Change Destiny

Change Destiny
130


__ADS_3

Bab 130


.


Olah raga pagi dalam kamar mandi itu disudahi, takut terlambat pergi ngantor.


"Ihh.... Habis manis sepah dibuang" omel Melani ditinggalkan seorang diri mandi.


"Kamu bilang apa?" tiba-tiba Wiliam yang baru berjalan beberapa langkah mau pakai handuk, berbalik karena dengar apa yang dikatakan Melani.


"Enggak ada" geleng kepala dengan wajah malu ketahuan.


"Yakin!" memeluk tubuh polos tanpa helaian benang dari belakang.


"Koko nanti telat ke kantor" dalih canggung Melani, tangannya coba lepaskan tangan nakal Wiliam yang remash gundukan bakpaonya.


"Ini salah kamu" tuding Wiliam mencium tengkuk Melani kegelian.


"Enak aja.Itu salah Koko sendiri" ketusnya,berhasil melepaskan tangan nakal Wiliam yang remas gundukan.


Dari pada kebablasan panjang dan lama, Wiliam pun mengambil handuk untuk dirinya dan Melani.


Terbungkus sudah setengah bagian tubuh mereka. Kemudian bergegas pakai pakaian,lalu turun untuk sarapan.


"Morning Mami" sapa bahagia Josh yang nyusul dari belakang.


"Morning Josh" balas Melani berhenti turuni anak tangga.


"Daddy enggak kamu sapa,hemph" sambung ketus Wiliam sudah makin teracuhkan.


"Morning Dad" sapanya datar, tangan melingkar ke tangan ibu cantik tanpa izin pemilik baru tubuh itu.


Wiliam menjulingkan mata, tidak ikhlas kalau wanitanya harus bersentuhan dengan pria lain selain dirinya.


"Turun satu-satu" hardik Wiliam, melepaskan tangan melingkar itu.


"Ow" Josh sedih tidak bebas saat ada Daddy.


Ketika Josh turun sendiri, Wiliam merangkul pinggang ramping itu.


"Ko, tapi harus turun sendiri.Ini kok di rangkul" sindir sinis Melani.


"Takut kamu capek" dalih Wiliam tidak peduli.


"Ihh... Bilang aja modus" cibir Melani senewot.


"Baguslah kalau tau" jawab dingin dengan wajah dingin pula.


Sesampai di bawah, Wiliam jadi pemilik rumah yang disegani dan cool.


Sarapan pun di nikmati dengan suasana tenang dan damai.


Selesai sarapan satu persatu pria tadi duduk berkumpul pergi meninggalkan rumah. Tinggallah Melani seorang diri yang duduk berjaga rumah.


"Aku mau ngapain ya?. Keluar enggak bisa. Mau kerja, juga enggak ada yang dikerjakan.Tunggu Josh pulang,masih lama.Huhhh....Boring aku" keluh Melani duduk berselonjor merenung di atas tempat tidur.


Pikiran sumpek itu disalurkan dengan membuka aplikasi chat online. Facebook adalah aplikasi yang menghubungkan banyak orang dari bagian belahan dunia luar, dan berita yang sedang dilakukan segelintir orang.


Banyak daftar pertemanan yang belum terkonfirmasi sekian tahun. Dari permintaan pertemanan, teman satu sekolahan sampai orang tidak dikenal.


Melani memilih permintaan orang tidak dikenal, karena teman-teman sekolahnya hanya akan membully keadaan.


Konfirmasi pertemanan telah diterima, selanjutnya berita gosip sampai isu politik mulai bermunculan. Notifikasi aplikasi juga terus berbunyi, dan harus di ubah pengaturan agar tidak terlampau ribut.


"Nah, sekarang aman" Melani lanjutkan baca berita perekonomian.


Berita yang membawa angin penyesalan untuknya,buat dirinya semakin kesal.


"Uhh...Tau begini,aku tidak usah jual obligasi itu. Sekarang sedang naik, jadinya dia untung double" keluar kesal dari aplikasi.


Sekarang pikiran Melani hanya merutuk kesal nyesal. Coba dia masih bisa jaga obligasi tersebut, mungkin dia masih punya harga diri dan martabat.

__ADS_1


Beberapa jam dia berada dalam kamar tanpa keluar untuk ganti suasana.


"Aha!!!. Aku bisa minta naik banding. Kalau aku minta kerja kembali seharusnya bisa. Ya....Mesti harus menuruti kemauannya" jawab dan tanyanya sendiri,tangan menyilang di dada.


Akhir-akhir ini, dia juga tidak ngerti mengapa pertahanan tidak bisa lebih lama. Begitu tersentuh,bisa memberikan akses keluar masuk bagi pisang mengkel Wiliam.


.


Siang hari....


Angin mamiri sedang berhembus ke hati Wiliam. Jam makan siang itu,dia tanpa diminta Josh, datang menjemput Josh tanpa telat.


"Loh,kok Daddy ikut jemput?" tanya Josh penasaran, tidak tau harus senang atau curiga.


"Kenapa?. Tidak suka?" duduk memandang lurus ke depan.


"Suka" duduk tegak tidak bisa bertingkah.


Supir langsung melajukan mobil begitu dapat aba-aba.


Setiba di rumah kedua pria tadi mencari Melani terlebih dahulu sebelum cuci tangan.


"Melani" panggil Wiliam membuka kamar pintu utama mereka.


"Mami" sambung Josh langsung nyelonong masuk.


Keduanya mencari keberadaan wanita cantik itu. Tampak tempat tidur yang agak sedikit kusut dan kosong melompong.


Wiliam dan Josh bertatap bingung. Mengapa kamar itu kosong?.


Wiliam membuka pintu lemari pakaian rahasia menembus kamar mandi. Josh juga ikut mencari di balik pintu lemari, karena terpikir kejadian kemarin malam Melani punya ide bersembunyi dalam lemari baju.


"Ada enggak Josh?" tanya Wiliam kalut, melonggarkan ikatan dasi.


"No" menggeleng kepala.


Mata mereka kembali bertatap, teringat dimana biasanya Melani akan berada.


Pintu didorong buka,tapi kamar itu juga kosong.


"Kemana dia" gerutu Wiliam penat cari Melani.


Wiliam mengacak rambut rapi, selalu akan kesulitan mencari Melani yang sedang tidak ingin ditemukan.


Beda dengan Josh yang mengambil ponsel dan menghubungi ibunya.


"Halo,Mi. Mami ada dimana?" tanya Josh.


"Mel,kamu dimana" Wiliam merebut panggilan itu.


"Ihh.... Daddy main rebut saja. Nanti Mami kalau takut gimana?" ujar sewot Josh.


"Kamu bisa lacak hp Mami kan Josh?" diangguk Josh. "Sekarang cepat lacak" titahnya menyerahkan ponsel.


Dalam keadaan tersambung,Josh melacak signal GPS ponsel ibunya. Dalam sekejap,dia sudah menemukan keberadaan orang tercari.


"Mami kamu ada dimana,hmm?" menunggu cemas jawaban Josh.


"Di situ" tunjuk layar monitor laptop.


"Coba perbesar" melihat lebih dekat area keberadaan istrinya.


Tidak jauh Melani berada dari rumah mewah. Tapi mengapa tak seorang pelayan, penjaga atau bodyguard yang tau istrinya sudah kabur.


"Kamu tetap di rumah dan jangan keluar tanpa izin" hardik Wiliam tidak ingin nambah pencarian orang kabur.


Langkah panjang itu segera keluar rumah mencari keberadaan Melani. Tanpa di supirin, Wiliam mengemudi mobilnya.


"Kamu dimana Mel ?" mencengkeram erat stir kemudi,mata melihat kiri kanan jalur jalan.


Tidak lama ia menemukan orang yang dicari sedang duduk di bawah pohon bunga Bougenville (bunga kertas).

__ADS_1


Wiliam menginjak pedal rem,lalu mematikan mesin mobil sebelum keluar.


"Mel" panggilnya menghampiri Melani duduk melamun.


Melani mengangkat kepala tertunduk. Orang yang sedang tidak ingin ditemui berhasil menemukan dirinya.


"Kamu kenapa panas-panasan di sini,hmm?" berdiri dihadapan, menghalangi terik matahari menyinari wajah Melani.


Melani kembali menunduk tidak ingin menjawab.


"Ayo kita pulang.Josh sudah nunggu kita" ujar Wiliam.


"Aku mau pulang ke rumah Papa" sahutnya tidak bersemangat.


"Kenapa?. Apa ada sesuatu?" mengangkat dagu yang murung.


"Aku rindu Papa" menatap sedih.


Kecemburuan mengusik pikiran Wiliam. Setiap Melani ingin bertemu pria siapa pun, seakan dirinya terprovokasi akan di tinggalkan Melani untuk selamanya.


"Baik.Besok kita akan menjenguk orang tuamu" sahut Wiliam menahan kecemburuan tidak normal.


"Aku mau nginap beberapa bulan seorang diri" memohon sedih.


Untuk yang satu ini, keinginan Melani tidak akan dikabulkan sepenuhnya. Itu sama halnya dengan berpisah secara tidak langsung. Dan benar atas sugesti pikiran yang memprovokasi.


"Kalau kamu mau nginap, maka akan saya temani" ujar dingin Wiliam, berlipat tangan menunggu keputusan Melani.


"Enggak usah. Di sana tidak sebesar kamar Koko" dalih Melani sesuai expetasi.


"Kalau tidak mau,ya tidak usah" ancam Wiliam pura-pura jutek.


Awan yang tadinya putih terang, berubah jadi mendung di siang bolong.


"Ayo pulang sebelum hujan" ajak tegas Wiliam, tidak ingin dilanjutkan dulu


"Tapi boleh ya,ko?" memohon.


"Lihat nanti" membantu Melani berdiri.


"Boleh ya?" rengeknya.


William menatap sinis,dia juga tidak ingin mengabulkan permintaan terlalu signifikan menjaga jarak antara mereka.


"Koko sayang... Boleh ya" rengek manja.


"Kamu bilang apa?" pura-pura budek.


"Kalau Mel ulang,Koko izinkan kan?" masuk mobil dengan bibir runcing.


Cup...


Tidak tahan godaan bibir tipis runcing, selagi sekeliling kosong tanpa pelalu lalang, Wiliam langsung menyergap bibir yang selalu memikatnya.


"Jika ini di rumah, pasti akan saya lanjutkan" bisik Wiliam dengan nafas ngos-ngosan.


Melani memutar bola mata jenuhnya. Sudah tidak dapat izin untuk pulang, malah dicurangi oleh Wiliam yang tak tahan godaan.


Mobil pun dijalankan kembali sama Wiliam menuju rumah mewah.


Ruang makan yang sudah kosong, kembali di isi mereka berdua yang baru pulang. Pelayan pun menghidangkan menu yang masih hangat, untuk disantap pasangan itu.


"Selamat makan Tuan, Nyonya" ucap pelayan berpamitan ke dapur.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2