Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Gedung Serba Guna


__ADS_3

Bram mulai terbiasa dengan semua masalah yang harus berbagi pada hans, terlihat bahwa Bram sudah mulai bisa menerima Hans kembali. Walaupun masih dalam tahap perlahan, tetapi setidaknya hubungan mereka sedikit lebih baik dari sebelumnya.


Sesampainya di kantor Bram segera ke ruangan Hans, memberitahukannya dan mereka berdua mencari solusi apa yang harus di lakukan, supaya bisa memberi pembalasan pada Windi atas apa yang sudah dia lakukan pada Alice.


Setidaknya memberikan efek jera agar Windi tidak lagi mencoba menjadi pelakor di dalam hubungan seseorang, hanya demi uang. Itulah jahatnya uang, dia bisa merubah segalanya. Orang baik pun yang dibutakan oleh uang, bisa berubah menjadi orang jahat.


...*...


...*...


...Tepat di hari pernikahan Bram dan Alice...


Saat ini pernikahan terlihat begitu mewah dan juga elegan. Banyak hiasan demi hiasan terukir indah di sebuah gedung.



Gedung Serba Guna, yang bertepatan di jalan Kenangan no. 15, Jakarta Utara. Merupakan gedung terbesar yang sangat mewah dan juga elegan.


Banyak fasilitas-fasilitas yang mereka gunakan agar pesta terkesan begitu sempurna dari yang lain. Pelayanan ramah, serta susunan acara yang simple, tetapi begitu terkesan membuat semua para tamu yang hadir menjadi kagum.


Hiasan bunga berwarna putih, kian mendominasi gedung tersebut. Lampu-lampu yang mengelilingi, terlihat bagaikan sebuah istana kerajaan sehari semalam.


Susunan meja dan kursi yang terpasang rapi saling melingkar dengan motif warna hitam pekat. Hampir semua desain terlihat begitu sempurna, hanya saja ada yang janggal di dalam pesta pernikahan ini.


Bram yang seharusnya menikahi Alice hari ini, ternyata malah ingin menikahi Windi. Semua ini sudah Bram rencanakan sangat matang bersama dengan Hans dan juga Meera.


Sementara Alice, dia masih belum tahu jika ini merupakan sebuah pancingan agar wanita itu mau mengatakan sejujurnya ada alasan apa dibalik semua ini, dan kenapa dia ingin sekali menghancurkan hubungan mereka.


"Kak, bagaimana kalau semua yang di ucapkan wanita itu benar? Lalu, mereka berdua malah menikah. Sedangkan aku, apakah aku akan menjadi istri ke-2 Bram?"


"Kalau sampai itu terjadi, aku enggak mau Kak! Sumpah aku enggak mau, lebih baik aku batalin saja pernikahan ini aja, biarkan mereka bisa menikah dan hidup bahagia! Sementara aku, aku akan pergi jauh. Sejauh-jauhnya dari mereka semua dan menghilang bersama anakku ini!"

__ADS_1


Alice menatap Meera yang saat ini sedang duduk di hadapannya sambil memegang erat tangan Alice, kemudian tersenyum menggelengkan kepalanya lalu menghapus bulir-bulir air yang telah menetes di pipi Alice.


"Jangan berbicara seperti itu pada pria yang beberapa jam lagi akan menjadi suamimu, ingat cantik! Segala ucapan baik buruk, itu akan selalu menjadi sebuah doa!"


"Jadi berhati-hatilah, karena ada pepatah yang mengatakan. Mulutmu harimaumu, artinya apa yang kamu ucapkan sebagai dari doa, maka itu akan kembali lagi kepadamu. Paham 'kan, apa yang aku maksud ini, hem?"


Meera selalu bersama Alice dari pagi sampai detik ini, karena Meera tahu jika Alice pasti akan merasakan gugup serta dilema yang sangar mendalam. Apa lagi di melihat detik-detik Bram berjalan di altar bersama wanita yang bukan dirinya.


Bram seperti ini, karena dia mau kembali meresmikan hubungannya dengan Windi agar tidak akan menjadi status di dalam kertas.


Sebenarnya Bram sangat takut jika apa yang dia rancanakan dengan Hans, tidak sesuai dengan ekspetasi mereka yang tinggi dan penuh kepercayaan diri.


Namun, kembali lagi tujuan mereka ingin memberikan efek jera supaya Windi tidak lagi melakukan hal yang merugikan orang lain.


Bram dan Windi telah berada di depan Altar bersama dengan seorang pendeta. Semua tamu tidak ada yang


menaruh curiga bahwa yang bersama dengan Bram saat ini bukanlah Alice. Hanya saja banyak dari mereka yang berbicara mengenai kehamilan Windi.


"Astaga, ba-bagaimana ini? Jika pernikahan ini terjadi, itu artinya aku memiliki 2 suami?"


"Huaa, tidak, tidak, tidak! Kalau gini caranya apa aku batalin saja? Aku akui saja kalau aku ini wanita bayaran?"


"Arrgh, tidak! Kalau pernikahan mereka terlaksana. Itu artinya misiku gagal. Dan uang yang sudah di transfer bisa-bisa diminta lagi dengan 3 kali lipat, sesuai perjanjian awal!"


"Ba-bagaimana kalau suamiku sampai tahu aku menikah lagi? Pasti dia akan sangat kecewa, marah dan juga hidupku akan hancur. Dan aku tidak mau itu!"


"Haruskah aku sudahi semua drama ini, sebelum terlambat atau aku teruskan kembali? Tapi, aku takut. Takut bukan mereka yang hancur melainkan diriku sendiri, huaa ...."


"Begini banget sih nasibku, hanya karena uang aku hidup di dalam kesulitan seperti ini. Mau maju salah, mundur apa lagi. Jadi aku harus bagaimana, Tuhan!"


"Tunjukkan jalanmu padaku, Tuhan. Jangan sampai kau buatku menyesal setelah mengambil langkah ini. Aku tahu, caraku memang salah dalam dapat mendapatkan uang. Cuman aku butuh untuk persalinanku dan juga uang buat modal suamiku, supaya kelak dia bisa punya usaha sendiri."

__ADS_1


Batin Windi terus saja mengoceh tanpa jeda, ketika sang pendeta sedang melantunkan beberapa doa untuk memulai pengucapan janji suci yang akan mereka ucapkan beberapa menit lagi.


Tubuh Windi semakin berkeringat dingin, tegang dan juga napasnya kian memburu. Semua terlihat jelas bahwa Windi tidak sedang baik-baik saja, dia begitu khawatir dengan semua yang menimpanya hari ini.


Niat dia hanya ingin menghancurkan hubungan Bram dan Alice sesuai perjanjian misinya, kini malah dia sendiri yang terjebak di dalam scenario yang dia buat.


Saat pendeta berbicara untuk mereka mengucapkan janji suci secara bergantian, mulut Windi bergetar hebat. Baru saja Windi ingin mengatakan bahwa dia akan membatalkan pernikahan ini, tiba-tiba suara teriakan lantang dan keras bergema di seluruh gedung ini.


"Hem, bagus ya, Win. Jadi ternyata ini yang kamu lakukan di belakangku? Aku rela menjauhi semua wanita yang mendekat, sedangkan kamu? Malah ingin mengambil posisi seorang wanita yang akan bersanding dengannya!"


"Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Padahal kamu sedang hamil besar, di tambah lagi banyak tamu yang berbincang jelek tentangmu masih kamu teruskan? Benar-benar tidak tahu malu!"


"Haruskah aku menceraikanmu lebih dulu, supaya kamu paham apa itu arti sebuah hubungan, kehilangan dan juga cinta?"


"Tega kamu, Win. Sumpah, kamu tega banget buat aku kecewa dengan menyaksikan semua ini. Wanita yang aku nikahi 3 tahun ini, ternyata kembali melakukan pernikahan dengan suami orang? Haha, sungguh sakit hati ini, Win. Sakit!"


"Sebentar lagi anak kita akan lahir, itu hari dan momen yang kita tunggu-tunggu selama ini. Namun, nyatanya aku malah mendapatkan kejutan seperti ini darimu. Huhh, aku tidak bisa lagi menjelaskan betapa hancurnya aku melihat istriku ingin menikah lagi!"


"Jika memang kamu masih haus akan kekurangan, silakkan Win. Silakan kamu lakukan semuanya sesuka hatimu, aku tidak akan melarangmu ataupun mencegahmu. Lakukan apa yang menurutmu benar dan bisa membuatmu bahagia!"


"Kalau begitu aku pamit ya, setelah anak kita lahir nanti. Aku akan datang untuk mengambilnya, aku akan rawat anakku serta membesarkannya sendiri. Karena aku rasa hubungan kita cukup sampai disini, aku lebih baik kehilangan seorang istri yang tidak bisa menghargai keberadaanku, dari pada aku kehilangan anak yang belum mengerti semuanya!"


"Terima kasih selama 3 tahun ini kamu sudah hidup bersamaku, menjadi istri yang sangat baik sekaligus menjadi Ibu yang begitu menyayangi anakku. Untuk itu aku akan mence---"


"Tidak! Aku tidak mau berpisah denganmu, Sayang! Aku mohon jangan berkata lagi, aku melakukan semua ini karena aku di suruh oleh seseorang! Ini bukan keinginanku, Sayang. Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku enggak bisa hidup tanpamu. Please, maafkan aku Sayang. Hiks ...."


Windi berteriak sekeras mungkin, langsung mencari keberadaan suaminya yang entah dimana. Sampai akhirnya Windi yang sudah menangis kejar, membuat dia tidak tahu harus bagaimana lagi.


Sampai akhirnya seorang pria keluar dari sebuah tempat mendekati Windi, dimana Windi yang melihat itu langsung berlari berhambur memeluknya. Pecahlah isak tangis di dalam pelukan suaminya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2