
Bab 11.
.
Esok hari...
Dengan pakaian seragam merah putih bertengger tas punggung ,Josh siap masuk sekolah hari pertamanya.
"Bye, Grandma" bocah kecil melambai pamitan.
"Hati-hati dan jangan nakal" ibu tua menasehati cucu ponakan yang dibesarkan semenjak ibunya pergi tanpa peduli.
"Bi, kami pergi" pamit Ronald menenteng tas kerja.
Usai mengantar ponakan dan cucu ponakan sampai depan pintu, ibu tua melanjutkan kerjaan membenahi koper mereka yang masih bersisa. Soal urus rumah besar sudah di handel pelayan rumah.Jadi dia tetap tidak kewalahan mengurus rumah semegah apapun.
Sepanjang jalan menuju sekolah baru, Ronald masih searching tentang keberadaan kantor keluarga Wijaya di kota itu.
"Uncle, nanti Josh boleh bermain sama teman-teman kan?" tanya kepo bocah kecil, tidak sabar berbaur.
Ronald tidak menyimak benar apa yang di ocehin bocah kecil, dan ia mengangguk asal.
Mobil pun tiba di sekolah baru.Tanpa disadari Ronald, bocah kecil sudah lompat turun dari mobil sama supir.
"Mana Josh?" kaget Ronald kehilangan.
"Disana, tuan" tunjuk supir.
Ronald bergegas mengejar bocah yang belum tau siapa gurunya, dimana letak kelas itu.
Aksi Ronald mengejar bocah kecil jadi histeria tontonan ibu-ibu yang ngantar anak mereka.
Bukan aksinya juga yang buat histeris meronta jiwa muda mereka. Melainkan ketampanan Ronald seperti artis korea yang buat mereka meraung jerit histeris.
"Ya ampun... Tampan banget bapak itu !!.Sudah duda apa belum ya?" ujar ibu 1.
"Mas tampan, ku tunggu duda mu. Emuach... 😘" ibu 2 memberi kiss bye.
"Pilihlah aku jadi istri barumu, yang tentu setia melayanimu" ibu 3 bersenandung dengan gaya centil.
Ya ampun ibu-ibu, rusak masa depan karena mata tidak terkendali.
"Biasanya cowokkan suka liat tuh yang bling-bling kan, bu-ibu" ujar ibu 1 mengosip.
"Ho'oh benar" serempak jawab sambil lempar pandangan mata setuju.
__ADS_1
"Jangan hanya mereka saja yang bisa jadi buaya darat dan kucing garong. Kita juga sesekali boleh jadi hello kitty" sambung ibu 4.
"Iya setuju, emang enak kalau di selingkuhi, kita juga mesti cari tikungan, biar tau rasa para suami" ibu 2.
"Mulai besok kita mesti dandan lebih kece" ibu 5.
"Kalau dia bukan duda, dan punya istri gimana dong? " ragu ibu 6
"Ya... Gatot dong(gagal total)" lemas serempak menjawab.
Kumpulan ibu-ibu histeris masih berbaris setia menunggu paman tampan kembali putar arah.
Di ruang kepala sekolah, Ronald memperkenalkan siswa daftar baru pindahan Amerika. Tapi ia tidak ingin guru lain atau orang lain ada yang tau status lengkap dari seorang Josheph Lee,demi keamanan dan bersosialisasi bocah itu.
Setelah dengar keinginan wali murid, kepala sekolah mengajak Josh masuk kelas. Pesona seorang Josh kecil saja sudah buat kemeriahan setara pesona paman tampan. Itu belum pesona sang ayah yang lebih maskulin kharismatik.
Ronald sudah terbiasa jadi bahan objek rebutan, jadi dia tidak mudah grogi dikerumuni wanita cantik sampai sexy.
Ronald kembali berjalan biasa mengacuhkan pandangan ibu-ibu yang menggoda dirinya.
"Ke kantor sekarang" perintah Ronald pada supir.
Supir melajukan mobil di antara keramaian lalu lintas menuju kantor pada saat jam padat pelalu lintas.
Lampu merah yang menambah kemacetan, buat Ronald membuang waktu lebih banyak dalam mobil. Dia yang masih sibuk pencet ponsel gawai, tidak sadar di balik kaca pembatas luar mobil dia ada sosok orang yang dicari. Coba saja tidak fokus pada internet mata Ronald, maka tidak susah cari jarum diantara tumpukan jerami. Pribahasa yang lebih tepatnya adalah, semut diseberang sungai tampak, tapi gajah dipelupuk mata tidak tampak jadi buram, hahaha....
"Kamu kenapa, Mel?" tanya sang papa.
"Emm, tidak ada Pa.Hanya kesemutannya." elak Melani.
Melani tidak lagi melihat itu halusinasi atau kebetulan ada orang yang hanya sekedar mirip. Kepalanya kembali lurus lihat jalanan yang sudah bergerak.
Setiba di kantor, Melani di perkenalkan secara resmi oleh sang Papa pada seluruh staff kantor cabang baru sebagai hadiah kelulusan putrinya.
Tepuk tangan sorak gembira menyambut Melani yang siap duduk memimpin anak perusahaan.
"Terimakasih, dan mohon kerjasama semua membangun kantor cabang menjadi tumbuh berkembang pesat" Melani memberikan kata sambutan singkat, padat dan jelas.
Usai salam perkenalan, Melani diantar sekretaris barunya berkeliling kantor tinggi lima lantai.
Akhirnya dia masih bisa melihat masa depan yang seperti ia rasakan dulu. Tidak ketimpa sial setelah bertemu pengusaha berdarah dingin dua tahun silam.
Akhir jalan menelusuri kantor cabang berada pada gudang logistik di lantai dasar, luar bangunan kantor.
"Bagaimana nona?.Apa ada yang mau di ubah?" sekretaris menunjukkan sketsa bangunan gudang baru.
__ADS_1
"Sementara tidak ada" Melani cukup puas,tidak berani mengubah kondisi masa lalu buru-buru setelah banyak belajar jika banyak yang di ubah maka nasib buruk yang datang.
Melani dan sekretaris kembali memasuki gedung kantor, dan mulai dengan mengakses laporan setiap bagian staff.
.
Dua bulan sudah Melani mulai menjalankan bisnis sesuai keadaan masa lalu, perlahan perusahaan itu berkembang semestinya di bawah kepemimpinan Melani Wijaya.
Josh yang sudah beradaptasi dengan teman sekolah juga semakin aktif dan banyak pertanyaan tidak bisa di jelaskan paman tampannya.
"Uncle, kapan Josh bisa diantar Mami ke sekolah,kayak Udin dan lain?" renggek Josh menatap Ronald yang sedang mengirim e-mail.
"Gak tau. Tanya saja sama dady" Ronald sudah pusing cari alasan yang tepat.
Punya anak ber IQ tinggi tentu ada bagusnya bagi para orang tua, tapi saat berdialog hati ke hati EQ mereka lupa dipakai, yang buat pusing sebagai orang tua untuk memberi penjelasan singkat.
Josh lalu meraih telpon genggam Ronald, yang bisa mengkontek nomor sang ayah.
Tit tit tut tut...
Josh menekan nomor sang ayah, dan percakapan di saat pagi hari sebelum papanya pergi kerja masih disambut baik ayah itu.
"Morning dad" sapa Josh.
"Morning, gimana sekolahmu?" Wiliam mengunyah potongan sandwich .
"No good, dad" lesuh bocah kecil itu.
"Why?" Wiliam memasang earphone agar leluasa.
"Kapan Josh bisa diantar Mami ke sekolah seperti teman-teman?" renggeknya.
Ronald tertawa tipis menertawakan orang di seberang belahan benua lain. Biasanya dia yang pusing harus cari jawaban membujuk renggek bocah itu, kali ini biar saja wali asli yang merasakan batunya di lempar pertanyaan tidak sukar, tapi sulit di jelaskan biar tidak membuat jiwa anak itu runtuh.
"Dad,kapan Mami pulang?" Josh semakin memperdalam pertanyaan sederhana.
Rahasia yang di simpan Ronald, Wiliam bahkan sang bibi belum diketahui Josh yang dianggap belum waktunya ungkap kebenaran.
Wiliam benar-benar tidak boleh asal memberi alasan yang buat bocah itu drop dengan kisah kelahirannya.
Untuk sementara alasan simple itu masih berguna memanipulasi pemikiran Josh, tapi tidak yakin bisa efektif sampai kapan,untuk anak segenius itu.
.
...****************...
__ADS_1
.
Terimakasih, salam sejahtera untuk semua 🙏