
Bab 120
.
Bola matanya yang mendelik pada orang yang ada di ruang itu pun, mampu mengusir tanpa perlu bersusah payah.
Kini hanya tertinggal 3 pasang bola mata di ruang pemotretan.
Untuk masalah selanjutnya, Wiliam milih duduk manis jadi penonton di kursi kru pemotretan yang kosong.
"Tuan, dia itu cewek bar-bar. Suka cari perhatian dengan pria tajir.Jika tidak,mana mungkin dia bisa naik daun dengan cepat" ujar Amanda,mengkompori pengusaha berdarah dingin.
Wiliam mengacuhkan tiap perkataan yang tak bermutu keluar dari mulut ular berkepala dua. Serasa dia juga ingin memisahkan lidah dari mulut itu,tapi ini bukan waktunya untuk show time.
Plakk.....
Tamparan keras terjiplak cantik di muka Amanda yang sedang cari muka. Alangkah bagusnya jika pipi sebelahnya juga dapat hadiah super duper fantastic.
Plakk...
Untuk kedua kalinya Melani mengayunkan tarian tangan di wajah Amanda.
"Kau!!" Amanda menjulingi Melani, sambil megang kedua pipi merah tabokan.
"Apa??. Ya,aku memang cewek bar-bar. Dan kau cewek tak tau malu" geram Melani, mendorong tubuh Amanda hingga terhuyung.
"Tuan, lihat kenyataan yang tadi ku bilang" adunya pada Wiliam bersandar wajah dengan kepalan tangan.
"Itu urusan kalian" jawab dinginnya, beranjak berdiri karena istrinya tidak butuh bantuan lagi untuk kasih pelajaran.
"Kau dengar ada yang dia bilang,heng!!. Itu bukan urusan dia. Jadi aku mau menuntut balas atas perbuatan kau tempo hari!" mendorong kasar hingga Amanda terjatuh duduk.
Lihat Wiliam telah meninggalkan mereka, Amanda juga tidak terima akan perlakuan Melani.
Dia berdiri,lalu menampar balas seperti Melani.
"Kau memang dasar cewek murahan. Jangan sok munafik. Berapa banyak pria kaya yang sudah meniduri kau!" mendorong kasar tubuh Melani hingga lampu cahaya kamera jatuh.
"Berarti memang kau yang sengaja menjebakku"
"Aku bukan menjebak. Tapi membantu pekerjaan kau sebagai simpanan pria kaya" menginjak telapak tangan Melani dengan high heels.
Arrggg.....
Jerit Melani kesakitan, tangannya di injak dengan high heels.
Sebuah benda diraih tangan sebelah,lalu memukulkan tulang kering kaki Amanda dengan tongkat pentungan satpam, yang digunakan untuk ikon pemotretan.
Arrggg....
Teriak Amanda kesakitan, pegang kaki .
Posisi mereka, satu sama. Tidak hanya ada lontaran kata caci maki kasar keluar dari mulut Amanda, dia juga menghina dengan tuduhan palsu.
"Dasar pelakor!. Pel@cur!" caci Amanda, meludahi wajah Melani.
Semakin mengamuk Melani akan tuduhan yang terus menerus keluar dari mulutnya.
Aksi frontal kayak telenovela pun di praktekan Melani. Dia menjambak dan menampar wajah Amanda. Begitu juga Amanda membalas dengan hal serupa.
Untuk memperjuangkan harga diri dengan tenaga yang tersisa, Melani memberikan sebuah kenangan berharga. Melani menggigit tangan Amanda sekuatnya, meski Amanda menjambak rambut lawan.
Sudah 10 menit kedua wanita ditinggal berdua. Wiliam pun kembali masuk untuk menjemput istrinya.
Kacau banget ruang pemotretan, benda-benda yang ada pada berterbangan jauh dari letak semula.
Tampak pula Amanda yang menjambak dan menghantukkan kepala Melani ke lantai.
__ADS_1
"Sial!!. Berani benar dia pada Melani" gigi Wiliam bergertakkan terpancing emosi.
Tidak baik jika pria main tangan dengan seorang wanita, walau semarah apa pun itu.
"Lepaskan!" marah Wiliam, menarik lepas jambakkan tangan Amanda.
"Tuan. Lihat apa yang sudah cewek murahan ini lakukan pada saya" adunya dengan wajah kasihan dan memar.
"Saya peringatkan! Jika kamu berani memfitnah Melani lagi,maka kamu akan berurusan dengan bodyguard saya. Dan perbuatan kamu yang telah menjebak dia, jangan pikir saya tidak tau!. Juga apa yang kamu telah alami malam itu, anggap sebagai peringatan awal" ucap dingin Wiliam dengan penekanan tiap kata tersirat, mencengkram dagu Amanda.
Wiliam pun melepaskan cengkraman,lalu membopong tubuh kecil istrinya keluar tinggal ular berkepala dua.
"Kau yang murahan!!" omel pelan Melani dalam gendongan pria dingin.
Wiliam melirik wajah cantik istrinya yang bonyok, sedang berhalusinasi.
"Tenang Mel,jika kamu ingin saya lenyapkan dia, maka akan saya lenyapkan. Tidak perlu kotori tangan kamu untuk wanita rendahan itu" jawabnya lirih kasihan.
Gedung itu pun langsung dilakukan pembersihan atas perintah Wiliam.
Wiliam membawa istrinya yang bonyok ke rumah sakit, untuk merawat luka yang ada.
Untuk kali ini, Wiliam tidak lagi mengizinkan dokter pria memeriksa dan obati luka Melani.
Sambil menunggu Melani di obati di dalam UGD, Wiliam menelepon Ronald untuk ambil ahli semua keputusan seperti biasanya jika kehadirannya tidak ada.
"Kamu tangani saja. Jika tidak ada hal penting,kamu tidak perlu mengirim pesan" pesannya pada orang diseberang.
"Baik Ko. Oh ya. Semalam Josh bilang ingin bertemu kalian lagi"
"Mmm... Akan Koko cari waktu lain" sahutnya melihat keadaan dalam UGD dari kaca pintu. Percakapan pun selesai.
"Tuan,Nona itu harus rawat inap" ucap suster menyampaikan pesan dokter.
"Baik. Berikan yang terbaik untuknya" jawab datar.
"Iya"
"Silahkan Tuan untuk isi formulir data pasien di tempat pendaftaran" menunjukkan arah loket pendaftaran.
Wiliam ikuti suster untuk isi formulir rawat inap. Uang administrasi sesuai prosedur dibayar sesuai dengan perawatan yang dirujuk Wiliam.
Usai pemeriksaan dan pengobatan, Melani di pindahkan ke kamar rawat.
Nyeri sekujur badan dan wajah dapat dirasakan Melani dengan kesadaran penuh.
Awww.... Melani merintih sakit dan nyeri dengan banyak luka dan lebam.
"Sus. Kapan aku bisa pulang?" tanya Melani,baru saja masuk kamar rawat.
"Paling cepat besok" jawab suster menggantungkan botol cairan infus.
"Mana orang yang bawa aku kemari,Sus?" mengosok pelan mata bengkak habis berkelahi.
"Oh,Abang anda. Sedang urus administrasi" jawab suster tersenyum.
Melani tidak lagi menyahut dan bertanya pada perawat. Dari pada Wiliam dikirain suaminya, lebih baik ikuti pikiran perawat.
Perawat yang buka pintu ingin keluar, berselisih dengan Wiliam yang hendak masuk.
"Bagaimana keadaan dia?" tanya dingin Wiliam.
"Dokter sudah obati luka adik Tuan. Sementara waktu, adik Tuan juga harus bad strees"
"Mmm" dehemnya.
"Oh iya. Adik anda barusan nanya keberadaan Tuan"
__ADS_1
Wiliam ngangguk dan membuka pintu dengan senang hati, karena dicari wanitanya.
"Sus, aku mau ke toilet" ucap Melani mengira perawat masuk lagi.
Tidak ada jawaban keluar dari mulut Wiliam.Dia langsung mengendong tubuh kecil istrinya itu.
"Turunkan!!. Mana suster?" menoleh kiri kanan.
"Sudah keluar" berjalan beberapa langkah mengendong.
"Turunkan!!. Aku mau ke toilet" meronta.
"Biar saya bawa" tidak peduli dengan tolakan.
"Enggak mau. Anda mesum" tolaknya berkata jujur.
Wiliam berhenti melangkah,lalu menatap lekat wajah memar dan banyak plaster.
"Mau apa anda?" tanya Melani, menutup mulutnya pakai tangan.
Wiliam menjawab dengan expresi wajah menggoda.
"Mau goda istri saya yang suka perhitungan" menyeringai dan berjalan menuju kamar mandi di depan.
Bukan tersipu malu Melani dengar perkataan Wiliam, tapi ia terpikir kapan waktu tepat juga untuk balas dendam.
Setiba di pintu kamar mandi,Melani meronta minta diturunkan dari gendongan.
"Baik. Kamu tidak usah begini kalau mau turun" sahut Wiliam menurunkan perlahan.
Melani menjulingkan mata kesal. Karena merasa tertekan dengan perlakuan abnormal Wiliam.
Ketika Melani ingin mengunci pintu kamar mandi,ia baru sadar bagaimana untuk menurunkan ****** ***** keadaan kedua tangan berbalut perban.
"Sudah siap?" tanya Wiliam yang sengaja menunggu.
"Belum!. Aku butuh suster bantu" jawab jutek.
"Mau ngapain?"
Melani mengulurkan tangannya yang diperban. Bagaimana cara melepaskan celana jika jari-jarinya menyatu rapat.
Tentu Wiliam paham maksud wanitanya. Tanpa canggung dan sungkan,dia mendorong pelan masuk Melani ke dalam lagi.
"Tidak usah" tolak Melani.
"Enggak usah sungkan. Saya bisa membantu kamu" sahut Wiliam, tangan meraih celana berpinggang karet pihak rumah sakit.
Srettt.....
Melorot sudah celana luar, tinggal dalaman yang masih dipertahankan kekeh Melani.
"Jangan ditahan kalau mau buang air kecil,apa lagi buang tinja. Lagian,saya ini suami kamu. Bagian mana yang belum saya lihat,hmm" nasehat Wiliam,coba meraih pinggang Melani.
"Pokoknya enggak boleh!!" bentak Melani, menyilangkan tangan di bawah.
Wiliam berhenti meraih,tapi dirinya juga kekeh ingin tau sampai sejauh mana istrinya mampu bertahan.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1