
Sebreng*sek-breng*seknya Bram, dia tetap menghargai miliknya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Bram lebih memilih meluapkan semua hasratnya kepada wanita penghibur, dari pada dia menyentuh miliknya yang harus diajaga.
Cuman baru kali ini Bram membawa masuk wanita penghibur ke dalam rumah, yang mana semua itu berhasil membuat gejolak amarah didalam hati Hans semakin memuncak.
Sementara Alice sendiri pun ikut terkejut dengan ucapan Bram, karena semua ini diluar dari perjanjian mereka. Akan tetapi, Alice berusaha terlihat biasa-biasa saja agar tidak membuat mereka menaruh curiga padanya.
"Bra-bram, a-aku tahu aku salah sudah mengkhianati kamu. Cuman please, Bram. Jangan seperti ini, kamu itu orang baik, apa lagi wanitu itu juga sepertinya orang baik. Jadi jangan melakukan hal yang akan membuat kalian menyesal nantinya."
"Ingat Bram, kamu itu terlahir dari kalangan keluarga yang sangat terpandang. Bagaimana jika ada wartawan yang mengetahui semua itu, lalu memberitakan berita buruk tentang kalian. Bagaimana, Bram? Bagaimana!"
Meera berkata dengan tegas disertai oleh air mata yang menetes menatap Bram. Disini Bram bisa melihat bahwa cinta untuknya masih melekat jelas dari sudut mata Meera, hanya saja rasa sakit didalam hatinya tidak bisa menerima semua yang sudah terjadi.
"Biarkan saja, bukannya itu bagus ya. Dengan begitu gua bisa langsung mengikuti jejak kalian." ucap Bram sambil mengukir senyuman kecil dengan tatapan yang sangat menghina mereka.
"Bram!"
"Apa? Lu kaga terima?"
"Udah cukup ngomongnya! Lebih baik kamu bawa wanita murahan itu pergi dari rumah ini, dan jangan pernah membawanya kesini lagi!"
"Jika lu ngusir calon istri gua, maka gua juga akan angkat kaki dari rumah ini dan enggak akan pernah gua kembali lagi!"
__ADS_1
Degh!
Pertengkaran diantara kedua saudara tersebut semakin ke sini semakin tidak bisa di hindarkan. Meera yang melihat itu langsung menyudahi semuanya agar tidak semakin berlanjut.
Apa lagi emosi di dalam keduanya sudah semakin terpancing, lantaran Meera melihat tangan mereka mengepal begitu kuat.
"Udah Hans, Bram. Cukup! Kalau kamu mau ngajak wanita itu tinggal di rumah ini silakkan, aku tidak melarangnya. Tapi, ingat! Aku tidak mau sampai ada pemberitaan jelek mengenai keluarga mantan suamiku!"
"Dan untuk kamu, Mbak! Saya tahu kamu pasti orang baik, maka dari itu saya mohon jangan sampai kamu menghasut dia untuk membenci keluarganya sendiri!"
Setelah melontarkan perkataannya, Meera langsung berbalik dan pergi kedalam kamar lalu menguncinya hingga terdengar suara pintu yang tertutup cukup keras.
Brak!
Seharusnya saat ini Bram senang, saat tujuan utamanya sedikit demi sedikit terlaksana. Dimana rasa sakit dihati Bram mulai terbayarkan, tetapi entah mengapa rasa sakit itu bukan mereda malah bertambah sakit.
Sementara Alice yang menyaksikan semuanya tidak bisa berkata apa-apa, dia bingung karena posisinya disini bukanlah bagian dari mereka.
Ya, walaupin Alice seorang wanita penghibur, tetapi dia masih memiliki etika sopan santun untuk tidak ikut campur urusan mereka.
"Gimana, udah puas nyakitin Meera?" tegas Hans, matanya menyorot tajam penuh dengan amarah didalam hatinya.
__ADS_1
"Nyakitin? Bukannya kebalik ya, kan kalian yang nyakitin gua. Kenapa sekarang malah gua yang dibilang nyakitin? Haha, lucu lu!"
"Ohya, ngomong-ngomong kenapa lu jadi begitu peduli sama Meera? Kan selama ini lu enggak pernah ngobrol atau pun dekat sama dia, terus sekarang kenapa kesannya lu sangat ngelindungin dia?"
"Hem, gua tahu sekarang. Jangan bilang kalau lu udah mulai jatuh cinta sama mantan Ibu tiri lu sendiri, benar begitu Tuan Hans yang terhormat!"
Lagi-lagi Hans terdiam saat pertanyaan Bram berhasil membuatnya terkejut, Hans tidak menyangka jika Bram bisa berpikir sejauh itu tentang dianya.
Sementara Hans saja tidak mengerti dengan perasaan apa yang dia rasakan ketika berada didekat Meera. Karena Hans sendiri juga bingung, setelah menikah dengan Meera seolah-olah dia tidak bisa melihat istrinya bersedih.
Apakah yang dikatakan Bram itu benar? Jika Hans sudah mulai menaruh hati kepada istrinya sendiri, atau Hans seperti itu lantaran dia cuman mau menjadi suami yang baik untuk Meera. Suami yang siap siaga untuk menjaganya dari apapun yang akan membuatnya bersedih.
Alice yang merasa suasana sudah mulai tidak kondusif langsung meminta izin kepada Bram untuk pulang sendiri, agar dia bisa menyelesaikan permasalahannya.
Namun, saat Alice mau melangkah pergi meninggalkan mereka, tiba-tiba Bram memegang tangan Alice agar menahannya untuk tidak pergi seorang diri.
Sementara Alic menoleh kebelakang menatap Bram yang saat ini menatap tajam kearah Hans, lalu melewatinya sambil menyenggolkan pundaknya kepundak Hans dengan cukup keras.
Setelah itu Bram dan Alice pergi menuruni anakan tangan, dalam keadaan Bram begitu amarah. Sehingga tanpa sengaja Bram menarik tangan Alice sampai membuatnya hampir terjatuh dari tangga, jika Alice tidak memarahinya.
Bram yang mendengar itu seketika menghentikan langkahnya lalu, mereka sedikit cekcok dan membuat Alice pergi lebih dulu dalam keadaan kesal.
__ADS_1
...***Bersambung****...