisa berada disamping suaminya.


"Nah, capek 'kan? Makannya jangan sok kuat, apa-apa bisa melakukan semuanya sendirian." ucapnya.


Meera berdiri tepat di hadapan suaminya, lalu mengelap keringat Hans menggunakan piyama tangannya.


Hans mendongak sambil tersenyum, kemudian memeluk perut Meera dengan begitu manja. "Hihi, tak apa Sayang. Aku kan memang serba bisa, apapun aku akan lakukan demi istriku tercinta ini."


"Hem, rupanya sudah mulai mencair ya es batuku ini." godanya.


Meera tersenyum saat kepala suaminya mendusel-desel di perutnya yang masih rata.


"Hem, Dedek cepat hadir di perut Bunda ya Sayang. Ayah janji, nanti kalau Dedek hadir Ayah akan ajak main Dedek setiap hari. Terus kita akan berlibur kemanapun Dedek mau, asalkan Dedek jangan lama-lama bersembunyi disana ya."

__ADS_1


Mendengar suara manja suaminya membuat Meera terkekeh sendiri, rasanya dia begitu gemas dengan tingkah Hans saat ini. Padahal mereka baru melakukannya hari ini, tetapi sudah meminta seorang anak untuk hadir di perutnya.


"Hihi, Hans. Kamu ini ada-ada aja ya, kita baru melakukannya hari ini. Mana mungkin bisa langsung jadi, huhh aneh!" ucapnya.


"Biarkan saja, yang penting aku yakin sebentar lagi seorang peri ataupun jagoan akan segera hadir di sini. Tunggu saja tanggal mainnya."


Hans begitu percaya dengan kata hatinya sambil mengelus perut istrinya, mencium dan juga mendusel-duselkan layaknya anak kecil yang sedang manja pada Ibunya.


"Amin, semoga aja ya Hans. Aku juga sangat ingin memiliki anak, dengan begitu aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu." jawabnya.


"Pasti, Sayang. Sebentar lagi kok, tenang aja. Ya sudah kamu istirhat ya, aku mau ambil laptop dulu. Masih ada tugas yang sedikit lagi belum selesai."


Hans bangkit berdiri di hadapan Meera dan menggendongnya untuk meletakannya di atas ranjang dengan hati-hati. Meera duduk menyandar di sandaran sambil menyelimuti kakinya sampai sebatas perutnya.


Cup!


Meera mengangguk kecil, bersamaan tangan Hans yang mengelus kepalanya begitu lembut. Lalu, dia mulai meninggalkan istrinya sebentar hanya untuk mengambil laptop.


Seperginya Hans, Meera terdiam merenung menatap lurus ke arah depan dimana di memikirkan sesuatu yang sebenarnya Hans sendiri belum mengetahuinya.


"Apakah aku harus jujur sekarang? Apakah ini waktu yang tepat? Jika benar begitu, bagaimana dengan kejadian yang kemarin? Kenapa bisa baru ini semuanya terungkap? Itu tandanya kejadian kemarin---"


Ceklek!


Pintu terbuka bersamaan masuknya Hans yang sudah memegang laptopnya. Meera menoleh kearah pintu membuat Hans yang sempat melihat Meera terdiam, langsung berjalan mendekati ranjang sampingnya dan duduk berselonjoran lalu mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang? Kenapa tadi pas aku masuk, kamu kaya lagi melamun, gitu? Apa yang sedang kamu pikirkan, hem? Ayo cerita, aku siap mendengarkan walaupun kita harus bergadang hehe ...."


Meera menatap wajah suaminya cukup lama, dan dia langsung memeluknya begitu erat. Hans hanya bisa tersenyum, terus mengusap kepala istrinya sesekali mencium pucuk kepalanya.


"Ada yang mau di ceritakan atau--"


"Hans, sebelumnya aku mau minta maaf. Selama kita menikah ada satu rahasia yang aku sembunyikan darimu dan juga Bram."


"Rahasia? Rahasia apa, Sayang? Katakan pelan-pela ya, jangan tergesa-gesa. Aku tidak mau jika kamu mengatakannya dengan terpaksa apa lagi kondisimu masih seperti ini."


"Aku tidak apa-apa, Hans. Ya, ada 1 rahasia tentangku dan Daddymu. Kalau sebenarnya selama aku menikah dengannya, aku sama sekali tidak di sentuh olehnya."


"Hahh? Ko-kok bisa? Pernikahan kalian itu berlangsung selama 2 tahun lamanya loh, apa iya Daddy sama sekali tidak meminta haknya darimu?"


"Ya, itu karena Daddymu tidak mau merusak masa depanku. Padahal aku sudah sempat menawarkan diri cuman dia menolak keras itu semua, dengan alasan yang kuat. Yaitu, dia menikahiku hanya karena wasiat Ayahku dan juga rasa bersalahnya."


"Wa-wasiat? Sa-salah? Memangnya Daddy buat salah apa? Kenapa harus kamu yang dijadikan tebusan kesalahan Daddy? Berarti waktu itu Daddy memaksa menikah denganmu bukan karena dia--"


"Bukan, Hans. Daddymu orang yang sangat baik, dia bukan pria yang kalian kira. Aku bisa mengatakan semua ini, karena aku merasakan semua kebaikan itu dan buktinya kaulah yang berhasil mendapatkan diriku."


"Bisakah kamu ceritakan bagaimana kejadian itu bermula, sampai akhirnya kalian menikah?"


Meera melepaskan pelukannya menatap suaminya dan tersenyum. Lalu, perlahan Meera melihat lurus ke arah depan, sambil mengingat awal mula dia mengenal Daddynya Hans dan apa penyebab mereka bisa menikah.


Karena Hans dan Bram waktu itu menolak keras semuanya dengan alasan, bahwa Daddynya merupakan pria tua yang makin berumur malah semakin menjadi-jadi. Begitu juga Meera yang dianggap wanita murahan, yang hanya menginginkan harta, tahta dan juga ketenaran.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2