Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Ejekan Dari Kolega Bisnis


__ADS_3

Kemudian tangan Hans kembali melingkar di pinggang istrinya dengan persetujuan dari darinya. Lalu, mereka kembali melanjutkan melangkahkan kakinya mendekati semua kolega Hans.


Disitulah Hans mulai memperkenalkan Meera kepada sebagaian kolega bisnisnya yang belum mengetahui siapa Meera sebelumnya.


"Hai, Tua. Apa kabar?"


"Sudah lama kita tidak berjumpa, dan sekarang ternyata disamping Tuan sudah ada seseorang yang sangat cantik."


"Maaf Tuan, saya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Tapi, apakah pemberitaan di sosal media pada waktu itu benar?"


"Nah, iya itu benar. Saya sempat tidak percaya jika Tuan Hans akan melakukan seperti itu, tapi nyatanya benar. Sekarang dia sudah menikahi Ibu tirinya sendiri."


"Itu hal wajar Tuan, lagi pula kan Ibu tirinya sangat cantik dan masih muda. Belum bentuk tubuhnya yang sangat sempurna, siapa sih yang akan menolaknya. Jika saya ada diposisi Tuan Hans pun, saya akan melakukan hal yang sama,"


"Maklumlah ya, namanya kucing jika dikasih ikan ya langsung diembat meskipun perutnya masih kenyang, hahah ...."


Semua para kolega Hans saling bersahutan satu sama lain, seperti sedang mengejek Hans dan juga Meera.


Namun, sebenarnya mereka hanya bercanda. Cuman bagi Hans itu sudah kelewat batas, hingga membuat tangan Hans kembali mengepal dengan keras.


Meera yang melihat respon suaminya, kembali mencoba menenangkan Hans dengan cara menggenggam tangannya dan mengusap lengannya secara perlahan.


"Maaf ya semuanya, jika kalian mengundang kami hanya untuk menghina kami. Lebih baik kami pulang saja, karena tujuan kami datang ke sini dengan cara baik-baik bukan untuk dipermalukan. Terima kasih atas undangannya!"


"Ayo Sayang, kita pulang. Percuma jika kehadiran kita disini hanya untuk bahan celaan mereka, sejatinya orang yang sukses tidak akan pernah menjatuhkan rekan kerjanya sendiri."


Meera tetap berusaha tersenyum meskipun hatinya terasa sakit, ketika mendengar candaan dari mereka yang cukup menggoreskan luka dihatinya.


Rasanya Meera ingin sekali menampar semua mulut mereka yang telah menghinanya, tetapi Meera urungkan niatannya karena dia tidak mau jika kebawa emosi maka suaminya akan lebih terbawa emosi.


"Baiklah Tuan Indra yang terhormat, saya ucapkan terima kasih atas undangan makan malamnya diacara yang penting ini. Tapi, maaf saya dan istri saya harus pulang. Mungkin kehadiran kami disini tidak berkenan dihati sebagian para tamu undanganmu!"


"Jadi, lebih baik kamu menghindarinya agar acara Tuan bisa berjalan tanpa adanya keributan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih!"


"Dan untuk kalian yang sudah berbicara panjang kali lebar tentang kami, tunggu saja saatnya! Aku akan memberikan hadiah untuk kalian yang sangat mengejutkan!"


"Kalau begitu saya dan istri pamit, terima kasih!"


Hans tersenyum kecil sambil menatap tajam kearah beberapa kolega yang berhasil menjatuhkannya di hadapan semua kolega lainnya yang tidak mengenalnya.

__ADS_1


Menatap istrinya, lalu menariknya perlahan dan berbalik meninggalkan acara tersebut. Dimana banyak kolega yang menahan Hans, tetapi tidak membuat Hans gentar untuk berbalik menyahutinya.


Bagi Hans, selagi dihargai maka dia bisa lebih berkali kali lipat untuk membalasnya.


Namun jika kebaikannya telah disepelekan, maka Hans bisa memastikan kalau mereka akan mengalami kehancuran yang benar-benar hancur.


Inilah sifat Hans yang sesungguhnya dalam berbisnis, karena bagi Hans bukan dia yang membutuhkan mereka. Melainkan merekalah yang membutuhkan Hans.


Seekor Singa buas pun bisa menjadi seperti kuning peliharaan yang jinak, ketika dia dihargai.


Namun, jika sekali saja seekor Kucing yang sedang asyik tertidur diganggu, maka dia bisa langsung meraung bagaikan seekor Singa yang baru bangun.


Sementara kolega Hans yang memiliki acara tersebut, langsung memarahi beberapa kolega receh hingga mengusirnya dari acara dan membatalkan beberapa saham kerja sama mereka.


Suasana acara yang awalnya tenang, setelah kepergian Hans malah menjadi ricuh hingga mengharuskan beberapa penjaga segera menyeret kolega receh itu keluar dari Restoran.


Hans dan Meera baru saja masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu begitu keras, sampai akhirnya mata mereka melihat kearah pintu Restoran.


Dimana beberapa kolega yang tadi sempat merendahkannya diseret oleh penjaga Restoran bagaikan seorang pengemis.


Disitulah Hans menatap penuh arti, bahkan senyuman terukir jelas dari sudut bibirnya. Meera yang melihat Hans seperti itu membuat tubuhnya langsung merinding bergidik ngeri.


"Saya gapapa, ohya. Terima kasih atas semua dukunganmu, karena kamu saya bisa mengendalikan semua emosi didalam diri saya sendiri."


"Namun, jika bukan karena kamu. Kemungkinan saya bisa seperti mereka yang saat ini terlihat bagaikan sampah yang tidak dibutuhkan lagi!"


Hans menatap istrinya dengan senyuman yang berbeda dari sebelumnya, membuat Meera ikut tersenyum canggung.


"Ini sudah tugasku sebagai seorang istri yang harus terus berada disamping suaminya dalam keadaan apapun. Dan mendukung segalanya disaat semuanya menjatuhkanmu!" ucap Meera.


"Apakah kamu melakukan semua itu karena kamu sudah memiliki perasaan sama saya?"


Degh!


Pertanyaan Hans kali ini membungkam bibir Meera lantaran dia tidak bisa menjawab apapun.


Satu sisi mulut Meera ingin sekali menjawab kalau dia masih mencintai Bram, tetapi satu sisi lagi Meera juga tidak ingin mengatakan bahwa dia tidak mencintainya. Karena perkataan itu akan membuat Hans merasakan sakit hati.


Berat rasanya bagi Meera untuk menentukan perasaannya terhadap kedua pria yang selama ini tinggal satu atap bersamanya.

__ADS_1


Namun, jangan salah. Meera sebenarnya sedang belajar untuk membuka hatinya pada suaminya. Cuman dia juga belum bisa sepenuhnya menghilangkan cintanya kepada Bram, yang selama ini selalu berusaha membuatnya merasa bahagia.


Hingga akhirnya kesunyian didalam mobil menghilang ketika terdengar suara yang sangat tidak asing ditelinga mereka.


Kereuk, kereuk, kereuk ...


"Suara apa itu?" tanya Hans, bingung menoleh kearah sampingnya.


"Ehh, hehe. Ma-maaf, itu suara cacing di perutku." ucap Meera cengengesan sambil memegang perutnya sendiri.


"Ya sudah kita pergi ke Resto lainnya, biar cacing di perutmu tidak sampai merusak gendang telinga saya!" ucap Hans dingin, terlihat sedikit mengkhawatirkan Meera.


"Yakk, semua ini gara-gara kamu tahu enggak! Jika saja kamu tidak membawaku pergi yang tidak jelas seperti ini, sudah dipastikan cacing di perutku tidak akan telat mendapatkan jatahnya!" sahut Meera, tidak terima.


Hans langsung menghidupkan mobilnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Restoran tersebut.


"Kata siapa tidak jelas, buktinya saya membawamu ke Resto bukan? Kalau saya mengajakmu ke semak-semak, baru itu namanya tidak jelas!"


Mendengar jawaban dari suaminya membuat Meera kesal dan juga dongkol, sampai menimbulkan percekcokan antara kedua pasangan suami istri yang cukup mesra.


Akibat pertengkaran kecil tersebut, tanpa sadar telah menepis sebuah jarak diantara Meera dan juga Hans. Karena selama ini kedekatan mereka hanya sekedar bertemu di meja makan saat status Meera masih sebagai Ibu tirinya.


Berbeda jika kedekatan Meera dan Bram yang memang sering mengobrol dan juga sempat pergi bersama hingga mereka menjalani hubungan.


Sampai saat ini Meera masih bingung dengan semua sikap Hans yang sering kali berubah-ubah.


Terkadang Hans terlihat sangat cuek dan juga dingin, tetapi dibalik sikapnya itu Meera merasakan adanya perhatian yang dia berikan serta mulai menghilangkan sedikit demi sedikit sikap dinginnya.


Meera sempat merasakan adanya debaran didalam hatinya untuk Hans, hanya saja debaran itu tidak sekencang ketika Meera bersama dengan Bram saat menyadari bahwa dia sudah mulai mencintainya.


...*...


...*...


Beberapa menit berlalu, mereka sudah sampai di Restoran yang tidak kalah mewah dengan Restoran sebelumnya. Tanpa basa-basi mereka segera masuk ke dalam Resto, dan memilih meja yang berada di pojok sebelah kanan yang jauh dari keramaian.


Mereka memesan beberapa menu makan malam, sesekali saling terdiam satu sama lain. Meera masih sedikit merasa kesal dengan sikap suaminya, cuman Meera juga tidak bisa memarahi Hans entah mengapa.


Semakin Meera kesal dengan Hans, malah semakin membuat Meera merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan didalam hatinya.

__ADS_1


...***Bersambung****...


__ADS_2