Change Destiny

Change Destiny
102 Gagal membidik


__ADS_3

Bab 102


.


Sudah hutang budi, sekarang harus utang pinjam baju. Tidak.... Tidak.... Cukup sudah hutang bertumpuk dan sesakkan pikiran.


Diambilnya ponsel lalu mengetik kata yang ingin ia ucapkan.


"Aku mau pulang saja ke rumah Papa" Melani menunjukkan kata dalam ponsel.


"Pulang dalam keadaan begini!. Tidak mungkin!" bentak Wiliam, menyudutkan Melani sampai terduduk di sofa.


Melani mengetik lebih cepat membalas ucapan suami. "Aku janji tidak kabur" menyerahkan balasan habis diketik dan angguk kepala.


"Hengg...!. Kamu pikir saya, Josh. Yang bisa kamu bohongi dengan mudah" mendekatkan wajah marah.


"No..." melambaikan tangan silang, dengan suara parau serak.


Cupp... Wiliam langsung mencium bibir bercuap tanpa suara.


Tidak peduli keadaan istri yang sedang terluka,dia melahap rakus bibir yang selalu membuat dirinya marah, khawatir, cemburu dan tergoda.


Satu tangan menekan tengkuk Melani yang terus mendorong tubuh kekarnya. Satunya lagi menjalar kebagian lain.


"Karena kamu tidak bisa nurut, dan sulit membuat kamu jatuh cinta sama saya.Maka kita selesaikan secara dewasa" ucap batin Wiliam,terus memberi serangan ciuman mengganas.


Senjata Kramat yang tersembunyi dalam segitiga pengaman menysignalir pikiran pemilik tubuh. Sudah waktunya dia bangun untuk menjalankan misi pemilik tubuh.


Tangan Wiliam sudah menguasai tubuh Melani yang sudah terlucuti tanpa sehelai benang menempel.


Tetap dalam posisi memberi serangan dalam rongga mulut Melani. Wiliam melepaskan satu persatu kancing kemeja dan celana,lalu melemparnya entah kemana dengan pakaian Melani.


Hanya tertinggal celana segitiga pengaman yang masih menahan senjata kramat yang sudah terisi amunisi.


Wiliam pun berpindah menyerang bagian tubuh polos plontos istrinya, yang ternyata jauh menggoda dari pikiran dan sekilas lihat tempo hari.


Arrggg.....


Melani mengerang menolak persetubuhan.Kaki dan tangan sudah terkunci tubuh sang suami yang bergejolak.


"Jika kamu nurut,saya akan lembut. Atau pilihan kedua" meninggalkan jejak ****** dileher mulus istrinya.


Wiliam juga meninggalkan jejak telapak tangan dibagian 2 gundukan bakpao putih legit empuk,bertoping biji coklat muda.


Argghhh...


Erangan Melani yang parau serak kian menggoda hasrat Wiliam.


Rasanya, Wiliam ingin sekali melaksanakan kewajiban tertunda selama berbulan-bulan pada tubuh putih mulus kecil itu.


Senjata kramat sengaja dibuat Wiliam tersumbat penasaran dalam sarung yang tidak memberi ruang lingkup leluasa, saat mengetuk pintu sarang baru milik istrinya.


Terasa ada cairan hangat mulai merembes di celana segitiga pengaman itu.


Mata Wiliam melihat cairan apa itu?. "Ahh... Sial...!" Wiliam langsung ilfeel lihat cairan itu telah mengotori celana segitiganya, terutama telah menggagalkan kewajiban seorang suami.


Hiks... Hikss..


Suara parau Melani mengisak tangis antara semua rasa berkecambuk dalam hati.

__ADS_1


Malu, iya. Karena tubuhnya telah terpampang jelas dengan pencahayaan yang terang. Tidak ada sehelai bulu halus tertutup dengan pencahayaan itu, terutama bagian intim yang ditumbuhi rambut halus.


Marah,itu lebih iya. Karena tanpa seizin darinya, Wiliam berani melucuti pakaian dan hampir saja hal yang tidak diharapkan terjadi.


Lega, akhirnya iya juga. Karena detik-detik terakhir ada penyelamat yang berhasil menghentikan perbuatan terlarang sang suami.


Cairan itu kian mengalir deras di hari pertama muncul. Segera Melani berlari tanpa busana ke kamar mandi untuk membersihkannya.


Gundukan depan dan belakang yang dibawa pemilik memang indah memukau. Namun sudah terhambat oleh tamu tidak di undang Wiliam.


"Saya juga harus segera membersihkannya" menyusul istrinya masuk kamar mandi yang sering mereka pakai saat di mansion.


Melani memakai handuk ketika keluar kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya, namun hanya tertutup seperempat bagian saja.


"Pakai ini" menyerahkan beberapa sapu tangan yang telah diberi tisu, dalam gulungannya.


Terbiasa mengatasi hal bulanan dengan pembalut, sulit bagi Melani mengerti maksud baik suaminya itu.


"No" jawabnya dengan suara parau.


"Ya sudah kalau nggak mau" Wiliam nunjuk cairan yang mengalir diantara kedua paha putih mulus.


Direbut langsung gulungan sapu tangan dan masuk kembali ke kamar mandi.


Entah gimana cara memakai benda dalam pegangan.


Sementara di luar kamar mandi, Wiliam sedang menunggu seseorang orang datang dengan bawaan atas permintaannya.


Ting tong.....


Wiliam memakai kaos dan celana pinggang karet tanpa pakai celana segitiga,yang mengarungi senjata kramat yang sudah tidur.


"Terima kasih Tuan" ucap kurir pengantar paket.


Pintu di tutup dan segera bawa masuk perlengkapan dalam kamar tidurnya.


"Mel, ini" ucap Wiliam berdiri disamping pintu kamar mandi.


Melani sedikit membuka pintu kamar mandi,dan lihat bawaan sang suami.


"Cepat dipakai" titahnya, menyerahkan perlengkapan.


Tidak menunggu lama lagi, Wiliam memakai kamar mandi luar membersihkan tubuhnya sebelum ke kantor.


Meski jam kantor sudah berjalan beberapa jam lalu,dan tepatnya akan memasuki jam makan siang, Wiliam tetap masuk jika masalah pribadi sudah teratasi.


"Mel,saya nanti akan ke kantor. Kamu tetap di rumah dan jangan kabur" ucap Wiliam berpakaian rapi.


Melani ngangguk dan nunduk pegang lengannya yang perih nyeri.


"Tangan kamu sakit?" tanya dingin dan diangguk.


Wiliam berjalan dekat memeriksa perban yang basah lembab.


"Kamu ini. Sudah tau ada luka, masih saja kamu siram air" melepaskan pelan plaster untuk ganti perban.


(Kayaknya big bos akan telat masuk kantor kalau urus bininya melulu 🤣🤣)


Usai mengganti perban baru, jam pun sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Tepat untuk makan siang sebelum masuk kantor.

__ADS_1


"Karena kamu,saya jadi telat ke kantor. Sudahlah. Sekarang kamu temani saya makan siang di luar" ketusnya, menyimpan obat dalam plastik kembali.


Sudah waktu makan obat juga buat Melani, dirinya pun nuruti ajakan makan siang suami mesum.


Di restoran biasa mereka memesan makan. Tampak wajah tampan dan cantik mereka yang kembali jadi famous.


"Nanti kamu cepat makannya kalau tidak mau dibidik paparazi" ucap Wiliam menunjuk letak paparazi dan orang biasa sedang memotret mereka.


Begitu makanan datang, mereka langsung makan tanpa banyak bicara.


Beberapa menit kemudian...


"Sudah?" tanya Wiliam dan diangguk Melani yang minum.


Tangan Wiliam memanggil pelayan dan membayar tagihan mereka. Lalu keluar dari restoran secepat mungkin.


Tangan kekar itu merangkul pundak Melani, dan membiarkan istrinya berjalan nunduk tanpa hambatan.


Hufff.... Akhirnya mereka bebas dari incaran biang gosip publik.


"Kamu tau nggak. Kalau begini terus,akan ada gosip skandal antara kita. Terutama kamu. Siap-siap dapat gosip jadi simpanan saya" ucap sinis pelan Wiliam, dengan bibir menyeringai.


"No" jawab suara parau, mengetik kata.


"Aku tidak mau dibilang simpanan Om Om" tunjukkan isi ketikkan.


"Oh ya. Kalau begitu, kamu mau disebut Nyonya Lee" bisik goda Wiliam, meniup daun telinga istri.


"Nggak juga" tunjukkan isi ketikkan.


Tapi tangan Wiliam mulai berjalan mengabsen kulit mulus istrinya, yang sempat ia rasakan tadi. Hanya tinggal mengulang kembali di waktu tepat saja.


Tubuh Melani merespon sentuhan dari suaminya. Dengan kesadaran penuh dia mendorong tubuh suaminya yang penuh aura mesum, sampai kepentok pintu mobil disamping Wiliam.


"Melani kamu sudah berani mendorong saya?" menekan setiap perkataan.


Mata Melani tidak berani balas tatapan yang menghujat dirinya.


"Pak, kita ke rumah jalan K" tegas Wiliam, membiarkan istri duduk jauh beberapa centimeter.


"Baik Tuan" jawab supir juga tertekan dengan pandangan mata menakutkan.


Sesampai di mansion, Wiliam memberi hukuman pada istri yang berposisi tidak untung.


Wiliam kembali menghukum Melani dengan ciuman lebih ganas, meski senjata juga harus terpancing.


Beberapa menit kemudian..


Nafas keduanya jadi tersenggal putus-putus. Wiliam segera ambil oksigen cukup dan kembali menyerang Melani yang sedang ambil oksigen.


Senjata yang sudah sesak juga sudah minta untuk membidik sasaran.Namun Wiliam hanya bisa menggesek di luar penghalang tubuh mereka berpakaian tebal.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2