Change Destiny

Change Destiny
155 Nikah muda?


__ADS_3

Bab 155


.


1 Minggu kemudian.....


Ronald dijemput supir dari bandara. Kepulangan sementara itu disambut sang mantan terindah beserta keponakan, setibanya dia di rumah mewah.


"Kamu tambah tinggi dan handsome" Ronald memuji Josh, sambil mengajarkan salaman pria dewasa gaul.Yaitu tangan sampai sikut punya gaya untuk menyapa.


"Tentu dong.Kan Josh sekarang juga sudah bisa jaga Mami" bangganya Josh dapat sanjungan, tidak lupa juga berpose keren seperti telah dewasa.


Wkwkkkk.....


Ronald tertawa sambil ngangguk,garuk tengkuk tidak gatalnya. Gaya Josh yang banyak menirukan tokoh-tokoh superhero, tidak seperti anak orang kaya lain, yang harus menjaga image mereka saat berkumpul dengan lainnya. Ini mungkin karena dia mendapat ibu sambung yang bisa menggantikan Ronald untuk berkolaborasi klop.


"Uncle,Mami sekarang sedang masak loh" ujar Josh nunjuk dimana ibu cantiknya berada.


"Oh ya?" sahut Ronald memberikan koper ke ART, dan ingin melihat sang mantan seperti dikatakan Josh.


Bukannya masak Melani di dapur, dirinya hanya bawa sendok teh untuk mencicipi setiap menu habis di masak koki baru rumah itu.


"Mami, uncle sudah pulang" Josh memanggil wanita yang sedang cicip steak seasoning baru masak.


"Iya" sahut Melani dengan mulut mengunyah potongan tipis irisan daging.


"Hai Mel" sapa Ronald dengan senyum mengembang.


"Hai juga kak.Kakak duduk saja dulu, Mel masih harus cicip beberapa lagi" balas Melani menunjuk makanan yang masih proses matang di atas kompor dan microwave.


"Ok.Kamu pelan-pelan saja" Ronald cukup bahagia lihat sang mantan juga bahagia,serta ikut andil melakukan perayaan sederhana itu.


"Josh, kamu temani uncle saja" titah Melani, belum sempat untuk temani ngobrol.


"Siap, Mi" Josh memberi hormat upacara.


Ronald dan Josh meninggalkan area dapur ke lantai atas untuk mendengarkan laporan Josh.


.


Jam 17.00 wib.


Melani harus siap-siap berdandan, sebelum tamu spesial yang berulang tahun datang dalam jemputan Ronald.


Begitu juga Josh yang sedang bersiap mengenakan pakaian seragam warna silver.


1 jam lebih Ronald dan tamu spesial datang.


Tuan rumah beserta istri dan anak berdiri menyambut keduanya dengan sambutan hangat dan bahagia.


"Perkenalkan,ini Abang saya, yang ini keponakan, dan yang ini... " Ronald perkenalkan bagian keluarga, tapi begitu ingin memperkenalkan sang mantan,tamu spesial muji kecantikan Melani.


"So beautiful, adik kamu benar-benar cantik" puji Santi langsung berasa akrab sama Melani.


Ehemmm..


Wiliam sengaja berdeham untuk memberitahukan status asli Melani, tapi terhalang oleh Melani dan Josh yang narik masuk tamu mereka.


"Kamu dengar wanita itu bilang apa kan, Ron?" tunjuk Wiliam mengadu keluh, sikap berlebihan gusar.


"Dengar. Tapi, dia belum saya kasih tau siapa Aso" jawab Ronald serba salah dibuat abangnya.


Melani, Josh dan Santi tengah menunggu 2 pria menghampiri mereka di ruang makan. Sesekali terdengar suara tawa mereka bertiga menertawakan sesuatu.


"Ko senyum sedikit lah.Nanti dikira tamu, kita nggak ikhlas ngundang dia" ucap pelan Ronald nasehati Wiliam cemberut masam.


"Hmpphh" Wiliam tidak bisa tersenyum sebelum semua dijelaskan.


Kedua pria sampai juga di tempat 3 orang berkumpul menunggu mereka.


Happy birthday to you...


Happy birthday to you...


Happy birthday, happy birthday....


Happy birthday to you uncle...


Josh memimpin paduan suara dengan suara bersemangat,teriringi 2 wanita yang bertepuk tangan.

__ADS_1


"Cepat tiup lilinnya,Uncle" ucap Josh menarik Ronald lebih dekat dengan cake berhias lilin.


"Sana.Kamu kan masih bocil seperti dia" sindir dingin Wiliam masih gusar di rumah sendiri.


Ronald mengangkat bahu, terus patuhi perkataan sang abang.


Hufff....


Dengan sekali hembusan, lilin yang membentuk lingkaran tidak dapat dipadamkan dengan mudah.Setiap lilin padam,maka nyala lilin akan kembali hidup.


Santi jadi bingung, kenapa lilin yang dia sendiri nyalakan kembali hidup.


Melani dan josh juga ikut pura-pura bingung dengan tawa tertahan semampu mereka lama bertahan.


"Tiup lilin saja nggak bisa" sindir sinis Wiliam ingin mempraktekkan cara meniup lilin.


Ketika Wiliam ambil ahli untuk tiup lilin, dirinya dilarang keras oleh Josh dan Melani dengan seribu alasan tidak masuk akal.


"Kalau Daddy yang tiup, berarti uncle belum ulang tahun" ucap Josh mendorong Wiliam mundur.


"Betul, betul,betul!" sambung Melani narik Wiliam yang terdorong.


Rasa-rasanya Wiliam menaruh curiga kepada Melani dan Josh yang bertingkah tidak wajar.


"Baiklah, uncle yang akan tiup sampai semua lilin padam" celetuk Ronald lihat abangnya punya tatapan membunuh ke Melani dan Josh.


Lilin bukan sembarang lilin yang dibeli Melani melalui online. Dirinya yang menemukan produk baru belum tenar untuk ngeprank,rela membayar dengan harga 2 sampai 4 kali lipat harga lilin biasanya.


Cukup lama Ronald baru dapat memadamkan lilin dengan bantuan Santi secara diam-diam.


"Sekarang potong kue-nya" Melani menyerahkan pisau cake berhias pita.


Saat yang lain menikmati pesta sederhana, Wiliam duduk dengan mata tajam ke arah Melani yang tidak mempedulikan dirinya.


"Coba makanan ini juga" ucap Melani melayani tamu spesial mereka.


"Terima kasih. Semua ini kamu yang masak?" jawab Santi dan kembali bertanya.


"Hahaha..." Melani tertawa malu atas pujian tamu mereka.


"Bukan dia.Tapi koki" celetuk ketus Wiliam, kasar memasukkan makanan ke mulut.


"Kamu coba ini" ucap Ronald memberikan salad buah segar.


"Terima kasih" jawab Santi tersipu malu.


Jijik rasanya Wiliam lihat pemandangan sok romantisme.(Bukan jijik, tapi jealous)


"Ambilkan saya itu" titah dingin Wiliam ke Melani untuk ambilkan makanan di depannya.


"Ini" tunjuk Melani.


"Mmm" dehem Wiliam, terserah mau diambilkan apa.


Ronald merasa ada aura cemburu dari orang disampingnya itu.Terlihat dari bukit otentik raut wajah Melani yang sewot.


"Mau ini juga,ko?" tanya Ronald mengambilkan sate kambing.


"Tidak usah" jawab dinginnya.


Capek Ronald harus melayani orang yang sukar ditebak suasana hatinya.


Makan malam itu pun berakhir, setelah Ronald membagi potongan cake blueberry ke setiap orang.


Secangkir minuman segar, yaitu es buah menemani waktu santai mereka sehabis makan semua menu ulang tahun.


Berlanjut lagi percakapan mereka yang rileks mengenai keluarga kecil itu.


Ketika Melani membicarakan akan dirinya, Wiliam akan ikut menyambung tanpa ada kode sandi.


Hal tersebut membuat kemarahan Melani tertimbun di ubun-ubun kepala.


"Jadi aku sudah tidak single" ucap Melani dengan nada tertekan marah karena suami yang nyantel.


"Kok kamu tidak undang juga pacar kamu" sahut Santi menyimak dalam keadaan duduk tegang, karena Wiliam juga.


Pfft...


Ronald sontak tertawa cekikikan, dirinya tidak kuasa menahan tawa yang sedari tadi tersimpan dalam lubuk hatinya.

__ADS_1


"Saya suaminya.Dan dia ini bukan adik kami" jelas tegas Wiliam, menerangkan status.


Santi terbelalak, tercengang atau apalah namanya. Shock juga dia dengar penuturan Wiliam. Dia saja sulit membayangkan untuk berdampingan dengan Ronald, apalagi Melani yang sudah hidup berdampingan dengan orang yang cukup ditakuti.


"Berarti, dia nikah di usia muda?" tanya bisik Santi ke Ronald.


"Bisa dibilang begitu" jawab Ronald.


Santi menelan kasar salivanya. Wanita semuda Melani sudah hidup cukup lama bersama Wiliam,dan begitu akrab hubungan ibu dan anak seperti teman seusianya saja.


Percakapan usai, Ronald mengantar bakal calon pulang ke rumah.


Sebelum itu, Ronald memuji seragam warna silver yang dipakai ibu dan anak itu. "Sangat bagus" mengacungkan 2 jempol.


"Sudah antar pulang sebelum larut" hardik Wiliam jauhkan Ronald dari kelompotan 2 bocah.


"Baik" jawab Ronald, melambaikan tangan kepada 2 bocah samping abangnya.


"Kamu tidur" titah Wiliam ke Josh."Dan kamu ikut saya" pada Melani.


"Oh"


Josh menaiki anak tangga seorang diri memasuki kamar tidur. Matanya mengawasi Melani yang entah diajak kemana sama bapaknya.


"Kalau tidur, Mami pasti hilang dibuat Daddy. Kalau tidak tidur, nanti kena marah" galau kaki Josh untuk masuk kamar.


Cukup lama Josh galau, sampai ia memutuskan untuk menunggu di dalam kamarnya.


Di halaman samping rumah, kedua pasangan pasutri sedang duduk memandang bintang bulan tertutup awan putih.


"Ada yang ingin saya tanyakan beberapa hal tempo hari" ucap santai Wiliam, memandang Melani yang terhanyut hitung taburan bintang.


Bukannya langsung bertanya, Wiliam juga ikut terhanyut memandang pemandangan yang sudah lama ia lihat begitu dekat.


"Koko mau tanya apa?" muncul suara Melani usai hitung bintang tidak terhitung jumlahnya.


"Emmm...Tempo hari pas kita ada di Singapura, bisnis apa lagi yang kamu kerjakan hmm?" pura-pura tegas setelah kaget hampir ketahuan memandang wajah cantik itu.


Giliran Melani terkaget benaran.Alasan apa pula harus diberikan, setelah cukup lama tidak bertanya, hari ini dipertanyakan kembali.


Garuk-garuk kepala cari ide untuk asal jawab, ternyata memberi Melani kesempatan ngeles.


"Kepalaku gatal,ini pasti efek hair spray" dalih Melani membuat efek gatal rambut lebih alami.


"Sana cuci rambut" ujar Wiliam menunda jawaban Melani.


Langsung berlari terkocar kacir begitu dapat izin Wiliam. High heels yang dipakai tertenteng agar lari lebih cepat.


Hoshh....Hoshh.....


Ngos-ngosan Melani berhenti di balik pintu kamar Josh.


Satu dua dia mengatur nafas sebelum memberitahukan ke Josh.


"Josh, Daddy kamu makin curiga usaha online kita" ucap Melani berhati-hati jangan sampai terdengar orang lain.


"What??. Dangerous!" Josh panik.


"Kita tidak boleh bilang apa pun meski dipaksa, atau bisnis online ini langsung di tutup Daddy"


Josh ngangguk paham, dan tau untuk merakit virus komputer kuat, melindungi software bisnis mereka.


"Besok Josh akan perkuat sistem keamanan" ucap Josh.


"Ok" Melani duduk masih tidak tenang.


Setelah beberapa waktu, keduanya tidur berpelukan.


Kebiasaan Melani mengunci manual pintu kamar Josh dari dalam, ternyata berguna menyelamatkan dari buruan Wiliam.


"Apa yang mereka sembunyikan, sampai pintu di kunci dari dalam?" tanya Wiliam tidak berhasil buka pintu pakai kunci duplikat.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2