Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kecurigaan Hans Pada Istrinya


__ADS_3

Tanpa basa-basi lagi, Hans yang sudah tidak tahan langsung merobek ringeri tersebut.


Meera sedikit terkejut sama perlakuan suaminya, baru saja mau berkata satu kata saja tidak bisa, karena suaminya kini sudah berhasil menggapai buah mangga kembar miliknya.


Hans melahap salah satu buah mangga milik istrinya begitu kuat, sesekali tangan satunya memainkan mangga lainnya dan membuat Meera merasakan tubuhnya mulai tersengat aliran listrik lebih tinggi dari sebelumnya.


Pemanasan demi pemanasan Hans berikan, meski dia tidak selihai orang yang memiliki pengalaman. Apa lagi Hans tipikal pria yang tidak mudah merasakan gejolak hasrat seperti pria pada umumnya.


Untuk membangunkan sang adik pun itu sangatlah sulit bagi Hans, cuman entah mengapa di saat melihat istrinya menggunakan baju dinas. Sang adik langsung terbangun dari tidur panjangnya sampai detik ini pun, sang adik enggak ingin tertidur sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Sshh, hemp. Ha-hans, sa-sakit. Ja-jangan lakukan itu, sto-stop Hans, stop!" keluhnya. Wajah Meera terlihat begitu merah ketika tangan Hans sudah berada di area bawah.


Mendengar keluhan Meera membuat Hans terkejut, karena dia hanya mengelus area bawah menggunakan tangannya dan sesekali menekan kedalam menggunakan satu jarinya. Akan tetapi Meera malah merasa kesakitan, bagaikan seorang wanita yang masih bersegel.


"A-apa kamu bilang, Sayang? Sa-sakit? A-aku hanya menggunakan 1 jari loh, bukan menggunakan milikku. Cuman kenapa kamu mengeluh sakit?" tanyanya.


Seketika wajah Hans terlihat menjadi bingung, Meera yang melihat wajah suaminya berbeda membuatnya hanya menggelengkan kepalanya. Meera sendiri tidak tahu kenapa rasanya begitu perih.


Hans yang penasaran langsung bangkit dan mengecek milik Meera. Hans memang tidak tahu apa-apa, hanya bisa berpikir kemungkinan rasa sakitnya itu akibat milik Meera sedikit kering, jadi membuatnya merasa perih.


Disitulah jiwa kepenasaran Hans mulai tertantang. Dia segera melakukan adegan yang tak terduga, yaitu menjelajahi milik istrinya menggunakan mulutnya. Wangi khas dari milik istrinya semakin membuat Hans gila akan perasaan dan juga kegemesannya.


Tubuh Meera mulai bergeliat kesana-kemari merasakan sesuatu dibawah sana yang rasanya sudah tidak karuan. Sesekali Hans menekan jarinya membuat istrinya masih kesakitan, sampai 1 jari lolos masuk dengan sempurna Meera pun masih meringis.


"Kenapa rasanya keset banget? Padahal ini 1 jari loh, dan jariku tidak sebesar milikku. Memangnya kalau tidak lama di pakai apakah akan bisa sekeset ini?"


"Atau jangan bilang Meera dan Daddy selama ini tidak bersentuhan. Iyakah!"

__ADS_1


Batin Hans semakin penasaran dengan teka-teki yang Meera berikan padanya. Sehingga membuat mood Hans sendiri sedikit tidak enak.


Semua itu berkat kepenasaran Hans terhadap istrinya sendiri. Tingkah Meera yang seperti ini membuat Hans bertanda tanya besar, sebenarnya apa yang terjadi dengannya, lantas apakah ada yang disembunyikan Meera darinya?


Sampai akhirnya dia kembali memasukan 2 jarinya saking penasarannya, sambil melihat reaksi Meera yang ketar-ketir dibuatnya. Tak terasa Meera sedikit menjerit sambil menutup mulutnya.


Hans melihat reaksi itu bertambah membuatnya panik, penasaran dan juga bingung. Lalu segera menyingkir dari Meera dan mengambil sebuah remot kecil untuk mengaktif kedap suara kamarnya.


"Sepertinya ada yang tidak beres?" gumam batin Hans saat melihat Meera masih sedikit terkejut dengan aksi suaminya.


Tidak gentar dari situ, Hans yang semakin penasaran langsung mengukung Meera sambil melu*mat kembali bibirnya.


Dipermainan kali ini mereka memang lebih banyak memainkan bibirnya, karena kemunginan mereka masih belum nyaman satu sama lain. Ditambah banyak kejadian mengganjal yang membuat Hans curiga dengan istrinya sendiri.


Akan tetapi dia enggan untuk mengatakannya, akibat melihat istrinya seperti menahan sedikit rasa sakitnya karena Hans memaksakan 2 jarinya menerobos masuk ke dalam goa tersebut.


Hans menahan kaki Meera agar sedikit merenggangkan goanya, untuk mempermudah tangannya mengobrak-abrik isi yang ad didalam goa.


Benar saja untuk kesekian kalinya Meera tidak begitu merasakan sakit, sehingga jari Hans segera melakukan aksinya dengan baik menggunakan tempo yang sedikit cepat.


"Sshh, Ha-hans. I-ini per-perasaan apa yang aku rasakan, ke-kenapa tubuhku seperti tersengat listrik?" tanyanya. Matanya sudah mulai sayu, bibir bawahnya pun digigit kecil membuat Hans menyadari bahwa istrinya sedang menahan sesuatu.


"Lepaskan, Sayang. Jangan ditahan, ikuti apa yang tubuhmu mau. Jika kamu menahannya itu malah akan membuatmu semakin tersiksa, biarkan tubuhmu menginginkannya. Lalu, lepaskan apa yang harus kamu lepaskan!" titahnya.


Jari Hans semakin mempercepat gerakannya membuat Meera semakin tidak karuan. Tubuhnya pun mulai kembali seperti cacing kepanasan, membuat Hans hanya bisa tersenyum melihat wajah cantik istrinya.


Meera yang sudah tidak kuat, tiba-tiba menarik suaminya dan menciumi bibirnya begitu ganas. Sementara Hans hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya yang mulai nakal.

__ADS_1


Hingga akhirnya Meera melepaskan bibir Hans, kemudian suara yang begitu indah terdengar merdu di telinga Hans bersamaan dengan sesuatu yang keluar dari goanya.


"Aaarggghh ...." teriaknya. Tubuh Meera menegang serta sedikit bergetar, ketika dia melakukan pelepasan untuk pertama kalinya hanya menggunakan jari nakal milik suaminya.


Hans mencabut jarinya lalu memasukannya ke dalam mulutnya, setelah itu membenarkan anakan rambut Meera yang sedikit menutupi wajah cantiknya.


Tak menunggu lama, Hans segera bangkit lalu membuka semua pakaiannya. Kini, tubuh mereka berdua sudah sama-sama toples, polos tak berbusana.


Meera yang baru saja menarik napas mencoba untuk berusaha menetralkan detak jantungnya. Tiba-tiba suaminya malah langsung kembali mengukungnya rapat-rapat dan mengunci setiap tubuh Meera, sampai dia pun tidak bisa bergerak dengan bebas.


Perlahan Hans membawa kedua tanga Meera berada diatas kepalanya sambil menguncinya dengan 1 tangannya. Kemudian satu tangannya lagi senang sekali menggoda istrinya hingga tubuhnya kembali menegang.


"Ha-hans, a-aku takut!" ucap Meera. Matanya berkaca-kaca karena bagi Meera untuk melakukan adegan penuh kesadaran seperti ini, hanya baru sekarang. Ini untuk pertama kalinya Meera melakukan hubungan layaknya suami-istri bersama Hans.


Lantas bagaimana dengan pernikahan Meera dan Daddynya Hans? Apakah mereka selama 2 tahun menikah tidak melakukan hubungan suami-istri? Entahlah, itu masih menjadi sebuah misteri ketika Hans belum menemukan jawabannya.


"Tidak perlu takut, aku akan melakukannya perlahan. Lagi pula kamu sudah sering melajukannya bukan? Jadi tidak perlu takut-takut, milikku tidak akan kembali merobek milikku seperti pertama kali Daddy mendapatkan segelmu," balas Hans.


"Andaikan kamu tahu semuanya Hans, pasti saat ini kamu tidak akan berbicara seperti itu padaku!" gumam batinnya.


Meera mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia melirik kebawah dimana benda pusakan milik suaminya sudah terlihat begitu gagah untuk memasuki rumahnya.


Ada rasa keraguan, kepanikan dan juga kekhawatiran diantara mereka. Cuman kembali lagi, mereka masih harus banyak belajar tentang dunia pernikahan, rumah tangga dan juga suami-istri.


"Apa kamu sudah siap untuk menerimaku sebagai suamimu seutuhnya, malam ini?" tanyanya. Mata Hans menatap manik mata istrinya, sesekali tangannya yang satu mengusap pipi Meera begitu lembut.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2