Change Destiny

Change Destiny
Bab 18 Rancangan konsep


__ADS_3

Bab 18.


.


Ronald mengajak Melani ngobrol, tapi jawaban Melani terlalu kaku dan singkat, cuma iya dan tidak. Tidak bisa sepanjang dan semenarik antara ngomong bareng ponakan itu.


"Aunty, kapan-kapan kita main game bareng yuk?" ajak bocah mengerjapkan matanya.


"Emm.... "


"Please, mau ya. Kita main game playstation di rumah. Habis uncle selalu kalah"


Melani tersenyum lucu, dengar bocah ajak main karena lawan main selalu kalah.


"Josh, kamu nggak usah umbar" kesal Ronald menjitak pelan kepala bocah.


"Nah kan, uncle kalau sudah kalah selalu begitu. Main sama uncle tidak seru.Wekkk.." bocah mengejek paman tampan.


"Idihh.... Uncle bukan kalah ,tapi ngalah. Camkan itu" tegas Ronald tidak ingin malu pada gadis incaran.


Sekretaris sedari tadi mematung menyaksikan percakapan majikan dan rekan bisnis. Sehabis makan,ia pun pamitan pada majikan.


"Kita sama-sama, Bel" tahan Melani.


Melani pun pamitan pulang sebelum terlalu malam tiba di rumah.


Namun bocah masih menunggu jawaban setuju dari gadis itu, yang mau menemaninya main game online


"Aunty, gimana kalau hari minggu ini kita main game?" tanya bocah, menetapkan waktu.


"Sorry, aunty tidak bisa. Tapi aunty akan coba lain waktu" Melani mengelus lembut wajah tampan lembut itu.


Josh yang di elus Ronald yang kesemsem senyum. Otaknya berhalusinasi membayangkan jika tangan lentik mulus itu menyentuh wajahnya, pasti rasanya sangat bahagia.


"Tuan, kami pulang dulu" pamit Melani kedua kalinya pada pria yang sedang ngelamun apa.


"Oh, iya" Ronald tersentak.


"Bye aunty" sambung lesu bocah.


Mereka terpisah kembali oleh jarak dan tempat tujuan berbeda.


Sepanjang jalan wajah bocah cemberut, akibat paman tidak membantu untuk buat orang lain nuruti keinginannya.


Beda sama Ronald yang duduk melamun terbayang suara tawa dan senyum memikat Melani.


"Josh, kalau aunty itu jadi aunty benaran mau gak?" Ronald asal ceplos tanya.


"Gak!!!" ketus sebel bocah.

__ADS_1


Mereka membuang muka kayak orang sedang musuhan.


Begitu mobil mereka tiba di rumah, Josh mengadu pada ibu tua dan nenek, bahwa dia telah di acuhkan paman.


Sontak kedua wanita menjewer dan mengoceh agar bocah itu tidak merajuk berhari-hari.


"Aku kok punya ponakan mafia?.Nurun sifat siapa anak itu?" keluh Ronald masuk kamar dengan telinga memerah.


Lagi lagi ia tidak peduli, ia masuk kamar mandi membasuh diri. Biasanya seorang Ronald Lee tidak punya rasa ketertarikan pada wanita manapun, walau hidupnya selalu di kelilingi cewek cantik sexy.


"Ahaa... Aku bisa manfaatin Josh biar bisa makin akrab" timbul pemikiran demikian dalam otak Ronald.


Esok hari, bocah yang masih perang dingin sama Ronald duduk saling berjauhan, termasuk dalam mobil.


"Ini anak terlalu ku manjakan" rutuk batin Ronald. Tapi ia tau cara menanganinya.


Mobil sampai gerbang sekolah, tanpa pamit Josh keluar dari pintu depan. Hal itu buat Ronald semakin jengkel sama sifat bocah.


"Masih kecil sudah mau berkuasa. Sikit-sikit main ancam. Aku mau lihat sampai kapan bisa merajuk sama aku" gumal kesal Ronald.


Mobil kembali melaju menuju kantor, setiba di kantor Ronald seperti biasa fokus sama kerja, karena tidak perlu repot mencari info tentang Melani.


.


Melani kian hari semakin sibuk dengan kerjaan baru, bahkan ia sudah lupa jam makan atau istirahat saat terkejar deadline.


"Nona,sudah jam istirahat" ucap sekretaris.


Sekretaris tidak berani mengganggu kefokusan bosnya itu. Ia hanya bisa berinisiatif membeli makanan cepat saji untuk ganjel perut bos.


Tak... Tak... Tak....


Jari jemari lentik menari di atas papan keyboard laptop, mata indah itu fokus pada tatanan tulisan yang tadi ia buat.


Jika berhasil pola pikirnya di jalankan, maka Melani tidak perlu menunggu usia 25 tahun lebih berkilau cemerlang.


"Finish" Melani merenggangkan otot jari jemari yang tadi mengetik cepat.


Baru saja konsep baru terkirim ke e-mail utama perusahaan raksasa, dia sudah dapat respon. Sebuah komentar yang minta dia mengubah konsep di beberapa titik.


"Eh iya. Seharusnya aku mesti pilih bahan awet" Melani menepuk jidat, lupa cara menghemat budget dalam kurun waktu lama.


Makanan cepat saji datang, sekretaris masih lihat bos


fokus sama rancang konsep.


"Nona, makan dulu" sekretaris meletakkan kotak nasi.


"Letak saja dulu" Melani semakin tertantang dengan konsep kiriman edit baru dari investor utamanya.

__ADS_1


Sekretaris tidak lagi menganggu, dan ia melanjutkan tugas yang tadi diserahkan padanya.


Jam sekarang sudah pukul lima sore, makan cepat saji itu masih utuh tidak tersentuh. Air putih dalam gelas saja hanya berkurang seperempat gelas.


Sekretaris mengingatkan kembali bahwa sudah jam pulang ngantor. Namun Melani ngangguk kasih izin buat karyawannya pulang.


Tumpukan kertas yang tadi siang tidak banyak, menjadi tinggi mencapai tiga puluh centimeter. Sekretaris jadi terpancing dan ingin membantu tugas bos agar cepat kelar.


"Nona, apa yang bisa saya bantu lagi?" merapikan dokumen yang masih berserakan.


"Tidak usah. Kamu pulang saja dulu. Bentar lagi juga selesai" mata Melani berputar kiri kanan lihat gambar konsep rancangan.


"Saya akan tinggal sampai nona selesai. Kalau perlu, nona bisa panggil saya" pamit keluar.


Mata Melani melihat jam tangan, dia pun tidak tega menyiksa karyawan biarpun secara tidak langsung.


"Kalau gini, aku lanjut di rumah" Melani menutup laptop, lalu cabut scandisc memori.


Cekrekk ....


"Nona perlu bantuan apa?" tanya sekretaris menoleh.


"Ayo kita pulang" menunggu sekretaris menutup komputer.


Lampu ruangan setiap koridor pun dimatikan satpam yang berpatroli berjaga, begitu di rasa telah lewat satu jam pulang kerja.


Yang namanya Melani, jika sudah mulai bekerja akan sulit melepaskan begitu saja. Sesampai di rumah, ia hanya makan sebiji apel, lalu mandi dan nyambung mojok di dalam kamar melanjutkan sisa kerjaan yang belum rampung.


Panggilan ibu suri saja tidak lagi ia hiraukan, karena dapat dukungan tuan Wijaya yang sama-sama suka lupa waktu kalau sedang fokus menyelesaikan tugas kantor.


...Kamar tidur utama....


"Ko, dia dan koko itu beda. Kalau dia begini terus kapan bisa punya suami.Lihat saja undangan yang tadi siang aku terima. Salah satu temannya akan menikah lagi. Masa kita terus terima undangan tanpa bagi undangan balik" oceh ibu suri, sambil memakai toner dan pelembab.


"Gampang kalau soal undangan. Kita bisa kok kirim balik undangan ke mereka pas ulang tahun Melani" cuek jawab tuan Wijaya.


"Hallo, tuan Wijaya terhormat. Itu namanya undangan ultah, bukan undangan pernikahan" ibu suri memberi maksud penekanan setiap kata terlontar.


"Sama saja. Sama-sama buat acara meriah, dan tebar kartu" tuan Wijaya tidak ingin memaksa kehendak istri pada putrinya.


Setiap manusia itu punya takdir dan jodoh, jadi tidak ada guna memaksa sebelum waktunya tiba.


.


...****************...


.


Terimakasih atas dukungan semua.

__ADS_1


Salam sehat sejahtera selalu untuk kita. 🙏


__ADS_2