Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Apartemen Lavender


__ADS_3

"Enaknya jadi mereka, cuman bisanya nyuruh ini, nyuruh itu, nyuruh ono. Cihh, lihat aja kalian. Satu persatu akan gua balas, terutama dia!"


"Coba aja kalau tujuan gua udah tercapai semuanya, pasti gua bakalan pergi dari rumah ini. Dan hidup tenang bersama Jaka!"


Gumam batin Atun, sambil berjalan kearah belakang. Dimana dia harus menyelesaikan tugasnya cuman demi tercapainya sebuah impian yang belum terlaksana.


Meera yang awalnya ingin memanggil Bram dan Hans untuk turun dan segera menyantap sarapannya, malah di kejutkan dengan keadaan Hans yang terlihat terburu-buru.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat terburu-buru?" tanya Meera diatas tangga saat menghadang jalan Hans.


"Ada meeting 1 jam lagi. Jadi saya harus buru-buru sampai di perusahaan, sebelum jalanan macet!" jawab Hans, penuh kepanikan.


"Astaga, kenapa kamu tidak bilang jika ada meeting pagi. Ma-maaf, aku kira kamu enggak ada meeting, makannya aku tidak membangunkanmu terlalu pagi sebelum sarapan siap." sahut Meera, merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, saya pergi dulu. Jaga diri baik-baik!" ucap Hans, langsung pergi begitu saja.


"Kamu tidak sarapan dulu, paling enggak makan roti gitu biar perutmu keisi atau mau aku bawakan!" teriak Meera sambil menuruti anakan tangan.


"Tidak perlu, kamu saja yang sarapan!" teriak Hans, saat ini sudah keluar dari pintu utama. Lalu berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya yang sudah terpapang rapi di dekat halaman rumah.


Dimana seorang security langsung membukakan pintu mobil Hans bersamaan masuknya Hans. Tanpa menunggu lama lagi, Hans segera mengemudikan laju mobilnya menuju perusahaannya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Setelah mobil Hans pergi meninggalkan rumah, Meera kembali menaiki anakan tangga menuju kamar Bram.


Rasa jedag-jedug didalam hatinya kini semakin tidak stabil, saat kedua kakinya sudah terhenti tepat di depan pintu kamar Bram.


Meera perlahan mengetuk pintu kamar Bram beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Sampai akhirnya Meera merasa penasaran, apakah Bram masih tidur ataukah dia sedang mandi.

__ADS_1


Tangan Meera terangkat memegang gagang pintu, kemudian membukanya secara perlahan. Pintu yangbtidak terkunci terbuka, sambil sedikit memunculkan kepala Meera untuk mengintip kearah dalam.


Saat melihat kamar itu kosong, membuat Meera langsung memasukinya lalu mengecek ruangan yang ada didalam. Keberadaan Bram sama sekali tidak ada didalam kamarnya.


"Kemana perginya Bram? Kenapa dia pergi sepagi ini, apa dia udah jalan ke Cafenya?"


"Hem, coba deh aku cek ke sana kali ya. Sekalian pergi ke perusahaan Hans untuk mengantarkan makan siang, kasihan juga dia belum sarapan. Apa lagi karena meeting pentingnya pasti dia sampai lupa untuk makan." gumam Meera.


Setelah tidak menemukan keberadaan Bram, Meera bergegas pergi meninggalkan kamarnya menuju ruang makan.


Kali ini Meera harus menikmati makan paginya seorang diri, karena biasanya dia selalu di temani oleh Bram dan juga Hans. Meskipun Bram yang selalu ada bersamanya.


Cuman, karena Meera tidak mau menikmati sarapan seorang diri. Dia mengajak Bi Neng dan Bi Atun untuk makan bersamanya. Dari pada makanan terbuang sia-sia, tak lupa Bi Neng juga membagikan makanan kepada penjaga rumah.


...*...


...*...


"Eerrghhh ...." rengkuhan suara pria itu, sambil mengerjapkan kedua matanya.


Namun, ketika pria tersebut baru saja membuka kedua matanya perlahan. Ternyata tepat dihadapannya, muncullah wajah seorang wanita cantik yang berhasil menarik perhatiannya.


"Ca-cantik ...." gumannya lirih, tangannya terangkat untuk mengelus wajah cantiknya.


Akibat elusan tangannya, membuat tidur wanita itu menjadi terganggu. Cukup dalam hitungan beberapa detik, wanita tersebut membuka matanya.


"Tu-tuan Bram? Ma-maaf sa-saya ketiduran. Se-seharusnya saya tidak tidur disini. Sekali lagi maafkan saya, sudah lancang tidur satu ranjang dengan Tuan." ucap wanita itu gugup, wajahnya sedikit memerah.

__ADS_1


Ya, Bram. Ternyata setelah dia bertengkar dengan Meera dan juga Hans, hatinya menjadi sangat kacau tidak karuan.


Kemudian tanpa disengaja Bram mau keluar kamar, dia malah merasa panas ketika Meera masuk kedalam kamar Hans.


Dari situlah Bram bergegas pergi dari rumah, untuk mencari kesenangan hatinya agar bisa menghilangkan sejenak beban yang ada pikirannya.


"Tidak apa-apa, lu enggak usah minta maaf. Harusnya gua yang berterima kasih. Berkat lu beban gua sedikit berkurang." jawab Bram.


"Itu memang tugas saya, Tuan. Ya sudah saya harus segera bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit, karena Nenek saya pasti sudah menunggu, lantaran wakyu saya selalu habis untuk melayani pria!"


Wanita itu perlahan menuruni ranjang, dan langsung mencari semua pakaiannya. Kemudia dia memakainya secara terang-terangan didepan Bram, sama seperti Bram yang juga ikut mengenakan celana pendeknya.


Setelah mereka berhasil mengenakan pakaiannya, wanita itu langsung terburu-buru pergi meninggalkan Bram.


"Woi, ini bayaran lu!" teriak Bram, membuat wanita itu berbalik menatapnya.


"Simpan saja Tuan, saya belum membutuhkannya. Jika nanti saya membutuhkannya, pasti saya akan memintanya,"


"Lagi pula kemarin adalah jatah hari libur saya. Cuman karena Tuan membutuhkan saya secara mendadak, jadi mau tidak mau saya harus terpaksa menemani Tuan, suoaya Tuan tidak merasa sendiri."


"Bagi saya, Tuan adalah pelanggan yang sangat baik dalam memperlakukan saya. Jadi saya tidak akan mengecewakan Tuan, dan saya juga tidak mau kehilangan pelanggan setia seperti Tuan. Saya pergi dulu, terima kasih."


Wanita tersebut langsung bergegas pergi begitu saja meninggalkannya, dalam keadaan Bram terdiam membeku setelah mendengar perkataanya.


Bram tidak menyangka jika ada seorang wanita sewaan seperti dia masih memiliki hati sebaik itu, dari sini Bram mulai menaruh curiga kepadanya.


Siapa sebenarnya wanita itu? Lalu, apa motifnya sampai dia rela terjun bebas didunia hitam? Itulah yang harus Bram cari tahu saat ini.

__ADS_1


Sampai akhirnya dia bergegas pergi kedalam kamar mandi, untuk bersiap-siap lalu pergi menemui seseorang untuk meminta penjelasan tentang wanita itu.


...***Bersambung***...


__ADS_2