Change Destiny

Change Destiny
100 Mencari Melani


__ADS_3

Bab 100


.


"Kalian semua pencar!. Temukan Nyonya secepatnya" titah Wiliam dengan suara melengking pad bodyguard yang berkumpul.


"Siap Tuan" sahut serentak bodyguard.


Bukan hanya sampai di situ, Wiliam juga mencari sampai di rumah mertua.


.


...Rumah keluarga Wijaya...


.


"Ada apa malam-malam begini datang kemari,Wil?" tanya Tuan Wijaya yang terbangun karena kedatangan tamu.


"Apa Melani nginap di sini,Pa?"


Tuan dan Nyonya Wijaya saling bertatap bingung. Semenjak menikah putri mereka sudah jarang pulang untuk menginap. Apalagi Nyonya Wijaya sudah buat peraturan ketat buat putrinya agar tidak pulang tanpa seizin suami atau bersama suaminya.


Kedua orang tua Melani menggeleng kepala bingung.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" tanya ibu suri.


"Bisa kita bahas setelah Melani ditemukan saja kan,Ma,Pa" jawabnya.


"Wil, sudah Papa katakan di awal. Jika kamu tidak bisa mengurus putri kami ,maka pulangkan dia baik-baik pada kami untuk kami ajarkan" mengulang nasehat sewaktu menyerahkan hidup putri tercinta pada orang dalam pengaruh besar.


Tuan Wijaya tau betul bagaimana kehidupan jadi orang terkenal. Itu bukan hal mudah seperti yang dilihat orang awam, enak diluar belum tentu enak dirasakan.


Keluarga kaya mereka saja kadang sering terjadi skandal palsu orang irih. Bagaimana pula yang tajir melintir seperti menantunya. Hoaks bakal menyerang bertubi-tubi.


Dengan umur putrinya yang belum banyak pengalaman kehidupan dalam dunia papan teratas pria pebisnis, pasti akan termakan hoaks yang beredar. Dan mungkin pula itu bukan hoaks,tapi kenyataan yang sudah dilihat langsung oleh putrinya.


Rasa kantuk pun hilang begitu tau putrinya hilang. Tentu sebagai orang tua, Tuan Wijaya tidak tinggal diam berpangku tangan mendengar kabar.


"Ko,mau kemana?" tanya ibu suri, lihat suaminya berjalan tergesa menuju kamar tidur mereka.


"Ganti baju. Mau ikut cari putri kita" seru Tuan Wijaya.


"Ma, saya duluan ya" pamit Wiliam.


.


Tuan Wijaya pergi mencari putrinya didampingi supir mereka.


Tiap kemungkinan tempat tujuan yang dikunjungi putrinya, pasti disinggahi sang Papa.


Di usia paruh bayanya, Tuan Wijaya masih gesit dalam ambil keputusan penting. Siapa yang paling tau dengan sifat putrinya itu selain Papa tercinta.


Meski biasa tidak manja, tapi sekali manja putrinya itu bisa membicarakan segala sesuatunya dengan Papa.


"Melan, kamu dimana Nak?" mengirim pesan chat.

__ADS_1


Pesan sudah terkirim,namun tanda centang masih terpending.


Telah 2 jam pencarian mengelilingi kota sebesar itu. Angin yang kurang bersahabat pun menghambat pencarian mereka malam itu.


Badai hujan ditengah malam menghentikan pencari pihak sang suami dan Papa, dengan rasa panik yang hanya bisa diartikan mereka berdua saja.


"Kita pulang saja dulu" ucap Tuan Wijaya pada supir yang terlihat lelah mengemudi tengah malam.


"Baik Tuan" jawab supir melambatkan laju di jalanan licin.


"Halo Wiliam. Kamu sudah menemukan Melani?" tanya Tuan Wijaya, sambil pandangan melihat luar kaca mobil teraliri derasnya hujan.


"Belum,Pa" jawabnya keluar dari hotel mewah.


"Segera kabari kami begitu dapat kabar" ucap Tuan Wijaya.


"Baik" menutup ponselnya.


Bukan hanya Tuan Wijaya yang menelpon, tapi Ronald yang sudah membawa pulang keponakan sampai rumah juga bertanya keadaan sang mantan.


"Saya akan ikut cari lagi,Ko" ucap Ronald menahan perasaan cemas.


"Tidak usah. Kamu cukup kontrol keadaan di rumah saja" mengusap kasar wajah lelahnya berputar mencari.


Gemuruh berdentum keras dan saling sahut menyahut. Mengingat dalam keadaan badai besar begini akan ada pemadaman listrik, Wiliam semakin mengerahkan pencarian disetiap hotel, stasiun, pelabuhan dan juga bandara.


"Bagaimana pun juga, kalian tidak boleh kembali sebelum menemukan hasil" hardik Wiliam pada ketua tim bodyguard.


"Siap Tuan"


Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Pencarian juga belum menemukan hasil, meski hujan sudah berhenti total.


Bodyguard yang basah kuyup dalam guyuran hujan tadi juga tidak berani berhenti mencari. Dalam pakaian basah, mereka tetap mengutamakan kinerja.(Sebenarnya bukan hanya kinerja,tapi ada kaitan dengan kebutuhan hidup mereka).


"Bos, kita ngopi bentar biar melek mata ini" ucap bodyguard pada ketua bodyguard.


"Oke" bertahan dalam dingin baju basah kuyup.


Secangkir kopi memelekkan mata mereka yang mulai redup. Habis kopi, pencarian pun dilanjutkan tanpa tunda lebih lama.


.


Mentari mulai terbit malu sehabis dirinya menemani manusia bumi di belahan benua lain yang hendak tidur.


Baju basah yang dikenakan beberapa bodyguard terguyur hujan pun sudah kering lembab.


"Sudah ada kabar bagian sana?" tanya bodyguard kelompok tiga.


"Belum. Semua sudah kami cek,tapi tidak terdaftar nama Nyonya" jawab anggota kelompok itu.


"Kita ketempat lain lagi,tapi kamu tetap di sini pantau keadaan" ketua tim menaruh satu orang untuk berjaga.


"Siap ketua" jawab anggota yang menetap.


Wajah kisut lesuh capek Wiliam semakin menakutkan. Bahkan supir yang ingin memberi saran istirahat sejenak, tidak berani buka mulut.

__ADS_1


"Melani dimana kamu sekarang.Jika kamu pulang sekarang akan saya ampuni, atau pilihan kedua tetap bersembunyi,dan begitu saya temukan kamu tidak akan selamat" marah Wiliam mencengkeram erat sudut jok.


Matahari menyinari lebih terang dari sebelumnya. Cahaya terang itu menembus masuk jendela kamar penginapan tempat Melani bersembunyi.


"Josh sudah sehat belum,ya?. Tapi untuk apa aku peduli. Toh ada Bapaknya yang jaga" gusar Melani sehabis bangun tidur.


Habis mandi Melani pun check out dari penginapan, tanpa lihat ponsel hidup atau mati.


"Sarapan di luar sajalah" melangkah keluar dari penginapan kecil.


Tidak jauh dari penginapan, jejeran warung penjual sarapan pagi sedang menjajakan menu sarapan mereka. Ada yang jual lontong sayur, nasi lemak,nasi campur,bubur ayam, bihun goreng,pulut pake pisang goreng, ifumi, dan masih banyak lagi.


Melani terbiasa hidup sehat itu pun memilih sarapan kue bugis dan kue dadar dengan segelas teh manis hangat.


"Hai cantik, godain kita dong" sekelompok buaya darat muda mendekati Melani yang duduk di pojokan warung.


"Jaga sikap kalian" tegas Melani.


"Jangan galak-galak dong cantik. Nanti cantiknya hilang loh" goda salah seorang kelompotan.


"Dia mana mau sama kau. Aku baru levelnya" sambung seseorang kelompok mereka,sambil main mata ke Melani.


"Cukup-cukup. Gue ketuanya, jadi lebih cocok ke gue" menarik kerah baju belakang anggotanya yang menakuti korban.


"Asiap bos. Silahkan ambil duluan" sahut anggota.


"Pergi atau kalian akan berurusan sama polisi" mengambil ponsel.


Dalam keadaan begini,mengapa tidak seorang datang untuk menolong dirinya. Bahkan pemilik warung dan pengunjung lain tetap duduk tidak berkutik.


Gimana mau berkutik, sekelompok kucing garong itu merupakan preman yang berkuasa. Latar belakang mereka juga tidak sembarangan,tapi karena pengaruh pergaulan mereka semua jadi rusak.


"Kamu mau jual mahal ya. Gue tambah suka dengan gaya kamu ini" ketua kelompok menoel dagu Melani.


Hahaha.... Anggota lain tertawa terbahak-bahak, lihat ketua mereka sudah tidak tahan untuk menerkam mangsa dalam waktu singkat.


Tingkah ketua yang menunjukkan senjata dalam celana segitiga sudah bangkit, semakin membuat anggota lainnya membantu ngepung mangsa pagi mereka.


Melani semakin takut dan berteriak-teriak menahan sampai berhasil menghubungi orang, sedapat jempol menghubungi orang dalam kontak nomor telepon.


Tutt...Tutt....


Melani tidak tau siapa yang sedang dihubungi dirinya. Tapi dia terus berteriak minta tolong, berharap siapapun yang jawab panggilan darinya segera menyelamatkannya.


.


Kira-kira jempol Melani menekan nomor ponsel siapa ya guys🤔.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2