Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Menghadiri Acara Kolega Bisnis


__ADS_3

Hans hanya tersenyum kecil, “Maaf saya tidak menjawab dengan benar, hari ini tidak perlu memasak karena ada acara kolega penting. Jika menunggumu memasak kita akan terlambat datang.” jawab Hans yang menatap Meera sekilas.


Meera sejenak tertegun saat Hans mengatakan menghadiri acara kolega, apakah Hans sudah mulai nyaman dengannya dan mulai mengenalkan dirinya kepada rekan-rekan kerjanya.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di halaman sebuah Restoran berbintang 5 yang sangat mewah. Kemudian Hans turun dari mobilnya dan bergegas memutari mobilnya membantu Meera yang sedikit kesulitan dengan gaunnya.





Mereka berdua berjalan perlahan mendekati pintu Restoran, dimana banyak pandangan mata menatap kagum dengan ketampan dan juga kecantikan pasangan tersebut.


Namun, ada juga pandangan yang tidak suka penuh keirian ketika mereka mengingat kembali tentang kejadian yang beberapa bulan lalu pernah viral.


Meera yang merasa ditatap seperti itu, membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Rasa gelisah, dan juga takut saat ini mulai menyelimuti dirinya.


Meera takut jika kejadian pembullyan sebelumnya akan kembali terjadi, meskipun suaminya sudah memberi peringatan pada semua orang luar sana.


Hans yang menyadari bahwa istrinya mulai merasa minder dengan suasana disana, langsung menghentikan langkahnya dan membuat Meera sedikit terkejut saat melihat perlakuan Hans kepadanya.


"Ada apa? Kenapa kalian melihat istri saya seperti itu? Apa kalian takjub melihat kecantikannya, atau kalian iri tidak bisa secantik dirinya?" ucap Hans, dengan suara yang begitu berat menatap tajam kearah semuanya.


Meera hanya terdiam melihat wajah suaminya yang sangat datar, karena dia tahu jika wajah suaminya berubah seperti itu berarti tandanya dia sedang berada diambang emosi.


"Kayanya bangga banget Tuan, bisa menikahi bekas istri dari Ayahnya sendiri. Berasa kaya enggak ada wanita lain gitu ya? Perasaan masih banyak deh, stock wanita yang jauh lebih baik dari pada dia, wanita yang terlihat polos, tetapi sebenarnya ular berkepala 2. Cihh!"


Seseorang berbicara penuh penekanan dan juga sindiran kepada Meera, membuat tali pitam Hans mulai memuncak.


Terdengar suara gesekkan atau gertakkan gigi rahang yang sangat menggelikan, sampai urat tangannya pun ikut menonjol ketika kedua tangan Hans mengepal cukup kuat.


Hingga akhirnya Meera memegang tangan Hans, lalu menggenggamnya tanpa sadar membuat Hans menoleh terkejut kearahnya.

__ADS_1


"Sudah, tidak usah di perpanjang. Mereka tidak tahu tentang kita yang sebenarnya, jadi lebih baik kita yang waras mengalah."


"Ingat, orang baik itu tidak perlu menjelaskan tentang kebaikannya. Cukup kamu buktikan saja, agar mereka bisa menilainya sendiri."


Meera berbicara pelan sambil tersenyum menatap kedua mata suaminya, yang saat ini menatapnya begitu dalam. Tanpa Meera sadari, detak jantung suaminya memompa begitu cepat saat melihat pancaran senyuman yang berhasil menyetrum jantungnya.


"Udah jangan marah lagi kasihan wajahmu yang sudah tampan ini nanti bisa rusak, mending kita masuk aja ya. Kasihan teman bisnismu sudah menunggu kedatangan kita di dalam."


Lagi-lagi, Meera terus mencoba menyirami kobaran hati yang saat ini mulai memadam dengan air yang ada didalam hatinya.


Hans menganggukan kepalanya kecil dan melirik kearah mereka semua dengan tatapan tajam, lalu kembali menatap istrinya dan mereka berjalan perlahan memasuki Restoran.


Dimana Meera memegangi tangan suaminya dalam keadaan masih belum tersadar, hingga Hans hanya menerima perlakuan istrinya meski hatinya terasa dag-dig-dug ser.


Mereka berdua berjalan melewati lorong yang cukup panjang, hingga akhirnya mereka berada dilantai satu. Cuman bukan disitu tempat yang dipesan oleh kolega bisnis Hans, tetapi berada dilantai 3. Sehingga mereka harus menaiki lift menuju lantai tersebut.


Di dalam lift Meera yang menyadari tangannya masih menggenggam tangan suaminya, langsung melepaskannya dengan perasaan salah tingkah saat mendengar sindiran dari sang suami.


"Apa di tanganmu terdapat lem pelekat, sehingga tangan saya selalu menempel tanpa bisa dilepaskan?" goda Hans.


"Tidak apa-apa, mungkin tanganmu sudah terlalu nyaman dengan tanganku." ucap Hans, berhasil menambah kesalah tingkahan di dalam diri Meera.


"Yakk, e-enggak gitu ya! Aku be-begitu karena aku refleks aja, lagian kalau aku enggak begitu yang ada nanti kamu berantem dan acara makan malam bersama rekan bisnismu itu menjadi kacau!" jawab Meera cepat dan terbata-bata, mencoba berusaha mengalihkan semuanya.


"Hem, baiklah. Nanti jika kita berada disana, bersikaplah layaknya seseorang yang saling mencintai. Saya tidak mau jika mereka semua masih beranggapan, kalau saya tidak menyukai seorang wanita!"


Perkataan Hans berhasil membuat mata Meera membola besar. Dia cukup terkejut ketika Hans memintanya untuk menunjukkan sikap, dimana mereka harus berpura-pura saling mencintai.


Yang artinya, mereka harus berakting menjadi pasangan yang penuh dengan keromantisan satu sama lain. Supaya kolega bisnis Hans beranggapan bahwa dia memang menyukai seorang wanita.


Apa lagi sebagian kolega Hans yang mengajak dinner itu merupakan sahabat-sahabat Hans ketika di Universitas. Jadi, sudah pasti mereka akan mengejek Hans yang usianya sudah matang, tetapi belum bisa bucin dengan wanita.


Berbeda dengan mereka semua yang sudah memiliki pasangan hidup, baik kekasih, istri atau pun anak. Tetapi, kali ini Hans tidak lagi merasa minder atau kesal disaat mereka akan kembali mengejeknya.

__ADS_1


Itu semua berkat kejadian pada waktu itu, yang mengharuskan Hans menikahi Meera selaku Ibu tirinya sendiri.


Sesampainya di lantai 3, mereka melangkahkan kakinya keluar dari lift dengan kedua mata Meera menatap kagum kearah interior ruangan yang sangat cantik.



Meera sempat bingung, lantaran setiap lantai yang ada di Restoran selalu didesain dengan suasana berbeda-beda. Sehingga menambah kesan suasana yang tidak akan membosankan bagi setiap pengunjung.


Disaat Meera masih terdiam menatap kagum, tiba-tiba tangan seseorang melingkar di pinggangnya membuat Meera refleks terkejut dan menoleh kearah kirinya dimana tanpa sengaja bibir Hans menempel di kening Meera.


Cup!


Satu kecupam yang tidak pernah mendarat kini telah mendarat sempurna, walaupun semua itu berkat ketidak sengajaan.


"Ma-maaf, sa-saya ti-tidak ber---"


"Ti-tidak apa-apa, i-ini bu-bukan salahmu. Aku cuman kaget saja dengan sentuhan tanganmu sehingga kau reflek mencium keningku."


Meera langsung menjawab tanpa membiarkan Hans meneruskan ucapannya lebih jauh lagi. Kini, detak jantung keduanya semakin berkerja sangat cepat bahkan lebih cepat dari sebelumnya.


Napas yang terdengar teratur, sekarang mulai memburu saat kedua mata mereka kembali saling memancarkan aura berbeda satu sama lain.


Hingga suara seseorang berhasil membuyarkan perasaan mereka dan langsung menoleh bersamaan kearah orang tersebut.


"Tuan Hans, hei! Mari sini, gabung. Sebentar lagi acara akan di mulai." teriak salah satu teman kolega bisnis Hans.


Hans mengangguk kecil tanpa bersuara, beralih menatap Meera sambil berkata. "Apa kamu sudah siap? Saya janji, tidak ada satu orang pun dari mereka yang bisa menjelekkan dirimu."


"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah siap apapun yang terjadi." ucap Meera tegas sambil tersenyum.


"Baiklah, terima kasih sudah mau menemaniku." gumam kecil Hans, membuat Meera mengangguk perlahan.


Kemudian tangan Hans kembali melingkar di pinggang istrinya dengan persetujuan dari darinya. Lalu, mereka kembali melanjutkan melangkahkan kakinya mendekati semua kolega Hans.

__ADS_1


Disitulah Hans mulai memperkenalkan Meera kepada sebagaian kolega bisnisnya yang belum mengetahui siapa Meera sebelumnya.


...***Bersambung***...


__ADS_2