Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kepulangan Bram


__ADS_3

Cuman, Meera tidak bisa dibohongi. Dia paham betul apa yang dirasakan Hans, karena dia juga merasakannya.


Meera bisa melihat betapa hancurnya hati Hans saat persaudaraan mereka yang awalnya terkesan sangat dekat. Seketika berubah, setelah adanya sebuah tembok besar ditengah-tengah mereka yang menjadi penghalang untuknya.


...*...


...*...


Sesampainya di rumah, Meera dan Hans segera berjalan memasuki rumah. Dimana Bram sedang duduk diruang keluarga sambil menonton televisi.


Tanpa sepengetahuan Hans dan Meera, ternyata Bram sudah pulang kerumah sejak sore hari. Dia sengaja tidak mau menghadiri acara tersebut, lantaran Bram masih sangat sakit hati yang teramat mendalam.


Kebencian kepada sang Kakak dan juga mantan kekasihnya, kini semakin membara. Ketika Bram mendengar suara langkah kaki mulai berjalan mendekat kearahnya.


Bram melirik sekilas, melihat Meera dan Hans dari kejauhan masih menggunakan pakaian pengantin lengkap. Disitulah rasa cemburu semakin membuat hati Bram sangat hancur.


"Ekhem, bahagianya yang baru aja nikah. Tapi sayang, mendapatkannya dengan cara kotor!" sindir Bram, terus menatap kearah layar televisi.


Meera dan Hans yang mendengar suara tidak asing ditelinganya, langsung menghentikan langkahnya. Kemudian mereka menatap satu sama lain dalam kondisi bingung.


"Bra-bram? Ka-kamu u-udah pulang?" tanya Meera, tersenyum antusias sambil berlari kecil mendekatinya.

__ADS_1


Dari sini, Hans bisa merlihat betapa senangnya Meera, ketika pria yang dia cintai sudah kembali pulang.


"Kamu kemana aja Bram, kenapa sudah 3 hari ini kamu tidak pulang? Apa kamu lupa, jika hari ini kami akan menikah?" ucap Meera, langsung duduk di samping Hans dalam keadaan penuh kekhawatiran.


Bram menoleh menatap wajah cantik Meera yang seharusnya miliknya seorang, kini telah menjadi milih orang lain, yaitu Kakaknya sendiri. .


Rasa iri, kecewa dan juga sakit hati semakin mendorong Bram untuk membenci Hans serta menganggap remeh Meera.


"Bram, dari mana aja kamu selama 3 hari? Terus ini apa, kenapa baru pulang hari ini? Lantas apa alasanmu enggak menghadiri acara kami?" tanya Hans, penasaran.


"Suka-suka gualah, emangnya siapa kalian? Sok ngatur banget, mendingan kalian pergi sana. Mandi bersih-bersih, terus melakukan kewajiban sebagai suami-istri!" jawab Bram penuh penekanan yang selalu mengarah kesindiran.


"Bram!" tegas Hans, saat mendengar jawaban Bram semakin tidak bisa dikendalikan. Layaknya seseorang yang tidak mengerti sopan-santun.


"Udah-udah, jangan diteruskan. Lebih baik kita semua istirahat ya, hari sudah malam semakin larut. Enggak baik, jika kalian terus bertengkar seperti ini." ucap Meera mencoba untuk menenangkannya keduanya.


"Cih, enggak usah sok peduli lu sama gua. Munafik!" sahut Bram, pergi begitu saja dalam keadaan penuh emosi.


Hanas yang dari tadi berusaha menahan amarah didalam hatinya, kini tidak lagi. Tangannya mengepal keras sambil matanya menatap punggung Bram bagaikan santapan makan yang lezat.


"Bram!" gumam Hans, diambang kemarahan yang semakin meledak-ledak didalam hatinya.

__ADS_1


Meera melihat reaksi Hans mulai tidak stabil langsung memeluk lengannya, dan membuat Hans tidak jadi untuk melangkahkan kakinya mengejar Bram.


Hans terkejut, lalu menatap Meera yang saat ini sedang menatapnya. Meera menatap suaminya penuh dengan permohonan, agar tidak semakin memperpanjang masalah.


Meera takut jika perdebatan kecil diantara mereka,, akan semakin membuat hubungan persaudaraan mereka menjadi terganggu. Hingga jarak yang seharusnya mereka tepis, malah semakin bertambah jauh.


"Aku mohon jangan ditanggapi ucapannya, biarkan dia bersikap seperti apa yang dia inginkan. Karena aku yakin suatu saat, dia akan kembali menjadi Bram yang kita kenal." ucap Meera, matanya mulai berkaca-kaca.


"Dia udah keterlaluan, tidak seharusnya dia berkata seperti itu sama kamu. Ya, oke. Saya tahu dia kecewa, dia marah, dia benci sama kita. Cuman, caranya tidak harus merendahkan kamu seperti ini!"


"Dari dulu Daddy selalu mengajarkan kami untuk selalu menghargai seorang wanita, apa pun masalahnya. Mau kita marah atau tidak, jangan sampai kita melukainya. Itu sama aja kita merendahkan diri sendiri!"


Hans berusaha menjelaskan kepada Meera jika apa yang Bram perbuat itu sudah cukup menyakitkan.


Meski Hans tahu jika Meera tidak merasa keberatan, tetapi Hans paham betul bagaimana rapuhnya hati Meera saat orang yang dia cintai mengatakan kata-kata kasar pdanya.


Sampai akhirnya Hans mengalah, dan menuruti perkataan Meera. Jika mereka berdua harus lebih kuat lagi, menghadapi sikap Bram yang bisa jadi lebih parah dari ini.


Beberapa menit Hans sudah mulai merasa tenang, membuat Meera melepaskan tangannya dengan ekspresi wajah sedikit memerah.


Tanpa berlama-lama, Meera berpamitan pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Disaat semua sudah selesai, maka Meera akan segera pergi ke kamar suaminya untuk pertama kali.

__ADS_1


Hans mengangguk kecil, lalu melangkahkan kedua kaki menuju kamarnya sendiri saat melihat Meera sudah mulai menjauh.


...***Bersambung***...


__ADS_2