
Bab 113
.
"Ini ongkosnya, Pak" membayar tarif agro.
"Terima kasih,Non"
Kaki putih mulus itu pun keluar dari taksi. Dia menapaki setiap langkah dengan penuh keyakinan tinggi.
Langkah seorang pimpinan dari masa mendatang itu menarik setiap mata orang yang ada di gedung perkantoran. Mata mereka melihat gerak jalannya yang anggun dan nature penuh pesona.
"Siapa dia?" tanya seorang wanita muda.
"Itu kan gadis yang sedang viral di sosmed" ujar sambung wanita lainnya.
"Iyakah?. Yang aslinya lebih cantik" wanita 3,memandang terpesona.
"Jangan-jangan dia artis yang nyamar" wanita 1 penasaran.
Mereka tak bisa memalingkan wajah, sampai Melani masuk ke dalam lift.
Di dalam sebuah ruangan, dirinya sudah di tunggu untuk wawancara awal. Dengan pengalaman masa depan,hal itu tidak membuat dirinya nervous.
Wawancara tahap awal ini, guna untuk mengenal jauh akan dirinya. Dan ingin lihat wajah Melani langsung dalam sorotan kamera.
"Emm... Face camera" ujar pelan pria fotografer yang lihat hasil foto shoot tanpa editan.
"Apa kamu yakin dia bisa jadi model produk kita?" tanya pria berjabat sebagai wakil direktur.
"Aku yakin dia masih banyak bakat terpendam, hanya perlu menggalinya keluar dan jadi permata termahal" jawab pria fotografer, mengambil foto dari sisi berbeda.
"Baiklah jika kamu yakin.Akan saya sampaikan rekomendasi kamu" sahut wakil direktur.
Sementara itu, Melani masih dalam proses pembicaraan inti, wakil direktur menyampaikan apa yang di rekomendasikan sang fotografer pada pimpinan tertinggi.
"Jadi tidak salah saya memilih dirinya" jawab CEO muda tampan berambut gondrong rapi.
"Iya Tuan"
"Jika begitu, kalian tidak usah persulit dirinya dengan prosedur. Percepat saja untuk jadi model kita" titah pria gondrong rapi.
Awal hanya untuk menjadikan dirinya sebagai bintang tamu itu, berlanjut untuk menjadikan artis model dalam produk yang sedang ingin perusahaan itu luncurkan.
Melani awalnya menolak hal tersebut, dikarenakan bahwa dirinya bukan ingin terjun dalam dunia modeling atau artis dalam jangka waktu lama. Belum lagi, dirinya yang harus sering main petak umpet dengan para bodyguard pengusaha dingin.
Cukup lama Melani memutuskan jawabnya, setelah dengan kesepakatan bersama.
"Baik, pihak kami akan membayar anda langsung setiap 1 foto shoot" ucap wanita berjabat direktur, setelah memberitahukan keinginan modelnya pada pimpinan.
"Dan mengenai identitasku, aku tidak ingin di publikasikan" syarat berikutnya dari Melani dan disetujui pihak perusahaan.
Mereka saling berjabat tangan setelah semua disepakati bersama. Lalu Melani memasuki ruang studio untuk mulai syuting.
__ADS_1
Harap-harap kemunculan dirinya di dunia pertelevisian, tidak memperburuk nasibnya.
Mengapa dia butuh pembayaran langsung setiap kali melakukan foto shoot?. Itu dikarenakan oleh,ia butuh uang untuk bisa meninggalkan mansion pengurung dirinya,serta biaya bertahan hidup.
Selama dia masih syuting, pikiran pun hanya tertuju pada karir barunya saja.
Saat tersorot lensa kamera, dia juga tenang untuk memberikan tips-tips bermanfaat.
Syuting yang berdurasi 30 menit itu pun selesai dengan sempurna. Siapa sangka dia akan jadi artis dadakan dalam waktu kurang seminggu.
Karena sudah terima hasil kerja pertama, dia pun pergi mencari rumah sewa terdekat, untuk kurangi biaya pengeluaran akomodasi berikut.
"Aku akan menyewa selama 1 tahun, dan ini uang sewa" memberikan amplop berisi 2 juta rupiah,pada pemilik rumah.
"Terima kasih, dan ini kunci yang siap anda tempati" jawab ibu sewa rumah.
Sebuah kunci itu diterima dan segera dibersihkan, agar bisa tinggal dalam 3 hari kedepan.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, waktunya dia pulang ke mansion untuk jadi pembokat terpaksa.
Dia pun kembali menempuh jalur sewaktu awal meloloskan diri,agar tidak ketahuan para penjaga.
"Aku harus lebih cepat" berlari kencang memasuki jalan kecil.
Masalah baru terjadi. Ketika ingin meloloskan diri dari tembok pembatas,dia dibantu tangga kayu, sekarang ingin balik lewati tembok ia kehabisan cara.
"Aku kok lupa bawa tangga" menepuk jidat, melihat kiri kanan apa ada benda bisa dijadikan pijakan.
Ada sih, sebatang bambu panjang. Namun tidak mungkin dia melakukan lompat galah.
Sang waktu tidak peduli pada hal yang dilakukan Melani, tugasnya yang sudah harus usai menyinari Indonesia tetap akan segera usai dalam beberapa menit lagi.
Melani pun berpacu dengan waktu yang akan berganti gelap. Tidak ada cara lain selain harus memutar jalan, dengan segala konsekwensinya.
"Ya,aku terpaksa harus lewat jalan depan" mondar mandir cemas.
Maju kena, mundur pun salah. Dia mengikuti hati nurani kecil, yang penuh ketenangan.
"Kalau ketahuan, paling-paling aku ke rumah sewa" ucapnya sambil berjalan cepat lewat jalan depan.
Tampak wajah ngos-ngosan lewati jalan itu.Tak kalah juga matanya yang sedang lihat keadaan sekitar, awasi keberadaan para penjaga.
"Habis aku. Mobil dia kok cepat pulang" bersembunyi di bawah pohon besar,di samping rumah.
Mobil big bos tak diduga mendahului dirinya pulang. Bukan itu masalahnya, melainkan makan malam belum disiapkan.
"Terobos, enggak.... Terobos, enggak.... Enggak deh, dari pada kalau masuk bakal enggak bisa keluar lagi" galau memilih.
Dalam mansion, pria dingin menyadari istri kecilnya tidak berada dalam rumah. Itu diketahui dari lampu ruangan yang dalam keadaan belum hidup.
"Kemana dia pergi!" membuka pintu kamar gudang.
Kamar kosong yang hanya ia temukan, untuk memastikan tidak kabur,maka dia pun mencari di bagian belakang rumah tempat biasa cuci dan menjemur baju.
__ADS_1
Arrggg....
Wiliam mengeram kesal, selalu saja ada celah bagi Melani kabur dari penjagaan.
Langkahnya lebar dan panjang keluar memanggil semua bodyguard penjaga.
"Gimana kalian jaga Nyonya,heng!!" maki Wiliam menunjuk kasar barisan bodyguard.
Barisan itu tidak ada yang berani menyahut perkataan big bos.
Memang kesalahan mereka telah lalai tidak teliti dalam menjaga seorang wanita lemah, maka dari itu mereka rela di maki dan terima tamparan.
Dari samping rumah,Melani menjadi saksi nyata lihat perilaku big bos.
"Serem!!. Memang sebaiknya aku tidak balik lagi ke sini" bergedik bahu merinding.
Menunggu semua bubar mencari jejaknya,Melani duduk jongkok sambil intip kiri kanan.
"Aman, sekarang aku harus segera bawa baju dan hal penting saja" berlari cepat masuk mansion.
Dia segera memasukkan pakaian dan semua benda penting dalam koper, dan segera keluar lagi dari mansion.
Memang kesalahan terbesar dia jika balik hanya untuk ambil barang. Seharusnya sudah bisa kabur, malah tertangkap ketika buka pintu.
"Tuan, Nyonya sudah ditemukan" menelepon big bos.
Dalam waktu sekejap pemilik rumah sudah tiba untuk menyidang istri.
Melani duduk di kursi makan, dengan tangan terikat pada kursi oleh bodyguard yang berhasil menangkap.
"Kamu sudah semakin berani melawan,hmm!" mencengkeram dagu yang buang muka padanya.
Mulut tidak bisa berkata, tapi pemberontakan berpindah pada hentakan kaki.
Wiliam yang masih teringat kejadian beberapa waktu lalu, juga tampak jaga jarak aman buat senjata kramat miliknya.
"Sudah waktunya saya kasih kamu hukuman" melepaskan dasi, dan ikat kedua kaki yang terus berhentakan.
"Lepas!. Aku bukan tawanan kamu!" pekik Melani memberontak.
"Kamu dari luar dan juga bau. Sebaiknya mandi" membopong Melani yang diletakkan pada pundak.
"Enggak!!. Aku bisa lakukan sendiri!" terus meronta.
Semakin meronta, pikiran Wiliam menginginkan untuk menaklukkan dalam sekejap.
Mereka memasuki kamar utama,lalu mendudukkan Melani pada kloset dalam kamar mandi.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.