
Bab 42
.
Sebuah kecupan kecil di kedua belah pipi ibu suri oleh cucu sambung, sudah amat menenang pikiran.
"Grandma mau Josh suapin makan?" kepo bocah berlagat lebih orang dewasa.
"Nggak" ibu suri geleng kepala.
Andai saja kondisinya sekarang prima, pasti si Josh dapat perlakukan teristimewa dari Nyonya rumah.
"Kalian ajak Josh makan. Jangan sampai dingin masakan di meja" titah Tuan Wijaya pada Mama Papa muda,mendorong Melani keluar.
"Mel, minta Mbok ambilkan makanan buat Papa dan Mama ke kamar, ya" saran Melani dan di angguk terima si Papa.
Melani berjalan keluar dengan lamunan sendiri merutuk dan mata berkaca.
"Mommy. Mommy mau bawa makanan untuk Grandma Grandpa, ya?" tanya bocah, sejak kapan sudah megang tangan ibu sambung.
"Eh, emmm.... " linglung Melani respon dengan semua perubahan spontanitas pada dirinya.
"Iya.Mommy memang mau bawa makanan ke kamar Grandpa. Tapi kamu juga mesti makan, biar Grandma gak cemas" jawab Wiliam wakilin Melani linglung.
"Oke, siap Dad " angguk dan acungin jempol.
Di ruang makan, setelah Melani memisahkan makanan untuk orang tuanya. Dia duduk menemani dua orang tamu keluarga,sambil aduk nasi putih tanpa lauk pauk atau sayur mayur.
"Kamu gak makan?" menatap wanita di depan.
"Mommy, gak makan?" Josh ikut nanya, kepala noleh ke samping.
"Oo. Apa?" Melani binggung dan balik natap tamu.
"Meski dipandang seabad, nasinya tidak bisa berubah jadi emas" wajah dingin jutek Wiliam lanjut makan.
"Emangnya aku om jin" celetuk Melani mengambil sayur.
"Mana tau" cibik Wiliam memandang sejajar.
Josh memandang Melani dan Wiliam bergantian. Dan tau bedanya antara ada orang tua lengkap dan tidak saat makan.
Walau banyak kicauan ramai saat makan, namun berasa hangat seperti bayangan dalam impian kecilnya.
"Daddy ,kapan ajak Mommy pulang ke rumah kita?" Josh memandang serius.
"Terserah Mommy-mu" jawab dingin, memalingkan wajah.
Baru saja 2 hari status hukum suami istri mereka, tapi seakan telah tahunan penuh dilema serta problema.
"Aku tidak akan pernah mau ke rumah anda,titik" tegas Melani, membuang muka.
"Mommy.... Huhu... " rengek Josh dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Sudah Josh.Sebagai anak laki-laki kamu tidak boleh cengeng" ujar Wiliam.
"Tapi... " memandang pengharapan.
"Ingat ya!!. Dulu tidak ada dia,di rumah tetap ada yang jaga dan urus kamu" tegas Wiliam ambil keputusan.
Muka Josh kian cemberut, menanggapi Daddy-nya begitu galak dan jutek buat ibu barunya pasti takut ikut mereka pulang.
"Pokoknya ,Josh hanya mau pulang kalau Mommy ikut" protesnya merangkul tangan Melani.
"Josh,jangan panggil aunty Mommy ya. Aunty bukan Mommy-mu" risih Melani dari kemarin pakai sebutan lengket.
Huhu.... Huaaa.....( Josh nangis. )
Josh lompat turun dari kursi makan dan lari masuk arah kamar utama untuk melapor.
Bisa tambah kacau jika asma ibu suri kumat. Segera pula Melani lari pelan nyusul bocah kecil, sebelum tangan Josh buka pintu kamar.
"Josh, wait... " ujar Melani, mikir cara untuk cegah kemungkinan buruk.
"Mommy gak mau Josh kan?,Huhuhu" tangis bocah itu.
"Emm... Itu... Bukan begitu maksud aunty. Aunty tidak nyaman kalau kamu panggil Mom-my" kaku Melani sambil nahan tangan bocah buka pintu.
"Jadi... "
"Gimana kalau panggil Mami" Melani coba bersikap baik dan lembut.
Huff....
Bencana mereda untuk sejenak, walau tetap risih dengan sebutan status baru.
Cekrekk....
"Ini ada apa?" tanya Tuan Wijaya keluar kamar.
"Gak ada apa-apa,Pa" Melani cengengesan kaku,tangan coba ngelus kepala bocah.
"Oo..Mel, coba kamu tanya Wiliam ,mau gak malam ini nginap di rumah kita. Soalnya Mama mau tebus makan malam dengan sarapan" Tuan Wijaya sampaikan pesan.
"Haa....Nggak salah Mel dengar?" kaget Melani, korek telinga.
Tuan Wijaya mengangguk, tidak salah dengan pendengaran si putri.
"Pasti dia bakal gak mau, Pa. Lagian kamar tamu belum di rapikan,Mbok" dalih Melani.
"Mami, Daddy pasti mau kok" sambar Josh senang riang bisa nginap bareng.
"Josh,Daddy-mu gak bisa. Karena kamar di sini belum di bersihkan" dalih Melani.
"Kan bisa tidur bertiga. Ya kan Grandpa ?" bocah melihat Tuan Wijaya.
"Benar kata Josh,Mel.Kalian kan bisa tidur bertiga" setuju usul Josh.
__ADS_1
"Gak bisa, Pa. Tempat tidur Mel kan hanya cukup 2 orang" Melani terus cari alasan menolak.
"Ya sudah.Biar Josh tidur sama Mama dan Papa" sambung Nyonya Wijaya yang keluar.
"Mel, saja yang tidur sama Mama Papa, ya. Kan, Mel ingin jadi anak berbakti"
"Tidak usah, saya mesti kembali malam ini ke Amerika" sambung Wiliam dari jarak agak jauh.
"Tapi Mama ingin ngundang kamu sarapan bareng. Apalagi nasi goreng buatan Melani itu sangat lezat loh" ibu suri mempromosikan keahlian tunggal Melani.
"Dad, please. Mau ya" pinta rengek Josh dengan wajah tertampan.
"Oke, fine. Hanya hari ini" Wiliam pasrah, ketimbang bujuk lama anaknya.
"Yeahhh....." sorak gembira Josh lompat mendekap tubuh kekar.
"Nah.Kalau begitu kita semua sepakat, kalau Josh tidur sama kami, dan kalian tidur satu kamar" ucap ibu suri.
"Tidak bisa begini, Ma.Kami belum resmi menikah, yang ada jadi aib" tolaknya pakai sejuta alasan sedapatnya.
Tuan dan Nyonya Wijaya menahan tawa polos dengan pikiran putri mereka. Jika mereka belum menikah sah secara hukum,mungkin tidak mengizinkan tamunya nginap dan tidur sekamar.
"Kamu lupa atau polos sih, Mel" tawa pelan ibu suri.
"Pokoknya Mel gak mau. Mending tidur di kamar Mbok" rajuk Melani melipat tangan dan hentak kaki. Lebih parah dari pada Josh saat merajuk.
"Kenapa?.Kamu takut saya ambil kesempatan,hum?" bisik Wiliam dengan bibir senyum tersungging ke arah orang tua yang dibuat salah faham melulu.
Coba saja keadaan sekarang hanya ada mereka berdua saja. Tentu saja perang dunia sudah terjadi sampai ada yang kalah dan menang.
"Sudah, Mel. Jadi istri itu harus lemah lembut. Sana ajak tidur Wiliam" ibu suri membalik tubuh Melani atas kesalahan pengertian dari arti senyum sang mantu.
"Gak mau, Ma!!" Melani mematungkan kaki.
"Wil, Melani belum ada pengalaman. Jadi harus pelan-pelan dan sabar, ya" ibu suri nasehati mantunya.
"Iya, Ma. Kami titip Josh" sahut Wiliam memperdalam salah arti.
Wiliam lalu merangkul pundak Melani jalan menuju kamar tidur termaksud.
"Jangan pegang-pegang" Melani menghempas rangkulan tangan besar dan kekar.
"Apa kamu mau buat asma Mama-mu kambuh sampai koleps ,hum?.Mending nurut, dan selesaikan nanti" ucap pelan Wiliam ,gandeng tangan Melani.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1