
Meera tersenyum memegang rahang suaminya, dimana air mata Hans tanpa sadar menetes dipipinya membuat Meera menggelengkan kepalanya.
Meera tidak tahu kenapa air mata itu bisa menetes, akan tetapi Meera senang saat suaminya langsung memeluknya. Disitulah isak tangis Hans pecah, dia tidak menyangka jika istrinya sudah berhasil mencintainya semudah itu.
Hans saja sebagai pria tidak bisa mengutarakan kata-kata cinta, semua karena terhalang oleh gengsi. Sementara istrinya yang melewati semua kegagalan cinta dengan mudahnya bisa mengatakan semua itu tanpa rasa gugup.
Betapa bahagianya Hans bisa mendapatkan wanita seperti Meera, meskipun dia tahu cara mendapatkan Meera dengan cara yang salah. Cuman apa boleh buat, takdir yang berkuasa atas untuk menyatukan mereka.
Niat jahil yang mau Meera berikan pada suaminya, malah berutung keseriusan akibat perasaannya yang sudah tidak bisa di sembunyikan lagi.
Beberapa menit kemudian, Hans sudah mulai tenang. Meera pun melepaskan pelukannya dan meraup wajah suaminya sambil tersenyum.
"Sstt, enggak boleh nangis lagi ya, Sayang. Ingat kamu itu pria yang kuat, pria yang hebat. Jadi jangan putus asa untuk terus menjadi kesayanganku."
"It's okay no problem, kalau kamu belum bisa mengatakan perasaanmu padaku tidak apa-apa. Aku akan menunggu saat itu tiba, dan aku harap semua itu tidak akan lama lagi."
Entah mengapa, susah sekali untuk mengungkapkan perasaan itu. Padahal hati ingin sekali mengungkapkan, tetapi mulut sangat sulit untuk mengeluarkan kata jika dia juga telah mencintai istrinya.
Saat mereka mulai tersenyum, bahkan ingin mendekatkan bibir mereka satu sama lain dengan perasaan mulai terhanyut. Ternyata, eh ternyata. Seseorang lagi-lagi mengganggunya.
Suara ketukan pintu membuat mereka langsung terkejut dan Meera pun segera merapikan dresnya dengan wajah yang sedikit memerah.
__ADS_1
"A-aku ke kamar dulu," Meera segera berlari ke kamar dengan membawa ponselnya.
Hans hanya bisa mengangguk, lalu dia berjalan mendekati pintu. Wajah datar sedikit memerah menghiasi Hans, apa lagi gundukan celana yang terlihat menonjol membuat Hans mencoba untuk menutupinya gimanapun caranya.
Setelah gundukan itu mulai tidak ketara dari balik celananya, Hans segera membuka pintu secara perlahan.
"Permisi, Tuan. Maaf mengganggu, satu jam lagi kita ada meeting dengan Perusahaan X." ucap Yudha dengan wajah sedikit ketakutan, saat dia mulai menyadari kesalahannya.
"Bukannya tadi sudah saya peringatkan, jika ada apa-apa hubungi saya bukan langsung mengetuk pintu. Paham enggak sih!" pekik Hans, kesal.
"Ma-maaf, Tuan. Saya salah, saya lupa jika masih ada Nyonya Meera disini. Mungkin karena saya terbiasa jadi saya melupakan--"
"Enggak usah ngejawan mulu! Ini yang pertama dan terakhir saya peringatkan, jika ada Nyonya Hans jangan pernah mengetuk pintu sebelum ada perintah dari saya melalui sambungan telpon. Paham!"
Brak!
Tanpa menunggu lama Hans menutup pintu cukup keras, membuat Yudha menunduk serta memejamkan kepalanya. Sementara sekretaris yang menyaksikan itu semua menatap aneh kearah Yudha.
"Tuan, ada apa? Kenapa Tuan Hans terlihat marah seperti itu, seumur-umur saya bekerja disini tidak pernah melihat Tuan membentakmu seperti itu." tanya sekretaris Hans.
Yudha mengangkat kepalanya menatap pintu dan mencoba untuk bersikap biasa saja, karena ya memang semua ini salahnya. Bahkan jika dia ada diposisi Hans pun akan sama seperti yang Hans lakukan jika sedang berdua dengan istrinya.
__ADS_1
Apa lagi Yudha sangat tahu jika pernikahan Hans dan Meera di dasari tanpa adanya cinta. Sampai akhirnya Hans mulai mencintai istrinya maka disaat itulah, seharusnya Yudha memahami kalau Hans membutuhkan waktu bersama istrinya.
"Enggak usah kepo dengan urusan orang lain, urus saja pekerjaanmu. Saya minta siapkan semua dokumen yang akan dibawa meeting 1 jam lagi. Jangan sampai ada yang tertinggal, paham!" tegas Yudha, sangat kesal.
Bagaimana tidak, karena sekretaris Hans yang satu ini begitu kepo dengan kehidupan Hans dan istrinya Beberap kali dia hampir mempengaruhi Yudha dengan pikiran liciknya, agar membuat hubungan Tuannya merenggang.
Untungnya Yudha adalah asisten pribadi yang sangat tunduk, jadi dia tidak mungkin senang melihat jika rumah tangga Tuannya selalu mendapatkan masalah. Malahan Yudha sangat bahagia ketika melihat Hans dan Meera sudah mulai tumbuh benih-benih cinta terlihat dari sorot mata keduanya.
Yudha segera meninggalkan sekretaris itu dalam keadaan dia yang sedikit kesal. Niat baik-baik bertanya malah dicueki oleh Yudha, siapa suruh singa lagi mengaum malah di colek.
"Ckk, apaan sih. Enggak Hans enggak Yudha, semuanya sama! Sama-sama menyebalkan, lagian kenapa sih ada pria dingin seperti mereka di muka bumi ini."
"Orang nanya baik-baik malah jawabnya ketus kaya gitu, lagian juga Hans ngapain sih ngedon mulu di ruangan! Ja-jangan bilang dia sedang melakukan pijat ++ dengan istrinya, makannya setiap kali Yudha datang seolah-olah kehadirannya itu sebagai pengganggu untuk mereka?"
"Wah, enggak bisa di biarkan ini. Udah tahu ini kantor masih aja dipakai untuk enak-enak dasar tidak ada akhlak. Istrinya juga, kegatelan banget ngintilin suaminya mulu kaya kurang kerjaan!"
"Aarrghh, kenapa sih sama gua. Bawannya kesel mulu kalau liat istrinya, rasanya pengan gua buang ke laut biar Hans tidak bergantung dengan tuh cewek. Dengan begitu gua bisa mendapatkan peluang kembali untuk ngedeketin Hans, tanpa gangguan istrinya!"
Wajah kesal, tatapan tajam dan sedikit kepalan tangan menandakan bahwa sekretaris itu sangat kesal dan juga marah. Selama ini dia sudah berusaha keras untuk mendekati Hans, tapi hasilnya nihil. Sedangkan Meera yang statusnya cuman mantan bekas dari Daddynya semudah itu mendapatkan Hans.
Tanpa mau berlarut dari amarahnya dia langsung kembali bertugas menyelesaikan semua urusannya dan menyiapkan semua yang akan dia bawa ke ruang meeting nanti.
__ADS_1
...***Bersambung***...