Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Ruangan Apa Itu?


__ADS_3

Namun, Meera menolaknya karena dia belum merasa haus. Tanpa berlama-lama Yudha segera berpamitan kembali turun kelantai 25, dimana tempat meeting berada.


Yudha meninggalkan Meera seorang diri diruangan Hans, tetapi saking penasarannya Meera menaruh semua tasnya. Kemudian berjalan perlahan melihat serta menyentuh semua benda yang ada diruangan, secara hati-hati sambil menunggu Hans yang masih meeting.


...*...


...*...



Kurang lebih sekitar 35 menit berlalu, Meera sudah terlihat begitu bosan. Kemudian dia melihat kearah satu pintu yang membuatnya sangat penasaran.


"Ruangan apa itu? Kenapa didalam ruangan masih ada ruangan lagi?" gumam Meera menatap pintu tersebut.


Perlahan langkah kaki Meera mendekati pintu tersebut, lalu memegang pegangan pintu dan membukanya secara perlahan.


Ceklek!


Pintu terbuka sedikit demi sedikit dengan munculnya sebuah kamar yang didesain begitu cantik. Bukan cantik dalam artian kamarnya seperti kamar wanita, melainkan kamar itu benar-benar seperti mencerminkan jati diri seorang Hans.



"Astaga, ternyata didalam ruangan Hans ada kamar juga? Pantas saja dia selalu jarang pulang, pasti setiap lembur dia akan menginap di sini."

__ADS_1


"Kalau begitu caranya, buat apa juga punya rumah jika didalam Perusahaan aja bisa buat kamar semewah ini?"


"Huhh, ada-ada saja ya. Kalau begini mah aku bisa nunggu Hans sambil rebahan kali ya, toh badanku sedikit pegal. Capek tahu duduk mulu, nanti bisa-bisa tulang ekorku lurus lagi."


Meera bergumam kecil memasuki kamar tersebut, lalu kembali keluar untuk mengambil tas selempangnya dan membawanya ke dalam kamar.


Disana Meera segera merebahkan tubuhnya dengan sangat nyaman, sambil menonton film drama Korea dari ponselnya.


Namun, tanpa disadari Meera sudah mulai menguap hingga air matanya menetes tanpa sebab. Tak lama perlahan mata Meera mulai menutup, kembali terbuka dan menutup lagi sampai beberapa kali.


Hingga pada akhirnya bukan film drama yang Meera tonton, melainkan film tersebut yang menonton Meera tertidur sangat pulas. Mungkin karena banyaknya beban pikiran yang Meera tanggung, membuat tubuhnya mudah merasa lelah.


...*...


...*...


Ya bagaimana tidak lama, karena ini merupakan bisnis yang paling besar. Jika sampai tembus ataupun gol, maka Perusahaan Hans akan menjadi Perusahaan terkaya hingga bisa menduduki peringkat ke-1 di Negara.


Setelah semua kolega bisnisnya pergi meninggalkan ruangan meeting, Hans langsung bergegas keluar ruangan dalam keadaan terburu-buru. Hans merasa tidak enak, sudah menyuruh istrinya menunggu cukup lama.


Semua itu bukan sepenuhnya salah Hans. Apa lagi dia sendiri pun kaget ketika mendengar jika Meera sudah ada di loby Perusahaannya.


Untungnya kehadiran Meera tidak sampai membuyarkan konsentrasi Hans, hanya saja Hans masih bingung maksud dan tujuan Meera ke Perusahaan untuk apa. Karena setahu Hans, Meera selalu menolak jika diajak pergi ke Perusahaan bersama mendiang Daddynya.

__ADS_1


"Sebelum istriku pergi dari Perusahaan, jangan pernah ada yang masuk ke dalam ruangan tanpa seizin saya. Paham kalian!" tegas Hans, didalam lift menuju ruangannya.


"Paham, Tuan." jawab Yudha dan seketaris secara bersamaan.


"Memangnya wanita itu secantik apa sih, sampai-sampai Bapak sama anak semuanya pada memperebutkannya!"


"Terus juga Tuan Hans bod*doh banget, ngapain juga main langsung nikahin Ibu tirinya. Lagi pula belum tentu juga kan dia akan langsung hamil pasca kejadian itu?"


"Padahal Tuan Hans terkenal pria dingin sama semua wanita, tetapi kenapa malah tiba-tiba langsung saja memutuskan untuk nikahin Ibu tirinya cuman karena masalah kecil seperti itu."


"Toh, Ibu tirinya juga sudah jebol berkali-kali sama Bapaknya aja enggak hamil-hamil. Itu artinya dia pasti mandulkan? Meskipun usia Bapaknya Tuan Hans sudah tua, tetapi rahim wanita itu masih sangat sehat untuk memproduksi keturunan."


"Siapa tahu kan, sebenarnya Tuan Hans sudah dijebak oleh wanita itu agar mereka bisa memiki status. Ditambah pada saat itu statusnya cuman sebagai Ibu tiri, bukan Ibu kandung."


"Jadi sewaktu-waktu dia bisa disingkirkan dari rumahnya, maka dari itu sebelum kejadian dia langsung bertindak melakukan penjebakan disaat Tuan Hans ingin live tentang kehidupan sehariannya."


"Sumpah, benar-benar gokil sih itu orang. Anak dari suaminya main ambil aja, gua yakin sih kalau Tuan Hans ada apa-apa pasti wanita itu akan menikahi adeknya. Setelah semuanya tiada, maka dia dengan bebas menikmati semua hartanya, cih munafik!"


Seketaris tersebut berperang didalam hatinya dengan perasaan yang sangat gondok. Sebenarnya dia sudah sangat lama memendam perasaan kepada Hans.


Namun, setiap kali dia berusaha mendekati Hans dengan cara memberikan perhatian lebih padanya. Hans tetap sama sekali tidak menanggapinya, dia lebih memilih diam dari pada waktunya terbuang sia-sia cuman demi menanggapi orang yang tidak penting.


...***Bersambung****...

__ADS_1


__ADS_2