
Bram bangkit dengan sorotan tajam penuh isyarat, ekspresi wajah yang sangat datar menatap Deo untuk beberapa detik. Kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan Deo, dalam keadaan tenang karena dia sudah berhasil membebaskan Alice.
Meski, Bram sedikit takut akan kehidupannya kedepan. Cuman dia percaya semua akan kembali walaupun harus didasari dengan perjuangan yang harus dimulai dari titik nol.
...*...
...*...
Setelah keluar dari ruangan Deo, Bram segera mencari keberadaan Alice. Dimana Alice berada di dekat taman kecil yang ada di samping BAR. Bram tahu semua itu dari salah satu teman Alice yang melihatnya berjalan ke arah sana.
Bram segera menelurusi setiap lorong hingga menemukan Alice sedang duduk di kursi taman sambil menatap langit yang hari ini terkesan sangat indah.
"Bintang, apakah aku bisa menjadi sepertimu yang selalu bersinar didalam kegelapan. Meskipun, terkadang sinarmu tak dianggap?"
"Bulan, apakah aku bisa menjadi sepertimu yang selalu menerangi setiap malam tanpa diminta?"
"Aku tidak yakin, jika aku bisa menjadi seperti kalian. Hidupku sudah sangat hancur, jalanku sudah sangat gelap dan tubuhku sudah sangat kotor. Apakah aku bisa bersinar seperti kalian di dalam gelapnya hidupku ini?"
"Apakah kelak, akan ada seorang Pangeran yang bisa menerimaku apa adanya. Setelah dia mengetahui siapa diriku yang sebenarnya?"
__ADS_1
"Sama halnya seperti kalian menerima langit yang gelap gulita, untuk menjadikannya tempat terindah ketika kalian menampakkan cahaya masing-masing. Sehingga akan ada banyak pasang mata yang merasa iri dengan langit. Semua itu karena kalian bisa saling melengkapi satu sama lain, tidak saling menonjolkan dan tidak saling merasa paling berperan penting atas semuanya."
"Lantas, bagaimana denganku? Apakah aku bisa menemukan pasangan yang akan melengkapi kekurangku menjadi kelebihannya, dan kelebihanku menutupi kekurangannya? Atau pasanganku kelak akan terus mengungkit semua kisah masa laluku ini?"
Bulir-bulir air mata yang Alice tahan sejak tadi seketika runtuh ketika dia mulai mengeluarkan isi hatinya. Meskipun Alice banyak memiliki teman, tetapi dia lebih suka mencurahkan isi hatinya kepada dunia secara terang-terangan.
Bram yang sudah ada tepat dibelakang Alice, ternyata mendengar semua curhatan hatinya. Rasa sakit yang ada didalam hati Alice seperti mentransfer kedalam hati Bram, sehingga dia bisa merasakannya persis yang Alice rasakan saat ini.
Mata Bram langsung melirik ke semua arah untuk mencari sesuatu yang bisa dia berikan kepada Alice supaya mengurangi rasa sedihnya.
Tak butuh waktu lama, Bram menemukan sebuah bunga kecil yang cukup cantik untuk dia berikan kepada wanita yang saat ini sangat membutuhkan sebuah perhatian yang lebih.
Karena wangi bunganya yang cukup menyengat membuat seseorang terkadang salah untuk menanggapi wangi tersebut. Sebagian orang banyak yang menyangka, kalau wangi bunga melati itu identik dengan orang yang baru meninggal dunia atau arwah yang gentayangan.
Namun, dibalik wangi tersebut ternyata memiliki ketenangan dan juga makna tersendiri. Banyak orang menggunakan melati ini sebagai riasan ketika menikah, yang memiliki makna kesucian, keanggunan dan kerendahan hati.
Meskipun bunga ini terlihat kecil dan sederhana, tetapi wanginya yang disalah gunakan ternyata sangat harum semerbak.Sehingga bunga kecil ini sangatlah cocok untuk menghiasi telinga mungilnya milik Alice.
__ADS_1
Bram perlahan mendekati Alice dari arah belakang, lalu dia menempelkan bunga itu tepat di telinganya.
Alice sedikit terkejut dengan perlakuan Bram, lalu dia segera menoleh ke arah belakang. Tak menyangka Bram tersenyum kearahnya sambil sedikit membungkukkan badannya dan wajah mereka terlihat begitu dekat.
"Bra-bram? Ka-kamu---"
Alice tidak bisa berkata apa-apa lagi saat tangan Bram menghapus semua kesedihan diwajahnya tanpa tersisa.
"Wajah cantik ini, seharusnya tidak boleh di selipkan kesedihan. Cukup hiasi dengan senyuman kebahagiaan, sampai kamu lupa bagaimana caranya bersedih. Kamu hanya perlu ingat, ketika kamu merasa bahagia dan tidak tahu cara mengungkapkannya seperti apa, maka air mata ini sebagai menjawaban atas semua kebahagiaanmu."
Kalimat yang begitu manis berhasil keluar dari bibir seorang Bram yang terkenal sangat menyebalkan dan juga angkuh.
Ini kali pertamanya Alice bisa merasakan betapa nyamannya saat usapan tangan Bram, seakan-akan seperti telah menghapus seluruh rasa sakit dan juga kesedihan didalam hidupnya.
Bram berjalan memutari kursi, lalu duduk tepat di samping Alice sambil memegang tangan serta wajah Alice begitu lembut. Tak terasa perlakuan Bram kali ini sangat menyentuh hatinya, sampai Alice tidak tahu mau berbicara apa lagi. Dia malah langsung berhambur memeluk Bram begitu erat.
Tangis yang tak terbendung kini pecah sepecah-pecahnya didalam pelukan Bram, semua yang Alice rasakan dia ceritakan tanpa terkecuali. Seolah-olah Bram adalah tempat ternyaman bagi Alice untuk menceritakan semua unek-unek hatinya.
Tanpa disangka Bram pun entah mengapa dia malah meneteskan air matanya, ketika mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkan Alice menusuk hatinya. Ternyata masalah yang Alice hadapi jauh lebih besar dari apa yang Bram rasakan saat ini.
__ADS_1
...***Bersambung***...