Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Sifat Jahil Berujung Serius


__ADS_3

"Iya, apa Sayang?" jawab Hans, sedikit menggoda istrinya.


"Yakk, bukan Sayang itu maksudnya ishh." ucap Meera sambil berusaha menutupi kegugupannya.


Hans terkekeh kecil melihat wajah kesal istrinya yang membuatnya gemas. Sampai akhirnya Hans meneruskan pekerjaannya, sementara Meera dia menikmati minumannya sampai habis tak tersisa.


20 menit berlalu, Meera kembali meneruskan menonton film di ponselnya sambil memakan dessert yang masih belum di coleh sedikitpun.


"Huaa, astaga Ayangku tampan sekali jika memakai jaket hitam itu. Apa lagi saat menaiki moge kesayangannya, behh. Damagenya enggak ada obat, hihi ...."


Hans yang masih berkutak dengan laptopnya menjadi tidak fokus, ketika Meera menyebutkan pria lain sebagai kesayangannya. Sementara suaminya sendiri, Meera tidak sampai seperti itu. Rasa cemburu mulai melanda Hans, membuatnya menjadi tidak konsen untuk meneruskan pekerjaannya.


"Ekhem, ekhem!" sindir Hans dengan deheman kesal.


Meera yang mendengar suara itu tetap cuek, seakan-akan film tersebut lebih berarti dari deheman suaminya.


"Wah, gila sih ini. Si Ayang maco banget, sumpah! Arrghh, aku jadi terpesona dengan roti sobek 8 itu." ucap Meera, lagi-lagi membuat Hans langsung menoleh dalam keadaan wajah kesal.


"Elehh, baru juga 8. Punyaku ada 12!" sahut Hans, berhasil mengalihkan pandangan Meera dan langsung menatapnya.


"Hahh, se-seserius Hans? Kamu punya roti sobek12? Ko-kok aku tidak percaya, ya?"


"Jangan bilang, kamu ngomong begitu karena kamu cemburu? Iyakan, hayo ngaku hihi ...."


Meera menggoda suaminya dengan wajah jahilnya, sampai Hans pun menjadi gugup. Apa yang dikatakan istrinya memang benar adanya, cuman Hans tidak mau jika dia jujur maka istrinya akan menjadi besar kepala.

__ADS_1


Sebisa mungkin Hans menutupi rasa gugupnya, kemudian dia menatap istrinya dengan wajah kesalnya.


"Ckk, apaan sih. Si-siapa juga yang cemburu, jangan ge'er ya jadi orang tuh,"


Suara Hans yang terbata-bata membuat Meera semakin senang untuk menggoda suaminya yang terkadang sangat gengsi untuk mengungkapkan perasaannya.


"Sepertinya jahil sedikit dengan suamiku boleh kali ya, lagi pula dia kan suamiku. Kenapa juga aku harus malu sama dia? Kalau keduanya sama-sama gengsi ataupun malu, bagaimana hubungan kita bisa menjadi satu? Masa iya mau selamanya seperti ini?"


"Ya sih aku tahu, hubungan ini tercipta akibat kejadian itu. Cuman semakin ke sini aku sudah mulai membuka hatiku untuk mencintainya, begitu juga dia. Hanya saja kita belum menemukan waktu yang pas untuk mengatakannya. Aku sangat yakin semua itu sebentar lagi akan terwujud, dan aku sama Hans bisa hidup bahagia."


Meera berbicara didalam hatinya sambil tersenyum menatap Hans membuat Hans menjadi bingung. Tubuhnya mulai merinding saat Hans melihat Meera mulai mendekatinya dengan wajah jahilnya.


"Sayang, bolehkah aku melihat roti sobekmu yang isi 12 itu?" goda Meera dengan kedipan mata yang sangat cantik.


"E-enggak, e-enggak boleh. Udah sana jauh-jauh, jangan dekati aku. Aku mau kerja ma-masih banyak kerjaan."


Namun, siapa sangka. Meera malah bertambah jahil dan tanpa permisi langsung duduk diatas pangkuan suaminya. Posisi seperti itu tanpa disengaja malah membuat sesuatu dibawah sana mulai menegang, bersamaan dengan itu tubuh Hans sudah tidak bisa bergerak.


Sedikit saja Hans bergerak, sudah bisa dipastikan bahwa sesuatu disana akan terkena gesekan malah semakin membuat Hans berada didalam bahaya.


"Pahit, pahit, pahit!" batin Hans berbicara penuh ketakutan. Baru kali ini Hans merasakan begitu tegang, sehingga benda pusaka yang seumur hidup tidak pernah bangun hanya terkena sentuhan tubuh istrinya kini sudah berusaha memberontak ingin keluar dari tempatnya.


"Tuhan, selamatkan aku! Jangan biarkan si ***** ini bangun disaat yang tidak tepat, buatlah dia kembali tidur dengan nyenyak. Aku mohon, aku belum siap dengan semua ini!" Hans terus mengoceh didalam hatinya saat wajah mereka sudah berdekatan satu sama lain.


Entah darimana asalnya sifat jahil itu muncul dari dalam diri Meera, sampai Meera sendiri pun tidak merasa malu untuk merayu suaminya sendiri.

__ADS_1


Ini seperti bukan Meera yang Hans kenal, apa semua ini karena cinta? Sehingga bisa membuat mereka melakukan apapun demi mewujudkan cinta itu agar menjadi nyata.


"Rasanya aku tidak menyangka Hans, kalau aku bisa membuka hatiku untuk kamu. Awalnya aku kira membuka hati itu sangat sulit, ternyata tidak. Semakin aku menutup rapat hati ini malah semakin membuat pintu itu terbuka lebar."


Tangan Meera terarah untuk mengusap pipi suaminya dengan sangat lembut. Sorotan mata yang kian mendalam membuat Meera yang awalnya ingin menjahili suaminya malah berbanding terbalik.


Tidak ada kejahilan dan candaan yang keluar dari mulut Meera. Semua itu benar-benar tulus dari hatinya untuk menyampaikan isi hatinya. Meera tidak peduli bila dia dikatakan wanita yang tidak punya rasa malu, karena mengungkapkan perasaannya lebih dulu dari pada suaminya.


Bagi Meera mau dia lebih dulu atau suaminya semua itu sama. Keyakinan hati Meera sangatlah kuat jika suaminya juga sudah mulai mencintainya.


"Aku enggak tahu mulai kapan rasa cinta ini hadir didalam hatiku untukmu, yang jelas aku cuman mau bilang. Terima kasih, kamu sudah selalu ada buat aku, selalu menjaga aku dan memperlakukanku sebaik mungkin. Maaf kalau aku belum bisa menjadi istri yang terbaik untukmu yangp jauh dari kata sempurna,"


"Walaupun hubungan kita diawali dengan kejadian tidak baik, aku hanya ingin hubungan ini tetap bertahan sampai kebahagiaan itu hadir ditengah-tengah kita."


"Tak apa jika kamu belum mencintaiku, tak apa jika kamu tidak menganggapku menjadi istri. Setidaknya aku cuman mau mengatakan pada suamiku, kalau aku sudah mencintainya. Tidak ada nama pria lain selain suamiku, yang saat ini ada dihadapanku."


Meera tersenyum memegang rahang suaminya, dimana air mata Hans tanpa sadar menetes dipipinya membuat Meera menggelengkan kepalanya.


Meera tidak tahu kenapa air mata itu bisa menetes, akan tetapi Meera senang saat suaminya langsung memeluknya. Disitulah isak tangis Hans pecah, dia tidak menyangka jika istrinya sudah berhasil mencintainya semudah itu.


Hans saja sebagai pria tidak bisa mengutarakan kata-kata cinta, semua karena terhalang oleh gengsi. Sementara istrinya yang melewati semua kegagalan cinta dengan mudahnya bisa mengatakan semua itu tanpa rasa gugup.


Betapa bahagianya Hans bisa mendapatkan wanita seperti Meera, meskipun dia tahu cara mendapatkan Meera dengan cara yang salah. Cuman apa boleh buat, takdir yang berkuasa atas untuk menyatukan mereka.


Niat jahil yang mau Meera berikan pada suaminya, malah berutung keseriusan akibat perasaannya yang sudah tidak bisa di sembunyikan lagi.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2