Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Hampir Saja


__ADS_3

Dirasa sudah mulai kenyang, Alice pun menyudahi makannya agar tidak membuat perutnya menjadi sakit.


Kemudian mereka kembali bersenang-senang berjalan melihat apapun yang terlihat oleh mata, tak lupa tujuan terakhir adalah toko es krim.


Disana Meera dan Alice seperti berlomba-lomba untuk menyantap beberbagai macam rasa es krim yang ada, hingga berhasil membuat kedua suaminya cuman bisa menelan air liur secara kasar.


Hans dan Bram tidak percaya kalau kedua istrinya ini benar-benar kuat untuk memakan es krim 20 sampai 50 cup kecil, dengan variasi rasa serta toping yang berbeda-beda.


...*...


...*...


Setelah mereka selesai, tepat pukul 7 malam. Meera dan Hans sedang pergi ke toilet yang ada di lantai dasar. Sementara Bram dan Alice, mereka lebih dulu keluar dari Mall, cuman tidak langsung menuju mobilnya.


Semua itu karena lagi-lagi Bumil satunya ini ketika melihat pedagang sate ayam di depan Mall tepatnya di serbang jalan, membuatnya ngiler.


Jelas-jelas di dalam Mall Alice sudah makan banyak, tetapi saat melihat pedagang sate ayam perutnya kembali lapar.


Padahal, Bram sudah melarangnya. Lantaran Bram takut jika makanan yang ada dipinggir jalan kurang higenis, sehingga akan membuat perut Alice menjadi sakit.


"Sayang, aku mau sate itu. Pokoknya mau itu titik! Ayo kita ke sana, sekarang. Please!" rengek Alice sambil memegang lengan suaminya.


"Sayang, itu jauh. Lihat saja, kita harus menyebrang jalan loh. Kalau mau nanti ya, kita tunggu Kak Hans sama Meera kembali, baru kota ke sana. Kasian kalau mereka di tinggal, nanti kebingungan nyariin kita" ucap Bram, mencoba menenangkan Alice.


"Buat apa ada ponsel canggih, kalau tidak digunakan. Dasa alesan!"


"Dahlah, lama. Mendingan aku pergi aja sendiri, toh kamu juga enggak mau nganterin, aku pergi 'kan? Jadi, ya udah. Bye!"


Dengan wajah marahnya, Alice pergi terburu-buru dalam keadaan sedikit berjalan cepat menggunakan langkah panjangnya.


"Sayang, tunggu aku! Astaga, bandel banget sih kalau dibilang---"


"Sayang!"


"Alice, awas!"

__ADS_1


Alice yang mendengar suara teriakan itu langsung menoleh ke arah belakang, dengan wajah kebingungan.


"Mam*pus kau, Alice. Hari ini hidupmu harus berakhir tepat di tanganku!" gumam seseorang di dalam mobil, langsung menginjakkan pedal gas begitu mendalam.


Sampai akhirnya, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Alice yang baru sedikit saja melewati jalan raya.


Teriakan Hans, Bram dan juga Meera sangat bergema di telinga Alice. Kemudian dia menoleh ke arah kanan, dimana mobil sudah mendekat membuat Alice berteriak sambil memegang kedua kupingnya.


Bersyukurnya, meskipun Bram terlambat menyelamatkan Alice. Akan tetapi, salah satu bodyguardnya berhasil menarik Alice dan menahannya di dalam dekapannya.


Mobil itu lolos dan tidak berhasil menabrak Alice, sesuai tujuan awalnya yang ingin merenggut nyawanya tanpa rasa bersalah.


Setelah mengetahui dia gagal, maka orang itu langsung memukul setir dan mengurangi kecepatan mobilnya.


"Si*alan ... Kenapa harus gagal sih!" pekiknya.


Kurang lebih 5 meter dari tempat kejadian, mobil itu tiba-tiba hilang kendali ketika orang tersebut melihat adanya mobil besar keluar dari persembunyiannya.


Mengeram pun sudah terlambat lantaran jaraknya sangat dekat, sampai akhirnya mobilnya menabrak kepala mobil kontener.


Aaarrghhh ....


Teriak seseorang dari dalam mobil membuat semua orang yang ada di tempat kejadian segera mengerubunginya.


Mereka semua tahu, jika mobil tersebut adalah mobil yang hampir menabrak Alice. Sehingga mereka sangat penasaran, sama pelaku dan juga keadaannya.


Beberapa bodyguard yang udah mengejar mobil itu, langsung turun dari motornya mengecek mobil tersebut dan melihat wajah dari pelaku.


Rasanya mereka ingin sekali menolong orang itu dari dalam mobil, cuman mereka takut kesalahan. Jadi, lebih baik mereka segera menghubungi pihak berwajib untuk melaporkan kejadian yang sebanarnya dan juga ambulans.


Sementara Alice yang ada didalam dekapan salah satu bodyguard, langsung di tarik oleh Bram dan membawanya ke dalam pelukan.


"Sudah aku bilang bukan, jangan ya jangan. Kamu tuh ngeyel banget sih, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kalian. Terus nasipku gimana, hahh!"


"Gimana, Sayang. Gimana hiks ...."

__ADS_1


Bram menangis memeluk istrinya begitu erat, dia tidak tahu lagi. Jika bukan karena bodyguardnya yang siap siaga, kemungkinan besar saat ini Alice dan anaknya sudah tiada.


Apa lagi posisi jalanan sepi, begitu juga kecepatan mobil diatas rata-rata normal. Jadi, bisa dibayangkan apa jadinya kalau semua itu terjadi. Maka, Alice dan anaknya pun 100 persen tidak akan bisa di selamatkan.


"Hiks, ma-maafkan aku, Sayang. Ma-maafkan aku hiks ...."


Alice menangis di dalam pelukan suaminya, dia benar-benar sangat trauma atas kejadian yang hampir saja menimpanya.


Meera dan Hans, yang dari jauh melihat kejadian itu berusaha keras untuk menolong Alice. Cuman mereka sangat jauh, sehingga bodyguard di dekat merekalah yang bisa langsung menyelamatkan majikannya tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri.


"Dek, kamu gapapa 'kan? Kamu baik-baik aja 'kan? Tidak ada luka?" tanya Meera yang sudah berada di dekat Alice, kemudian dia memeluk Alice yang masih terlihat syok.


"Sudah aku bilang bukan, tunggu aku. Dan jangan kemana-mana, kenapa kalian berdua batu banget sih!"


"Kalau memang kalian mau keluar dari Mall, aku tidak masalah. Asalkan diam di dalam mobil, bukan malah keluyuran di jalan!"


"Dan kau, Bram. Kenapa kamu lepas istrimu seperti itu, bagaimana jika bodyguard tidak langsung bertindak. Apakah anak dan istrimu bisa selamat, hahh?"


Hans terlihat begitu panik, saat menyaksikan kejadian yang hampir menimpa adik iparnya.


Namun, dibalik emosi yang meradang terdapat jiwa kasih sayang dan kepedulian yang sangat besar terhadap keluarganya.


"Hiks, a-aku takut Kak. Aku takut hiks ...." ucap Alice dengan tubuh yang mulai bergetar.


"Tenang, Dek. Tenang. Disini ada Kakak, pokoknya apapun yang terjadi kamu jangan jauh dari Kakak. Mengerti!"


"Jadikan ini pelajaran agar kamu lebih berhati-hati lagi, dan bisa lebih mendengarkan suamimu. Belajarlah mendengar mana yang baik, dan buanglah semua yang buruk. Paham?"


Alice mengangguk sambil memeluk Meera hingga mereka menangis bersama. Dimana, Meera langsung membawa Alice untuk masuk ke dalam mobil agar Alice bisa lebih tenang lagi.


Sementara Hans dan Bram baru saja mendapatkan informasi dari salah satu bodyguardnya, bahwa pelaku yang ingin menabrak Alice itu merupakan seseorang yang sangat mereka kenal. Hanya saja bodyguard itu tidak tahu siapa nama dari orang itu.


Namun, ketika mereka berdua ingin mendekati TKP. Bodyguard lainnya langsung mengatakan, jika pelaku sudah dibawa oleh ambulan ke rumah sakit besar beberapa detik lalu. Dan mereka pun masih bisa melihat ambulan sudah pergi menjauhi lokasi.


Tak lupa ada beberapa bodyguard yang mengikuti ambulans, untuk mencari tahu semua informasi mengenai keadaan pelaku supaya bisa diberikan kepada Hans ataupun Bram. Jadi, mereka tidak lagi harus mengurus semuanya sendiri.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2