
Namun, bagi Hans bukan masalah beruntung atau tidaknya. Melainkan ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di tempat seperti ini yang sangat asing untuknya.
"Hehe, terima kasih Bu, tapi maaf. Kami ini suami istri bukan pasangan kekasih, dan maaf juga jika suami saya membuat kalian bingung. Maklum, ini pertama kali saya ngajak dia ngadate di tempat seperti ini."
Meera tertawa kecil menutupi rasa canggungnya ketika mendengar semua perkataan para pembeli yang mendukung dirinya. Bahkan tidak diduga-duga mereka malah mendoakan pernikahan mereka supaya langgeng dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut.
Hampir 10 menit lamanya, pesanan Meera pun datang. Satu persatu Abangnya mulai menaruh piring keatas meja yang sudah berisikan menu yang Meera inginkan.
Kurang lebih seperti itulah menu yang Meera pesan, berhubung dia tahu jika suaminya alergi dengan udang. Maka, Meera hanya memesan cumi crispy, lele, ayam, ampla ati dan cah kangkung.
Melihat semua makanan tersusun rapi diatas meja, sampai memenuhi lapak membuat Hans terkejut bukan main.
Makanan segitu banyaknya apakah mereka sanggup menghabiskannya, secara mereka hanya berdua? Entahlah, Hans hanya menoleh kearah Meera yang sedang mencelupkan tangannya ke mangkuk stanlis atau aluminium tersebut.
"Ka-kamu yakin bisa menghabiskan ini semuanya sendiri?" tanya Hans, mengerutkan pelipisnya bingung melihat apa yang Meera pesankan.
"Enggaklah, kan ada kamu. Jadi kamu yang akan menghabiskannya, kalau aku sudah kenyang. Jika belum, ya aku yang akan menghabiskannya. Simple, bukan?" ucap Meera menyengir menatap Hans, dimana Hans langsung syok mendengar semua itu.
"Yakk, enggak-enggak. Aku enggak mau makan, kamu aja habisin semuanya. Aku masih kenyang!" jawab Hans cepat, sambil menggelengkan kepalanya.
"Hem, ya sudah jika masih kenyang. Aku bisa menghabiskan semuanya kok, apa lagi semua ini rasanya pasti enak. Huhh, untung kamu enggak mau ya. Jadi aku akan puas memakan semua ini."
Perlahan Meera mulai mendekati piring yang berisikan nasi, lalu dia mengambil satu persatu lauk kemudian dicampurkan ke dalam nasi. Setelah itu melahapnya dengan ekspresi wajah yang sangat menggiurkan.
__ADS_1
"Nyam, nyam, nyam. Hem, enak banget ya. Denger deh, kriuk banget kan hem nyami," Suara bising dari dalam mulut Meera terdengar begitu nyaring, saat dia menggigit cumi crispy yang terasa enak dimulutnya.
Hans yang melihat wajah istrinya begitu menikmati makanan tersebut, tanpa sadar jakun Hans naik turun menelan air liurnya sendiri. Bagaikan orang yang sudah mulai tergoda dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Apa rasa dari makanan yang ada dihadapanku ini seenak apa yang Meera katakan barusan? Cuman, masa iya sih enak?"
"Itu kan makanan yang biasa aja, hanya sekedar digoreng dengan minyak yang mungkin tidak pernah diganti, kemudian diberikan sambal selesai. Pasti rasanya ya tidak seenak kaya di Restoran yang diolah dan di masak sangat bersih, lalu ditambahkan dengan bumbu-bumbu yang membuat kita tertarik untuk memakannya."
"Entah kenapa cara makan Meera benar-benar membuatku tidak tahan lagi, apa aku ikut makan aja ya? Tapi, jangan deh. Entar dia besar kepala lagi, dan menyuruhku mengakui jika tempat yang dia pilih ini makanannya enak. Yakk, enggak-enggak. Pokoknya aku harus tahan godaan dia yang mencoba menghasutku!"
Sekeras apapun Hans mencoba untuk bertahan, sampai tidak terasa air minumnya pun habis tak tersisa. Meera yang melirik Hans hanya bisa tertawa didalam hatinya melihat ekspresi wajah suaminya.
Tak henti-hentinya sifat jahil Meera terus berulah, sampai Abang-abang penjualnya pun ikut terkekeh secara diam-diam.
Hans terlihat sangat gengsi untuk menyentuh makanan dihadapannya. Bagaikan anak kecil yang sedang mogok makan, tetapi ingin sekali mencicipinya.
Bebrapa detik kemudian, suara tidak asing terdengar di telinga Meera. Hans berpura-pura asyik sendiri dengan ponselnya, seakan-akan dia tidak mendengar suara perutnya sendiri.
"Aakh, e-enggak. A-aku masih sangat kenyang, itu kali Abangnya yang laper, atau suara perutmu sendiri. Udahlah cepetan habisin, aku mau pulang!"
Hans berusaha mengalihkan Meera, ya walaupun Meera terlihat sangat percaya. Cuman, didalam hatinya dia tertawa puas ketika berhasil mengerjai suaminya sendiri.
"Hem, baiklah. Kamu yakin enggak mau makan nih? Kalau enggak aku habisin ya nasinya?" ucap Meera. Alisnya mulai naik turun, seirama dengan senyuman-senyuman menggoda.
"E-enggak, ma-makan aja habisin!" jawab Hans terbata-bata penuh keraguan, sesekali matanya melirik kearah makanan tersebut.
"Okelah, aku akan habiskan semua ini. Mari perut, untuk hari ini saja kita makan sepuasnya sampai kamu gendut hihi ...."
Meera terkekeh sendiri, ketika tangannya ingin mengambil piring yang ada dihadapan Hans. Tiba-tiba ditarik oleh Hans, dan langsung menyerbu makanan tersebut dengan sangat lahap.
"Bodo amatlah mau dibilang apa, aku udah enggak kuat lagi perutku sudah sangat lapar. Dari pada entar aku ma*ti penasaran sama rasanya, ya mending aku pura-pura aja nanti kelaparan pasti dia juga enggak akan curiga,"
"Ehh, tunggu deh. Kenapa rasanya enak juga ya, bahkan hampir sama juga sih seperti di Resto. Bedanya cuman sedikit doang sih sama bumbunya, tapi gapapa. Ini masih bisa dimakan, enggak seburuk yang aku pikirkan. Pantas saja dia makannya begitu lahap, ternyata begini rasanya. Tahu gitu aku udah makan dari tadi, huhh dasar gengsi!"
__ADS_1
Hati Hans terus berbincang mengerutuki kesalahannya sendiri. Meera dan yang lainnya melihat Hans awalnya menolak seketika cara makannya malah melebihi orang yang sedang kelaperan.
Nasi yang seharusnya memerlukan jeda waktu yang tidak sedikit untuk menghabiskannya, kini malah sudah ludes tak tersisa.
Ditambah Hans malah meminta Abangnya untuk membawakan 1 piring nasi lagi untuknya, benar-benar aneh bukan? Ya, itulah Hans. Hidupnya penuh dengan gengsi, tetapi gengsinya pula yang malah mengalahkan dirinya.
Meera hanya bisa terkekeh kecil melihat aksi suaminya yang begitu menikmati semua hidangan diatas meja.
Namun, ada satu yang berhasil memnuat Meerta tertawa yaitu cara makan Hans ya ng cukup anaeh. Maklum saja, seumur-umur Hans tidak pernah makan menggunakan tangan langsunh tanpa alat makan seperti sendok, garlu, pisau, sumplit atau yang lainnya.
Awalnya makanan masih terlihat sangat banyak, kini hanya tinggal tulang belulang saja. Dan terdapat noda sambal, sisa nasi atau yang mainnya terlihat berantakan dimana-mana.
Uhuk, uhuk, uhuk ...
Hans tersendak ketika sambal menusuk tenggorokannya, Meera segera memberikan minumannya kepada suami tercinta. Kemudian setelah itu Meera kembali memesan 2 es teh manis lagi untuk berjaga-jaga, jika suaminya kembali merasa haus.
"Pelan-pelan, Bee. Nanti kamu keselek lagi loh makannya, tenang aja aku enggak akan minta kok. Aku juga udah kenyang, jadi habisin ya jangan sampai tersisa," Meera tersenyum dan hanya diangguki Hans tanpa sadar.
15 menit berlalu, seketika makanan yang ada diatas meja pun ludes tak tersisa. Semua sudah masuk ke dalam perut Hans tanpa terkecuali.
Meera yang awalnya ingin menambah setelah melihat cara makan suaminya, berhasul membuat perutnya merasa sangat puas dan kenyang.
"Gimana enak? Makannya kalau dibilangin jangan ngeyel, makanan di pinggir jalan pun tidak kalah enaknya sama di Restoran. Meskipun tidak banyak yang enak, tetapi sebagian pedagang memiliki kualitas rasa yang standar seperti makanan yang ada di ruangan tertutup."
Perkataan Meera langsung dibantah oleh Hans, dengan segala alasan clasiknya yang memang masuk akal. Jika dia itu hanya sekedar lapar, bukan menikmati rasanya.
Namun, Meera tidak semudah itu percaya dengan kata-kata suaminya. Ya, walaupun dia harus berusaha percaya, tetapi hatinya tidak sama sekali.
Pokoknya jika Hans mengatakan dia hanya sekedar lapar, jadi perutnya menerima makanan seperti itu. Berarti dia memang menyukai rasa masakannya.
Berbeda jika Hans memang tidak menyukainya, seenak apapun dia tetap akan memilih bungkam menutup rapat-rapat mulutnya. Meski banyak yang mengoda pun dia tidak akan tertarik dengan rayuan layaknya Meera.
...***Bersambung***...
__ADS_1