Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Dalang Dibalik Kecelakan Hans


__ADS_3

Degh!


Mendengar sedikit perkataan Bi Neng, membuat Bram mengepalkan tangannya. Rahang Bram terlihat begitu mengeras dan wajahnya pun berwarna merah akibat menahan amarah yang begitu besar.


Meski ucapan Bi Neng bagaikan puzzel buat Bram. Cuman dia sedikit paham apa yang di maksud dengan Bi Neng, hanya saja Bram belum tahu mereka yang di maksud itu siapa.


"Mereka yang Bibi maksud itu siapa? Katakan dengan jelas, Bi. Apa yang sebenarnya terjadi selama aku ke rumah sakit?" tanya Bram, dengan tegas menatap penuh ke arah Bi Neng.


Perlahan Bi Neng mulai menjelaskan kejadian beberapa saat lalu, dimana ketika semuanya pergi ke rumah sakit mengantar Meera. Bi Neng dan Atun segera membereskan semuanya.


Setelah itu, Atun pergi ke arah paviliunnya dan membuat Bi Neng menaruh curiga padanya serta suaminya. Tanpa harus menunggu lama lagi, Bi neng menggedor pintu paviliun mereka dengan wajah yang sedikit kesal.


Tok, tok, tok!


"Tun, buka pintunya! Saya mau ngomong sama kalian, cepat buka pintunya!"


Bi Neng terus menggedor pintu paviliun Atun dan suaminya, sampai beberapa menit akhirnya Atun membuka pintunya dengan wajah kesalnya.


Ceklek!


"Ada apa sih, ketok-ketok pintu kaya orang mau nagih hutang aja!" sahutnya kesal.


"Dimana suamimu? Saya mau bertemu dengan dia, sekarang!" tegas Bi Neng.


"Lah, ada urusan apa sama suamiku. Kenapa kau mencarinya? Jangan bilang---"


"Jaka, keluar kamu! Dimana kamu, hahh!"

__ADS_1


Bi Neng tidak mau menghiraukan perkataan Atun, dia langsung menyelonong masuk dan segera mencari keberadaan Jaka dimanapun dia bersembunyi.


"Astaga, Nenek peyot! Ada apa sih nyari-nyari saya? Orang tuh ya, kalau masuk rumah orang pakai permisi, bukan teriak-teriak enggak jelas kaya gini. Emangnya ada apa sih, hahh!" pekik Jaka, penuh emosi.


"Tahu nih, biasa fans kamu mungkin, Pak. Tahu sendiri dia 'kan udah lama jadi janda, makannya udah enggak punya keluarga dan sekarang malah mau ngincer laki orang. Dasar murahan!" sahut Atun, cuek.


"Udah jangan banyak drama kalian, saya udah tahu semua kelakuan jahat kalian pada keluarga Ivander. Jadi sekarang saya minta, kalian jujur apa yang udah di rencanain pada Tuan Hans!"


"Kenapa dia sampai kecelakaan seperti ini, apa yang udah kau rusak di mobilnya. Jaka! Pasti semalam kau merusak mobil Tuan Hans sehingga kecelakaan ini terjadi, iyakan!"


Suara Bi Neng menggema di paviliun itu, membuat Atun dan Jaka langsung saling menatap satu sama lain. Mereka terkejut saat Bi Neng seperti mengetahui semua yang mereka lakukan pada Hans.


Tatapan Atun dan Jaka, seolah-olah mereka sedang berbicara di dalam batinnya dan bertanya satu sama lain, kenapa bisa Bi Neng bisa mengetahui apa yang Jaka lakukan pada mobil Hans.


Namun, mereka tetap berusaha untuk bersikap biasa saja menutupi rasa cemasnya agar tidak sampai diketahui oleh Bi Neng.


"Jawab, kenapa kalian diam aja, hahh!"


"Dan satu lagi, aku tahu kamu juga 'kan yang sudah membuat kesalah pahaman di antara Non Meera dan Non Alice sebelum mereka menikah? Iya, 'kan? Jawab!"


Degh!


Atun benar-benar syok, karena apa yang di lakukan semuanya ternyata tidak lepas dari pengelihatan Bi Neng. Seakan-akan Bi Neng selalu mengontrol cara kerja mereka, di tambah lagi apa yang Bi Neng katakan semuanya adalah benar.


Disini Atun dan juga Jaka merasa tertekan. Karena perkataan Bi Neng berhasil mendesak mereka agar mau jujur. Sayangnya, mulut mereka sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, mereka cuman terdiam mendengar semua yang Bi Neng sampaikan.


"Jangan kalian kira aku tidak tahu semua yang kalian rencanakan ya! Diam-diam aku ini melihat semua kejadian yang menimpa keluarga Ivander yang disebabkan akibat ulah kalian. Sebenarnya apa yang kalian inginkan dari mereka, hahh? Harta? Tahta? Atau apa? Katakan cepat!"

__ADS_1


"Aku tahu, kalian masuk ke rumah ini dengan tujuan tertentu bukan? Jika kalian benar-benar ingin bekerja di sini maka kalian tidak akan tega bersikap seperti ini pada mereka semua. Jangan bilang kalian punya dendam sama keluarga ini, tapu enda apa yang kalian punya, hahh!"


"Jawab, jangan diam. Masih punya mulut 'kan? Jadi gunakan dengan baik!"


Bi Neng membentak mereka dengan air mata yang perlahan mulai menetes, dimana Atun dan Jaka yang merasa tidak bersalah.


Mereka tetap membela diri masing-masing menggunakan cara yang membalikan fakta dan menyalahkan semuanya pada Bi Neng. Di usianya yang semakin menua membuat Bi Neng malah banyak berhalu, tak lupa pengelihatannya pun mulai rabun hingga mereka menganggap Bi Neng sedang berimajinasi untuk menyalahkan mereka karena ketidak sukaannya.


Itulah alibi-alibi yang mereka lontarkan untuk menyerang balik Bi Neng, sampai akhirnya mulailah percekcokan hingga membuat Bi Neng kesal dan menampar Atun. Kemudian Atun membalasnya hingga mendorongnya dan membuat kepala belakangnya terpentok benda keras, yang mengakibatkan Bi Neng pingsan.


Setelah itu Jaka terkejut, dia sangat takut jika Bi Neng meninggal akibat ulah istrinya. Cuman Atun tidak menggubrisnya, dia malah masa bodo amat sama apa yang terjadi pada Bi Neng.


Ini kesempatan buat mereka kabur dari rumah ini, karena misinya telah selesai. Dan semua kejahatannya sudah di ketahui oleh Bi Neng, membuat mereka langsung bergegas pergi dengan alasan bahwa mereka akan pergi ke kampung lantaran keluarganya ada meninggal.


Security yang hanya percaya langsung membiarkan mereka pergi begitu saja, sementara tidak ada satu pun yang melihat Bi Neng. Dan kurang lebih setengah jam Bi Neng sadar, lalu segera mencari keberadaan Atun dan Jaka.


Namun, nihil. Mereka sudah berhasil lolos tanpa rasa bersalah membuat Bi Neng gagal untuk menyelidiki. Mereka benar-benar menutup rapat mulutnya masing-masing.


Mendengar semua kisah ini membuat Bram benar-benar marah, hingga dia menggebrak meja cukup keras dan Bi Neng hanya bisa terkejut serta menundukkan kepalanya.


Sebenarnya dia mau bercerita, cuman dia tidak berani serta masih memantau semua rencana mereka. Apa lagi yang Atun dan Jaka lakukan masih dalam batas wajar, tetapi kali ini sudah semakin membuat Bi Neng geram akibat tingkah mereka yang begitu kelewat batas.


Bram ingin sekali menyalahkan Bi Neng, karena selama ini mereka mencari dalang di balik semuanya. Akan tetapi, Bi Neng yang mengetahuinya malah menyembunyikannya.


Semakin besar rasa bersalah yang ada di dalam hati Bi Neng, cuman mau bagaimana lagi. Setidaknya Bram tahu jika Atun dan Jakalah orang yang selama ini mereka cari.


Bram segera menelepon pihak berwajib untuk menutup semua akses Atun dan Jaka pergi, agar mereka bisa segera diamankan.

__ADS_1


Sementara Bi Neng hanya terdiam menangis dan menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika semua keburukan ini bisa terjadi, hanya karena dendam Atun dan Jaka yang tidak pernah mereka ketahui alasan apa yang ada dibalik dendam tersebut.


...***Bersambung***...


__ADS_2