Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Trauma


__ADS_3

"Mam*pus, rasa lu. Jadi cewek sok jual mahal begitulah. Selamat menikmati malam indah ini Nona Meeraku sayang!" gumam kecil Bi Atun, langsung kembali ke paviliun belakang dimana semua karyawan tinggal di sana.


Meera berusaha keras untuk bisa bebas, sampai akhirnya dia mendengar suara kelakson mobil. Pertanda bahwa suaminya sudah datang. Maka sebisa mungkin Meera memberontak, agar dia bisa berlari ke arah balkon untuk berteriak meminta tolong pada suaminya.


Karena pintunya terkunci rapat oleh Bram entah ditaruh mana kunci tersebut, yang penting bagi Meera dia bisa berteriak sekeras mungkin untuk mmeberi sinyal pada suaminya. Jika keadaannya di dalam bahaya.


Selepas dari cengkraman Bram, Meera langsung berlari menangis, lalu sedikit membungkuk dan berteriak dengan sangat keras. Dimana mobil Hans baru saja terpakir dihalaman rumah.


"Hans, tolong aku! Tolong selamatkan aku dari Bram, aku mohon Hans, aku mohon hiks ...."


Suara teriakan Meera berhasil bergema membuat para penjaga langsung menatap kearah atas balkon, begitu juga Hans yang melihat istrinya menangis langsung segera keluar dari mobilnya.


"Kenapa? Ada apa, katakan!" sahut Hans dengan wajah cemasnya.


"Tol---- hemp ...."


Belum selesai Meera menjawab pertanyaan suaminya, seketika Bram membungkam mulut Meera menggunakan tangannya membawanya masuk kedalam kamar.


Melihat kejadian tersebut membuat amarah didalam diri Hans menggelegar, bagaikan petir yang akan menyambar yang ada didekatnya.


Bahkan para penjaga pun ikut membantu Hans berlari menuju kamarnya. Suara teriakan isak tangis, bergema didalam rumah tersebut, bahkan Hans yang segera menolong istrinya terhalang oleh pintu yang dikunci dari dalam.


Tok, tok, tok!


Hans menggedor pintu cukup keras, sambil berteriak dengan berbagai ancaman demi ancaman dia lontarkan untuk membuat Bram takut.


Namun, nihil Bram tidak gentar dengan suara itu akibat hasratnya yang sudah bercampur dengan sebuah amarah tidak lagi bisa berpikir jernih.


"Buka pintunya, Bram!"


"Sampai istriku kau sentuh sedikitpun, aku enggak akan pernah membiarkanmu hidup dengan tenang!"


"Cepat buka pintunya, atau aku akan mendobraknya!"


Hiks, Hans tolong aku. Aku benci keadaan ini aku benci, arghhh!

__ADS_1


Lepaskan aku, Bram lepaskan!


Aku benci kamu, aku benci!


Suara teriakan Meera lagi-lagi memicu amarah didalam diri Hans. Wajah putihnya seketika berubah menjadi sangat merah, hingga urat-urat tangannya pun terukir jelas.


2 security pun langsung mengusulkan untuk mendobrak pintu tersebut, meskipun mereka harus mengeluarkan tenaga yang sangat kuat. Apa lagi pintu kamar milik Hans itu di desain berbeda dari yang lain, jadi mereka harus ekstra mendobrak pintu dengan kekuatan super.


"Ayo, Tuan. Kita dobrak bersama sebelum terjadi sesuatu pada Nyonya, karena tadi saya lihat Tuan Bram pulang dalam keadaan mabuk."


Degh!


Rasa cemas dan panik kembali bertambah melanda hati Hans, pantas saja Bram bisa melakukan ini karena dia sedang dipengaruhi oleh minuman.


Tanpa basa-basi a i u e o lagi, kedua security bersama Bram langsung mengumpulakan tenaga untuk mendobrak pintu itu sekuat kemampuan yang mereka punya.


Dalam hitungan menit, pintu berhasil terbuka lebar membuat Meera dan Bram menoleh dalam raut wajah yang berbeda.


"Hans, to-tolong aku hiks ...." ucap Meera wajahnya sudah tidak bisa lagi dijelaskan.


Posisi baju tidur Meera sebagian sudah ada yang robek, semua itu sudah merupakan diluat batasan dari mereka untuk tidak melihat aset milik Tuannya.


Hans yang melihat posisi istrinya berada dibawah kungkuhan adiknya sendiri dengan kondisi sudah tidak bisa dijelaskan, langsung berlari dan menarik Bram hingga menghempaskan kearah dinding.


Semua ini sama persis seperti apa yang Bram lakukan pada Hans. Hanya saja Bram melempar Hans ke lantai, sedangkan Hans melempar Bram ke arah dinding.


Meera bergegas bangkit, lalu duduk menyender dengan tubuh dililitkan selimut tebal. Agar seluruh tubuhnya tetutup rapah.


Meera menangis melihat perkelahian antara saudara, dimana Hans menghajar Bram habis-habisan tanpa belas kasian. Ini semua karena emosi dan ketidak terimaan Hans sebagai suami, ketika melihat istrinya dile*cehkan oleh adiknya sendiri.


Bram hanya tertawa melayang disaat pukulam demi pukulan mengenai tubuhnya tidak membuat dia merasakan sakit. Seakan-akan rasa sakitnya mulai terobati, ketika melihat wajah Hans begitu marah padanya.


"Dasar pria beng*sek! Bisa-bisanya kamu mau menodai istri Kakakmu sendiri, apa kamu sudah gila Bram!"


"Kamu lupakah jika dia sudah menjadi istriku, bukan lagi kekasihmu. Sekuat apapun kamu merebutnya, jika takdir tak berpihak kamu akan tetap seperti ini, gagal!"

__ADS_1


"Aku sebagai Kakakmu malu melihat adik yang selama ini aku jaga, aku besarkan bahkan aku sayangi. Bisa melakukan hal seke*ji ini dengan istri Kakakmu sendiri. Dimana hati dan pikiranmu, Bram. Dimana!"


Hans berjongkok, memegangi kerah baju Bram. Kemudian berteriak, sesekali memukul wajah adiknya agar dia tersadar.


Percuma saja, orang yang dibawah sadar seperti Bram tidak akan pernah masuk kalau sedang di nasihati. Bram cuman bisa haha hihi, tanpa merasa berdosa atau pun bersalah sedikitpun.


Setelah puas, dan keadaan Bram sudah babak belur maka kedua security di suruh masuk oleh Hans untuk segera membawa Bram ke kamarnya dan meminta tolong untuk diobati lukanya.


Semarah apapun Hans pada Bram, tetapi dia tetap masih mengganggap Bram adalah adiknya sendiri terlepas dari kejadian sebelumnya.


Setelah mereka keluar, Hans menutup pintu tersebut dan membuat Meera terkejut. Awalnya Meera menenggelamkan kepalanya akibat bayang-bayang hal buruk akan terjadi padanya.


Sampai akhirnya Hans langsung memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Meski awalnya Meera menolak karena dia berpikir kalau itu adalah Bram.


Saat Hans mulai menjelaskan jika dia adalah suaminya. Kini pecahlah isak tangis Meera didalam pelukan Hans.


Rasa sakit dan trauma yang Meera rasakan berhasil meneteskan air mata Hans, baru kali ini Hans bisa menangis setelah sekian lama tidak pernah menangis jika bukan kehilangan kedua orang tuanya.


Disaat Bram ingin mengambilkan baju ganti untuk istrinya, Meera menahan semua itu karena dia tidak mau jika Hans pergi maka Bram akan kembali menerkamnya.


"Jangan pergi Hans, aku mohon. Jika kamu pergi, dia pasti akan ... Hiks enggak, aku gak mau pokoknya enggak mau!"


Meera memberontak memukul hingga menarik kemeja Hans agar dia tidak meninggalkannya. Dari sini Hans melihat kalau istrinya seperti memiliki trauma, akan kejadian yang hampir saja menghancurkan masa depan mereka.


"Tenanglah, hei. Aku disini, lihat aku ini suamimu. Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu!"


"Aku hanya ingin mengambil bajumu, agar kamu bisa segera menggantinya. Kasihan tubuhmu itu, sekalian aku mau menutup pintu balkon."


"Jadi tunggu sebentar, okay. Aku di sini aku enggak kemana-mana, jangan takut. Kamu wanita kuat, Sayang. Kamu wanita hebat, aku yakin kamu bisa melawan rasa itu. Hem?"


Hans tersenyum menatap istrinya yang saat ini sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sekilas Meera mengangguk membuat Hans langsung bangkit sambil mengelus kepala istrinya. Kemanapun Hans melangkah mata Meera tidak lepas dari tubuh suaminya.


Sampai akhirnya Hans membawa Meera untuk masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu dia keluar dan meninggalkan Meera didalam, untuk segera mengganti bajunya. Walaupun rasa takut selalu ada, tetapi Meera harus bisa melawan semua itu sesuai dengan nasihat suaminya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2