Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Ide jahil Bram


__ADS_3

Sementara Alic menoleh kebelakang menatap Bram yang saat ini menatap tajam kearah Hans, lalu melewatinya sambil menyenggolkan pundaknya kepundak Hans dengan cukup keras.


Setelah itu Bram dan Alice pergi menuruni anakan tangan, dalam keadaan Bram begitu amarah. Sehingga tanpa sengaja Bram menarik tangan Alice sampai membuatnya hampir terjatuh dari tangga, jika Alice tidak memarahinya.


Bram yang mendengar itu seketika menghentikan langkahnya lalu, mereka sedikit cekcok dan membuat Alice pergi lebih dulu dalam keadaan kesal.


...*...


...*...


Didalam mobil, Bram dan Alice saling terdiam tanpa berkata apa pun untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Bram melihat tangan Alice selalu mengusap-ngusap pergelangan tangan satu, membuat Bram merasa bersalah.


Seketika mobil berhenti disebuah Apotik, lalu Bram keluar begitu aja tanpa berkata apapun pada Alice yang saat ini sedang bingung.


"Mau ngapin dia ke Apotik? Apa dia sakit? Akhh, enggak mungkin. Orang tadi aja dia bisa marah-marah kok, jadi mana mungkin dia sakit. Paling juga yang sakit hatinya, tapi mana bisa hatinya diobatin pakai obat di Apotik."


"Arghh, sudahlah biarkan aja. Mau gimana pun itu hak dia, jadi ngapain juga aku ikut campur. Mendingan aku urusin hidupku sendiri, gimana caranya aku bisa memberikan perawatan terbaik buat Nenek, kasihan dia sudah sangat lama,"


"Pasti Nenek ngerasa tubuhnya sudah kaku, karena kan Nenek biasanya selalu jalan-jalan pagi, masak dan sebagainya. Cuman, sudah hampir 1 tahun ini Nenek hanya bisa terbaring lemah tak berdaya dengan semua alat medis ditubuhnya."


"Sabar ya, Nek. Alice janji, kalau Alice punya uang banyak, Alice akan langsung bawa Nenek berobat ke luar negeri agar Nenek bisa kembali sehat dan kita bisa kumpul lagi."


Alice tersenyum menatap lurus kearah depan dengan pandangan kosong, dimana saat ini Alice seperti sedang mengingat momen bersama sang Nenek yang masih sehat.


Sampai Alice tidak menyadari jika Bram sudah kembali dari Apotik dengan membawa sebuah kantong plastik kecil yang berisikan obat-obatan.


"Ini ada obat, sebagai tanda maaf karena aku tidak sengaja melukai pergelangan tanganmu." ucap Bram sambil menatap isi kantong plastik yang dia bawa, lalu memberikannya pada Alice.


Namun, saat plastik itu diserahkan. Mata Bram melihat wajah Alice sedang terseyum bahagia, diserta kedua bola mata yang sedikit berkaca-kaca.


Bram merasa aneh lalu dia mengikuti arah kemana mata Alice menatap, hanya saja dia tidak menemukan siapa pun disana. Cuman ada beberapa mobil yang terparkir tanpa penghuninya.


"Ada apa dengan dia? Perasaan tidak ada siapa-siapa, terus kenapa juga dia malah senyum-senyum sendiri? Apa jangan-jangan dia sudah mulai tidak waras atau bisa juga ketempelan se*tan bengong?"

__ADS_1


"Aishh, apaan sih Bram. Lu mikir apa sih, kalau itu bocah gila enggak mungkin kan, dia bisa muasin lu sampai ketagihan. Ditambah juga kalau dia kesurupan, sudah pasti bakalan ngamuk bukan malah senyum sendiri kaya begitu."


"Pasti ini ada sesuatu yang terjadi sama otaknya, bisa aja tiba-tiba otaknya konslet kan. Apa lagi sifatnya sering banget berubah-ubah,"


"Dimana kalau dia berada diranjang pasti terlihat manis, angun dan juga manja. Berbeda jika seperti saat ini, dia akan terlihat menyebalkan dan juga ngeselin."


"Yakk, ngapain gua jadi komentarin hidupnya sih! Dahlah mendingan gua sadarin tuh anak aja. Dari pada lama-lama, entar dia beneran kesurupan jadi berabe urusanya."


Bram mengoceh didalam hatinya dengan perasaan yang tidak karuan, dia terlihat begitu cemas saat melihat Alice terdiam seperti ini.


Cuman Bram berusaha mengalihkan semua pikiran cemasnya ke suatu hal yang mengharuskannya untuk tetap bersikap biasa saja dihadapan Alice.


Perlahan Bram mencoba untuk memanggil nama Alice beberapa kali, tetapi nihil. Alice tidak juga tersadar, sampai akhirnya ide jahil terlindas didalam pikiran Bram.


Tanpa menunggu lama lagi, Bram mulai mencondongkan tubuhnya secara perlahan hingga wajahnya mendekati telinga Alice.


Kemudian Bram meniup pelan telinga Fayra hingga membuat tubuhnya seketika menegang dengan disertai bola mata yang kian membesar.


Bram membisikan kalimat yang sangat lembut sambil menahan tawanya yang rasanya ingin segera keluar. Sementara Alice yang mendengar suara itu lngsung menoleh.


Matanya bertembah melepas ketika wajah mereka begitu dekat dengan jarak satu senti meter. Sedikit saja mereka bergerak, sudah bisa dipastikan hidung mereka akan bersentuhan.


"Bra-bram, ka-kamu---"


"Bhuahaha, astaga wajahmu lucu sekali Alice. Aku berasa melihat wajahmu berubah menjadi seekor kepiting yang baru saja direbus."


Bram tertawa pulas duduk menyandar dikursinya, hingga tangannya memegangi perutnya sendiri sambil sedikit mengangkat-ngangkat kakinya.


Kali ini wajah Alice benar-benar terlihat polos bercampur lucu. Sampai-sampai wajah Alice seperti berhasil menghapus semua kejadian yang tidak mengenakan dalam hati Bram hari ini.


Melihat Bram tertawa puas, membuat Alice berteriak kesal lantaran Bram sudah berhasil menggodanya. Hingga tanpa sadar Alice memukul-mukul tubuh Bram, dan membuatnya semakin tertawa diserta sedikit ringisan dari Bran sendiri.


Disaat mereka sedang bercanda gurau, tiba-biba tangan Bram memegang tangan Alice lalu kembali duduk tegak menatapnya.

__ADS_1


"Terima kasih, kamu sudah mau mengikuti semua perjanjian yang telah disepakati. Untuk itu aku akan membiayai semua pengobatan Nenekmu, bahkan aku juga akan mencarikan rumah sakit terbaik diluar negeri agar Nenekmu dia segera pulih dan terbangun dari tidur panjangnya."


Perkataan Bram kali ini berhasil menyentuh hati Alice, dia tidak menyangka jika Bram mau membiayai semua pengobatan Neneknya. Meskipun jobs kerjaan tidak terlalu sulit, tetapi juga tidak memungkiri jika jalan yang mereka tempuh adalah salah.


"Terima kasih, Tuan. Karena Tuan sudah sangat baik kepada saya, saya janji suatu saat nanti ketika saya sukses dan Nenek saya sudah terbangun. Maka saya akan membalas semua jasa balas budi yang Tuan berikan pada saya."


Alice berbicara disertai oleh air mata yang jatuh secara terus menetes dipipinya. Terlihat jelas dari sorotan mata Alice memang memancarkan sebuah kebaikan. Akan tetapi Alice masih enggan untuk mempercayai Bram sebelum semua buktinya jelas.


Bram hanya bisa menghapus air mata Alice sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Semua itu pertanda bahwa Bram telah melarang Alice agar tidak boleh kembali menangis.


"Stop panggil saya, Tuan. Panggil Bram saja, mau kita berdua ataupun tidak cukup panggil saya Bram tanpa adanya embel-embel di depannya." ucap Bram menatap Alice.


"Ba-baik, Tu-- Bram. Aku tidak akan melupakan semua kebaikanmu ini, jika suatu saat nanti Nenekku sudah pulih dan kembali sehat. Maka aku akan meninggalkan semua pekerjaan kotor ini!"


"Aku tidak mau kembali terjebak didalamnya, karena aku melakukan ini hanya demi pengobatan Nenek bukan tuntutan hidup."


Alice berbicara dengan air mata yang masih mengalir mengingat semua kejadian yang mengharuskan dia untuk bekerja menjadi wanita penghibur.


Bram yang memang belum mengetahui alasan kenapa dia bisa terjebak didunia ini, mulai penasaran. Sehingga perlahan Bram mencoba untuk mengobatin tangan Alice yang membuatnya sedikit terkejut.


Bram memberikan salep secara perlahan dipergelangan tangan Alice membuat Alice menatap kearah Bram.


Alice tidak menyangka bahwa Bram ternyata peduli dengannya, Alice kira Bram adalah pria menyebalkan yang hanya memanfaatkan dirinya untuk kepentingannya sendiri.


Namun, ternyata Alice salah. Meskipun Bram seperti itu, tetapi dia juga memiliki sifat tulus untuk menebus semua rasa bersalahnya atas sesuatu yang sudah dia perbuat.


Disitu Bram mulai mencari tahu bagaimana caranya Alice bisa terjun beban kedalam dunia hitam itu, padahal jika maupun Alice bisa bekerja di tempat kerjaan yang layak jika cuman sekedar membiayai sang Nenek.


Alice yang awalnya terdiam tidak mau menceritakan kisahnya, perlahan dia mulai terbuka kepada Bram. Entah mengapa, Alice seperti menaruh kepercayaan yang besar terhadap Bram untuk mendengarkan semua kisah kelamnya.


Alice menceritakan awal mula kenapa dia bisa berpikir sejauh itu untuk berada di tempat seperti itu, walaupun Alice tahu jika tempat itu tidak layak untuk dirinya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2