Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kena Batunya Sendiri


__ADS_3

Awalnya Meera keberatan, hanya saja dia mulai mengerti kalau semua ini demi kebaikan suaminya. Rasa bahagia di hati Meera benar-benar tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


Hanya saja, Alice yang paham kalau saat ini Meera benar-benar membutuhkan satu pelukan hangat guna untuk menumpahkan semua rasa senangnya.


Tidak berpikir lama, Alice langsung memeluk Meera dengan begitu erat dan keduanya di penuh oleh rasa kebahagiaan yang sudah tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.


Kurang lebih 15 menit lamanya, sang dokter pun keluar dari ruangan dengan wajah tersenyum lebar. Mereka semua segera mendekati dokter dan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kondisi Hans.


"Dok, bagaimana suamiku? Apakah dia sudah sadar?" tanya Meera antusias.


"Kondisi Kakak saya sudah membaik, 'kan?" sahut Bram, penasaran.


"Apakah Kak Hans sudah melewati masa kristisnya, Dok?" timbal Alice.


Sang dokter hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya bersamaan dengan mengedipkan matanya secara perlahan.


"Syukurlah, kondisi Tuan Hans saat ini sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya. Dia mulai melewati masa kritisnya selama kurang lebih 1 Minggu ini. Cuman--"


"Cuman apa?" tanya ketiganya secara serentak, membuat mereka menoleh satu sama lain.


"Suami saya baik-baik aja 'kan, Dok? Jangan bilang kalau dia--"


"Tidak, Nyonya. Tuan baik-baik saja, cuman sepertinya untuk beberapa hari ke depan dia masih akan seperti ini. Hanya saja perlahan-lahan tubuhnya sudah mulai meresponnya, jadi kita bisa pindahkan Tuan Hans ke kamar agar kalian bisa menunggunya selama 24 jam."


"Namun, saya minta agar kalian semua mau terus mengajak Tuan Hans berbicara walaupun kondisinya masih seperti itu."


"Apa lagi sekarang tubuhnya sudah bisa merespon, jadi kemungkinan besar dia akan segera pulih. Asalkan kalian semua mau membantunya memberikan semangat, supaya Tuan lebih berjuang untuk menemukan jalan kembali pada keluarganya."


Penjelasan dokter tersebut membuat mereka bertiga merasa senang, meski ada rasa sedih karena Hans belum bisa bangun seperti apa yang mereka pikirkan sebelumnya.


"Baik, Dok. Saya akan terus mengajaknya untuk berbicara tanpa rasa lelah, karena saya mau suami bisa tersadar lebih cepat." jawab Meera.


"Boleh saja, Nyonya. Asalkan Nyonya juga pikirkan tentang kesehatan Nyonya dan juga kondisi kandungan Nyonya, agar ketika Tuan tersadar nanti beliau bisa melihat anak dan istrinya dalam keadaan sehat." ucap sang dokter, penuh senyuman.

__ADS_1


"Itu pasti, Dok. Aku akan lakukan berbagai cara agar suamiku bisa membuka kedua matanya. Dan kami bisa hidup bahagia dengan kedatangan anak kami yang saat ini sudah hadir di dalam perutku."


Meera mengusap perutnya yang masih rata di kursi rodanya. Dia terlihat begitu bahagia ketika mendengar bahwa kondisi suaminya sudah tidak lagi begitu mengkhawatirkan.


"Saya minta, Kakak saya tolong di kasih kamar terbaik di rumah sakit ini. Soal biaya saya akan urus setelah Hans mendapatkan kamarnya!" tegas Bram, membuat dokter itu menganggukan kepalanya.


"Ya sudah Tuan, Nyonya. Saya pamit permisi dulu untuk mengurus semua perpindahan Tuan Hans ke kamarnya yang baru."


Dokter tersebut tersenyum, kemudian berbalik dan memasuki ruangan bersama asistennya untuk segera menyiapkan semuanya.


Sementara Bram, langsung mengingatkan Meera untuk segera kembali ke ruangan karena ini sudah hampir jam makan siang.


Pertamanya Meera menolak karena dia mau menunggu sampai suaminya pindah kamar, cuman karena nasihat serta ancaman dari Bram membuat Meera hanya cemberut dan mengikuti semua perkataannya.


...*...


...*...


Tepat di dalam kamar, Meera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan keadaan wajah yang begitu kesal melirik Bram. Sementara Alice hanya bisa menahan tawanya, ketika Bram di tatap oleh Bumil yang terlihat sangat garang.


Wajah yang terlihat kesal, marah dan juga cemberut. Kini berubah menjadi berkaca-kaca, ketika ucapan Bram begitu menyesakkan hatinya.


"Ka-kamu ja-jahat Bram sama aku, apakah ka-kamu tidak memikirkan anakku nanti? Bagaimana jika anakku memiliki Bunda yang cacat sepertiku, akibat ulahmu?"


"Terus, apa dia juga bisa menerimaku? Lantas, gimana dengan Hans? Kalau dia bangun melihatku cacat dan tidak bisa melihat? Apakah dia akan mencari istri yang lain? Huaa, hiks ... A-aku tidak mau, aku tidak mau. Kamu jahat Bram, jahat hiks ...."


Suara renggekan Meera membuat Bram hanya bisa melongo, padahal dia hanya sekedar bercanda pada Meera. Cuman, karena hati Bumil terlalu sensitif membuat Meera malah jadi menangis sesegukan.


Bram yang baru menyadari semua itu segera menepuk dahinya, menggerutuki kebod*dohannya sendiri.


Bram benar-benar lupa jika Meera dan Alice itu sama, sama-sama sedang mengandung jadi keduanya memiliki sifat yang begitu sensitif.


"Nahkan, tanggung jawab. Buat Kak Meera diam, atau kau akan kena marah oleh anakmu karena sudah membuat saudaranya menangis di dalam perut Kak Meera." sindir Alice sambil duduk di kursi samping Meera dan memakan buah yang ada datas meja kecil.

__ADS_1


"Hiks, Hans adikmu memang jahat. Dia terlalu kejam untuk menjadi Om buat anak kita. Aku cuman bisa berdoa, semoga saja anaknya nanti tidak sekejam Bapaknya, supaya anakku tidak dianiaya olehnya!" rengek Meera dengan air mata yang menetes cukup deras.


"Aaa, Sayang. Tolong aku! Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat Bumil yang menyebalkan itu terdiam. Please bantu aku, Sayang. Bantu!"


Bram memeluk istrinya dari belakang kursi dengan suara yang sangat persis seperti orang yang sedang putus asa.


Alice mendengar satu kata dari bibir suaminya yang begitu mengganjal, berhasil membuat wajahnya berubah datar dan melirik ke arah suaminya.


Tatapan itu membuat Bram segera melepaskan pelukannya, lalu melangkah mundur hingga jarak mereka sedikit menjauh. Kurang lebih sekitar 2 sampai 3 langkah dibelakang Alice.


"A-ada apa de-dengan wajahmu, Sayang? Ka-kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Bram, ketakutan.


Tubuhnya sedikit gemetar, lantaran dia bingung ada apa dengan kedua wanita Bumil ini yang sifatnya sangatlah aneh.


"Tadi, apa yang kau bilang? Bumil yang menyebalkan? Itu artinya, kau juga mengataiku jika aku ini adalah Bumil yang sangat menyebalkan. Begitu?"


Degh!


Jantung Bram berdetak tidak karuan, lagi-lagi dia menyadari kesalahan akibat ucapannya yang tidak bisa di rem.


"Sayang, ma-maafkan aku. A-aku ti-tidak sengaja. Ma-maksudku--"


"Hahah, syukurin. Makannya jangan ngeselin jadi orang tuh, kena batunya 'kan!" Meera tertawa puas melihat wajah Bram yang memerah akibat menahan rasa takutnya.


"Hyaakk, dasar tidak ada akhlak! Tadi aja nangis, sekarang malah tertawa melihat penderitaan seseorang. Lagian juga disini Bumil yang sangat menyebalkan itu, kamu. Bukan istriku, paham!" pekik Bram.


"Bra-bram, ka-kamu nge-ngebentak aku? Huaaa, Hans. Cepatlah bangun, aku kangen sama kamu. Lihat saja adikmu itu, dia selalu memarahiku. Tidak sepertimu yang sangat menyayangiku. Aaarghh, hiks ...."


Lagi-lagi Meera menangis lebih parah, membuat Alice semakin menjadi. Dia langsung memarahi suaminya, hingga akhirnya Bram kabur dari ruangan. Semua itu akibat kepalanya yang sudah pening melihat sikap keduanya yang sangat labil.


Seperginya Bram, ternyata Meera dan Alice malah tertawa bahagia sambil bertos ria akibat mereka berhasil membuat Bram ketakutan serta juga setres.


Semua ide itu terlintas dari beberapa menit lalu, saat Alice menatap Meera dengan penuh arti.

__ADS_1


Beginilah Bumil, mereka memang begitu sensitif terhadap apapun dan mereka juga sangat mudah untuk memahami arti dari tatapan mata atau gerak tubuh seseorang.


...***Bersambung***...


__ADS_2