
Melihat adegan romantis itu membuat Meera dan Alice terkejut, kata kata 'aku' seketika mampu bikin mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Mereka berdua tidak menyangka bahwa Bram ternyata memang sangat menyayangi Kakaknya, rasanya mereka begitu bahagia saat melihat semua ini.
Dibalik musibah kecil yang terjadi, terdapat sececar harapan bahwa sebentar lagi hubungan persaudaraan mereka akan segera kembali seperti dahulu.
...*...
...*...
Selang 3 hari, Hans mendapatkan kabar bahwa cabang di luar kota sedang mengalami sedikit kendala. Sehingga mau tidak mau dia harus pergi ke sana seorang diri, untuk segera menyelesaikan semuanya.
Dimana, asistennya yang bernama Yudha. Dia menghandle pekerjaan Hans yang ada di Perusahaan utama bersama Bram.
Kali ini Hans harus menjalankan tugasnya sendiri, supaya bisa menunjukkan sebagai atasan yang baik dan rela untuk meninggalkan istrinya selama kurang lebih 3 hari.
Setelah selesai sarapan Hans berpamitan lebih dulu untuk berangkat lebih awal, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Sementara Bram masih belum bangun, jadi Meera menyiapkan sarapan seorang diri untuk suami tercinta yang akan pergi cukup jauh.
"Sayang, aku pergi dulu ya." ucap Hans sambil mengelap bibirnya menggunakan lap khusus yang ada di atas meja makan.
"Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalannya ya, jangan kebut-kebutan. Ingat ini masih pagi banget loh, pokoknya aku mau kamu jaga kesehatan selama beberapa hari di sana!"
"Dan juga, jangan aneh-aneh atau ngelirik wanita lain. Kalau sampai itu terjadi maka aku akan langsung menyusul ke sana, lalu membuat perhitungan dengan wanita itu. Paham!"
Meera berdiri, bersamaan dengan Hans yang juga berdiri lebih dulu sambil menatap istrinya.
Hans merasa begitu bahagia, karena akhir-akhir ini Meera selalu memberikan perhatian lebih padanya. Meski terkesan over, tetapi Hans suka itu semua. Dengan begitu membuktikan bahwa Meera memang sudah sangat mencintainya.
Ya, memang sih Meera lebih suka memberikan perhatian padanya dengan sebuah ancaman ataupun sedikit amarah.
Namun, semua kembali lagi. Hans tidak masalah, bahkan dia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika istrinya sudah dalam mode kiyut seperti sekarang.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Siap laksanakan perintah dari Ibu negara yang cantik tiada duanya."
"Sini peluk dulu, aku mau chas rasa rinduku supaya full biar bisa bertahan lama hihi ...."
Ucapan Hans berhasil membuat wajah Meera merona, baru kali ini Hans berbicara semanis ini padanya hingga membuatnya salah tingkah.
"Ishh, a-apa apaan sih Hans. E-enggak usah begitulah, udah kaya mau pergi jauh aja kamu tuh. Udah akhh, sekarang kamu tunggu di sini. Aku akan ambilkan tas dan juga kopermu dulu." jawab Meera sedikit gugup.
"Hem, jadi kamu enggak mau meluk suamimu nih? Padahal suamimu akan pergi jauh loh, masa iya enggak kangen sih. Memang salah ya kalau suaminya minta pel---"
Tanpa meneruskan perkataannya, Meera langsung memeluk Hans begitu erat. Senyuman lebar kian merekah menghiasi wajah Hans, yang selalu terlihat datar.
Entah mengapa Meera malah menangis di pelukan Hans, membuatnya langsung terkejut. Harusnya yang sedih itu Hans, karena dia yang akan memendam rindu ketika jauh dari istrinya.
Namun, semua malah terbalik. Hans akhir-akhir ini merasa Meera selalu sen*sitif terhadapnya. Seakan-akan Meera takut akan kehilangannya, yang jelas-jelas Hans hanya pergi untuk beberapa hari tidak untuk selamanya.
"Hans, bisakah kamu tidak pergi ke sana? Aku merasa tidak enak, bahkan hatiku tidak mau kamu pergi. Aku mohon ya, jangan pergi hiks ...."
"Ehh, ko-kok nangis? Bukannya aku sudah membahas ini dari jauh hari. Kalau aku cuma pergi sebentar, jika urusan udah selesai aku akan segera kembali pulang, untuk menemui istriku yang cantik ini."
"Yudha?"
"Nah iya, Yudha. Biar dia saja yang pergi ya, kamu di sini aja sama aku, please. Aku mohon, Sayang. Jangan pergi ya ya ya!"
Meera memeluk suaminya sambil menatapnya dengan mata yang sudah berlinang. Hans terlihat gemas pada istrinya dan langsung mencubit kecil hidungnya.
"Hem, bandel ya. Semalam 'kan aku sudah bilang. Yudha itu mengurus Perusahaan di sini bersama Bram, kalau aku memang harus pergi ke sana. Karena ini memang sudah tugasku sebagai CEO untuk mengecek dan menangani semua cabang yang ada."
"Ta-tapi, Hans. Ba-bagaimana kalau a-aku ikut saja, biar aku bisa menemanimu di sana. Boleh ya, ya? Please!"
Hans tersenyum lebar sambil meraup wajah istrinya dan mencium dahi serta bibirnya secara bergantian. Kemudian Hans menempelkan dahinya di dahi istrinya sambil kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Sayang, dengerin aku ya. Kalau kamu ikut, lalu Alice? Bukannya usia kandungan dia masih sangat rentan. Kalau ada apa-apa dengannya bagaimana?"
__ADS_1
"Kamu tahu kan, akhir-akhir ini Bram selalu di sibukkan dengan urusan kantor, sampai-sampai dia lembur. Jadi nanti siapa yang menemani Alice bercanda, ngobrol dan lain sebagainya, hem?"
Seketika Meera terdiam apa yang dikatakan suaminya memang benar, karena perasaan Alice benar-benar sensitif dia selalu saja nangis ketika merasa kesepian ataupun Bram pulang larut malam.
Ya, mau tidak mau. Meera mengalah, dia tetap berada di rumah untuk sekedar menjadi teman bagi Alice yang merasa kesepian. Setidaknya dengan adanya Meera di sampingnya, itu akan mengurangi rasa sen*sitif di hati Alice saat bawaan hamil.
Hans menjauhkan wajahnya, lalu tersenyum mengusap pipi istrinya. Kemudian Hans mencoba untuk mengakhiri kesedihan di wajah istrinya, membuatnya mengerti bahwa ini hanya sebentar tidak untuk selamanya.
Akhirnya Meera mau mengerti dan kembali tersenyum. Setelah itu Hans dan Meera pergi meninggalkan ruang makan, dimana Meera pergi ke kamar mengambil barang yang akan suaminya bawa. Sedangkan Hans, pergi ke arah depan menunggu istrinya.
Selepas perginya Hans dan Meera, ternyata ada 2 tikus besar yang sedari tadi menguping pembicaraan majikannya.
Wajah mereka berdua terlihat bahagia, sangat bahagia karena sebentar lagi misinya akan segera berakhir.
"Bu, apakah semua ini akan terjadi seperti apa yang sudah kita rencanakan?" ucap suaminya, yang mana adalah Jaka.
Atun pun menatap suaminya dengan tatapan penuh arti, dimana senyuman terukir jelas di wajahnya membuat Jaka sedikit merasa bingung.
"Tenang aja, Pak. Semua akan berjalan seperti apa yang sudah di rencanakan, yang penting semalam Bapak sudah melakukan tugas dengan baik. Jadi kita hanya bisa menunggu waktunya tiba."
"Setelah itu terjadi, maka dorrr! Semua dendam kita akan berakhir bahagia, haha ...."
Mereka tertawa menggunakan suara kecil, entah kejahatan apa lagi yang membuatnya teropsesi untuk menyingkirkan Hans.
Bahkan dendam apa yang Hans perbuat kepada mereka, sehingga hadirnya mereka di rumah itu hanya untuk mencelakakan Hans.
"Ya sudah, Pak. Ayo kita beberes, habis kepergian kucing itu kita langsung rencanakan rencana kedua. Yaitu, menghilang!" ujar Atun, seorang ular berbisa yang memiliki taktik licik serta mencuci otak suaminya agar mengikuti apa yang dia inginkan.
"Oke, siap Bu. Ayo kita pergi, sebelum si wanita tua itu mengetahui keberadaan kita!" sahut Jaka, di angguki oleh istrinya.
Mereka pun pergi untuk meneruskan pekerjaannya serta merancang rencana selanjutnya, supaya semua terlihat benar-benar nyata. Sebisa mungkin mereka melakukan perannya dengan sangat baik.
Jikalau pun ada sutradara yang mengetahui cara bermain mereka, kemungkinan besar mereka bisa di jadikan pemain peran utama antagonis di sebuah film berjudul 'Pembantuku Musuh Terbesarku'.
__ADS_1
...***Bersambung***...