
Hans melihat Meera sangat pasrah dengan takdir, membuatnya semakin merasa bersalah. Berkat dirinya, hubungan Meera dan Bram kandas ditengah jalan.
Hans seperti merasa bahwa dia adalah orang ketiga yang menjadi sumber mala pataka, bagian kebahagiaan sepasang kekasih yang baru saja ingin melanjutkan hubungannya untuk kejenjang lebih serius.
Tepat dijam 11 malam, acara pernikahan sudah selesai. Hans dan Meera pun sudah berada di dalam mobil menuju arah pulang.
Selama diperjalanan, keduanya hanya terdiam tanpa berkata satu patah pun. Sampai satu pertanyaan terngiang dikepala Meera. Cuman, dia enggan untuk membuka suaranya.
Rasa takut dan juga ketidak enakan, kembali menyelimut hati Meera. Beberapa kali Meera sempat ingin membuka mulutnya, cuman tidak jadi akibat rasa cangungnya.
"Huhh ayo, Meera. Ayo! Kamu pasti bisa kok, ingat Hans itu udah jadi suamimu. Jadi kamu berhak menanyakan semua itu,"
"Pokoknya apa pun yang terjadi kamu harus nanya, dari pada kamu sendiri bingung kan? Jadi ayolah, Meera. Kamu harus berani, oke!"
Huuhh ...
Meera menarik napasnya lalu dia perlahan mulai melirik kearah suaminya. Baru saja Meera mau membuka mulut, tiba-tiba Hans membuka mulutnya lebih dulu.
"Mulai saat ini kamu tidur dikamar saya, dan biarkan kamar Daddy kosong. Masalah barang-barang, bisa meminta bantuan Bibi untuk membantumu menyusunnya."
"Tenang saja, saya tidak akan menyentuhmu sebelum kamu siap dengan semuanya atau adanya cinta diantara kita."
Kalimat tersebut berhasil membuat Meera terkejut bukan main, padahal baru saja dia mau menanyakan yang sama. Tetapi berkat kepekaan Hans, Meera hanya bisa menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Astaga, apakah ini kebetulan? Atau jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku?" gumam batin Meera, kembali menatap kearah sampingnya.
"Udah enggak usah banyak berpikir, saya juga tidak akan bertindak tanpa seizinmu. Jadi aman, tenang aja!"
"Saya menyuruhmu tinggal dikamar saya itu karena saya tidak mau ada simpang siur tentang kita untuk kedepannya."
__ADS_1
Hans berbicara sambil menoleh kearah Meera sekilas dan melihat respon Meera hanya terdiam, malah semakin membuat Hans menjadi berpikir kemana-mana.
Hans cuman takut, jika saat ini ucapannya berhasil menyinggung perasaan Meera. Atau bisa jadi, ucapannya malah membuat Meera berpikir buruk tentangnya.
"Ya sudah aku ikut aja, gimana baiknya. Toh, sebenarnya aku juga mau bertanya soal itu. Tetapi, karena kamu bertanya lebih dulu. Jadi aku tidak jadi bertanya soal masalah kamar." sahut Meera, membuat Hans menoleh sekilas dan kembali fokus pada laju mobilnya.
"Apa kamu tidak keberatan tinggal satu kamar bersama saya? Apa itu tidak akan membuat kamu dan Bram semakin menjadi jauh?" tanya Hans, sesekali melirik ke arah Meera.
"Sekarang aku sudah sah menjadi milikmu, jadi tidak ada lagi kisah diantara aku dan Bram. Tetapi, hanya akan ada kisahku denganmu."
"Wajar saja jika Bram belum bisa menerima kejadian itu, dan memusuhi kita. Sama halnya seperti kita. Yang belum bisa menerima semua ini,"
"Cuman aku yakin, suatu saat nanti entah kapan dan bagaimana. Pasti dia kan mengerti jika jodoh sudah ada yang mengaturnya sebelum kita belum lahir kedunia."
Meera berusaha tersenyum, padahal dibalik senyuman tersebut terdapat banyak luka yang harus dia tambal agar tetap terlihat baik-baik saja. Ya walaupun hatinya terasa begitu sesak.
"Jika kamu mau, setelah 1 tahun pernikahan kita nanti. Saya akan mengajukan perpisahan, agar kamu dan Bram bisa kembali bersama. Bagaimana?" ucap Hans, spontan tanpa berpikir panjang.
Meera mendengar ucapan Hans, langsung membolakan kedua matanya dan berkata. "Apa kamu bilang, hahh!"
"Apa kamu enggak berpikir sebelum berucap, jika pernikahan itu hubungan yang sakral bahkan sudah terikat oleh janji suci. Cuman, kenapa kamu malah seenaknya mempermainkan soal pernikahan!"
"Aku dan Bram memang saling mencintai, tetapi jika takdir berkata lain. Apa boleh buat? Itu namanya tidak berjodoh, Hans!"
"Dan satu lagi, apa yang kamu dapatkan dengan pernikahan ini jika hanya bertahan selama 1 tahun?"
"Terus kalau kita berpisah, kemudian aku kembali bersama Bram. Apakah itu tidak akan membuat nama keluarga semakin hancur?"
"Bagaimana jika mereka berpikir semakin jelek tentang diriku, dimana aku sudah menikahi Daddy kalian. Lalu menikah denganmu, kemudian menikah lagi dengan Bram. Apa aku masih pantas disebut wanita baik-baik, hah!"
__ADS_1
Degh!
Celoteh Meera berhasil membungkam mulut Hans, bagaikan sebuah tamparan keras. Apa yang dikatakan Meera memang ada benarnya.
Kalau pun hubungan mereka kandas cuman demi keegoisan, bukan malah membawa sumber kebahagiaan. Melainkan sumber petaka yang berujung selamanya.
Akan ada perpisahan yang diangkap sebagai awal kebahagiaan bagi mereka, malah menjadi isu jelek tentang mereka.
Dimana semua orang yang awalnya masih mendukung pernikahan mereka, akan sangat kecewa kalau mengetahui mereka pisah hanya karena kepentingan masing-masing.
Dari sini pikiran Hans mulai terbuka, dia kembali memikirkan semua ucapan Meera yang masuk akal.
"Ma-maaf, jika saya tidak berpikir sejauh itu. Apa yang kamu katakan itu memang sangat benar. Tetapi, bagaimana caranya kita bisa membuat Bram mengerti?"
"Saya tidak mau jika Bram kembali kejalur yang salah, apa lagi kamu paham kan, bagaimana sifat Bram dulu sebelum dia dekat denganmu. Jadi, aku tidak mau apa yang sudah Bram rubah dari dirinya sia-sia karena saya!"
"Dia adalah satu-satunya keluarga yang saya punya, saya tidak mau sampai harus bermusuhan dengannya,"
"Andaikan waktu bisa di putar kembali, mungkin saya lebih baik tinggal di Apartemen seorang diri dari pada di rumah bersama kalian malah menghancurkan hubungan kalian!"
Hans berbicara panjang kali lebar, saat dia kembali mengingat kejadian tersebut. Bahkan dia tidak pernah berhenti untuk selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang teramat menyakitan.
Meera menoleh menatap Hans, yang wajahnya terlihat sangat menyedihkan meskipun dia sedang berusaha menutupinya dengan wajah datarnya.
Cuman, Meera tidak bisa dibohongi. Dia paham betul apa yang dirasakan Hans, karena dia juga merasakannya.
Meera bisa melihat betapa hancurnya hati Hans saat persaudaraan mereka yang awalnya terkesan sangat dekat. Seketika berubah, setelah adanya sebuah tembok besar ditengah-tengah mereka yang menjadi penghalang untuknya.
...***Bersambung***...
__ADS_1