Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Janji Suci Bram dan Alice


__ADS_3

Bram mengangguk, meskipun dia masih memiliki perasaan kepada Meera. Entah mengapa ketika tangan Alice sudah berada di dalam genggamannya semua perasaan itu hilang begitu saja.


Tidak lagi ada kata cemburu, marah ataupun kesal terhadap Meera. Bahkan saat melihat Hans merangkul pinggang Meera pun tidak berhasil membuat hati Bram menjadi panas.


Apakah kemungkinan dendam itu mulai sinar akibat rasa cinta Bram yang sudah sepenuhnya kepada Alice? Entahlah, kita lihat aja kelanjutannya. Apakah dendam itu akan hilang, atau selamanya menghantui Bram.


...*...


...*...


Bram dan Alice menatap satu sama lain sambil tersenyum, tak terasa air mata Alice mengalir membuat Bram menggelengkan kepalanya sambil mengusap air mata Alice.


"Jangan menangis, Sayang. Ini adalah hari bahagia kita, jadi kita harus tetap tersenyum. Apapun yang terjadi aku akan tetap di sini bersamamu, jadi stop menangis, okay?"


Alice menatap Bram dengan tatapan mendalam sambil berkata. "Ma-maafkan aku, Bram. Aku sempat meragukanmu dan tidak mempercaya----"


"Sstt, jangan diteruskan lagi. Sekarang fokus pada acara kita, apakah kamu udah siapkah menjadi istriku?" ucap Bram, tersenyum mengusap pipi Alice.


"Aku siap, siap untuk menemanimu seumur hidupku. Aku tidak akan melakukan kesalahan ini lagi, aku akan mencoba untuk selalu mempercayai kamu apapun yang terjadi," jawab Alice.


Bram dan Alice tersenyum bersama, kemudian mereka berjalan beberapa langkah mendekati sang pendeta. Setelah semuanya siap, pendeta itu pun memulai acara.


Sang pendeta pun mempersilakan mereka untuk saling berhadapan. Lalu, berpegangan tangan dan kembali dilakukan beberapa doa kebaktian.


“Silakan kalian mengucapkan janji suci di depan semuanya secara bergantian. Dimulai dari mempelai pria, lalu di lanjutkan oleh pengantin wanita!” titah sang Pendeta sambil menatap Bram dan juga Alice secara bergantian.


Bram mulai menarik nafasnya dalam-dalam memejamkan kedua matanya sekilas, kemudian kembali membuka matanya menatap ke arah Alice.

__ADS_1


Bram tersenyum, lalu mengucapkan janji suci yang akan dilanjutkan oleh Alice.


“(Nama suami/istri) telah mengambil engkau menjadi seorang istri, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai sampai maut memisahkan kita sesuai dengan hukum Allah yang kudus. Dan inilah janji setiaku yang sangat tulus.”


Setelah janji suci terucap sang pendeta segera menyuruh Bram memasangkan cincin kepada Alice dengan perasaan hati yang begitu senang.


Ketika cincin cantik telah terikat di jari manis Alice, sang pendeta langsung meresmikan status mereka sebagai suami-istri.


Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan doa pemberkatan lainnya kepada mempelai yang baru saja resmi.


Kini, tibalah saatnya Bram untuk membuka tudung yang menutupi wajah cantik Alice.


Perlahan demi perlahan Bram membukanya bersamaan munculnya wajah istrinya yang cantik, imut dan sangat menggemaskan bagaikan seorang Princes.


Padahal tanpa membuka tudung pun Bram masih bisa melihat kecantikan Alice, cuman saat tudung itu di buka terlihatlah betapa cantiknya Alice. Bahkan lebih cantik lagi dari tadi ketika dia masih menggunakan tudung yang masih tertutup.


Di saat Bram dan Alice saling menatap satu sama lain, seketika wajah mereka terlihat merona. Itu semua akibat para tamu undangan bersorak untuk menunggu momen yang sangat ditunggu-tunggu.


"Cium, cium, cium ... Ayo dong, cium. Jangan kasih kendor!"


"Aaaa, boleh gak sih. Pengantin wanitanya di gantiin dulu, kapan lagi kan bisa di cium pangeran setampan Tuan Bram. Ishhh, jadi iri deh!"


"Tuan Bram jangan lupa berikan gigitan kecil buat Nyonya Alice, biar ada enak-enaknya gimana gitu haha ...."


"Huaaa, udah dong jangan berisik. Ayo cepetan, aku udah enggak sabar menyaksikan mereka. Please, ya. Jangan lama-lama takut kami semua ngiler, wkwk ...."


Teriakan demi teriakan dari semua para tamu undangan saling bersahutan satu sama lain. Bram dan Alice yang awalnya saling menatap, seketika reflek menoleh melihat ke arah semuanya satu persatu dengan perasaan gugup.

__ADS_1


Wajah Bram dan Alice begitu merona saat kata-kata itu selalu terdengar di gendang telinganya. Sampai akhirnya Bram menatap ke arah Alice, memegang kedua tangannya dan meletakkannya di leher.


Alice hanya bisa mengikuti apa yang Bram lakukan, kemudian dia memeluk leher suaminya bersamaan dengan kedua tangan Bram yang melingkar di pinggang kecilnya.


Tatapan Bram begitu mendalam ketika melihat Alice membalas tatapannya. "Apakah kamu sudah siap melakukannya di depan orang banyak?"


Alice tersenyum mengangguk kecil sambil sedikit memejamkan kedua matanya. "Aku sudah siap, Bram."


Tanpa menunggu lama lagi, Bram mulai mendekati wajah Alice sedikit memiringkan kepalanya. Lalu, perlahan di mulai menempelkan bibirnya satu sama lain.


Luma*tan serta gigitan mereka berikan satu sama lain, membuat semua orang bersorak bahagia dan juga senang. Sama halnya seperti Hans dan Meera, mereka terlihat begitu bahagia ketika Bram bisa menemukan cinta sejatinya.


Ya, walaupun banyak drama-drama menyedihkan yang mereka lewati bersama. Pada akhirnya drama sandiwara tersebut telah menjadi kenyataan.


Rasa bahagia tak luput dari kedua mempelai yang sedang asyik dalam permainan bibirnya, sehingga sudah hampir 3 menit lamanya mereka melakukan itu langsung melepaskannya.


Dimana Bram dan Alice menatap semuanya sambil tersenyum lebar, tak disangka Bram menggendong Alice menyamping sambil berputar-putar. Dari tingkah Bram itu terlihat bahwa mereka benar-benar bahagia satu sama lain.


Sampai seketika Alice turun dari gendongan Bram, kemudian mereka melakukan serangkaian acara berikutnya. Yaitu, pelemparan sebuket bunga cantik kepada semua para tamu yang mengikuti acara tersebut.


Alice dan Bram memegang buket bunga itu bersama-sama sambil berbalik. Kemudian dalam hitungan ketiga, buket tersebut mereka lempar ke arah belakang. Dengan cepat berbalik, melihat siapa yang akan mendapatkannya.


Namun, yang mereka bingungin kenapa buket itu seketika menghilang? Nahkan, kira-kira kemana buketnya? Pada siapa buket itu terjatuh? Saksikan terus kisah mereka di episode selanjutnya. Jangan lupa mampir di karya authir yang baru rilis ya guys 😁


...***Bersambung***...


__ADS_1



__ADS_2