Change Destiny

Change Destiny
157 Kita pacaran


__ADS_3

Bab 157


.


Wiliam sengaja membuat simulasi jalur pencarian Melani mengarah keluar rumah, untuk mengalihkan Melani yang akan masuk ke dalam kamar Josh.


"Sekarang sudah aman" ucap Wiliam memberi aba-aba.


Melani berlari cepat menuju kamar Josh. Sesampainya,dia langsung mengambil set pakaian lengkap luar sampai dalam.


"Tau malu begini, semalam aku tidak usah keluar" gerutu Melani berlaga waktu memakai lengkap pakaiannya.


5 menit kemudian, Melani pura-pura muncul dari ruang kerja pemilik rumah.Itu pun atas usul suaminya yang ngaco,minta Melani berpakaian joging.


Drama ngawur pun dimulai, dengan Wiliam yang berhasil menemukan istrinya.


"Berhenti pencarian kalian" ucap Wiliam pura-pura tegas, menghentikan kehebohan pagi hari.


"Tapi Mami belum ketemu, Dad" ujar Josh bertampang sedih dan cemas.


"Sekarang dia ada di kamar kamu" jawab Wiliam nunjuk kamar Josh.


Benar atau tidak, Josh berlari cepat untuk periksa kebenaran.


Cekrekkk...


Josh langsung mendekat, dan meluk punggung Melani yang kaget walau sudah bersiap siaga.


"Josh" panggil Melani mengelus dada dan tangan Josh.


"Mami dari mana?" semakin erat memeluk.


"Habis lihat ruang kerja Daddy-mu" dalih Melani, menarik Josh ke depan.


"Kok tidak kasih tau Josh"


"Kan mau jadi detektif" mengusap lembut wajah anak sambungnya.


"Lain kali, Mami ajak Josh ya" mendekap dalam pelukan ibu cantik yang ngangguk.


"Sekarang kita sarapan,terus ke sekolah" ucap Melani menggandeng tangan Josh keluar kamar sebelum terlambat sekolah.


Keduanya berjalan bergandengan tangan ke ruang makan dengan wajah senang tanpa beban.


Ronald pun hanya bisa ikut senang, dengan Melani telah kembali berkumpul di tengah mereka.


Sarapan mereka sangat singkat, karena telah terbuang waktu saat mencari orang hilang.


"Kamu belajar yang rajin ya" nasehat Melani merapikan seragam sekolah Josh.


"Siap, Mami" sahutnya semangat.


Saat ingin mencium wajah ibu cantik, terlihat bekas gigitan serangga di leher samping.


"Mami,ini kenapa ?" Josh tidak segan menunjuk bekas yang terlihat olehnya.


"Mana?" Melani meraba tempat yang di tunjuk.


"Ada apa ?" tanya Wiliam lihat kedua bocah sibuk akan sesuatu.


"Coba Daddy lihat leher Mami.Di leher Mami ada bekas ngengat serangga" Josh narik bapaknya lihat bekas.


Malu banget untuk mengatakan bekas samar di leher istrinya adalah bekas jejak yang ia tinggalkan beberapa jam lalu. Dan untuk mengalihkan pikiran anak yang masih polos, Wiliam pun segera menarik Josh masuk mobil.


"Bekas apa sih.Tidak ada bendol atau gatal" gumam Melani sambil ngantar suami dan anak pergi.


Karena penasaran bekas apa yang dimaksud, dan tidak dikasih tau pula sama Wiliam, dirinya naik ke lantai atas mencari cermin yang bisa menunjukkan apa yang terjadi.


Terpampang samar-samar bekas di lehernya,dia pun jadi malu berat akan bekas gigitan suaminya.


"Ini salah tuh orang.Senang sekali kalau buat aku malu" omelnya ambil foundation nyamarkan bekas, agar tidak jadi bahan olokan orang yang sudah paham.


.


Siangnya mereka kembali duduk berkumpul,dan tentunya mulut jujur Josh sudah dibungkam terlebih dahulu sama bapaknya, untuk tidak mengungkit saat bersama lainnya.


Tapi yang namanya anak-anak, meski mulut tertutup namun pandangan terus terusik ke tempat ia menemukan bekas.


"Cepat habiskan makanan kamu,dan lanjut belajar" hardik Wiliam, takut malu hasil perbuatannya diketahui sang adik.


"Iya Dad" mata kembali lihat piring isi makanan.


Yang tegang dalam ruang makan itu hanya terdakwa dan korban kejadian. Semampunya mereka tidak terlalu tidak tegang, agar tidak ada orang baru tau akan bekas abstrak.


"Aku sudah selesai" ucap Melani membalik sendok dan garpu.


"Mmm" dehem Wiliam ngangguk tidak berani terang-terangan melihat istrinya.


"Josh juga" sambung ingin ikut induk ayam.


"Ingat belajar" jawab tegas Wiliam.


"Ko,Mel... Maksud saya Aso, kenapa canggung begitu?" tanya Ronald curiga akan sikap kaku Melani.


"Mana tau.Mungkin nyesal sudah buat kepanikan tadi pagi" dalihnya.


"Oh iya. Bibi sudah lama tidak pulang, apa perlu memintanya kemari.Lagian Aso pasti kesepian saat semua pergi" ucap Ronald.


"Tidak usah.Biar bibi refreshing lebih lama" jawab dingin, teringat rancauan Ronald kemarin malam.


Terasa ada tiupan udara dingin di bawah suhu rata-rata, Ronald menutup mulut dengan pencuci mulut.


Dalam kamar, Josh kembali memeriksa leher ibu cantik. Bekas yang tadi pagi ia lihat telah menghilangkan dengan cepat.


"Mami sudah sembuh?" tanya polos Josh.


"Su-sudah dong.Kan tadi taruh salep,terus tidur" dalih Melani dengan wajah tegang.


"Oh begitu.Nanti kita beli lotion anti serangga ,terus kita pakai sebelum tidur ya,Mi" ujarnya memberi saran seperti orang dewasa.


"I-iya" cengengesan tegang malu.

__ADS_1


Josh pun kembali fokus dengan dunia sekolah, agar bisa ikut bergabung membantu pekerjaan online ibu cantik.


Orderan customer hari ini jauh lebih banyak dari kemarin. Kebanyakan orderan akan kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan bayi.


"Mami, kalau Josh punya adek, Josh mau kasih adek main ini" ucap ceplos polos Josh, menunjuk layar monitor laptopnya berisi aneka mainan anak seusianya.


Melani terdiam tertegun. Andai kejadian itu tidak terjadi padanya, mungkin hitungan minggu akan bertambah anggota keluarga kecil mereka.


"Mami kok sedih?" tanya Josh, mengelus wajah mewek ibunya.


"Tidak apa-apa" menggeleng kepala dan peluk Josh.


Jari-jari kecil itu mengusap punggung yang sesenggukan tanpa suara keluar.


"Don't cry, Mi" bujuk Josh ikut sedih.


"Mmmm" dehemnya ngangguk.


Mereka pun merebahkan tubuh di atas lantai berkarpet empuk, selama beberapa menit. Menetralkan perasaan sedih pengacau konsentrasi kerja mereka.


"Sekarang kerja lagi" Melani bangkit dari rebahan setelah emosi sedih terkontrol.


"Yeahhh" Josh ikut bersemangat dengan suara orang tersayang.


.


Beberapa hari kemudian setelah Ronald kembali bertugas di benua Amerika. Keluarga kecil itu pun kembali dengan peraturan yang sempat diterapkan.


Pagi adalah waktunya Josh berkuasa,siang milik pemilik rumah, dan malam adalah milik Melani.


Malam itu, Melani duduk tidak bersemangat untuk habiskan makanan. Kesempatan untuk mengucapkan keinginan juga terlewati.


"Kamu sakit?" tanya Wiliam langsung ukur suhu tubuh dengan punggung tangannya.


"Tidak" jawab malas Melani, habis keinginan yang mau diminta.


"Terus kenapa tidak selera, hmmm"


"Enggak apa-apa"


"Josh tau" celetuk Josh.


"Apa?"


"Pasti Mami mau nginap di rumah Grandpa" ikut menyampaikan aspirasi ibu cantik.


"Kalau kalian nginap, tidak boleh" langsung menolak permintaan itu.


Josh ikut-ikutan murung tidak diperbolehkan nginap 1 malam saja.


"Cukup!. Kalian ini sudah di kasih hati minta jantung.Habis itu mau apa lagi,hnngg!. Nyawa!!" ujar Wiliam dengan suara tinggi penuh peringatan keras.


"Tidak" serentak menjawab dengan kepala nunduk.


"Cepat habiskan dan kembali ke kamar kalian" hardik Wiliam tersulut emosi.


Ibu dan anak cepat habiskan makanan mereka, dan meninggalkan pemilik rumah yang berwajah masam.


"Tenang saja, Mi. Kalau kita tidak bisa nginap rumah Grandpa,kita minta saja Grandpa dan Grandma nginap di sini" saran Josh.


"Terus....Mami mau apa?" menyangga dagu.


"Mami mau,....mau...." tidak mungkin katakan keinginan pada anak kecil.


"Mami mau jalan-jalan keluar?"


Ya sudahlah dari pada susah jelaskan, lebih baik 'Iya kan' kan lumayan buang stres seharian terkukung dalam sangkar emas.


Begitu di 'Iya kan' Josh segera sampaikan keinginan mereka, sebelum terpisah oleh pintu mimpi yang menghalangi jarak antara mereka.


"Mami mau holiday, Dad" ucap Josh.


"Ok,hari sabtu ini kita akan weekend di villa" jawab Wiliam menutup buku.


"Thanks, Dad" Josh pun keluar dari ruang kerja.


"Hengg!,mau keluar jalan-jalan saja sampai buat wajah cemberut" cibir Wiliam berdiri,ambil buku lainnya di rak.


.


Hampir jam 11 malam, Melani keluar untuk mencari udara segar di samping rumah mewah.


"Wahai bintang,kapan aku bisa kembali seperti dulu lagi?.Jadi wanita karir yang sukses dan terkenal" tanyanya pada bintang kecil yang kelap kelip di langit malam.


Matanya ngikutin arah bintang yang bergerak berkumpul membentuk suatu bentuk asimetris.


"Sungguh enak kalian bisa berkumpul bebas. Punya teman dan keluarga" merasa dirinya telah menyia-nyiakan masa muda yang lalu.


Suasana hati Melani kian hanyut dengan formasi bintang membentuk zodiak, yang tidak ia terlalu hafal.


Dari dalam rumah, pemilik rumah yang keluar dari ruang kerjanya, melihat lampu lantai bawah terang menderang.Yang berarti ada makhluk lain ada di bawah.


"Tidak mungkin pelayan,ini pasti Melani" ucapnya menuruni tangga,cek keadaan.


Pintu yang sengaja tidak di tutup rapat oleh Melani, membuat Wiliam kebakaran jenggot.Was-was istrinya berhasil kabur dengan mulus tanpa diketahui security.


"Awas saja kalau Melani berhasil kabur, mereka semua akan saya pecat" gerutunya cepat keluar untuk cek.


Suaranya yang menggema di malam hari memanggil para security berjaga malam, mengagetkan Melani yang duduk menopang dagu lihat bintang-bintang bertaburan gembira.


"Ada apa ya?" gumam Melani menepuk bokong kotor dengan debu.


Terdengar makian suara tinggi pemilik rumah pada barisan sejajar security.


Salah seorang security menunjuk pendek arah Melani yang menghampiri kumpulan pria.


"Apa tunjuk-tunjuk!. Kalian akan saya pecat jika tidak berhasil menemukan dia" bentak Wiliam penuh amarah, sambil nunjuk satu persatu security bertampang tidak berdosa.


"Siapa yang hilang,ko?" tanya Melani ikut penasaran,wajah polos tidak merasa melakukan kesalahan fatal.


"Melani!" mata Wiliam membulat besar. "Bubar kalian sekarang" memberi perintah baru.

__ADS_1


"Kok malam-malam marah security?" tanya Melani nunjuk security bubar barisan.


"Kamu dari mana,hmm?" balik tanya tanpa jawab.


"Dari samping. Koko belum jawab pertanyaanku,loh" jawabnya.


"Malam-malam begini keluar?. Kalau sakit nanti Papa Mama kamu hanya salahkan saya" terus bertanya tanpa ingin menjawab.


"Jangan kasih tau" jawab Melani ingin kembali tenangkan hati.


"Mau kemana lagi,hmm?" menarik tangan yang akan hilang lagi.


"Pergi hitung dosa" asal jawab, karena tiap di tanya tidak dijawab juga.


"Kamu ngambek karena tidak saya jawab?"


"Idihh... Siapa pula ngambek.Aku marah, karena Koko nggak jawab" sahut Melani bergedik bahu.


"Baguslah kalau hanya marah.Sekarang masuk" bersikap dingin.


"Sebentar lagi" tolak Melani menahan tarikan.


"Now!!" tegas Wiliam bersuara nyaring tertahan, dan mata melotot keluar.


"Ok,ok" nurut ketakutan.


"Seram banget.Mungkin begini kalau lihat hantu" celoteh sindir pikiran Melani.


Mereka masuk,tapi Melani masih nunggu setia Wiliam mengunci pintu.


"Apa lagi?" ketus Wiliam.


"Boleh kita bicara sebentar"


"Bukannya dari tadi sudah bicara" menaiki tangga.


"Iya.Tapi ada yang lainnya juga" ikut naik dari belakang.


"Apa?" berhenti menapak lanjut.


"Aku....Aku....." ragu untuk menyampaikan pertanyaan.


"Aku apa?. Mau bilang liburan ke luar negeri?.Ok,fine" tanya dan jawab sendiri.


"Bukan" memainkan jari telunjuk yang menggulung.


"Terus apa?" lanjut naik di anak tangga teratas.


Sulit bagi Melani mengeluarkan isi hati yang tergolong aneh untuknya, dan mungkin akan jadi bahan olokan Wiliam.


Setelah pertimbangan yang cukup masak beberapa hari lalu, dan meyakinkan untuk bertanya. Melani coba terima jawaban sepahit apa pun dari mulut pria di depannya.


"Aku mau kita pacaran" seraya Melani ketika Wiliam membuka pintu kamar utama, lalu membelakangi Wiliam.


Deg....Deg...


Jantung Wiliam berdegup kencang, nafasnya terhenti seiring tubuh yang mematung.


"Melani mengatakan hal yang seharusnya saya ucapkan" keluh batin Wiliam bimbang untuk menjawab.


"Aku tau,aku bukan tipe Koko. Tapi,aku juga tidak yakin dengan keputusan ini" oceh pelan Melani tidak berani berbalik.


"Kamu adalah istri saya. Seutuhnya milik saya" Wiliam memeluk Melani dari belakang.


Jlebb...


Giliran Melani kaku tegang dibuat Wiliam membalas pertanyaan darinya.


"Kamu wanita yang telah berhasil membuat saya gila sesaat. Wanita yang mampu buat saya bahagia. Wanita yang berhak jadi Mami dari anak-anak saya nanti. You are my beloved woman" menyuarakan isi hati yang telah terpancing keluar.


Hiksss.... Hiksss....


Melani menangis dengar jawaban manis mulut suaminya. Tidak disangka, dia mendapat balasan setimpal atas pertanyaan yang memalukan itu.


"Mulai sekarang kita tidur bersama lagi ya" ucap Wiliam, mengusap aliran air mata.


"Tidak bisa" jawab sesenggukan Melani.


"Kenapa?" terlihat kecewa.


"Nanti Josh susah cari aku" memeluk tubuh kekar.


"Josh lagi,Josh lagi" keluh Wiliam tidak terima untuk diduakan.


Melani tersenyum tipis dalam sedih, dan dalam dekapan suaminya.


"Kamu senang,hmm?" tanya sinis, tapi bibir semeringah.


"Enggak" dalih Melani mendorong lepas pelukan mereka.


"Enggak?" melotot lebar.


"Sudah malam,Mel harus tidur" dalih Melani dengan suara manja.


"Iya.Tidur dan mimpikan kekasih kamu ini saja" ucap Wiliam beri kecupan selamat tidur. "Awas juga kalau muncul pria lain dalam mimpi" tidak lupa memberi ultimatum tegas.


"Iya" tersipu malu untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka.


Wiliam mengantar kekasih hatinya sampai depan pintu kamar rival, yang akan segera terjauhkan dalam malam-malam mereka di hari berikutnya.


"Bye ko" Melani melambaikan tangan perpisahan karena pintu kamar.


"Cepat tidur dan jangan nakal" ikut melambaikan tangan.


Pintu tertutup rapat,dan Wiliam wajib kembali ke kamar-nya membawa perasaan berbunga-bunga.


.


......................


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2