Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
AB Rhesus Negatif


__ADS_3

"Baik, Tuan. Saya akan ikut mengantarkannya, semoga saja pelaku tersebut bisa segera di tangkap dan diberikan hukuman yang sangat pantas agar dia mendapatkan efek jera didalam hidupnya!" jawab pria itu, langsung masuk ke dalam mobil Hans.


Dimana pria tersebut memangku kepala Rara di kursi belakang, sementara Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi dengan memasang lampu darurat serta membunyikan klakson sepanjang jalan.


Kemudian di bantu oleh pria yang ada di belakang, sambil berteriak dari arah jendela untuk memberitahukan jika di dalam mobil Hans terdapat korban tabrak lari yang harus segera di bawa ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Hans kembali menggendong Rara dan membawanya ke atas bangkar. Kemudian dia dorong oleh suster dan perawat menuju ruangan UGD.


Hans hanya bisa menunggu di depan ruangan bersama dengan pria itu, beberapa kali terlihat Hans sangat mengkawatirkan tentang kondisi anak itu.


"Tuan, mari duduk. Kasihan pasti Tuan sangat mengkhawatirkannya, bukan? Jadi, duduklah dengan tenang agar tidak membuat hati Tuan semakin takut menunggu kabar darinya."


Pria itu berbicara, saat melihat Hans selalu berjalan kesana-kemari memperlihatkan tentang kekhawatirannya pada anak tersebut.


"Huhh, baiklah. Tenang, Hans. Tenang. Anak itu pasti selamat kok, tenang saja. Dia anak yang kuat, anak yang ceria. Jadi dia tidak akan pergi begitu saja!"


Hans duduk sambil bergumam kecil, membuat pria itu tersenyum melihatnya. Dia tidak menyangka, jikalau Hans memiliki jiwa kasih sayang yang begitu besar pada seorang anak yang sama sekali tidak dia kenali.


"Tenang saja, Tuan. Aku yakin anak itu, pasti akan selamat!" jawabnya, sambil tersenyum.


Hans hanya bisa melihat pria itu sekilas, lalu dia teringat dengan tugasnya yang lain untuk melaporkan masalah ini ke kantor polisi.

__ADS_1


Segera mungkin Hans mengambil ponselnya dari saku celana, hanya saja dia lupa. Jika ponselnya berada di box kecil, tepat samping tempat duduknya.


"Astaga, kenapa aku bod*doh banget sih! Kenapa juga, ponsel malah segala di tinggal di mobil lagi. Arrrghh ... Si*al!"


Hans mendumel kesal membuat pria tersebut beberapa kali merasa aneh, seakan-akan Hans itu merupakan seorang Ayah dari anak tersebut yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.


"Tenang, Tuan. Tuan bisa mengambilnya terlebih dahulu, biar saya yang akan menunggunya di sini." ucap pria itu tanpa rasa takut, jika Hans akan kabur. Begitu juga sebaliknya, Hans tidak takut kalau pria itu akan meninggalkannya.


Ibarat kata pria itu merupakan kunci dari segala kunci, agar tidak membuat Hans berapa di posisi yang salah.


Apa lagi tidak ada yang melihat kejadian tersebut, jadi Hans takut kalau dia akan di tuduh menjadi pelaku utama kejadian yang menimpa Rara.


"Baiklah, Bapak tunggu disini. Saya akan mengambil ponsel terlebih dulu, agar saya bisa segera melaporkan kejadian ini." ucap Hans, langsung berdiri.


Sampai akhirnya, Hans menghentikan langkahnya dan segera mendekati dokter bersamaan dengan pria yang dari tadi terlihat tenang pun, malah menjadi ikut panik.


"Dok, bagaimana kondisi anak itu? Dia pasti selamat 'kan, aku tahu dia anak yang kuat. Jadi tidak mungkin dia pergi!" ucap Hans, terlihat begitu cemas.


"Maaf, Tuan. Kondisi anak Tuan benar-benar sangat kritis, dia banyak sekali kehilangan da*rah sehingga dia harus membutuhkan transfusi darah secara cepat."


Degh!

__ADS_1


Penjelasan sang dokter membuat hati Hans sedikit terketuk untuk merasakan bagaimana tersiksanya anak itu untuk berusaha bertahan demi hidupnya sendiri.


"Maaf, Dok. Tuan ini bukan Ayahnya, melainkan dia adalah ornag yang menolong anak itu dari kecelakaan. Sedangkan orang yang menabraknya lolos, melarikan diri. Jadi kami ke sini untuk berusaha menyelamatkan, dan memberikan pertolongan agar anak itu segera berada di tangan yang tepat."


Perkataan pria itu membuat sang dokter langsung tersadar, bahwasanya dia telah salah dalam menebak segalanya.


"Oh, jadi dia korban tabrak lari Tuan? Ma-maaf saya tidak tahu, saya kira Tuan ini adalah Ayah kandungnya yang langsung berhubungan darah dengannya. Karena terlihat sekali jikalu Tuan sangat mengkhawatirkannya layaknya seorang Ayah kepada anaknya." jawab sang dokter.


"Lantas apa yang harus kita lakukan demi menyelamatkan anak itu, Dok?" tanya Hans, sudah tidak bisa menahan kecemasannya.


"Jadi begini, Tuan. Anak itu membutuhkan transfusi da*rah sebanyak 3 kantong. Sementara kami hanya memiliki 2 kantung da*rah yang masih tersisa. Apa lagi golongan darah anak itu cukup langka, sehingga untuk mencarinya sedikit sulit. Akan tetapi, kami sedang mencoba menghubungin PMI untuk menanyakan stok da*rah yang sama dengannya. Apakah masih tersedia atau tidak?" jawabnya dengan segala penjelasannya.


"Apa golongan da*rah anak itu?" ucap Hans, penuh keseriusan.


"AB rhesus negatif, Tuan." jawabnya, cepat.


"Good! Ambil da*rah saya, karena golongan da*rah anak itu sama dengan saya!" balas Hans, penuh semangat.


Tanpa berlama-lama, Hans segera meminta sang dokter untuk mengambil da*rahnya agar anak tersebut bisa langsung di tolong tanpa harus membuatnya berada lama di dalam keadaan yang kritis.


Dokter itu segera menyuruh sang suster untuk mengecek semuanya dari mulai golongan da*rah, dan juga kesehatan Hans sebagai pendonor agar kelak tidak akan membahayakan keduanya.

__ADS_1


Hans pergi bersama sang suster, sementara pria itu hanya bisa kembali duduk di kursinya setelah dokter kembali masuk untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.


...***Bersambung***...


__ADS_2