Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Rara Sudah Bangun


__ADS_3

Dokter yang baru saja mau mencoba menjelaskan semuanya, tetapi Atun malah memotongnya sampai menyerobotnya saat foto Rara di perlihatkan di depan wajah dokter itu agar membuatnya percaya. Jika Atun dan Jaka memang benar adalah kedua orang tua kandung dari Rara, korban kecelakaan liar.


Dari situlah, sang dokter percaya dan mulai menjelaskan tentang kondisi Rara yang saat ini sedikit membaik walaupun dia harus berada di dalam kondisi kritis atau bisa juga dibilang Rara mengalami koma untuk beberapa hari ke depan.


Betapa hancurnya hati kedua orang tua, ketika mendengar kabar bahwa anaknya mengalami


kondisi semiris ini. Saking tidak kuatnya, Atun sampai pingsan beberapa kali saat melihat bahkan bertemu anaknya yang hidupnya hanya tergantung dengan alat medis.


Pada akhirnya Jaka menguatkan Atun untuk merasa kuat ketika bertemu dengan putri mereka, mau tidak mau Atun menyembunyikan semua penderitaannya di dalam hati kecilnya.


Atun tersenyum menyapa putri kecilnya yang saat ini masih tertidur pulas diatas bangkarnya. Atun duduk di kursi tunggal, dimana Jaka berada di belakangnya sambil tersenyum menahan air matanya ketika melihat keadaan anaknya.


Orang tua mana yang tidak akan hancur bahkan sakit, saat anaknya terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Apa lagi sore harinya Rara baru saja melakukan operasi yang cukup besar di daerah kepalanya.


"Sa-sayang, a-anak Ibu yang paling cantik harus kuat ya. Rara bisa kok sembuh, Ibu yakin. Rara anak baik, Rara anak yang penuh semangat. Jadi Rara harus bisa bertahan demi Ibu dan Bapak di sini."


"Ingat, Sayang. Ibu sama Bapak lagi ngumpulin uang buat beliin Rara sepeda, katanya Rara mau sepeda 'kan. Jadi Rara bangun ya Sayang, nanti kalau Rara sembuh Ibu sama Bapak langsung belikan. Kita janji, ya 'kan, Pak?"


Atun berbicara dengan segala kekuatannya untuk menahan air mata yang hampir saja runtuh. Lalu, dia melirik ke arah suaminya yang juga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya, benar, Nak. Nanti kalau Rara bangun, Bapak janji akan segera belikan Rara sepeda. Supaya nanti, kita bertiga bisa jalan-jalan pagi maupun sore sambil mengajarkan Rara naik sepeda. Rara mau 'kan?"


"Maka dari itu, Rara bangun ya, Sayang. Bapak mohon, Rara harus kuat. Jangan tinggalin Bapak sama Ibu, karena kami tidak mau kehilangan anak satu-satunya yang sangat kami cintai."


Jaka berusaha berinteraksi kepada anaknya secara bergantian dengan Atun, hingga tidak terasa air mata mereka menetes ketika mencium kening anaknya.


Anak yang biasanya tidak bisa diam, mengoceh tanpa jeda dan penuh semangat. Sekarang berubah menjadi pendiam, bahkan sama sekali tidak bersuara ataupun bergerak untuk menunjukkan kabar baik kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, Atun dan Jaka sudah keluar dari kamar anaknya. Kemudian menunggu sepanjang malam di kursi tunggu sambil mata mereka selalu menatap ke arah jendela kaca. Dimana jendela itu hanya di tutup setengah hordenganyaz membuat Atun dan Jaka msih bisa melihat serta menjaga anaknya dari jauh.


...*...


...*...


Pagi hari, tepatnya pukul 06.00 WIB. Tiba-tiba saja sang suster yang berjaga di dalam pun keluar dalam keadaan khawatir.


Atun yang baru saja bangun melihat keadaan anaknya dari luar seperti tidak baik-baik saja, membuat dia panik dan langsung membangunkan suaminya.


"Pak, bangun Pak. Itu Rara, Pak. Lihay Rara, Pak. Lihat, Rara hiks ...."


*Kenapa Rara kejang-kejang seperti itu, ada apa dengan dia Pak. Ibu enggak tega melihatnya, pokoknya Ibu mau masuk ke dalam!"


"Bapak ikut, Bu. Bapak.juga khawatir dengan keadaan Rara. Bapak mau melihat Rara daei dekat, Bapak takut sesuatu hal buruk terjadi padanya!"


Atun terlihat begitu cemas ketika melihat keadaan anaknya teramat menyakitkan hatinya, begitu juga Jaka.


Jaka yang baru saja bangun tidur langsunh terkejut bukan main, akan tetapi saat mereka berdua ingin memasuki ruangan. Tiba-tiba saja langsung di tahan oleh sang suster yang baru saja kembali bersama sang dokter.


"Tunggu, Bu. Ibu sama Bapak mau ngapain? Kalian tidak boleh masuk sebelum jam besuk tiba, biarkan semua ini urusan dokter. Jadi, kalian tidak boleh masuk. Percayakan semuanya pada dokter, dan juga yang Maha Kuasa agar bisa memberikan kekuatan pada dokter untuk menolong anak kalian."


"Sekarang kalian cukup tunggu di sini, nanti ketika dokter sudah selesai memeriksanya akan segera menjelaskan bagimana kondisi anak kalian. Kami, permisi!"


Suster tersebut masuk bersama oleh dokter perempuan yang segera mengecek keadaan Rara, tak lupa jendela kaca tersebut di tutup hordeng agar memudahkan sang dokter memeriksa pasiennya dengan teliti.


Kurang lebih 10 menit, Atun dan Jaka di persilakan masuk karena anaknya sudah bangun dari tidurnya dan mencari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bagaimana, keadaan anak saya, Dok? tanya Atun, cemas.


"Anak Ibu dan Bapak sudah siuman, bahkan dia selalu memangil kedua orang tuanya dengan sangat lirik. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan pada kalian.",


"Jadi, silakan Ibu, Bapak. Kalian boleh masuk, karena putri kalian sudah menunggu di dalam. Sepertinya dia merasa kangen sama kedua orang tuanya. Hanya saja jangan terlalu membuat pasien berpikir terlalu berat, karena dia baru saja sadar dari tidurnya." ucap sang dokter, mulai mempersilakan mereka berdua memasuki ruangan.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua masuk lalu memeluk anaknya. Sang dokter yang melihat itu, segera memberitahukan pada mereka agar lebih berhati-hati lagi ketika memeluk anaknya.


Apa lagi Rara memiliki riwayat asma, jadi dia tidak bisa merasakan tekanan yang cukup kuat di dadanya.


"Syukurlah, Sayang. Kamu sudah bangun, Ibu kangen banget sama kamu, Nak. Ibu tidak tahu lagi kalau kamu tiada Ibu akan seperti apa kedepannya. Ibu sayang banget sama Rara hiks, jadi Rara jangan bikin Ibu khawatir ya."


Rara hanya bisa melihat kedua orang tuanya dengan air mata yang mulai menetes, rasanya berat sekali ingin berbicara membalas perkataan Ibunya. Akan tetapi Rara tetap berusaha untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.


"I-ibu, Ba-bapak?" ucap Rara lirih dan terbata-bata.


"Apa, Sayang? Ibu disini, Rara mau apa. Hem?" tanya Atun penuh semangat sambil mengusap pipi anaknya. Dimana air mata kembali menetes di pipinya.


"Rara mau apa, bilang sama Bapak, mau minum? Makan? Sepeda atau mau--"


Rara sedikit menggelengkan kepalanya sambil mengedipkan kedua matanya secara perlahan. Mulut yang tertutup oleh oksigen membuat suara Rara terdengar sangat lirih.


Beberapa kali, Rara ingin membuka penutup oksigen itu agar memudahkannya berbicara. Akan tetapi, itu harus melalui sedikit berdebatan dengan sang dokter.


Pada akhirnya sang dokter menyetujuinya dan menggantikannya menggunakan selang yang masuk ke dalam 2 lobang hidungnya.


Semua itu untuk membantu Rara bernapas dengan lega, tanpa terdengar suara yang melengking keras khas orang yang memiliki penyakit asma.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2