Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kedua Kucing Berebut Tulang


__ADS_3

Degh!


Penjelasan Meera saat ini seperti menampar hati Bram berkali-kali, dia tidak menyangka jika Alice sampai mengalami hal ini.


Padahal mereka melakukan hubungan selalu dengan cara yang aman, akan tetapi Bram seketika langsung mengingat kejadian beberapa minggu lalu.


Dimana merekaa melakukan hubungan tepat saat Alice sudah bebas, disitulah beberapa kali Bram mengeluarkannya di dalam. Dan, baru inilah dia menyadari perbuatannya. Meskipun Bram begitu syok, tidak terima. Entah mengapa hatinya malah merasa bahagia ketika mengetahui bahwa Alice telah mengandung anaknya.


"A-alice, ha-hamil a-anak Bram? Ba-bagaimana mungkin? Bisa jadi dia hamil anak---"


"Jaga mulut lu, atau gua akan buat lu bungkam seumur hidup!"


"Kalau lu enggak percaya anak itu bukan anak gua, itu hak lu! Tapi gua percaya kalau itu adalah darah daging gua sendiri, paham lu!"


"Apa buktinya jika itu adalah anak lu, dia itu wanita penghibur Bram! Ingat, dia seorang pela--"


Bugh!


Bugh!


"Bram!" pekik Meera.


"Hentikan semua ini, atau aku akan membuatmu tidak bisa bertemu dengan Alice dan anakmu sendiri!" ancam Meera.


Bram yang tidak bisa menahan emosi di dalam hatinya, langsung memukul Hans. Mereka saling melontarkan pukulan demi pukulan sambil berguling di lantai layaknya kedua kucing yang sedang bertengkar.


Semua bermula karena Bram tidak terima jika Hans mengatakan sesuatu yang menjelekkan Alice, hatinya begitu hancur setiap kali ada seseorang yang menganggap rendah Alice tanpa tahu siapa Alice yang sebenarnya.


Meera dan sang supir serta beberapa suster yang melihatnya bergegas memisahkan kedua jagoan tersebut. Wajah mereka terlihat sedikit memar, sehingga menutupi ketampanan satu sama lain.


Setelah mereka selesai di pisahkan, kini kedua tatapan tajam mulai menyelimuti satu sama lain membuat Meera begitu kesal. Rasanya kepala Meera yang masih pusing membuat dia tidak bisa mengontrol rasa kesal seperti biasanya


Plak!


Plak!


1 tampran mendarat di pipi Bram dan Hans secara bergantian, membuat mereka berdua langsung menoleh ke arah Meera secara bersamaan.


"Apa, hahh?"

__ADS_1


"Kalian mau marah?"


"Udah tahu keadaan lagi genting kaya gini, bisa-bisanya kalian ribut kaya kucing rebutan tulang!"


"Harusnya kita sekarang memikirkan bagaimana nasib Alice dan anaknya untuk kedepannya. Sebelum perut Alice mulai membesar dan semua orang mengetahui semua berita ini!"


"Pokoknya aku tidak mau tahu, bulan depan kau harus sudah menikahi Alice! Dan kau Hans, jangan pernah menjelekan Alice ataupun mencoba melarang mereka untuk menikah!"


"Jika sampai itu terjadi, maka kau akan berurusan denganku! Aku tidak peduli jika kita harus bertengkar hebat, karena bagiku nasib anak itulah yang lebih penting untuk saat ini!"


Ketegasan Meera membuat Hans tak bisa berkutik, begitu juga Bram. Dia sebenarnya ingin sekali bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perlakulan pada Alice.


Namun, kalau sampai Bram menikah dengan Alice bagaimana nasib balas dendamnya pada Meera dan juga Hans? Entahlah, dia pun bingung. Keadaan yang seperti ini membuat Bram menjadi dilema, cuman ketika seorang suster berlari dalam keadaan panik membuat mereka langsung menatapnya.


"Huhh, Nyonya. Dokter memanggilmu untuk segera datang ke kamar Nyonya Alice, karena keadaan Nyonya Alice tiba-tiba saja kritis!" pekiknya.


Seketika mendengar kabar tersebut, wajah mereka bertiga langsung berubah menjadi gelisah. Lalu mereka bergegas berlari terburu-buru untuk mengecek keadaan Alice.


Apa lagi Bram, dia berlari lebih dulu ke arah kamar Alice dengan perasaan yang begitu cemas. Sedangkan Hans dia terus memegangi Meera lalu menjaganya karena kondisinya masih terlihat begitu lemah.


Sesampainya di depan kamar Alice, Bram segera mencecar sang dokter dengan berbagai pertanyaan saat napasnya masih tersendat-sendat.


"Hahh, hahh. Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apakah yang dibilang suster itu benar, kalau istri saya kondisinya mengalami penurunan?" tanyanya.


"Tapi, Ibu dan janinnya baik-baik aja 'kan, Dok?" sambung Meera.


Dia baru saja sampai, meski napasnya masih memburu tidak membuat Meera menunjukkan kalau dia sebenarnya sudah tidak kuat lagi berdiri akibat kepalanya terasa begitu pusing.


"Sejauh ini Nyonya Alice dan janinnya baik-baik saja, cuman jika kejadian ini terulang berkali-kali. Saya tidak akan bisa memastikan kalau mereka masih dalam keadaan baik-baik saja, terutama janinnya. Itu akan berakibat fatal sehingga Nyonya Alice bisa kehilangan bayinya untuk selamanya." ucap sang dokter.


Perlnjelasan sang dokter membuat mereka begitu syok, bahkan Meera yang sudah tidak kuat menahan rasa pusingnya langsung terjatuh pingsan di dalam dekapan suaminya.


"Meera!"


"Nyonya!"


"Sayang!"


"Astaga, Sayang hei! Bangun, Sayang. Please, aku mohon bangun. Jangan buat aku khawatir seperti ini, aku mohon bangun, ayo bangun Sayang, bangun."

__ADS_1


Hans sangat khawatir melihat kondisi istrinya yang saat ini begitu pucat, bahkan sang dokter segera menyuruh Hans untuk membawa Meera ke ruangan sebelah karena kondisi Meera memang sepenuhnya belum pulih dari sakitnya.


Tanpa berlama-lama Bram memasuki kamar Alice dan Hans membawa Meera ke kamar sebelah. Mereka saling mengkhawatirkan tentang kondisi pasangannya masing-masing.


Dimana saat ini Bram sudah berdiri sedikit membungkukkan badannya menatap wajah Alice, lalu tangannya mengusap wajahnya secara lembut.


"Lis, bangun dong. Ini aku Bram, aku mohon jangan seperti ini. Maafkan aku, semua ini terjadi pasti karena ulahku."


"Ingat, Lis. Disini sudah ada anak kita, jadi aku mohon buka matamu dan aku janji aku akan selalu menjaga kalian tanpa membuat kalian kembali terluka seperti ini."


"Aku mohon, ayo bangun Sayang. Aku akan segera bertanggunh jawab atas apa yang sudah aku perbuat, sehingga anak tak bersalah ini sampai hadir di dalam perutmu."


Bram mengusap perut Alice perlahan sambil merasakan bahwa adanya getaran yang membuat Bram ingin sekali mencium perutnya.


Perlahan, tapi pasti. Bram menurunkan egonua untuk mencium beberapa kali perut Alice sampai tidak terasa Alice pun mulai mengerjapkan matanya.


"Eerghhh, di-dimana aku?"


*Arrghh, pe-perutku hiks ...."


Alice yang baru tersadar mencekram kuat perutnya yang kembali berkontraksi. Melihat kesakitan di wajah Alice membuat Bram tidak tega, dia berusaha kuat menyingkirkan tangan Alice dan memberikan dia pengertian.


Entah kenapa saat Bram mengusap perut Alice, seketika rasa keram itu mulai berkurang dan menghilang begitu saja.


Alice benar-benar terkejut, bukan main. Dia tidak menyangka cuman hanya dengan usapan tangan Bram bisa membuat perutnya menjadi tenang setenang-tenangnya.


"Bra-bram, a-apa ini? Kenapa perutku menjadi tidak sakit, saat tanganmu mengusapnya?" tanya Alice.


"Benarkah?" Wajah Bram seketika berseri senang, ketika mengetahui bahwa anaknya sedang bermanja padanya.


"Bagus deh, itu tandanya anak kita ingin di sayang oleh Papahnya."


"Hem, sayang Papah. Baik-baik ya di perut Mamah, jangan nakal-nakal, okay? Kasian Mamah nanti kesakitan loh, Dedek 'kan anak baik jadi tidak boleh bandel ya."


"De-dedek? Pa-papah, Mamah? I-itu artinya apakah aku sedang ... Sedang h-hamil?" tanya Alice terbata-bata akibat keterkejutannya, atas apa yang Bram ucapkan sambil terus mengusap perutnya.


"Ya, benar. Saat ini kamu sedang hamil anakku, Lis. Pasti kamu bahagia ya? Hihi, aku pun sama. Aku juga bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Papah."


"Terima kasih, Lis. Kamu sudah membuatku bahagia hari ini, walaupun kita belum memiliki status. Aku akan secepatnya meresmikan hubungan kita, agar tidak ada pemberitaan buruk tentangmu. Kamu tenang aja ya, aku tidak akan menyia-nyiakan kalian lagi karena aku--"

__ADS_1


Perkataan Bram terhenti saat Alice mengucapkan satu kalimat yang berhasil membuat Bram syok. Dia tidak menyangka jika Alice akan mengatakan hal seperti itu padanya.


...***Bersambung***...


__ADS_2