
Bram benar-benar kesal dengan hadiah yang Kakaknya berikan, sampai akhirnya dia meletakan dokumen tersebut cukup keras diatas meja sambil menunjukkan wajah masamnya.
"Kalau begini caranya mah mending aku tidur, percuma juga kalau ujung-ujungnya hanya di kasih dokumen enggak penting!"
"Aku kira Kakak akan berikan kunci rumah, kunci hotel atau Perusahan sekalipun. Cuman nyatanya cuman sebuah dokumen yang enggak penting kaya gini, buat apaan!"
Hans berbicara dipenuhi oleh perasaan kesal, yang benar-benar kesal. Dia tidak menyangka ekspetasi-ekspetasi tinggi yang ada di dalam isi kepalanya, seketika hilang begitu saja dan tergantikan oleh pekerjaan yang semakin menumpuk di pikirannya.
Saat Bram sudah berdiri ingin pergi dari mereka bertiga, Hans langsung menahan tangannya hingga membuat Bram tidak jadi melangkahkan kakinya dan kembali menatapnya.
"Apaan sih, Kak. Lepasin tanganku, enggak!" tegas Bram, dipenuhi kekesalan.
"Udah jangan marah-marah, buka dulu aja dokumen itu. Kalau udah tahu isinya apa baru kamu boleh marahin aku, jadi sekarang duduk terus liat itu dokumen tentang apa!" titah Hans.
Perkataan Hans malah semakin membuat Bram bingung, berbeda sama Meera dan Alice yang dibuat penasaran dengan isi dokumen itu.
"Wahh, dokumen apa itu? Coba buka, Sayang. Atau mau aku yang bukain? 'Kan aku ahlinya dalam hal buka-bukaan hahah ...."
Alice mencoba meledek suaminya, supaya bisa mencairka suasana hati suaminya agar tidak lagi dipenuhi oleh rasa kesal kepada Kakaknya sendiri.
Bram kembali duduk di samping istriny, lalu mengambil dokumen tersebut dan menepuk-nepuk di telapak tangannya.
"Alaahh, palingan juga cuman dokumen soal kontrak kerjaan yang harg nilainya tinggi!" ucap Hans, cuek.
"Buka dulu, enggak usah banyak ngomong. Kalau udah di baca, baru komen sepuasmu 7 hari 7 malam kek, terserah!" jawab Hans, mulai kesal.
"Ckk, ribet banget sih. Buka tinggal buka, baca tinggal baca. Kenapa harus aku yang baca, aneh!" gerutu Bram.
Dia langsung membuka dokumen itu sedikit kasar, kemudian perlahan dia mulai membaca isinya dari awal sampai akhir.
__ADS_1
Setelah selesai membaca dokumen tersebut, kedua mata Bram seketika membola besar saat mengetahui isi di dalam dokumen yang Hans berikan.
Kedua mata Bram yang membola seakan-akan ingin keluar dari tempatnya, beralih menatap sang Kakak tanpa berkedip sedikitpun. Bram tidak menyangka ternyata isinya benar-benar berhasil hampir membuatnya tidak bisa bernapas.
"Kak, a-apa yang ada di dalam do-dokumen i-ini benarkah? Kalau Re-restoran itu ma-masih atas namaku? Itu artinya, apakah Kakak yang sudah membelinya?" tanya Bram, matanya berbinar menahan air matanya.
Hans cuman bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya. Rasanya Hans benar-benar senang sekali ketika dia melihat wajah Bram begitu bahagia saat Hans mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Bram.
"Be-berarti pembeli yang selama ini tidak mau bertemu denganku, dan hanya diwakilkan oleh pengacara itu, adalah Kakak? Tapi, kenapa pengacara Kakak berbeda sama yang biasanya?" tanya Bram, kembali.
"Apa kau lupa aku ini punya pengacara lebih dari 3, jadi apapun bisa aku lakukan. Cukup memanggil salah satu dari pengacaraku, selesai. Toh mereka hanya akan mengurus masalah sepele seperti itu, cuman pengacara yang biasa menangani semuanya tidak akan aku suruh turun tangan cuman sekedar mengurus berkas sekecil itu. Paham 'kan?" jelas, Hans tersenyum miring.
"Aku paham, Kak. Tandanya, Restoran yang selama ini Kakak beli berarti masih menjadi milikku?"
Bram benar-benar syok saat mendapati semua kenyataan ini, seakan-akan Bram sedang tertimpa duren runtuh yang bisa diartikan dengan rezeki yang melimpah. Bagimana tidak, bulan kemarin dia mendapatkan mobil mahal, dan sekarang Restorannya kembali.
Hans memang membeli Restoran itu tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Meera, istrinya.
Awalnya Hans marah karena dia tahu semua itu dari asisten pribadinya dan juga istrinya, cuman Hans masih membiarkan Bram untuk melakukan apa yang dia inginkan sesuka hatinya.
Sampai di detik terakhir ada yang mau membelinya dengan harga miring, disitulah Hans bertindak dengan memberikan harga berkali-kali lipat untuk memancing Bram agar menyerahkan Restoran itu ke tangannya.
Pada saat itu Bram rela menjual aset kesayangannya hanya demi menyelamatkan Alicez yang statusnya masih menjadi wanita malam pada masanya.
Namun, makin kesini Hans semakin paham. Jika ini semua berkaitan dengan takdir Tuhan yang membuat Bram berjodoh dengan Alice. Pertama Bram merasa kasihan dan berniat ingin menolong Alice, akan tetapi Tuhan malah menyatukan mereka dengan caranya yang sedikit unik.
Meera dan Alice yang memang sudah mengetahui semua itu cuman bisa tersenyum lebar melihat Bram meneteskan air matanya.
Alice pun tidak menyangka, kembalinya Restoran itu seperti membuat jiwa Bram kembali utuh. Sering kali dia mengeluh capek bekerja di kantor dengan semua dokumen yang menyebalkan.
__ADS_1
Sampai Bram pun pernah berkeinginan untuk kembali membuat Restoran dari nol, tetapi dia belum sanggup karena membangun semua dari nol membutuhkan mental yang cukup kuat.
Beberapa kali Bram memeluk himgga menciumi dokumen itu, layaknya seseorang yang sangat dia sayang. Tak lupa, Bram mengucapkan terima kasih karena Kakaknya yang sudah menyelamatkan Restorannya dari tangan-tangan nakal.
Sudah 1 tahun lebih ini, Bram bekerja sabagai karyawan biasa untuk membantu Hans mengontrol keuangan perusahaan. Sampai akhirnya dia malah mendapatkan kejutan bahwa Restorannya sudah kembali ke dalam genggaman tangannya.
Disitu Bram langsung berlutut di hadapan Hans yang sedang duduk, kemudian memeluknya sambil menggenggam dokumen tersebut tanpa mau melepaskannya.
"Hiks, ma-makasih Kak. Makasih banyak, Kakak sudah menyelamatkan Restoranku. Aku kira aku tidak bisa lagi memiliki Restoran itu, bahkan tabunganku saja baru ada setengah. Itu pun pasti akan terpotong dengan biaya lahiran istriku kelak."
"Namun, ternyata Kakaklah orang yang selama ini membeli Restoranku sampai terakhir aku lihat Restoranku sudah berkembang pesat. Pasti semua itu karena dirimu 'kan, Kak?"
"Pokoknya sekali lagi terima kasih, Kak. Aku janji, aku tidak akan melupakan semua kebaikanmu ini. Dan aku juga janji, akan mengantikan semua uang yang sudah aku pakai waktu itu untuk menyelamatkan Alice. Aku janji, Kak. Janji!"
"Aku mau, Restoran ini benar-benar murni kembali menjadi Restoranku tanpa aku memiliki hutang padamu. Dan aku pun tidak akan membiarkan perjuanganmu untuk menyelamatkan Restoranku ini menjadi sia-sia."
Hans hanya bisa mengelus punggung adik kesayangannya ini, sampai akhirnya Bram melepaskan pelukannya dan kembali duduk di sebelah istrinya. Kemudian dia kembali memeluk istrinya, dimana dia sangat bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang yang baik.
Bahkan Bram sangat menyesal, hampir saja ingin melenyapkan Kakaknya sendiri dan menghancurkan pernikahannya dengan Meera, akibat dendam semata.
Alice pun bahagia, dia ikut menangis lantaran dia pun tak menduga bahwa dia bisa diperlakukan sebaik ini oleh orang-orang yang baik. Rasanya Alice seperti memiliki keluarga kandung yang selama ini tidak pernah dia rasakan.
Setelah perasaan Bram mulai stabil dan tidak lagi memangis, Hans dan Meera pun pamit ke kamar leboh dulu karena sepertinya Meera sedikit kelelahan. Jadi, dia harus segera beristirahat.
Begitu juga, Alice. Bram segera menggendong istrinya dengan perasaan bahagia, lalu membawanya ke dalam kamar. Dimana perasaan bahagia itu membuat Bram akhirnya mendapatkan jatahnya di malam yang panjang penuh kebahagiaan ini.
Bram benar-benar tidak kepikiran, kalau apa yang dulu dia berikan pada orang lain akhirnya bisa kembali, berkat Hans yang selalu memikirkan tentang kebahagiaan adiknya dari pada dirinya sendiri.
...***Bersambung***...
__ADS_1