Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Flashback Kejadian Meera & Hans


__ADS_3

"Jadi benar dugaanku, kalau kau adalah penyebab terbesar dari semua masalah yang datang ke keluargaku?" tanya Hans, penuh ketegasan.


"Jangan bilang kecelakaan Daddy itu bukan kecelakaan murni, melainkan karena ulahmu?" sahut Bram, matanya menatap tajam bagaikan seekor Elang.


Bella melihat reaksi keduanya hanya bisa tersenyum picik, sampi beberapa detik Bella malah tertawa cukup geli. Membuat Hans dan Bram menatap bingung, mereka tidak paham apa maksud tawa yang sedang dia tunjukkan kali ini.


Namun, bila di pastikan sepertinya kejiwaan Bella sedikit terganggu karena apa yang dia inginkan tidak bisa terwujud. Padahal jelas-jelas dia sudah melakulan segala cara demi mewujudkan semuanya, cuman hasilnya nihil. Dia malah mendapatkan nasib yang cukup menyedihkan, jauh dari apa yang dia harapkan.


"Hem, gimana ya? Kasih tahu enggak, ya? Kasih enggak, kasih enggak, kasih engga, kasi---"


"Cepat katakan!"


Ucapan Bella terhenti ketika mendengar serta melihat wajah Bram yang sudah mulai berubah merah, dipenuhi oleh emosi. Sementara Hans terus menatap tajam ke arah Bella, sesekali mengontrol emosi yang ada di dalam diri Bram.


"Tenang, Bram. Ingat tujuan kita, jangan sampai kita ke pancing dengan orang licik seperti dia. Paham!" sahut Hans, menatap Bram satu sama lain.


Bram hanya bisa menoleh ke arah sang Kakak, dan kembali lagi menatap Bella yang saat ini terlihat sangat santai menghadapi kedua pria yang sedang dipenuhi oleh rasa kekecewaan.


"Tuh, Bram. Dengerin perkataan Kakakmu, tenanglah jangan marah-marah. Nanti kalian pulang tanpa informasi lagi loh, aduh ... Aku jadi berasa kaya artis yang selalu di kunjungin terus disini haha ...."


Bram dan Hans menggelengkan kepalanya kecil, mereka tidak mengerti sebenarnya hati Bella itu terbuat dari apa? Lantaran dia sama sekali tidak merasakan penyesalan atas perbuatannya yang sudah benar-benar masuk tindak kriminal.


"Stop tertawa, Bella Lastanya Munthe!" ucap Bram, suaranya terdengar begitu berat serta kedua tangan mengepal kuat diatas meja.


"Ssttt, Sayang. Enggak boleh marah ya, nanti tampannya ilang loh. Masa iya akunya cantik, pasangankunya jelek. 'Kan enggak pantes dong, jadi tenang dulu ya. Aku akan ceritakan semuanya apa yang terjadi, tapi---"


"Tapi apa lagi, hahh?" pekik Hans, kesal


"Ya, tapi aku bingung. Aku harus mulai dari mana ya, hem?" jawab Bella santai, bergaya bagaikan orang yang sedang berpikir keras.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padaku sama istriku? Kenapa Meera bisa di dalam kamarku, tepat di saat aku ingin live bersama para wartawan dipagi harinya?"


Hans berbicara sangat tegas dan wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi apapun. Dia hanya sekedar memberikan tatapan tajam sebagai simbol bahwa Hans, benar-benar sedang menahan keras emosi di dalam dirinya.


"Hem, baiklah. Dengerin baik-baik ya, pada waktu itu aku ...."


Bella mulai mencaritakan semuanya kejadian itu secara detail, sambil mengingat setiap kejadian demi kejadian yang sedikit lupa di dalam ingatannya.


...Flashback Meera & Hans...


Pada malam hari tepatnya ketika Hans sedang banyak masalah, dia pergi ke sebuah BAR yang cukup terkenal. Disana Hans hanya sekedar duduk merenung sambil meminum minuman dengan kadar alkohol cukup tinggi.


Kebetulan sekali, pada waktu itu Bella benar-benar sedang sakit hati. Ternyata dia baru tahu bahwa Bram memutuskan dirinya, karena saat ini dia sedang dekat sama Ibu tirinya yaitu Meera.


Kedekatan mereka berdua itu, sempat beberapa kali tidak sengaja terlihat oleh Bella. Cuman, lebih tepatnya Bella hanya memantau pergerakan keduanya dari jarak jauh di sebuah Mall. Dimana Bella melihat Bram dan Meera saling bermesraan satu sama lain.


Setelah pertemuan itu yang tidak di ketahui oleh Bram dan juga Meera, barulah mulai gejolak amarah di dalam hatinya kian membara. Sampai pada akhirnya, perasaan dendam itu langsung muncul secara tiba-tiba tanpa diminta.


Hanya saja, saat melihat Hans yang dilanda mabuk berat membuat Bella langsung kepikiran dengan ide gila yang cukup menegangkan. Seakan-akan ini merupakan rencana yang cukup ekstream bagi Bella.


"Bel, ayok pulang. Gua udah enggak kuat nih pusing banget pala." cicit teman Bella, sedikit sempoyongan.


"Ckk, berisik lu. Udah sana pulang duluan, gua masih betah disini. Byee!"


Bella pergi begitu saja meninggalkan temannya yang merasa kesal, dimana Bella berjalan sedikit mendekati Hans. Kemudian dia kembali memantau Hans, sambil mengikuti kemanapun dia pergi.


Akan tetapi, sebelum Bella pergi. Dia mengajak 2 rekannya yang ada di BAR untuk ikut dengannya, karena ada pekerjaan yang bagus untuk mereka.


Ketika di dalam mobil, Bella menceritakan semuanya ke pada 2 rekannya itu untuk mengikuti semua permainannya.

__ADS_1


"Waktu yang sangat tepat, jika aku menyatukan Meera sama Hans. Dengan begitu Bram tidak lagi bisa memiliki Meera, sebagaimana aku yang tidak lagi bisa bersatu olehnya." gumam batin Bella saat memantau pergerakan mobil Hans.


Sesampainya di depan gerbang rumah kediaman Ivander, mobil Hans langsung masuk. Sementara Bella dia menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah tersebut.


"Dengerin baik-baik, gimana caranya lu harus bisa masuk ke rumah itu lewat samping. Gua tahu pintu samping tidak terlalu tinggi, dan jarang banget di gembok karena udah karatan. Jadi kalian bisa masuk lewat sana, kalau di rasa aman kalian langsung kabarin nanti gua nyusul, ngerti!" ucap Bella, menatap kedua rekannya secara serius.


"Siap, serahin aja semuanya sama kita. Apa lagi jam segini, semua orang pasti udah pada tidur. Jadi itu akan semakin membuat kita mudah untuk menjalani misi dari lu." jawab rekan satunya.


"Gua pegang omongan lu, pokonya disaat kondisi aman cepat panggil gua. Nanti gua kasih tahu apa yang harus kalian lakukan. Gua mau cari parkiran yang aman dulu!" ucap Bella, yang diacungi jempol oleh mereka berdua.


Kemudian mereka turun dari mobil Bella, mulai menyelusup ke arah rumah keluarga Ivander dari arah samping. Untungnya pakaian mereka berwarna hitam, jadi itu sangat memudahkan mereka menjalani semua perintah Bella.


Kurang lebih 20 menit, akhirnya Bella mendapatkan informasi dari 2 rekannya yang sudah berada di dalam.


Bella langsung keluar dari mobil secara mengendap-ngendap untuk memastikan semuanya agar aman dari jangkauan. Tak lupa juga semua CCTV sudah di tutup oleh kedua orang itu atas suruhan Bella.


Loh kok Bella tahu seluk beluk rumah itu? Ya jawabannya simpel. Karena Bella pernah beberapa kali main ke sana memantau setiap isi yang ada di dalam rumah itu.


Setelah Bella masuk ke dalam rumah bersama 2 rekan kerjanya, tanpa di sengaja dia melihat Meera membantu Hans masuk ke dalam sebuah kamar, yang di duga adalah kamar Hans.


Setelah itu Meera pergi dari kamar Hans, ke arah dapur ingin mengambilkan sebuah air lemon untuk meredakan rasa pusing, akibat alkohol yang Hans konsumsi terlalu banyak.


Untungnya Hans masih bisa pulang dalam keadaan selamat, ya walaupun beberapa kali mobilnya sempat oleng ke kanan dan ke kiri. Cuman berkat jalanan sepi, jadinya dia aman. Semua ini terjadi pukul 1 malam, yang mana Meera lagi susah untuk tidur.


Namun, ketika Meera kembali membawa segelas air lemon ke kamar Hans dan mencoba membangunkannya. Tiba-tiba saja Hans malah memeluk Meera cukup kencang, membuatnya terkejut. Apa lagi posisi Hans dalam keadaan tidak sadar, itu akan membuat posisi mereka sedikit berbahaya.


Bella yang melihat adegan itu hanya bisa tersenyum, menyaksikan Meera berusaha untuk menjauhkan tubuh Hans yang sangat bau alkohol. Dari arah belakang kedua rekan Bella langsung menyergap dan memukul punggung Meera hingga dia terjatuh di dalam pelukan Hans yang saat ini sudah tidak sadarkan diri.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2