Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Suapan Tangan Istri


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan kamar Bram, Bi Neng langsung membersihkan kamar Hans dan yang lainnya. Setelah selesai tak lama Bi Neng menerima panggilan dari Meera, mendengar kabar bahwa Hans dalam keadaan baik-baik saja membuat perasaan Bi Neng senang.


Karena mau bagaimanapun bagi Bi Neng, Hans dan Bram itu sudah dianggap sebagai anak ataupun cucunya sendiri. Karena Bi Neng yang mengurus mereka dari kecil setelah Mommynya meninggal dunia. Jadi apapun yang terjadi dengan mereka, selalu membuat Bi Neng merasa khawatir.


...*...


...*...


Dirumah sakit, Hans sudah dipindahkan ke ruangan rawat tersendiri. Sementara Bram dan Alice dia langsung pulang ketika Hans sudah berada didalam kamarnya.


Apa lagi Alice harus selalu mengecek kondisi sang Nenek yang berada dirumah sakit, belum lagi malam hari Alice harus menjelankan tugasnya sebagai wanita hiburan agar dia bisa selalu membiayai rumah sakit sang Nenek.


...Di dalam kamar Sakura, VVIP 005....




Meera duduk disamping bangkar Hans untuk menunggunya siuman, bahkan dokter yang sudah mengeceknya kembali pun mengatakan bahwa Hans sebentar lagi akan tersadar.


Selang beberapa menit, seorang suster menekan tombol untuk mengisyaratkan bahwa didepan ada seseorang yang ingin masuk ke dalam ruangan.


Meera pun bangkit berjalan perlahan kearah pintu masuk, dan melihat siapa yang datang. Setelah pintu terbuka, sang suster menyapanya dan membawakan makanan untuk Hans. Agar ketika dia terbangun nanti, bisa segera mengisi perutnya, lalu meminum obatnya.


Meera mempersilakan sang suster masuk dan menaruh semua makanan beserta minuman untuk Hans. Disaat Meera sedang membantu sang suster, ternyata Hans sudah mulai mengerjapkan matanya secara perlahan.


"Hans, kamu sudah sadar? Apa yang kamu rasakan saat ini? Ada yang sakit, pusing, mual, gatal atau apa?" Meera mencecar Hans dengan beberala pertanyaan yang menderet.


Hans hanya menggelengkan kepalanya perlahan saat menatap Meera yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Serius gapapa? Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu?" tanya Meera kembali.


"Tidak perlu, saya baik-baik saja. Maaf sudah merep--"


"Sstt, jangan banyak berbicara. Sebaiknya kamu bangun dulu, makan terus minum obat ya." ucap Meera tangannya menahan bibir Hans agar tidak lagi berbicara.


Hans terdiam dengan mata terus menatap wajah Meera, baru kali ini dia melihat wajah Meera begitu panik saat dirinya kenapa-kenapa. Sama persis jika Bram yang celaka, maka sikap Meera akan seperti ini.


Apakah itu artinya Meera sudah mulai menaruh hati kepada Hans, atau dia melakukan semua itu hanya demi tugasnya sebagai seorang istri? Semua jawaban hanyalah milik Meera, karena cuman dia yang dapat menjawab semua perasaanya sendiri.


Selesai menata semua makanan diatas meja kecil yang ada dibangkar Hans, sang suter pun segera pamit untuk keluar ruangan disaat Meera sedang berusaha membangunkan Hans agar dia bisa duduk dengan sedikit menyender ke senderan bangkar.



Makanan yang terlihat menggiurkan, tetapi ketika sudah memasuki mulut maka ekspetasi rasanya tidak sesuai dengan apa yang dilihat.


Ya, bagaimana tidak. Karena makanan rumah sakit identik dengan makanan yang sangat hambar, tanpa bumbu masak yang rasanya cukup kuat.


Semua makanan itu akan diberikan kepada pasien sesuai dengan jenis penyakitnya, jadi tidak semua pasien mendapatkan makanan yang sama.


Melihat makanan itu membuat Hans merasa tidak napsu makan, lalu dia menatap Meera sambil berkata. "Bisa bawakan saya makanan yang lain? Karena makanan ini tidak enak, rasanya pasti hambar dan saya pun tidak pernah menyukai makanan seperti ini."


Ketika Meera mendengar rengekan suaminya yang cukup seperti anak kecil membuat dia langsung terdiam. Meera berdiri tersenyum menatap Hans, membuatnya sedikit bingung.


"Kenapa senyum? Memangnya ada yang lucu?" ucap Hans, menatap Meera.


"Ya kamu itu lucu, mana ada masakan rumah sakit rasanya bagaikan Restoran bintang 5. Bahkan saat kamu main petak umpet pun sama dokter. Dia akan tetap tahu, karena ada perbandingan kondisi kesehatanmu sebelumnya dan sekarang." jawab Meera.


"Ya tapi kan rasanya---"

__ADS_1


"Sstt, diamlah. Cepat buka mulutmu, lalu makanlah. Sebelum makanan ini menjadi dingin dan rasanya akan semakin tidak enak."


Meera mengarahkan sendok kedepan mulut Hans, sementara Hans hanya terdiam menatap Meera. Dalam hitungan detik Hans mencoba menuruti semua perkataan istrinya. Perlahan dia berusaha membuka mulutnya, menerima satu suapan dari tangan istrinya.


"Gimana, enak 'kan?" ucap Meera tersenyum menatap Hans, yang sedang berusaha mengunyah makanannya sambil matanya tidak pernah teralihkan dari wajah Meera.


Hans menganggukan kepalanya, krena dia juga sedikit bingung. Kenapa rasanya tidak sehambar biasanya, apakah semua ini akibat suapan tangan istrinya yang dihiasi oleh senyuman manis? Ya, mungkin saja. Apa lagi Hans melihat jika Meera sudah tidak lagi marah dengannya.


Beberapa suapan lolos masuk dalam mulut Hans, sampai suasana sunyi tersebut telah berubah menjadi sedikit menegangkan saat Hans kembali mempertanyakan perihal pagi hari.


"Apakah kamu sudah tidak marah padaku?" ucap Hans membuat Meera sedikit terkejut, akibat dia melupakan kejadian tadi pagi.


"Sudah lupakan saja, tidak perlu diingat lagi. Yang penting saat ini kamu sembuh dulu, baru nanti aku lanjutkan marahnya." jawab Meera, spontan sambil memasukan satu sentok disaat mulut Hans sudah kosong.


"Yakk, enggak bisa begitu. Pokoknya kita enggak boleh marahan, titik!" tegas Hans dengan segala kekesalannya.


"Yayaya, aku enggak akan marah asalkan kamu habisin semua makanan ini dan cepatlah lekas sembuh. Bisa?" sahut Meera.


Hans menganggukkan kepalanya perlahan, bersamaan dengan suapan kecil yang masuk kedalam mulutnya. Rasanya Hans begitu senang ketika Meera tidak lagi marah padanya.


Mungkin jika Hans tidak masuk ke rumah sakit, sudah bisa dipastikan kalau saat ini Hans dan Meera akan saling membisu satu sama lain.


Hampir 15 menit Hans baru saja selesai makan siang, lalu dia segera meminum obatnya, agar rasa gatal yang sudah mulai terasa tidak membuatnya sampai tidak nyaman.


"Dimana Bram? Apa dia tidak mengkhawatirkan kondisiku?" tanya Hans, menatap Meera yang sudah duduk di kursi samping bangkar.


Meera tidak tahu harus menjawab apa mengenai Bram, karena sebenarnya Bram sangat mengkhawatirkan kondisi Hans. Hanya saja ego dan rasa sakit didalam hatinya telah bersatu untuk tidak menemui Hans.


Dari ekspresi wajah Meera, Hans bisa tahu jika sebenarnya Bram memang sudah tidak peduli dengannya. Padahal dibalik itu semua adalah suatu kebohongan terbesar, kalau Bram tidak lagi mencemaskan kondisi Kakaknya sendiri.

__ADS_1


Perlahan Meera mulai menjelaskan semuanya dari awal mereka membawa Hans ke rumah sakit. Jika sebenarnya Bram adalah orang yang paling mengkhawatirkan Hans, dari pada dirinya sendiri.


...***Bersambung***...


__ADS_2