
Bab 169
.
Jujur saja Wiliam sebenarnya merasa bersalah telah membunuh secara tidak langsung tiap benih yang berenang di dalam saluran goa pink.
Untuk menembus rasa bersalah,dia membiarkan Melani mengeluarkan semua rasa kekecewaan terdalam.
Selang beberapa hari, Melani semakin menjauh,jauh dan lebih jauh hingga sulit Wiliam lihat wajah yang kadang seperti anak-anak itu.
"Josh panggil Mami turun gabung kita makan" titahnya duduk menunggu.
"Mami bilang sudah makan,Dad" jawab karena sudah tau apa jawaban ibu cantik.
"Kalau begitu kamu makan sendiri" Wiliam beranjak pergi, selera makannya ikut hilang.
"Ok" jawab Josh yang harus tumbuh mandiri.
Tawa riang rumah itu begitu saja hilang.Hilang bersama Melani yang mengurung diri seharian di kamar Josh.
"Apa keputusan saya salah?.Tapi akan lebih sakit lagi jika calon bayi berikut, akan seperti pertama" keluhanya sambil acak rambut, trauma dengan perginya calon bayi pertama, akibat tidak mengindahkan nasehat dokter.
Tiap hari, suasana rumah mewah yang mulai hangat dengan kehadiran Melani, mulai kembali seperti sediakala. Dimana tidak ada canda, gurau, tawa sampai perdebatan sepele antara 2 orang dewasa dan anak.
Josh sendiri juga tak mampu melukis senyuman di wajah orang terkasih.Yang padahal sebelumnya dapat menghibur hanya dengan hal-hal kecil saja.
.
Hari ini tepat 1 bulan Melani bersembunyi dalam dunianya. Dunia yang hampa tanpa tujuan pasti. Hari ini juga Melani mulai bicara pada Wiliam saat sarapan pagi.
"Aku mau izin pulang" pamitnya dingin dengan wajah tidak ada semangat.
"Ini rumah kamu" jawab Wiliam, memoles roti tawar pakai jem kacang.
"Bukan" duduk dengan malas.
Pranggg...... Wiliam memukul meja makan.Tapi Melani tidak bergeming, hanya Josh yang lompat kecil kaget dari kursinya.
"Apa sih mau kamu sebenarnya,ha!. Kalau mau pulang, pulang saja sana!" amuknya tidak dapat membendung perasaan marah bercampur sedih, hingga mengusir Melani.
"Baik" jawab datar Melani, geser mundur kursi.
"Jika berani maju selangkah lagi, kamu tidak usah pulang sekalian" ancamnya ngamuk.
Langkah kaki Melani berhenti sejenak,lalu melawan perintah sang penguasa.
Saat-saat seperti inilah dirinya butuh teman, tempat yang bisa membersihkan semua sampah dalam lubuk hatinya.
"Pintu rumah ini sudah tertutup untuk kamu" suara Wiliam menggelegar, cangkir gelas yang dipegang erat pun retak.
"Daddy jangan biarkan Mami pergi" rengeknya menggoyang tangan Wiliam.
Tidak ada sahutan apa pun lagi dari Melani, yang telah memunggungi mereka. Hanya suara rengekan mengantar dia keluar dari rumah itu.
Kacau balau keadaan pagi itu, membuat semua orang bingung jalanin hari yang ruwet.
Siang itu juga Wiliam tidak pulang ke rumah seperti biasanya untuk makan siang, bahkan jam pulang kantor Josh duduk sendiri di meja makan.
"Tuan muda makan dulu" bujuk kepala ART, menahan majikan kecil pergi tanpa makan sesuap.
"Nggak Bik.Josh mau Mami pulang" adunya tinggalkan ruang makan.
"Tapi, nanti Daddy tuan bisa marah kalau tidak makan"
"Biar saja" jalan ke atas, tinggalkan kepala ART.
Pusing hadapi masalah begini, kepala ART menelepon penasehat rumah itu.
"Baik.Saya akan kesana esok lusa" jawab orang diseberang.
__ADS_1
"Terima kasih Nyonya" kepala ART menutup percakapan.
2 hari penantian kepala ART tiba juga.
Dengan semua kekacauan yang ada, ibu tua harus memilih masalah mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
"Datang-datang kepala saya mumet" adu ibu tua pada kepala ART, sambil mijit kening dan atur nafas.
"Maaf, sudah ganggu Nyonya" kepala ART menunduk serba salah.
"Tidak apa"
Siang hari saat Josh pulang sekolah, kedatangan ibu tua jadi kejutan baginya. Semua keluhan diadukan secara lengkap pada wanita tua itu.
"Grandma mau ajak Mami pulang kan?" tanyanya penuh harapan.
"Iya.Nanti kita pergi jemput Mami setelah makan" bujuknya.
Josh pun ke lantai atas pergi bersih-bersih sebelum makan. Karena akan pergi menjemput pulang orang terkasih, dia pun memilih pakaian formal.
Style yang diajarkan Melani dipraktekkan juga saat dianggapnya tepat.
Lalu turun untuk makan, sebelum pergi menjemput pulang.
Usai makan,Josh mengingatkan ibu tua untuk segera pergi menjemput.
"Baik,baik" jawab ibu tua tangannya ditarik-tarik Josh tidak sabaran.
.
...Rumah Wijaya...
.
Melani mengurung diri semenjak pulang, tidak makan atau pun minum beberapa hari. Semua uneg-uneg juga tidak tau harus bagaimana dia keluarkan, agar beban jiwa berkurang.
Dalam kamar, Melani sengaja menutup mata dan telinga dengan alat-alat penutup.
Ocehan ibu suri ketika terdengar juga tidak digubris olehnya.
Sepanjang hari begitu, pagi dia akan duduk termenung memeluk lutut sampai malam tiba dia baru tidur.
Sikap ibu suri meski suka ngomelin, tapi sebagai ibu yang mengandung, menyusui sampai tumbuh besar,tentu juga ada kekhawatiran yang tidak ia bisa tanya baik-baik.
Beda dengan Tuan Wijaya yang membiarkan Melani menenangkan diri dengan cara yang dianggap benar.
"Ini karena Koko suka manjakan dia.Jadinya aku susah ngatur" gerutu ibu suri kewalahan hadapi sikap Melani.
Ting tong....
Bel berbunyi, pelayan tua membuka pintu yang ternyata tamu Melani.
"Silahkan masuk" ucap pelayan tua.
"Terima kasih" ibu tua dan Josh masuk.
"Silahkan duduk.Bibik akan panggil Nyonya dulu"
"Iya, makasih ya bik" jawab ibu tua.
"Panggil Mami,bik" rengek Josh.
"Baik" pelayan tua pun memberitahukan nyonya rumah akan kedatangan tamu mereka.
Ibu suri segera hampiri tamu spesial dia, berharap dapat membujuk Melani untuk membuka pintu kamar.
"Bibi besan" sapa ibu suri.
"Ibu besan" balas sapa ibu tua.
__ADS_1
"Grandma... Mami Josh ,mana?" sapa Josh dengan suara sedih menyayat hati.
"Mami kamu ada di kamar, tapi tidak mau keluar" jawab ibu suri, memeluk cucu sambung yang amat sedih.
"Josh boleh jumpa Mami kan, Grandma?" tanyanya,mata berkaca-kaca.
"Boleh, coba sana panggil.Mana tau Mami mau keluar" memberi izin.
Josh pun segera berlari ke arah kamar Melani, tidak terlalu jauh untuk dia jangkau.
Sementara itu, kedua wanita tua berbincang saling memahami kondisi yang dihadapi.
Tidak ada diantara 2 pasangan muda itu dapat disalahkan mereka.
"Maafkan Melani yang langsung pulang,bi besan" ucap ibu suri.
"Bukan salah Melani. Seharusnya Wiliam tidak boleh ngusir istrinya.Justru saya yang harus minta maaf, tidak ada saat Melani butuhkan"
Kedua wanita tua saling minta maaf,dan menyalahkan kepribadian keluarga mereka yang ambil keputusan tanpa pikir dampak kedepannya.
Josh berlari sesenggukan menanggis, hampiri kedua wanita tua yang sedih.
"Ada apa Josh?" tanya ibu suri,memangku Josh.
"Ayo katakan" tambah ibu tua.
"Mami gak jawab Josh" jawabnya sesenggukan.
"Nanti Grandma marah Mami,hmm" bujuknya mengusap air mata.
"Jangan ibu besan. Mungkin Melani butuh waktu untuk tenangkan diri"
"Tapi tidak boleh begitu.Bagaimana pun juga Josh tidak bersalah" ibu suri tidak membenarkan sikap Melani yang mengacuhkan semua orang tidak bersalah.
"Josh nginap disini aja, Grandma" pintanya pada ibu tua, tidak ingin terpisahkan.
"Tentu boleh" jawab ibu suri duluan kasih nginap di rumah mereka.
"Tapi dia akan menggangu" tidak enak ibu tua membiarkan Josh nginap.
"Tidak.Josh tidak akan ganggu Mami" jawabnya meyakinkan ibu tua.
Josh memang berbeda dengan anak pada umumnya. Dia bisa membedakan waktu serius atau bercanda.
Ibu tua pun menitipkan cucu ponakan pada ibu suri, setelah menelepon ART rumah Wiliam mengemas pakaian sekolah,buku pelajaran,dan baju ganti ke koper.
"Nanti kamu tidur di kamar uncle Agung saja" ucap ibu suri, sudah lupa ada seseorang yang harus dia jaga.
"Jadi kapan Josh bisa tidur sama Mami?" wajah tampan gemes itu mengkerut sedih.
"Tunggu Mami buka pintu" membawa barang bawaan Josh ke kamar Agung.
.
Malam hari seperti yang dikatakan kepala ART, Wiliam tidak kunjung pulang untuk makan malam, atau melihat kondisi Josh.
"Benar-benar hancur" ibu tua bergeleng kepala, lihat banyak makanan lezat tersia-siakan.
Satu keputusan diambil ibu tua.Dia memutuskan untuk membuat skenario perpisahan, agar dapat memastikan pernikahan itu masih dapat dipertahankan atau tidak?.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1