
Ketika cincin cantik telah terikat di jari manis Meera, bersamaan dengan itu sang pendeta sudah meresmikan status mereka sebagai pasangan suami-istri.
Kemudian dilanjutkan oleh pembacaan doa pemberkatan, kepada kedua mempelai pengantin yang baru saja resmi.
Sang pendeta mempersilakan Hans untuk membuka tudung yang Meera gunakan. Sampai akhirnya muncullah wajah cantik yang tidak pernah dia lihat.
Wajah cantik dan manis yang Hans lihat saat ini, seakan-akan bukanlah wajah Meera. Melainkan wajah seorang bidadari yang baru saja turun dari khayangan.
"Wah, beruntungnya Tuan Hans mendapatkan Ibu tirinya. Ternyata Ibu tirinya jauh lebih muda darinya, pantas saja dia mau menikahi Ibu tirinya dari pada wanita lajang lainnya."
"Ya memang sih, ini kejadian yang langka. Tapi, jika dilihat-lihat mereka berdua cocok ya. Satunya cantik, satunya tampan."
"Cantik enggak menjamin hatinya cantik, siapa tahu kan. Ibu tirinya itu mau menikah dengan Tuan Hans, lantaran dia takut hidup miskin. Apa lagi suaminya kan udah meninggal, siapa tahu dia penyebabnya!"
"Wah, kacau. Jika benar dia penyebabnya, terus bagaimana nasib Tuan Hans kedepannya? Apakah setelah ini Tuan Hans akan menjadi korban berikutnya?"
"Terus, kemudian korban selanjutnya adik dari Tuan Hans, yaitu Tuan Bram. Setelah semuanya meninggal, barulah Ibu tirinya itu merasa puas dan juga bahagia ketika menikmati harta mereka haha ...."
"Hei, sudah-sudah. Ini kan hari bahagia Tuan Hans, jadi jangan sampai kalian semua mengacaukannya. Ingat, jika Ibu tirinya mau menikmati semua harta dari keluarga Tuan Hans. Kemungkinan dia sudah menjadi seorang selebritis terkenal."
"Tapi nyatanya dia tetap menjadi wanita biasa bukan? Jadi untuk kalian semua, yang tidak mengenal siapa Nyonya Meera sebenarnya. Saya harap jangan asal berbicara, sebelum nama kalian terdaftar di kantor polisi atas pencemaran nama baik!"
Semua para undangan saling bersahutan satu sama lain, dimana ada yang sebagian mendukung hubungan mereka. Ada pula sebagian lagi yang ingin menjatuhkan Meera.
Namun, Hans yang sudah menduga semua itu akan terjadi. Maka dia sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk mengkondisikan, agar acara mereka berjalan lancar tanpa gangguan.
__ADS_1
Tak lama sebagian bodyguard, langsung menyeret keluar beberapa orang yang sudah menjadi promokator didalam acara.
Suasana gedung semakin ricuh, sampai akhirnya sudah kembali stabil. Orang yang msih mendukung pernihakan mereka, bersorak penuh kebahagiaan.
"Ayo, cium. Cium, cium!"
"Ayo dong Tuan Hans, jangan buat istrimu menunggu lagi!"
"Kalau Tuan Hans tidak mau, masih banyak yang mau mewakilkannya kok. Haha ...."
Sorakan demi sorakan terlontar, berhasil membuat wajah kedua mempelai yang baru saja resmi, sudah dibuat memerah menahan rasa malu. Sama persis seperti tomat yang sudah kematangan.
Hans berusaha menetralkan napasnya yang kian tidak beraturan. Lalu perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya sedikit menyerong.
"Kamu tidak perlu khawatir, saya tidak akan menyentuhmu. Biarkan seperti ini untuk beberapa menit kedepan, agar mereka semua menyangka bahwa kita sedang berciu*man." bisik Hans.
Meera hanya bisa terdiam mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya, bukan berarti Meera tidak mau disentuh.
Hanya saja dia belum siap, lantaran pernikahan diadakan bukan berdasarkan cinta. Melainkan suatu kejadian yang mengharuskan mereka bersatu, tanpa bisa menolaknya.
Kurang lebih 3 menit, akhirnya Hans kembali ke posisi awal bersamaan dengan terdengarnya suara tepukan tangan serta teriakan penuh kebahagiaan.
Setelah selesai, mereka semua berbondong-bodong untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka sambil bersalaman.
Hampir 3 jam lamanya, akhirnya para tamu undangan sudah mulai renggang. Sehingga Hans dan Meera bisa duduk sebentar, apa lagi rasanya Meera tidak kuat. Jika harus berdiri selama berjam-jam lamanya.
__ADS_1
Apa lagi, saat ini kakinya benar-benar sudah terlalu keram dan juga pegal. Lantaran dia berdiri sambil menggunakan gaun pernikahan yang sangat berat, ditambah sepatu high heels cukup tinggi.
Hans meminta pelayan untuk membawakan minuman serta cemilan, agar Meera bisa mengisi perutnya. Apa lagi dari pagi sampai siang ini mereka belum mengisi perutnya.
Ketika Meera sedang menikmati semua makanan serta minumannya, Hans perlahan mulai membuka suara.
"Apa Bram sudah mengabarimu?" tanya Hans, tanpa disengaja membuat Meera tersedak.
Dengan cepat Hans langsung memberikan minuman, agar bisa mengurangi rasa tersedak ditenggorokannya.
"Ma-maaf!" ucap Hans.
"Ti-tidak apa-apa, kok. Cuman jika masalah Bram, aku tidak tahu dia ada dimana. Semenjak kejadian itu dia tidak pernah mengabariku atau pun berbicara." jawab Meera, berusaha tersenyum kecil.
"Ma-maaf, ka-karena saya. Hu-bungan kalian---"
"Sudah lupakan saja, mungkin aku dan Bram tidak berjodoh. Lagi pula ini memang sudah takdirku, karena Tuhan sangat membenciku. Bisa jadi Tuhan hanya mau memberikanku rasa sakit, tanpa mau mengenaliku dengan kebahagiaan."
Meera tersenyum, kembali menikmati cemilannya. Karena saat ini Meera tidak mau ambil pusing, menurutnya ini sudah garis tangan tentang kehidupannya.
Hans melihat Meera sangat pasrah dengan takdir, membuatnya semakin merasa bersalah. Berkat dirinya, hubungan Meera dan Bram kandas ditengah jalan.
Hans seperti merasa bahwa dia adalah orang ketiga yang menjadi sumber mala pataka, bagian kebahagiaan sepasang kekasih yang baru saja ingin melanjutkan hubungannya untuk kejenjang lebih serius.
...***Bersambung***...
__ADS_1