
Pada akhirnya, Keke di pisahkan dan di tempatkan di satu sel kecil seorang diri. Akan tetapi, itu juga malah membuat Keke malah terlihat bagaikan orang yang terkena gangguan kejiwaan.
Keke terlihat tertawa sendiri karena dia terlalu senang saat kembali mengingat jika Meera telah meninggal dunia. Tanpa dia tahu, bahwa sekarang Meera telah melawan mautnya sendiri untuk bisa bertahan dan kembali bersama keluarga kecilnya.
...*...
...*...
Meera yang sudah di pindahkan ke kamar tersendiri membuat semuanya merasa senang. Akhirnya berita duka itu telah sirna, dan tergantikan oleh berita bahagia.
Baby Diego juga ternyata sudah bisa merasakan bagaimana rasanya ASI sama seperti Baby Maura.
Bi Neng merasa bahagia setelah beberapa saat lalu hampir merasakan kehancuran, ketika dia harus kehilangan salah satu anaknya.
Saat ini Meera sedang duduk menyandar di sandaran bangkarnya, sambil menggendong Baby Diego yang habis selesai menyusu. Tidak lupa tangan Hans selalu memegangi tangan kanan istrinya tanpa mau melepaskannya.
"Sayang, sebelumnya aku mau minta maaf. Kalau selama ini aku tidak pernah jujur sama kamiu. Aku hanya takut membuka luka lama setelah aku berusaha menguburnya dalam-dalam."
"Hanya satu pintaku, jangan pernah kamu berniat ingin kembali meninggalkanku. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku mohon percaya sama aku kalau di hati ini hanya ada namamu."
"Wanita itu hanya sekedar masa laluku, berbeda dengan kamu masa depanku. Sampai kapanpun itu kamu akan tetap menjadi pasanganku, baik hidup maupun ma*ti. Jadi jangan pernah berpikir kalau aku akan memilih wanita lain dari pada dirimu."
__ADS_1
Meera tersenyum mendengar semua penjelasan yang di berikan oleh suaminya. Hans juga menceritakan semua tentang siapa Keke kepada Meera.
Alice melirik suaminya, membuat Bram segera merangkul serta mencium kepala istrinya. Dia juga merasa senang melihat Kakaknya telah kembali tersenyum.
Tidak terasa kepahitan yang ada di dalam diri mereka yang terjadi akibat munculnya masa lalu, kini telah terlewatkan dengan segala rintangan.
Tawa, canda yang terukir jelas di wajah mereka semua menandakan bila kebahagiaan telah menjadi pemenangnya dari segalanya.
Bi Neng, Bram dan Alice beserta Baby Maura pun segera berpamitan pulang ke rumah. Tidak lupa Bram sudah memberikan penjagaan ketat di rumah sakit untuk terus memantau Meera. Semua itu Bram lakukan demi mewaspadai hal buruk yang akan kembali terjadi.
Kini, hanya tersisa Hans, Meera dan juga Baby Diego. Perlahan Baby Diego di pindahkan ke tempat tidurnya, lalu Hans duduk tepat di bangkar istrinya. Kemudian dia memeluk Meera begitu erat, dimana air matanya tidak terasa kembali menetes.
Meera yang merasakan sesuatu di atas kepalanya, melepaskan pelukan suaminya. Lalu dia melihat Hans menangis tanpa suara dan malah tersenyum menatapnya.
"Aku baik-baik saja, kok. Aku hanya lagi bahagia, ternyata perjuanganku untuk kembali membangunkanmu bersama anak-anak tidak sia-sia. Padahal semua orang sudah pasrah dengan takdir begitu juga aku, namun entah kenapa hatiku menyangkal semua itu."
"Dia sangat yakin, bila kamu akan kembali. Maka dari itu, entah mengapa aku kepikiran untuk kembali mendekatkan anak-anak di dalam pelukanmu. Pada akhirnya aku berhasil, Sayang. Aku berhasil membuatmu terbangun, aku senang banget. Sungguh, aku tidak menyangka Tuhan masih baik kepadaku, sehingga kita masih di persatukan di dunia ini untuk merawat anak-anak."
"Apa kamu senang, bisa kembali kepadaku? Terus dari mana kamu bisa tahu bila anak kita namanya Diego? Perasaan nama itu sama sekali tidak pernah aku beritahu kepada siapapun. Termasuk kamu."
Meera tersenyum kembali mengingat ketika nama anaknya menjadi tujuannya untuk tetap bertahan mencari jalan pulang. Mendengar nama anaknya, membuat Meera berjalan terus mengikuti kemana pun sumber suara itu pergi.
__ADS_1
Awalnya Meera sempat putus asa ketika nama itu hilang, akan tetapi ketika dia bertemu dengan kedua anak kecil yang menggandengnya untuk menunjukkan jalan.
Pada akhirnya Meera bisa kembali pulang untuk menemui suami, anak-anak dan juga keluarganya. Disitu Meera baru mengerti, jika kedua anak kecil yang menuntunnya jalan adalah Baby Diego dan juga Baby Maura.
Hans tersenyum menatap anaknya yang tertidur, dia merasa bangga. Anak sekecil Diego ternyata memang memiliki ikatan batin yang sangat kuat terhadap Ibunya.
Lagi dan lagi, Hans memeluk istrinya begitu kuat. Sampai seketika Hans merangkup kedua rahang Meera, lalu menyatukan bibirnya dengan memberikan sensasi yang sudah lama tidak dia berikan pada istrinya.
Namun, sayangnya. Semua itu tidak berlangsung lama. Saat Hans ingin menyusu pada istrinya, Baby Diego kembali terbangun dan mengganggu aksi kedua orang tuanya.
Rasanya Hans ingin marah, akan tetapi dia tidak bisa. Sebab, Baby Diego adalah da*rah dagingnya sendiri. Sementara Meera malah terkekeh sambil menyusui Baby Diego, Hans cemberut melihat anaknya yang dengan muda selalu menyusu pada istrinya.
Melihat wajah suaminya membuat Meera merasa kasihan, dia pun menarik suaminya untuk menyusi di sebelah kiri bersama Baby Diego yang berada di sebelah kanan.
Tidak berhenti dari situ, kaki Diego pun selalu menendang wajah Hans. Seolah-olah dia tidak mengizinkan makanannya di ambil oleh Daddynya sendiri.
Sepanjang perdebatan anak dan Daddy hanya mampu membuat Meera tidak berhenti tertawa. Dia merasa benar-benar bahagia setelah melihat perdebatan ini.
Bahkan Meera selalu membayangkan bagaimana nanti saat Diego sudah besar, pasti dia akan menjadi
bodyguard Meera ketika Hans ingin mendekati istrinya.
__ADS_1
...***Bersambung***...