
Bentuk, desain dan juga kecantikannya seperti melambangkan keistimewaan tersendiri. Kecantikan dari perhiasan tersebut seperti mencerminkan hati Bi Neng yang di penuhi oleh kebaikan dan juga kesabaran untuk selalu mendukung Meera kapan pun tanpa rasa lelah.
Bi Neng yang mendapatkan kejutan tersebut begitu terharu, dia cuman bisa menangis menumpahkan semua rasa bahagianya setelah mendapatkan sosok pengganti majikan yang sangat baik. Sama seperti kedua mendiang majikannya yang sudah tiada, yaitu kedua orang tua dari Hans dan juga Bram.
Meera memeluk erat Bi Neng dengan segala kasih sayangnya, membuat Bi Neng sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terima kasih.
Setelah Bi Neng mulai stabil, Meera langsung menyuruh Bi Neng untuk memilih pilihan yang lain jika apa yang dia pilihkan tidak termasuk seleranya.
Bi Neng menggelengkan kepalanya secepat mungkin, lantaran dia tetap pada pilihan Meera yang terlihat simpel tetapi begitu indah.
Hanya saja, beberapa kali Bi Neng kembali bertanya apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan? Sampai seketika Meera mencubit gemas pipi Bi Neng yang membuatnya mengeluh kesakitan.
Semua yang ada di toko itu terkekeh melihat kelucuan majikan dan juga pembantunya. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata ada beberapa orang jahil yang memviralkan kejadian ini dengan ponselnya ke sosial media.
Setelah urusannya selesai Meera dan Bi Neng keluar dari toko tersebut, dengan perasaan penuh kebahagiaan. Bi Neng masih tidak menyangka jika dia bisa mendapatkan kado spesial yang kini sudah berada ditangannya.
"Ohya, Bi. Kita ke toko itu ya, soalnya saya mau lihat-lihat jas dulu. Siapa tahu ada yang cocok," ucap Meera.
"Buat Tuan Hans, Nyah?" tanya Bi Neng, membuat Meera tersenyum mengangguk.
"Ya, sih Bi. Cuman, bukan hanya untuk Hans saja. Aku juga mau membelikan untuk Bram, kaya jas kembar gitu. Siapa tahu, mereka bisa kembali baikan setelah aku berikan jas itu."
Meera tersenyum penuh harapan yang sangat besar, supaya tali persaudaraan antara Hans dan Bram bisa kembali membaik seperti semula.
"Yang kuat ya, Nyah. Bibi yakin kok, meskipun kejadian itu berhasil membuat tembok ditengah-tengah mereka. Namun, kekuatan ikatan batin antara Adik dan Kakak bisa menghancurkan kerasnya tembok tersebut."
Bi Neng tersenyum menatap Meera, mencoba untuk memberikan kekuatan padanya agar tidak mudah putus asa dalam menjalani kehidupan yang baru.
"Bi, bisakan mulai saat ini jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya. Panggil saja Meera."
"Jujur, Bi. Panggilan itu tidak pantas untukku yang umurnya masih sangat muda. Bibi kan tahu sekarang aku sudah bukan lagi Nyonya besar dirumah ini, melainkan aku cuman seorang istri dari anak mendiang suamiku."
Perkataan Meera berhasil membuat Bi Neng terdiam sejenak, lalu dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Baiklah, jika begitu. Bibi akan mengganti panggilan Nyonya menjadi Nona, bagaimana?" tanya Bi Neng
"Boleh, Bi. Itu jauh lebih baik, dari pada Nyonya. Kesannya kaya aku ini sudah sangat tua hehe ...." jawab Meera cengengesan.
"Ya sudah, ayo Bi. Kita lihat-lihat, nanti Bibi bantu milihin ya," sambung Meera dengan semangat membara.
__ADS_1
"Siap, Non. Bibi akan selalu membantu Non Meera sampai Non Meera lupa mengatakan terima kasih hihi ...." goda Bi Neng.
"Yah, kok gitu?" sahut Meera cemberut.
"Ya kan, setiap apa-apa Non Meera selalu mengucapkan kata terima kasih tanpa melupakannya. Jadi, siapa tahu saking Bibi udah sering membantu Non Meera jadi Non Meera sampai lupa." jawab Bi Neng.
"Hihi, ya enggak begitulah Bi. Aku akan selalu mengatakan terima kasih setiap kali seseorong membantuku. Karena kalimat itu terkesan simpel, tetapi terlalu sulit bila diucapkan."
Apa yang dikatakan Meera memanglah benar, apa lagi ketika seseorang tidak bisa menghargai usaha orang lain. Maka kata terima kasih itu, akan berubah menjadi perkataan kasar.
Meera dan Bi Neng kembali melangkahkan kaki mereka menuju sebuat toko yang cukup besar.
Harry's Palmer, adalah salah satu toko yang berada didalam Mall dengan desain jas yang cukup menggoda selera pengunjung untuk segera memborongnya.
Berbagai macam bentuk jas terpampang jelas dari luar toko melalui kaca besar yang sangat bening.
Banyak manekin pria yang berdiri sejajar memakai satu setel jas lengkap dengan berbagai corak, warna dan juga terdapat perbedaan harga serta bahannya yang sangat jauh.
Satu persatu menyita perhatian Meera dan juga Bi Neng, sampai mereka berdua menatap kagum semua jas yang ada disana. Bahkan, mereka pun bingung mau memilih jas seperti apa yang cocok dipakai oleh Bram dan Hans.
"Bibi juga bingung, Non. Semua jas disini bagus-bagus, warna dan juga bahannya sangat indah." jawab Bi Neng, bingung memilih jas untuk majikannya.
Disaat mereka sedang sibuk memilih jas, tiba-tiba seorang pelayan datang dan menyapa Meera serta Bi Neng secara sopan penuh kelembutan.
"Permisi, Nyonya. Apakah ada yang bisa saya bantu? Saya lihatin dari tadi Nona sepertinya sedang bingung, apakah Nyonya tidak menemukan apa yang dicari disini?" sapa pelayan tersebut sedikit membungkukkan tubuhnya.
Meera menoleh lalu menatap pelayan tersebut sambil tersenyum dan berkata. "Eh, Mbak. I-iya nih, saya lagi bingung soalnya semua jasnya hampir sama, sedangkan saya mau mencari 2 jas kembar dengan motif yang berbeda dari yang lain. Apakah ada?"
"Jas kembar? Hem, sepertinya ada Nyonya. Mari ikut saya," ucapnya sambil berjalan lebih dulu ke suatu tempat.
Meera dan Bi Neng hanya bisa mengikuti kemana pun pelayan itu pergi, sampai mereka berhenti di sudut toko dan menatap beberapa jas kembar yang sangat keren.
__ADS_1
...*anggap aja jika visual jasnya kembar ya*...
"Bagaimana, Nyonya? Apakah jas kembar ini yang Nyonya cari? Cuman, maaf Nyonya jika stock jasnya hanya tinggal ini saja." ucap pelayan tersebut sambil menatap Meera.
"Wah, Non. Jasnya bagus-bagus banget, pasti harganya mahal banget." gumam kagum Bi Neng, menatap kelima jas itu.
"Bagaimana pendapat Bibi tentang kelima jas tersebut? Manakah jas yang cocok untuk mereka dari kelimanya?" tanya Meera yang masih menatap kearah kelima jas.
"Hem, sepertinya nomor 4 boleh, Non." ucap Bi Neng, spontan membuat Meera menatap kearah jas keempat.
"Bagus sih, Bi. Tapi, sayangnya Bibi tahu kan tipe pakaian mereka itu sangat jauh berbeda. Dimana Bram lebih memilih menggunakan pakaian berwarna cerah, sedangkan Hans dia lebih kearah yang gelap." jelas Meera.
"Ya, benar juga ya Non. Kalau Non sendiri mau milih yang nomor berapa?" tanya balik Bi Neng.
"Sepertinya nomor 1, Bi. Jas itu lebih simpel, tidak terlalu gelap dan juga sangat elegan jika dipakai oleh mereka."
Meera tersenyum menatap jas nomor 1 sambil membayangan ketika Hans dan Bram menggunakan jas couple tersebut ketika berangkat bekerja.
Sementara Bi Neng, dia menatap kagum kearah pilihan Meera yang tidak pernah meleset.
Meera memang sangat tahu dengan selera kedua pria itu, dimana keduanya memiliki perbedaan cara berpakaian, tetapi Meera bisa menyesuaikan menjadi satu perpaduan yang sangat keren.
Tak menunggu lama, Meera segera membeli jas tersebut untuk dia berikan kepada kedua pria yang saat ini bagaikan seekor tikus dan juga kucing.
Setelah selesai Meera keluar dari toko bersama dengan Bi Neng, dalam keadaan wajah keduanya terlihat sangat bahagia.
Bi Neng bahagia karena hadiah yang diberikan Meera sangat berharga untuknya, sedangkan Meera bahagia lantaran dia telah berandai-andai jika jas couple yang dia berikan, akan membuat hubungan kedua pria itu kembali membaik.
Namun, disaat mereka lagi asyik berbincang-bincang mengenai tempat makan siang yang enak dimana. Tiba-tiba saja seseorang menabrak Meera hingga membuatnya terjatuh kelantai, dalam keadaan tas berisikan jas sedikit terlihat oleh orang tersebut.
Bi Neng yang melihat Meera terjatuh langsung membantunya dalam keadaan wajah yang terlihat begitu khawatir, sedangkan Meera cuman tersenyum karena dia hanya merasa kaget dan untungnya tidak ada luka sedikitpun ditubuhnya.
Orang yang menabrak juga ikut membantu Meera berdiri, serta memasukan jas kedalam tasnya dan memberikannya kembali kepada Meera sambil mengucapkan kata maaf beberapa kali.
__ADS_1
Hanya saja ucapan orang itu berhasil membuat Meera terkejut, dengan kedua mata sedikit membola ketika mendengar perkataannya. Sama halnya seperti Bi Neng yang juga sedikit bingung menatap wajah orang tersebut.
...***Bersambung***...