
Sang dokter dan asistennya keluar membawa anak mereka, lalu meninggalkan Hans di dalam ruangan bersama Meera. Hans langsung memeluk Meera sekilas, lalu mencium keningnya beberapa kali, sebagai rasa bahagianya yang dia tularkan untuk istrinya.
Setelah itu, Hans duduk di samping Meera dan kembali mengajaknya berbicara mengenai suasana hatinya yang lagi senang. Cuman Hans yang tidak begitu memperhatikan wajah istrinya, jadi dia melewatkan kesempatan untuk menyaksikan bila Meera sedikit memberikan senyuman samar kepadanya.
Disaat Hans sedang asyik mengobrol dengan Meera, tiba-tiba saja terdengar suara pintu di ketuk membuat Hans langsung menoleh kearah pintu.
"Loh kalian semua disini? Astaga, ngapain? Kau itu harus bayak istirahat, apa lagi anakmu masih sangat kecil untuk diajak berpergian. Dan juga Bibi juga, kenapa ke sini? Bukannya Bibi lagi kurang enak badan?"
Hans berdiri dengan segala keterkejutannya saat Bram datang membawa istri dan juga anaknya. Tak lupa Bi Neng pun ikut bersama mereka, hanya sekedar ingin bertemu oleh Meera yang sudah kurang lebih 1 Minggu lebih mereka tidak berjumpa.
"Bram, tolong jaga Baby Maura. Aku mau ke Kak Meera." Alice langsung memberikan Baby Maura kepada suaminya, dalam keadaan sedikit tergesa-gesa.
Kemudian Meera pun langsung memeluk Meera dan menangis ketika melihat keadaannya yang terlihat begitu menyayat hatinya.
Sama seperti Bi Neng yang juga ikut menangis menyaksikan majikan yang sudah seperti anak sendiri, harus mengalami ujian sebesar ini.
Bram dan Hans hanya bisa melihat mereka semua dari jarak kurang lebih 1 meter setengah. Dimana Hans mencoba untuk menggendong Baby Maura, karena dia merasa kangen oleh putrinya. Anggap saja ini sebagai obat rindu untuk mengurangi kesedihan di dalam hati kecilnya.
"Kak, dimana anakmu? Kenapa inkubatornya tidak ada?" tanya Bram menatap bingung kearah bangkar Meera, yang tidak lagi berdekatan sama inkubator anaknya.
Hans menggendong serta menciumi Baby Maura sambil sesekali menjelaskan semuanya kepada Hans, sesuai sama penjelasan sang dokter tadi.
__ADS_1
Mendengar itu semua, mereka pun ikut merasa senang. Lantaran, satu persatu keajaiban telah datang. Kini, mereka hanya fokus pada kesehatan Meera yang belum ada perkembangan sama sekali.
"Kalau seandainya Kak Meera masih belum sadar juga dan Baby Boy bisa di bawa pulang. Biar aku dan Bi Neng yang merawatnya aja Kak, kasian dia jika harus berlama-lama di rumah sakit. Aku takut jika dia bisa tertular olehpenyakit lainnya."
"Ya benar, Tuan. Meskipun tubuh saya sudah menua, tapi saya masih kuat untuk mengurus Den Boy yang sudah saya anggap sebagai cucu saya sendiri."
Alice dan Bi Neng lebih dulu mengajukan untuk menjadi suster bagi Baby Boy, sebelum mendapatkan kabar kapan dia bisa kembali ke rumah.
Hans hanya bisa menganggukan kepalanya sambil terus menatap kearah Baby Maura, yang saat ini menatapnya sambil mengedip-ngedipkan matanya dan tersenyum. Seakan-akan Baby Maura seperti sedang memberikan energi berupa semangat untuk Daddynya yang saat ini masih dilanda kesedihan.
Bi Neng duduk di kursi tunggal sambil terus menggosokan tangannya pada Meera, tatapannya benar-benar di penuhi oleh harapan bila Meera bisa bangun hari ini juga.
"Anakku, Sayang. Bangun ya, Non. Bi Neng udah jauh-jauh sempetin datang kesini meskipun kondisi Bibi masih kurang sehat. Cuman, Bibi kuat-kuatkan demi busa ketemu sama Non Meera dan juga Den Boy."
Alice mengusap punggung Bi Neng yang saat ini sedang menghadapi kesedihan yang cukup mendalam. Diantara Alice dan Meera, Bi Neng sangat dekat oleh Meera. Maka dari itu, Bi Neng sudah menganggap Meera adalah darah dagingnya sendiri.
Sama seperti Hans dan Bram, begitupun Alice. Rasanya Bi Neng sangat senang bisa memiliki keluarga dan juga anak-anak. Hanya saja keadaan seperti ini membuat dia malah kepikiran dan menjadi sakit-sakitan.
Apa lagi usia Bi Neng sudah hampir mau masuk kepada 7. Jadi, dia benar-benar sudah cukup tua untuk menjadi ART kesayangan keluarga besar Ivander.
Bi Neng juga sudah dianggap sebagai salah satu keluarga mereka, ibaratkan sesepuh atau orang yang bisa di percaya untuk menggantikan kedua orang tua mereka semua.
__ADS_1
Disaat semuanya lagi fokus membicarakan mengenai jalan keluar untuk Meera, tiba-tiba saja Baby Maura menangis. Pertanda dia sudah sangat lapar, mau tidak mau Alice pun mengambil alih Baby Maura dari gendongan Hans sambil duduk di sofa.
Kemudian dia meminta tolong pada suaminya untuk memakaikan kain khusus menutupi tubuh depannya, bertujuan agar dia bisa menyusui anaknya dengan aman tanpa harus merasakan malu.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka membuat semuanya langsung menoleh serentak kearahnya, betapa terkejutnya wajah mereka yang terlihat begitu senang. Mereka langsung meyambut kedatangan anggota baru yang sudah bisa di timang-timang.
Sebab, ketika ada di dalam inkubator tidak boleh sembarangan orang bisa menyentuhnya kecuali kedua orang tuanya. Itu pun harus menggunakan serangkaian prosedur untuk menjaga kebersihan dari berbagai kuman yang akan menyerangnya.
Sama halnya seperti kedatangan seorang pangerang, semuanya heboh dan juga senang. Saking senangnya Alice sampai berdiri, melupakan jika dia sedang menyusui Baby Maura.
"Baby Boy?" ucap Alice, Bi Neng dan juga Bram secara bersama-sama.
"Selamat siang semuanya, aduh aduh ... Pangeran kecil datang langsung di sambut oleh banyak orang. Pasti dia senang banget. Sayangnya, Pangeran kecilnya lagi bobo nih ...."
Sang dokter tersenyum sambil melirik Baby Boy yang ada di tempat tidur bayi yang di dorong oleh asisten susternya.
Perlahan dia mendekatkan tempat tidur Baby Boy di samping kanan bangkar Meera. Setelah itu sang suster langsung mengunci semuanya agar tidak membuat roda tempat tidur itu berjalan.
Semua pun langsung mengerubungi Baby Boy untuk melihat wajah tampannya yang selama ini hanya mereka lihat dari jarak jauh ataupun ponsel.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat ketampanan Baby Boy yang benar-benar mirip dengan Hans. Meskipun ada beberapa yang mirip sama Meera, hanya saja lebih dominan kepada Hans.
__ADS_1
Inilah keyataannya. Sang Ibu rela mengandung selama 9 bulan lamanya, menahan semua rasa mual dan juga lemas di tubuhnya. Sampai dia rela mengorbankan nyawanya demi membuatnya bisa menatap dunia, tetapi hasilnya. Anak yang di kandung selama itu, sekalinya keluar malah mengambil paras sang Ayah ataupun kelakuannya, sedangkan sang Ibu hanya akan mendapatkan sisanya saja.
...***Bersambung***...