Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Perlakuan Manis Bram


__ADS_3

Di saat semuanya sudah terpasang rapi, kecuali Jas. Bram segera membangunkan istrinya agar dia bisa sarapan bersama.


Bram takut jika Alice telat sarapan maka perutnya bisa merasakan sakit. Apa lagi Alice sedang hamil dan harus makan dengan benar agar anak yang ada di dalam perutnya tidak sampai kelaparan.


"Sayang, hei. Bangun yuk, udah pagi loh. Kita sarapan dulu ya, nanti tidurnya di lanjut lagi. Kasian Dedeknya udah laper." ucap Bram, sambil duduk di samping istrinya dan mengusap kepalanya serta memberikan kecu*pan di dahinya.


"Eerrghh ...." suara reng*kuhan Alice, terdengar sangat berat.


"Ayo bangun dong, Sayang. Nanti Dedeknya sakit loh kalau kamu enggak makan." ucap Bram lagi, saat melihat Alice masih memejamkan matanya.


"Erghh, i-iya sebentar Bram. Li-lima menit lagi ya, nan---"


Cup!


"Morning, Sayang. Semangat buat hari ini ya, sekarang bangun dulu yuk! Nanti bobo lagi, setelah aku kerja. Aku janji enggak akan bangunin lagi, karena aku udah ada di kantor hehe ...."


Ciuman di bibir, membuat Alice langsung membolakan matanya. Tidak biasanya Hans melakukan Alice semanis ini ketika bangun tidur, karena setiap kali Alice mencium pipi Bram. Dia selalu saja marah lantaran Bram berpikir Alice masih bau jigong dan sebagainya, tetapi kali ini malah Bramlah yang menyosornya lebih dulu.


"Bra-bram, ta-tadi apa yang kamu lakukan? Ke-kenapa kamu mencium bibirku? Bu-bukannya aku ini bau jigong?" tanyanya, sambil menatap Bram bingung dan masih dalam keadaan syok.


"Hehe, kali ini berbeda Sayang. Setelah hadirnya malaikat kecil itu di dalam perutmu, membuat aku rasanya ingin selalu memakanmu."


"Namun, aku sadar jika aku memakanmu sekarang maka aku harus kembali mandi lagi. Dan itu akan memakan waktu yang banyak, jadi aku pending dulu buat nanti malam. Okay?"


Bram mengedipkan mata sebelahnya seraya menggoda istrinya, wajahnya masih sangat terkejut itu seketika mulai memerah.


Saking tidak kuatnya Alice menahan rasa malu, dia segera menutup wajahnya menggunakan bantal dan berteriak sekeras mungkin.


"Aarrrghhh, Bram!"


"Bisa-bisanya kau membuatku salting di pagi hari, dasar menyebalkan!"


"Cuman aku suka, besok lagi ya. Kalau bisa setidak hari, boleh?"


Bram hanya terkekeh melihat sikap lucu istrinya yang semakin hati semakin gemas untuknya, meski tertutup bantal Bram masih bisa mendengar sura itu walaupun sedikit samar.

__ADS_1


"Boleh kok, nanti sekalian aku gigit mau? Haha ...." ucap Bram tertawa puas, sedangkan Meera semakin terlihat tingkahnya tidak karuan.


"Udah akhh, ayo bangun. Kalau enggak mau bangun nanti aku tinggal ke bawah ya, perutku udah laper ini!" ucap Bram berdiri sambil memakai jasnya.


"Huaa, tidak mau!"


"I-iya aku bangun nih, bangun. Cuman tunggu 5 menit, aku cuci muka sama gosok gigi dulu. Bentar ya jangan di tinggal!"


Alice langsung bergerak ke arah kamar mandi, dan membersihkan wajahnya agar tidak terlihat muka bantal.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka pun turun, menuju meja makan. Dimana hanya ada mereka berdua dan Bi Neng yang menyiapkan semuanya.


Alice duduk bersama Bram saling bersebelahan, Bi Neng segera menuangkan susu ke dalam gelas secara bergantian.


"Bi, dimana Kak Meera sama Kak Hans? Tumben mereka belum ada di meja makan. Biasanya mereka selalu ada lebih dulu, apa mereka sedang tidak sehat?" tanya Alice, sambil mengambilkan roti bakar untuk suaminya.


"Oh itu, Non. Tuan Hans udah berangkat ke luar kota lebih pagi, kurang lebih setengah jam yang lalu. Kalau Non Meera, biasa lagi galau ditinggal suaminya hehe ...." ucap Bi Neng sambil bercanda.


Uhukk, uhukk ...


Seketika mereka berdua menatap ke arah Bram dengan tatapan berbeda.


"Tuan Bram, gapapa? Makannya kalau minum hati-hati jangan buru-buru, lagian ini masih pagi kok. Jadi Tuan Bram tidak akan terlambat." ucap Bi Neng.


"Sebegitu terkejutnya kamu, Bram. Ketika mendengar Kak Meera galau di tinggal suaminya. Apakah memang kamu masih ada rasa dengannya? Lantas setiap perlakuan manismu ke aku, apakah itu hanya sekedar perhatian untuk anak kita?" gumam batin Alice, tersenyum kecil menatap suaminya.


"Hehe, tidak Bi. Ini karena aku kurang hati-hati aja, lagian aku lagi semangat karena hari ini aku akan memimpin meeting untuk pertama kalinya di Perusahaan menggantikan Hans." jawab Bram, sedikit mengalihkan perasaannya yang tidak karuan.


"Wah, syukurlah. Semoga sukses ya, Tuan. Bibi selalu doain yang terbaik buat Tuan Hans dan juga Tuan Bram agar kelak, kalian bisa menjadi orang sukses seperti almarhum Tuan besar."


Bi Neng tersenyum bangga ketika anak-anak yang dulu dia rawat bersama majikannya sekarang telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.


Meski sifat merek masih ke kanak-kanakkan, akan tetapi Bi Neng percaya. Bahwa suatu saat nanti hubungan Bram dan Hans bisa kembali membaik, seperti sedia kala.


"Aamin, Bi. Terima kasih, ya sudah ayo Sayang makan yang banyak biar Dedeknya kenyang dan cepat tumbuh besar." ucap Bram menoleh ke arah istrinya.

__ADS_1


"Siap, nanti aku makan yang banyak. Cuman kalau aku gendut, apakah kamu masih mencintaiku dan akan selalu di sampingku? Atau kamu akan--"


Nyam, nyam, nyam ...


Bram menyuapini Alice dengan sepotong roti dari piringnya, membuat istrinya langsung terdiam serta mengunyah.


"Jangan di teruskan, sekarang makan yang banyak. Mau gemuk atau tidak urusan belakangan, yang penting anakku sehat!" tegas Bram, langsung menyuapi roti ke dalam mulutnya.


"Isshh, menyebalkan!" gerutu, Alice.


Bi Neng yang melihat mereka berdua hanya bisa mendoakan, supaya hubungan mereka bisa jauh lebih baik seperti hubungan Hans dan Meera.


Meski, Alice tidak terlihat marah. Cuman Bi Neng paham, terlintas dalam sorot tatapan Alice ketika menatap Bram bahwa dia sedikit cemburu ketika Bram tersendak saat mendengar kalau Meera merasa sedih ditinggal suaminya.


Di saat Bi Neng mau pergi mengurus yang lainnya, tiba-tiba terdengar suara telepon rumah yang berdering cukup keras.


Alice dan Bram langsung menoleh satu sama lain dengan tatapan bingung.


"Siapa yang menelpon pagi-pagi begini? Tumben banget, biasanya jarang ada yang nelpon pakai telepon rumah." ucap Alice, bingung.


"Bentar aku akan mengangkatnya dul--"


"Biar Bibi saja yang mengangkatnya. Lebih baik Tuan dan Non teruskan makannya, nanti Bibi kembali lagi." ucap Bi Neng.


Bram yang tadinya sudah berdiri, seketika kembali duduk saat Bi Neng yang mengambil alih untuk mengangkat telepon tersebut.


Bram mengangguk, dan kembali meneruskan makannya bersama Alice. Sementara Bi Neng segera berjalan meninggalkan mereka, menuju ruangan keluarga untuk segera mengangkat telepon yang entah dari siapa.


Padahal telepon itu sempat mati beberapa detik, dan kembali berbunyi membuat Bi Neng semakin penasaran. Jantungnya pun mulai berdetak tidak karuan, harapannya semoga tidak ada sesuatu yang terjadi pada keluarga ini.


Karena telepon rumah menurutnya telepon yang menyeramkan, karena banyak kabar tidak enak yang sering di terimanya.


Telepon itu cuman akan berdering ketika seseorang menghubunginya dengan alasan atau kabar yang sangat penting. Di luar dari persoalan teman bisnis, sahabat atau siapapun. Soalnya jika menyangkut soal itu pasti akan menghubungi melalui ponsel pribadi masing-masing.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2