Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Mengetahui Kehamilannya


__ADS_3

Bram menjelaskan secara detail mengenai apa yang sudah terjadi padanya dan juga sang Kakak. Tak disangka Bram meminta tolong supaya pihak kepolisian bisa membantu untuk mengusut semua kejadian ini, serta menemukan sarang tikus yang sangat meresahkan.


Komandan kepolisian hanya mengangguk mendengarkan semua penjelasan Bram, sampai akhirnya dia memberikan saran agar Bram segera membuat pelaporan atas kejadian yang akhir-akhir ini mereka dapatkan.


Setelah percakapan mereka terhenti, komandan segera menatap dokter untuk menanyakan perkembangan tentang Hans.


"Bagaimana, Dok. Keadaan korban setelah melakukan operasi? Apakah sudah membaik?" tanyanya, menatap sang dokter.


"Untuk saat ini keadaan korban sedang kritis, Pak. Dia mengalami koma, cuman saya tidak bisa menentukan berapa lamanya." jawab dokter tesebut.


"Baiklah, saya akan menunggu sampai korban tersadar. Karena banyak pertanyaan yang akan kami tanyakan padanya."


"Untuk memastikan tentang keselamatan korban, kami akan memberikan penjagaan ketat. Saya akan mengirim 2 orang polisi ke sini, supaya bisa selalu berjaga-jaga di dekat ruangan korban. Semua saya lakuan karena demi antisipasi, ketika ada kejadian yang tidak kita inginkan."


"Silakan, Pak. Semua itu bisa di bicarakan kepada pihak keluarga. Kalau begitu, saya pamit dulu karena masih banyak pasien yang harus saya tangani. Permisi!" ucap sang dokter, tersenyum dan pergi meninggalkan mereka semua.


Kini hanya tersisa Bram dan juga pihak kepolisian. Perlahan komandan tersebut mencoba untuk menenangkan perasaan emosi, sedih dan juga kekecewaan yang ada di dalam hati Bram.


Setelah itu membawanya ke kursi tunggu sambil kembali berbincang-bincang layaknya seorang teman.


Disitu Bram menceritakan semuanya tentang konflik-konflik yang menimpa mereka. Dari mulai kejadian besar hingga saat ini.


...*...


...*...


Sementara di kamar Meera, Alice sedang berusaha untuk menghibur sekaligus memberitahukan tentang kabar bahagia. Agar bisa sedikit mengalihkan pikiran Meera terhadap suaminya.


"Hiks, Ha-hans. Apakah kamu baik-baik aja? Sudah aku bilang bukan, jangan pergi! Aku bukan bermaksud untuk melarangmu. Melainkan aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, karena ini merupakan mimpi buruk yang aku rasakan belakangan ini!"


Meera menangis sesegukan sambil matanya menatap ke arah langit, terlihat bahwa saat ini Meera sangat merindukan suaminya.

__ADS_1


Beberapa kali Meera memberontak untuk bertemu dengan suaminya, akan tetapi Alice selalu menahannya dengan segala cara.


Sampai akhirnya Meera hanya bisa pasrah setelah mendengar kabar baik tentang dirinya yang sedang hamil.


"Kak, udah ya nangisnya. Kakak harus bisa tenang, terima semua kenyataan. Kalau ini sudah garis tangan Tuhan, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kasihan anak yang ada di dalam kandungan Kakak, dia pasti kesakitan saat melihat Ibunya seperti ini."


"Aku mohon, Kakak jangan egois ya. Ingat, bukannya anak ini adalah impian kalian berdua? Jika sampai janin Kakak bermasalah, apakah Kak Hans tidak akan kecewa? Tidak akan marah? Tidak akan sedih, hem?"


"Selama ini Kakak berusaha memberitahuku, jika kehamilan trisemester pertama sangatlah rentan dalam bahaya. Cuman kenapa? Kenapa Kakak yang seperti ini pada anak Kakak sendiri, bagaimana kalau anak Kakak kenapa-kenapa? Apakah Kakak enggak akan menyesa saatl kehilangan anak pertama kalian?"


Celoteh Alice dengan perkataan yang sangat menakutkan untuk Meera. Sampai seketika Meera tersadar dan langsung menatapnya sekilas, lalu sedikit menunduk sambil mengelus pelan perutnya sendiri.


"Ma-maafkan Bunda, Sayang. Bu-bunda tidak menghiraukan keadaanmu di sini, semua ini karena Bunda khawatir dengan kondisi Ayahmu. Kamu tahu 'kan, betapa senangnya Ayahmu nanti, ketika dia tahu kamu telah hadir di perut Bunda."


"Bagaimana Bunda bisa memberitahukanmu pada Ayah, kalau kamu sekarang sudah hadir di perut Bunda? Hiks ...."


"Bunda mohon, kuat ya Sayang. Dedek enggak boleh ninggalin Bunda sama Ayah, bantu Bunda kuat kuat untuk menghadapi takdir yang menyakitkan ini."


"Bunda juga enggak tahu bagaimana kondisi Ayahmu saat ini, dan dimana dia sekarang. Yang jelas Bunda hanya tahu, kalau kami itu sayang banget sama Dedek."


Meera mengoceh pelan sambil tangannya tak berhenti untuk terus mengusapnya, bahkan Alice yang tidak tega melihat kondisi Meera hanya bisa menangis.


Alice tidak kebayang bagaimana rapuhnya Meera saat ini, ketika mendengar suami tercinta mengalami kecelakaan.


Mungkin, jika dia ada diposisinya pun akan mengalami hal yang sama. Semua kembali lagi, serapuh apapun mereka, yang terpenting saat ini bagaimana caranya supaya janin yang ada diperut mereka bisa selalu bertahan kuat agar tidak ada hal-hal buruk yang terjadi.


"Kakak tidak sendirian kok, ada Alice disini yang akan selalu menemani Kakak sampai kapanpun. Kakak tidak perlu sedih, saat ini Bram sedang mencari tahu kabar tentang Kak Hans. Karena Kak Hans juga ada di sini, dia di rawat di rumah sakit yang sama dengan Kakak. Jika---"


Degh!


Mata Meera langsung menatap Alice dengan tatapan penuh arti, dimana Alice sedikit merinding penuh ketakutan.

__ADS_1


Bagi Alice ini merupakan tatapan yang tidak pernah dia dapatkan dari seorang Meera yang selama ini terlihat kalem, dan juga ramah seketika berubah menjadi datar, cengeng dan juga suka marah-marah.


"Ka-kakak, ke-kenapa Kakak menatapku seperti itu? A-apakah ada yang salah denganku? Atau perkataanku ada yang menyingung perasaan Kakak?"


"Kalau Kakak merasa seperti itu, Alice minta maaf ya. Alice tidak bermaksud---"


"Ha-hans ada di sini? Be-benarkah, dia dirawat di sini? Ji-jika benar kenapa kamu tidak bilang padaku dari tadi, Lis? Kenapa kamu baru bilang sekarang, kenapa!"


Meera berkata dengan nada yang cukup berdamage, auranya terlihat sangat menyeramkan membuat Alice semakin ketakutan.


Ketika Alice terdiam menunduk dengan suara isak tangisnya, Meera refleks menarik tangan Alice cukup kasar dengan tujuan dia ingin tahu apa alasan Alice tidak memberitahukannya dari tadi.


Alice tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia juga bingung. Dia begini karena tidak mau Meera kembali turun dari atas bangkarnya dengan kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.


Di saat Meera kembali mencecar Alice menggunakan segudang pertanyaan, tiba-tiba pintu ruangan terbuka membuat mereka langsung menoleh ke arahnya.


"Bra-bram?" gumam kecil Alice saat melihat suaminya datang dalam keadaan wajah serta postur tubuh yang sangat lesu.


Meera melepaskan tangan Alice, kemudian menatap Bram dengan tatapan penuh harapan. "Bra-bram, apakah suamiku baik-baik aja? Dimana dia? Kenapa dia tidak datang ke sini? Apakah dia tidak senang dengan kabar kehamilanku saat ini?"


Bram yang tidak tahu harus menjawab apa cuman bisa berjalan perlahan mendekati bangkar Meera, kemudian berdiri di belakang istrinya yang lagi duduk.


Sorotan mata mereka saling tertuju satu sama lain, membuat Alice sedikit cemburu. Akan tetapi dia mengesampingkan perasaan itu, karena sangat penasaran sama kabar Hans yang akan disampaikan Bram pada Meera.


"A-apakah gua harus jujur sama Meera, tentang kondisi Hans saat ini? Jika gua jujur, pasti Meera akan kaget dan syok bahwa ketika suaminya mengalami koma, yang entah sampai kapan akan tersadar."


"Cuman kalau gua enggak ngasih tahu dia, pasti dia akan semakin khawatir. Dan itu tidak baik untuk kesehatan anak yang ada di dalam perutnya."


"Namun kalau gua jelasin sekarang, apakah dia akan mengerti? Terus, apa dia enggak akan lagi-lagi menyakiti dirinya sendiri dan menghentikan memikirkan hal yang tidak-tidak?"


"Kasian juga janin yang ada di dalam perutnya, bisa-bisa akan semakin lemah ketika mendengar kabar yang sangat menyedihkan ini!"

__ADS_1


Bram bergumam didalam pikiran dan hatinya, dia sangat dilema. Apakah dia harus berkata jujur, atau dia harus menahannya lebih dulu sampai kondisi Meera stabil? Entahlah, Bram sangat bingung. Dia cuman bisa terdiam sejenak memikirkan sebab akibat yang akan Meera hadapi kedepannya.


...***Bersambung***...


__ADS_2