Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kekhawatiran Alice Pada Meera


__ADS_3

Senyuman Bram yang terbilang cukup manis membuat Alice pun ikut tersenyum sambil meneteskan air matanya. Dia tidak masalah sama perkataan Bram, karena hatinya begitu yakin jika nanti Bram akan seutuhnya menjadi miliknya.


"Tidak apa-apa, Bram. Aku sangat menghargai semua usahamu untuk tetap belajar mencintaiku, dan itu sudah membuatku begitu bahagia. Setidaknya kita bisa berjuang bersama-sama 'kan? Kamu berjuang untuk bisa mencintaiku sepenuhnya, dan aku berjuang untuk mempertahankan hubungan kita."


Jawaban yang Alice katakan hanya bisa mendapatkan senyuman dari Bram. Dia tidak menyangka bahwa ada seorang wanita yang memiliki semangat tinggi untuk memperjuangan cintanya, meski dia tahu tidak mudah bertahan sama seorang pria yang masih hidup di dalam bayangan masa lalunya.


Selang beberapa menit mereka merasakan kebahagiaan, tiba-tiba Alice teringat akan kejadian sebelumnya. Dimana Meera sudah menyelamatkan hidupnya dan anaknya yang sudah ada didalam perutnya.


"Astaga, aku lupa! Dimana Kak Meera sekarang, Bram. Lantas bagaimana keadaannya? Dia gapapa, 'kan? Dia pasti dalam keadaan baik-baik saja, 'kan? Jawab jujur, aku mohon!"


Wajah yang terlihat bahagia, kini kembali panik saat Alice benar-benar mengkhawatirkan kondisi Meera. Apa lagi Alice merasa sangat berhutang budi padanya atas semua kejadian ini, 2 nyawa bisa Meera selamatkan sekaligus.


Sementara dirinya, malah berusaha membuatnya merasakan kehancuran akibat dendam yang ada didalam hati Bram.


"Aku kurang tahu, terakhir aku ketemu dia kondisinya cukup baik. Hanya saja seperti ada luka jahit di dahinya gitu, cuman saat mendengar kabarmu yang sempat kritis membuat dia jatuh pingsan."


"Tapi, tenang aja sekarang dia udah ada di kamar sebelah sama suaminya. Karena dokter menyarankan dia untuk dibawa kesana, mungkin harus melakukan rawat inap sepertimu. Cuman, itu enggak penting. Yang penting saat ini kesehatan anak kita."


Dari jawaban yang Bram berikan pada Alice, serta senyuman kecil yang terukir ketika Bram kembali mengelus perutnya.


Alice melihat sorotan mata Bram seperti sedang memancarkan kekhawatiran ataupun kecemasan terhadap Meera, membuat dia tidak bisa membohongi Alice.


"Bram, bisakah kamu bantu aku menjenguk Kak Meera di kamarnya?" tanya Alice.


"Tidak, kau harus istirahat. Semua demi kesehatan anak kita, bukannya dokter menyarankan agar kamu beristirahat di atas ranjang? Jadi, aku mohon jangan aneh-aneh. Lagian dia itu baik-baik aja kok, kenapa kamu jadi khawatir. Harusnya--"


Tangan Meera gantian menutup bibir suaminya yang begitu menyebalkan. "Tidak boleh berbicara seperti itu padanya, ingat! Jika bukan karena dia kemungkinan aku dan bayi kita sudah tiada."


"Jadi, aku mohon jangan egois ya tampan. Jujur, aku sangat mengkhawatirkan tentang kondisinya saat ini. Aku juga benar-benar merasa sangat berhutang budi sama Kak Meera. Please, izinkan aku untuk sekedar menengoknya selama 10 menit saja. Aku janji tidak lama kok, mau ya?"

__ADS_1


Alice memohon dengan menunjukkan wajah gemasnya, dihiasi dengan mata cantik yang sangat berlinang. Dari situ Bram bisa melihat jika calon istrinya ini memang sudah pandai melakukan drama.


Bram hanya bisa mencubit gemas


hidung Alice, sambil berkata. "Hem, dasar nakal! Sudah pintar ya melakukan sandiwara ini, huhh dasar menyebalkan. Ya sudah aku minta izin sama dokter, sebentar. Kamu diam disitu dan jangan melakukan apapun tanpa aku, paham!"


Tanpa rasa takut akibat ancaman yang Bram berikan, tingkah random Alice malah berhasil membuat Bram semakin gemas saat melihat Alice memberikan hormat padanya.


"Siap, Komandan. Aku akan melaksanakan perintah dengan baik dan benar, jadi jangan khawatir." jawab Alice.


Bram terkekeh sambil berdiri, lalu dengan jahilnya di mengacak-ngacak rambut Alice, dan langsung kabur begitu saja. Semua karena dia sudah tahu jika Alice memang tidak pernah menyukai kalau rambutnya diacak-acak.


"Bram, ishh! Udah sana buruan aku mau melihat Kak Meera!" rengeknya.


Alice langsung membenarkan rambutnya dengan perasaan kesel, sementara Bram dia malah terkekeh dan keluar dari ruangan untuk menemui sang dokter.


"Loh kok bawa kursi roda, memangnya buat siapa?" tanyanya. Alice terlihat begitu bingung ketika Bram mendorong kursi roda mendekati bangkarnya.


"Ya, buat kamulah. Masa buat aku, aneh!" sahut Bram.


"Ishh, 'kan aku tidak sakit, Bram. Aku masih bisa berjalan, loh. Jadi enggak usah pakai kursi roda segala, dikata aku lumpul kali. Huhh, menyebalkan!" gerutu Alice.


"Semua demi anak kita, kalau kamu enggak mau ya sudah tak masalah untukku. Aku bisa memulangkan kursi roda ini, dan kamu tidak bisa melihat dia. Mau?" jawab Bram.


"Yaaa, enggak mau! Ya udah aku duduk disitu deh, yang penting aku bisa ketemu Kak Meera dan mengucapkan terima kasih sekalian melihat kondisinya." ucap Alice.


Dia mulai pasrah dengan apa yang Bram lakukan, karena menurutnya mungkin ini perintah dari dokter demi keselamatan anak mereka.


"Ya gitu kek dari tadi, jadi enggak perlu debat dulu baru mau nurut!" gumamnya.

__ADS_1


Bram segera membereskan tiang impusan, kemudian meletakannya disamping belakang kursi roda. Setelah itu, dia membantu Alice secara perlahan untuk duduk di kursi rodanya.


Alice memang tidak sakit, tetapi ini demi kebaikan anak mereka berdua. Apa lagi ini merupakan saran dari dokter agar Alice tidak boleh banyak bergerak dan juga dokter cuman menyarankan supaya Alice duduk dikursi roda sekitar kurang lebih 15 sampai 30 menitan saja.


Karena sebenarnya Alice harus lebih banyak tertidur diatas bangkar supaya perutnya tidak lagi mengalami kram akibat terlalu lama duduk.


Sekiranya sudah aman dan Alice pun sudah nyaman, perlahan Bram mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan dengan penuh kehati-hatian.


Sampai akhirnya Bram mengetuk pintu kamar Meera, menunggu Hans membukaannya. Setelah terbuka mereka segera masuk atas izinnya sambil menatap Meera yang sudah bangun dari pingsannya.


"Astaga, Alice! Ngapain kamu disini, apakah perutmu udah jauh lebih baik? Harusnya kamu itu istirahat aja, biar nanti aku yang ke kamarmu." tegas Meera.


Wajahnya terlihat begitu panik saat melihat keadaan Alice yang memaksakan untuk tetap mengunjunginya disaat dia sendiri pun masih sakit.


Alice mendekati bangkar Meera, lalu memegang tangannya sambil menciuminya beberapa kali. Kini air mata Alice runtuh saat mengingat kejadian beberapa saat ketika kecelakaan.


Disitu Alice langsung meminta maaf beberapa kali, hingga merasa sangat bersalah dan juga hutang budi padanya. Sedangkan Meera berusaha untuk memberikan sedikit nasihat kalau Alice tidak seharusnya seperti ini padanya, karena itu bisa membuat anaknya yang ada didalam perut jadi ikut bersedih.


Kedua pria yang berdiri berhadapan di samping pasangannya kini terlihat saling melirik dengan tatapan menajam. Seakan-akan seorang musuh yang ingin kembali melakukan peperangan.


Namun, ada satu kejadian yang membuat keduanya terkejut bukan main. Yaitu, saat Meera dan Alice mengatakan bahwa mereka itu telah menganggap satu sama lain seperti memiliki ikatan persaudaraan antara seorang Kakak dan Adik.


Wajah kedua pria yang awalnya terlihat penuh kekesalan, kini malah menjadi syok saat melihat adegan manis kedua wanita tersebut.


Pada akhirnya mata Alice perlahan melihat ke arah Bram dan Hans secara bergantian, lalu dia meminta izin untuk meninggalkannya berdua dengan Meera. Lantaran ada yang mau Alice katakan 4 mata padanya, dan cukup mereka berdua.


Awalnya kedua pria tersebut merasa keberatan, cuman lama kelamaan kedua betina berhasil menjinakkan kedua jantan, sampai mereka pun pasrah dengan wajah kesalnya meninggalkan kamar dan membiarkan mereka berdua.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2